Love Revenge

Love Revenge
Bab 67



"Maaf Tuan, kami tidak bisa menemukan apapun tentang Nona Cyara selain ini" kata seorang pria yang kini menunduk menghadap Vier menyerahkan sebuah map.


"Bagaimana bisa? Kenapa seperti itu saja kalian tidak becus? Jika ini yang kalian temukan aku pun sudah tahu," Vier melempar map yang diberikan pria tadi.


"Maafkan saya Tuan."


"Sudahlah, kau boleh pergi."


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," pria tadi pun pamit dan meninggalkan ruang kerja Vier.


"Sebenarnya kau ini siapa Cyara? Dan apa yang kau inginkan?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu, bukankah kau sendiri yang menyeret Cyara kedalam hidupmu, kenapa sekarang kau yang menanyakan apa mau Cyara," seorang pria lain tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Vier yang memang terbuka pintunya.


"Kak Alno!" Vier bangun dan menghampiri Alno yang sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Kenapa Kak Alno tahu…"


"Kenapa aku tidak bisa tahu, jika yang kau perintahkan untuk mencari tahu tentang Cyara adalah orang ku sendiri?"


"Lebih baik hentikan pencarianmu, jika kamu masih berniat menikahi hanya untuk menyakitinya."


"Kak apa kau tahu sesuatu?"


"Tidak."


"Lantas kenapa Kak Alno berkata seperti itu?"


"Bukankah kau bilang menikahi Cya hanya untuk membalaskan dendammu pada Sheira? Berarti kau tidak mencintainya bukan? Lalu untuk apa kau peduli tentangnya?"


"Kak!"


"Sheira sudah kembali, jika kau memang ingin membalaskan dendam karena rasa sakit hatimu, kenapa kau tidak membalaskan langsung ke orangnya, kenapa kau justru menyeret orang lain ke dalamnya? Besok hari pernikahanmu, lebih baik kau persiapkan dirimu baik-baik, dan ingat kau akan menyesal jika sampai menyakiti wanita sebaik Cyara," Alno bangun dan mendekat ke arah adiknya yang berdiri di hadapannya.


"Jika aku jadi kau, aku pasti akan menghancurkan orang yang menyakitiku, bukan menyakiti orang yang tak bersalah, kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga Sheira mu itu, tapi bisa-bisanya kau berpikir menyakiti kakaknya, bahkan kau pun tak tahu bagaimana hubungan mereka, kenapa kamu bisa berpikir dengan menyakiti kakaknya, Sheira akan hancur, sementara kau tidak tahu apakah Sheira mu itu benar-benar menyayangi kakaknya. Karena apa? Karena kalau dia benar-benar sayang dengan kakaknya, dia tidak akan mengatakan apapun keburukan Cyara padamu," Alno berbisik di telinga Vier sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan adiknya.


"Oh ya, aku kesini karena Mama ingin kau pulang, besok aku akan menikah dan akan memulai kehidupan baru, jadi Mama hari ini ingin menghabiskan waktu denganmu," Alno menghentikan langkahnya dan mengatakan pesan dari mamanya yang tadi sempat terlupakan. Setelah mengatakan itu, Alno pun benar-benar pergi meninggalkan Vier.


"Akh kenapa jadi seperti ini?" Teriak Vier meremas rambutnya cukup kuat.


"Tidak Vier, kau tidak boleh lemah, tujuanmu sudah semakin dekat, jangan dengarkan kata orang, Sheira mengatakan semua itu padamu, Sheira memintamu untuk meninggalkan kakaknya, karena dia tahu tujuanmu menikah kakaknya, makanya dia melakukan itu, dia pasti tidak ingin kakaknya disakiti, dia pasti mengira jika dia mengatakan itu kau akan meninggalkan kakaknya. Hingga pada akhirnya dendammu tidak terbalaskan, benar, dia pasti seperti itu," Vier terus meyakini diri sendiri bahwa dia lebih benar, daripada apa yang Alno katakan tadi.


*


*


*


Besok, hanya satu hari lagi, pernikahan Cyara dan Vier akan dilaksanakan, dan Cyara sudah mempersiapkan dirinya.


Lamunan Cyar buyar, saat ponselnya berbunyi, Cyara tersenyum menatap nama yang ada di layar ponselnya.


"Halo Bu, ibu apa kabar?" ucap Cyara begitu panggilan terhubung, ternyata seseorang yang menghubungi adalah ibunya, bagaimana tidak senang jika baru kali ini, ibunya yang menghubungi dirinya lebih dulu, karena biasanya, Cyaralah yang lebih dulu menghubungi ibunya, itu pun tidak pasti dijawab oleh wanita yang melahirkannya itu.


"Aku ingin bertemu denganmu," kata orang di seberang telepon tanpa berbasa-basi lagi.


"Iya Bu, aku pasti akan datang menemui Ibu," kata Cyara dengan senyum yang tak pernah luntur dari sudut bibirnya.


"Tidak di rumah, nanti akan aku kirim alamatnya kamu datang ke sana jam 2 siang," ucap wanita di seberang telepon.


"Baik Bu, aku a…"


Tut tut tut 


Belum Cyara menyelesaikan ucapannya, panggilan sudah berakhir, ibu Cyara memutuskan panggilan.


Cyara menghela nafas, senyum yang sejak tadi terukir langsung pudar. Perasaannya tidak enak.


Cyara keluar saat mendengar deru mesin mobil. Seorang wanita turun dari mobil sambil tersenyum. Dan Cyara pun balas tersenyum.


"Sayang, sudah beberapa hari ini tidak bertemu, Mama sangat merindukanmu," ucap seseorang yang memanggil dirinya mama langsung memeluk Cyara.


Cyara hanya tersenyum dan membalas pelukan Jasmine, ya wanita yang baru saja turun dari mobil adalah Jasmine, calon ibu mertuanya.


"Mama pulang kapan? Cyara dengar Mama datang ke tempat Zeline."


"Pulang kemarin siang, oh ya bagaimana persiapan pernikahannya? Maaf ya Mama jadi tidak membantu banyak," kata Jasmine tidak enak kepada calon menantunya itu, beberapa hari yang lalu Jasmine pergi untuk mengunjungi rumah putri bungsunya, yang tinggal di kota yang berbeda, Jasmine dan Stevano datang sekalian menjemput putrinya karena kebetulan suami Zeline sedang melakukan perjalanan bisnis dan baru akan pulang tepat di hari pernikahan Vier.


"Tidak apa-apa Ma, Cyara mengerti kok," kata Cyara maklum. "Andai saja aku memiliki ibu seperti mama, aku pasti akan…"


"Kok malah melamun, oh ya dimana Rey dan Rain? Mama juga sangat merindukan mereka, apalagi Papa, dia meminta Mama untuk menjemput kalian, kalian ke rumah ya?"


"Maaf Ma, Cya tidak bisa, Cya ada janji," ucap Cyara menolak ajakan Jasmine.


"Oh, hmm ya sudah bagaimana kalau Rey dan Rain ikut Mama, nanti kamu nyusul, lagian kan kasihan jika mereka di tinggal di rumah," saran Jasmine.


Cyara terdiam memikirkan saran yang diberikan Jasmine kemudian mengangguk setuju, apalagi di rumah sudah tidak ada lagi Bibi, Cyara tidak tenang meninggalkan kedua anaknya tanpa pengawasan orang dewasa.


"Baiklah Ma, Cya nitip mereka, maaf jadi ngrepotin Mama lagi."


"Harus berapa kali lagi mama bilang, kalian sama sekali tidak merepotkan Mama."


Cyara tersenyum, "Iya Cyara tahu, baiklah Cyara tidak akan mengatakan itu lagi, tapi Cyara akan tetap bilang makasih sama Mama, makasih ya Ma."


Jasmine tersenyum dan langsung memeluk Cyara.