
"Maaf Bu, aku terlambat," kata Cyara menarik kursi dan duduk di hadapan wanita yang dipanggil Ibu.
"Duduklah, aku tidak ingin berbasa-basi lagi, lepaskan Vier dan tinggalkan dia!"
"Tidak Bu, maaf aku tidak akan melakukannya," ucap Cyara menahan rasa sakit di hatinya.
"Kenapa? Apa kau terlalu ingin punya kehidupan mewah hingga tidak mau melepaskan Vier? Vier milik Sheira, dan jangan mencoba merebut pria itu dariku, jangan seperti ayahmu yang sudah merebut semua kebahagiaanku."
"Bu…, nafas Cyara terasa tercekat mendengar ucapan ibunya.
"Kenapa? Apa kalian tidak pernah puas merebut kebahagiaan kami? Dulu ayahmu dan sekarang kau juga akan menghancurkan kebahagiaan putriku, kau akan merebut pria yang paling disayangi putriku," wanita itu menghapus air matanya menatap Cyara penuh kebencian.
"Bu, aku juga putri Ibu, aku juga lahir dari rahim Ibu, kenapa hanya Sheira Bu, kenapa hanya dia yang ibu pikirkan kebahagiaannya?"
"Kau putriku? Jangan terlalu berharap kau menjadi putriku!"
"Bu…"
"Tinggalkan dia, kalau kau tidak mau aku membongkar semua keburukanmu di depan keluarganya," kata wanita itu bangkit dari duduknya.
"Maaf Bu, maaf aku tidak bisa," jawab Cyara menghentikan langkah ibunya.
"Lakukanlah, setidaknya untuk membalas apa yang sudah aku lakukan untukmu, ingat lah jika aku lah yang sudah membesarkanmu," kata wanita itu dan segera berlalu pergi meninggalkan Cyara yang wajahnya sudah dibanjiri air mata.
"Kenapa? Kenapa kebahagiaan selalu seolah terus saja direnggut dariku secara paksa. Kenapa?" Teriak Cyara dalam hati, sudah tidak bisa menahan semuanya yang terasa begitu menyesakkan dada.
"Tapi Maaf Bu, kali ini, kali ini saja aku akan bertahan, kali ini saja aku akan memperjuangkan apa yang seharusnya memang aku dapatkan. Maaf Bu, karena ini bukan hanya menyangkut tentang diriku, tapi demi kebahagiaan anak-anakku," ucap Cyara, dia meletakkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja, setelahnya Cyara pun segera meninggalkan tempat itu.
"Cyara!" Seseorang memanggil Cyara.
Cyara langsung menghapus air matanya yang sedari tadi tak henti-hentinya menetes merasakan sakit yang teramat, bukan karena luka goresan atau sayatan, melainkan sebuah luka yang sama sekali tak berdarah, luka yang semakin perih karena selalu ada orang yang menabur garam di atas lukanya, luka yang rasanya seperti tercabik-cabik, itulah yang Cyara rasakan saat ini.
"Ara, ara kamu baik-baik saja," pria itu yang tadi memanggil Cyara memegang kedua bahu Cyara melihat dengan jelas wajah Cyara yang pria itu yakin jika wanita itu habis menangis.
"Aku baik-baik saja Ray," jawab Cyara memalingkan mukanya, tidak mau Rayyan melihatnya.
"Jangan coba membohongiku Cyara! Ayo ikut aku," kata Rayyan menarik tangan Cyara dan meminta wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Rayyan yang tadi selesai rapat, seperti melihat wanita yang sangat mirip dengan wanita yang dicintainya, Rayyan mendekat, dan melihat jika saat itu wanita yang berbicara dengan Cyara berhenti dan mengucapkan kata-kata yang membuat kedua tangannya mengepal, dan Rayyan tahu siapa wanita itu. Dialah Ibu Cyara. Seseorang yang membuat hubungannya dengan Cyara berakhir.
"Rayyan kamu putuskan pertunanganmu dengan Cyara sekarang juga!"
Langkah Rayyan yang waktu itu baru pulang dari kantor seketika terhenti ketika mendengar suara wanita yang dikenalnya sedang duduk di sofa.
"Mi, apa maksud Mami bicara seperti itu?" Rayyan mendekat ke arah maminya duduk.
Plak
Mami Rayyan melempar beberapa foto, dan di sana, di foto itu, Cyara tengah memasuki sebuah hotel bersama seorang pria.
"Mi, ini… tidak Mi, Ara tidak mungkin seperti ini Mi, aku yakin itu, foto itu, mungkin hanya rekayasa saja, iya Mi, aku yakin hanya rekayasa," Rayyan melempar foto-foto itu.
"Mami juga tidak percaya jika Cyara akan berbuat seperti itu, tapi ini buktinya Ray, semua ini terlihat jelas dan bukan rekayasa sama sekali, Mami juga terkejut, Mami tidak menyangka Cyara bisa seperti itu, tapi Ray foto-foto ini, Ibu Cyara yang memberikannya pada Mami. Ray Mami mohon kamu tinggalkan Cyara, Mami tidak ingin kamu nantinya terluka."
"Tidak Mi, aku tidak akan meninggalkan Cyara, aku mencintainya Mi, dan aku yakin Cyara tidak melakukan hal seperti itu," Rayyan dengan mengepalkan tangan meninggalkan Maminya.
"Tapi jika semua itu benar?"
"Rayyan jawab Mami, jika itu benar apa yang akan kau lakukan?"
"Kita lihat saja nanti Mi, Rayyan ingin sendiri dulu."
"Rayyan jika itu benar-benar terjadi, Mami harap kamu akan meninggalkan Cyara kalau tidak kamu mungkin akan melihat Mami sudah tidak bernyawa lagi."
Bayangan-bayangan masa lalu kembali muncul di pikiran Rayyan, dan Rayyan sangat tidak menyukai wanita yang kini membuat orang yang paling dicintainya menangis seperti ini.
"Menangislah Ara, aku akan biarkan kamu menangis sepuasnya, jika kamu butuh sandaran, bersandarlah Ara! Jadikan aku sandaranmu, tapi setelah itu aku ingin kamu bangkit, jadi Cyara yang kuat,"
"Hhhhahhahhh kenapa sakit sekali rasanya Ray, kenapa?" Cyara meremas dadanya yang terasa sesak.
Rayyan menarik Cyara ke dalam pelukannya.
"Menangislah Ara!"
"Hiks, hiks, sakit Ray, sakit rasanya," tangis Cyara begitu pilu, bahkan sampai sesenggukan.
"Menangislah ara, menangislah!" Air mata Rayyan ikut terjatuh begitu saja.
"Kenapa Ray? Kenapa kebahagiaanku yang harus selalu direnggut? Kenapa?"
Rayyan menepuk-nepuk punggung Cyara pelan berharap Cyara tenang.
"Tidak Ara, hal itu tidak akan terjadi lagi, aku akan melindungimu Ara, walau hanya dari belakang, aku akan memastikan kamu mendapatkan kebahagiaan yang memang seharusnya kamu dapatkan," ucap Cyara dalam hati.
"Minum dulu Ara," Rayyan memberikan sebotol air mineral pada Cyara begitu melihat Cyara sudah lebih tenang.
"Makasih," ucap Cyara suaranya masih terdengar parau.
"Ara ada yang ingin aku katakan," ucap Rayyan tiba-tiba.
"Hmm katakanlah!"
"Tidak disini, aku akan membawamu ke suatu tempat."
Cyara pun mengangguk menyetujui.
Rayyan pun melajukan mobilnya ke sebuah tempat, tepatnya di sebuah taman yang cukup sepi sore itu.
"Ayo!" Rayyan mengajak Cyara turun.
Keduanya pun duduk di bangku panjang taman, Cyara menunggu Rayyan berbicara, tapi pria itu tidak kunjung berbicara, yang Cyara dengar hanya helaan nafas pria itu sejak tadi.
"Ara! Apa kau yakin akan menikah dengannya? Aku dengar dia mantan kekasih Sheira, apa kamu tidak curiga atau merasakan sesuatu, aku tahu kau dan dia belum lama mengenal, tapi kenapa kamu dengan mudah setuju menikah dengannya?
"Rayyan aku…"
"Apa tidak bisa aku saja? Aku masih mencintaimu Ara, aku tahu, aku pernah meninggalkanmu, tapi aku…"
"Sudahlah Rayyan, itu semua hanya masa lalu, aku tahu semua, aku tahu kenapa kamu mengambil keputusan itu, jika aku jadi kamu aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama, hiduplah bahagia Ray, carilah wanita yang jauh lebih baik dari aku, carilah wanita yang benar-benar mencintaimu, dan yang jelas itu bukan aku," ucap Cyara.
"Karena tanpa sadar hatiku sudah jadi miliknya dan aku akan mencoba bertahan walaupun rasa sakit akan menemani perjalananku ke depannya," tambah Cyara dalam hati.