Love Revenge

Love Revenge
Bab 81



Cyara duduk di samping gadis kecil yang hanya berdiam diri, tidak bergabung dengan teman-temannya. Cyara menatap lekat gadis kecil itu. tapi gadis itu sama sekali tidak menanggapi tatapan Cyara. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang datar. Cyara berpikir kenapa anak sekecil itu malah memasang wajah yang begitu datar, saat seharusnya dia tertawa senang dan bergabung dengan anak-anak sebayanya.


"Mau?" Tawar Cyara memberikan kue kepada gadis itu.


Gadis itu hanya diam saja, Cyara kemudian menyentuh tangan gadis itu yang langsung membuatnya tersentak.


"Maafkan tante sayang," ucap Cyara merasa bersalah karena sudah membuat gadis kecil itu terkejut.


Gadis kecil itu hanya menggeleng menjawab perminta maafan Cyara. Cyara merasa ada yang tidak benar, dia kemudian mengangkat tangan kanannya menaik turunkan di depan wajah gadis kecil itu. Dan hal itu membuat Cyara menyadari sesuatu, seketika hatinya mencelos.


"Nama kamu siapa sayang?" Tanya Cyara menatap lekat gadis kecil itu.


"Keisha tante," jawabnya.


"Nama yang cantik, Isha kesini sama siapa? Hmm boleh kan tante panggil Keisha, Isha saja?" Tanya Cyara kepada gadis kecil yang sepertinya seusia dengan anak-anaknya.


Gadis kecil itu mengangguk cepat, "Tadi sama Ayah dan Bibi, tapi Ayah dapat telepon dan pergi, Bibi sedang ke toilet."


Cyara mengangguk tanda mengerti, walaupun itu tidak mungkin bisa membuat Keisha tahu.


"Baiklah kalau begitu tante temani kamu saja, lagian anak-anak tante juga sedang bermain disana." 


Pandangan Keisha tiba-tiba berubah sendu, tepatnya setelah mendengar apa yang Cyara katakan.


"Sayang kenapa?"


Keisha kembali menggeleng hingga pandangan gadis kecil itu mencari-cari sumber suara orang yang berbicara, tepatnya di sampingnya, tidak tapi mendekat ke orang yang duduk di sampingnya.


"Mami, aku tidak mau main lagi, kakak curang," adu Rain yang langsung memeluk Cyara.


"Tidak Mam, aku tidak curang, adek saja yang memang tidak bisa, dan dia kesal karena aku yang terus saja menang," Rey mencoba menjelaskan kepada maminya apa yang sebenarnya yang terjadi.


"Pokoknya Rain tidak mau main itu lagi!"


"Sudah-sudah, Rain jangan nangis lagi dong sayang, jika Rain gagal, Rain jangan semudah itu menyerah, jadi Rain harus terus belajar dan berusaha lagi, agar kelak Rain bisa dan mungkin saja nanti Rain yang menang dari kakak, iya kan Kakak?"


"Iya, masa begitu saja sudah nyerah," Rey pun mengelus rambut adiknya sayang menenangkannya.


Bibir Rain mengerucut mendengar perkataan kakaknya.


"Mami Rain lapar, tadi mana kue yang Mami beli?"


"Oh iya, ini ada di sini, kita makan kue nya cari tempat yang lain aja yuk!" Ajak Cyara bangun dan meraih tangan anak-anaknya. 


Tapi saat akan melangkah, Cyara berhenti dan menoleh menatap Keisha yang sepertinya sedari tadi memperhatikan dirinya, Rey dan juga Rain, karena Cyara melihat jika pandangan gadis kecil itu seperti tertuju padanya.


"Sebentar sayang!" Cyara melepaskan genggaman tangannya, berbalik badan melangkah dan berjongkok di depan Keisha.


"Apa kamu mau ikut sayang?" Tanya Cyara yang membuat Keisha terkejut, Keisha mengira jika wanita yang sejak tadi mengajaknya mengobrol sudah pergi.


"Tidak tante," tolak Keisha.


"Sudah ayo ikut, jika kamu sendiri nanti kamu akan diculik," ucapnya menakut-nakuti.


"Diculik?"


"Iya."


"Aku tidak mau diculik, Ayah pasti nanti akan sedih," gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar Cyara dan anak-anaknya.


"Makanya ayo ikut! Kita juga akan menonton setelah ini," Rey menarik tangan Keisha agar gadis kecil itu bangun.


Tapi gadis kecil yang akan segera bangun, mengurungkan niatnya.


"Maaf, tapi sepertinya tidak bisa," ucapnya sedih.


"Kita tidak jadi menonton, hanya makan saja, Isha mau ikut kan?"


"Tapi Bibi…, biar tante nanti kasih tau Bibi kalau Isha ikut tante."


Rain mendekat dan meraih tangan Keisha yang satunya, saat gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Aw!" Baru saja melangkah Keisha sudah tersandung.


"Isha hati-hati, di depan kita ada tangga, apa kamu tidak meli…"


Cyara dengan segera memberi isyarat pada putrinya agar diam, tidak melanjutkan ucapannya.


"Kenapa Mami kok Rain…"


Cyara mendekat dan membisikkan sesuatu kepada kedua anaknya.


"Ayo kita kesana sekarang, kalian gandeng Isha pelan-pelan dan hati-hati ya, pesan Cyara pada putra dan putrinya yang kini sudah mengerti.


"Iya Mami," jawab keduanya kompak, Cyara hanya mengikuti ketiga anak itu di belakangnya, mengawasi mereka. Sebelumnya Cyara berpesan pada salah satu orang yang disana barangkali ada yang mencari Keisha bilang saja jika Keisha ikut makan bersamanya dan memintanya untuk datang menghampiri.


Tapi begitu Cyara hendak berbalik, ujung kaosnya seperti sedang ditarik-tarik seseorang, dan ternyata dialah Keisha, Keisha memberi dirinya sebuah kertas dan tercantum nomor ponsel di sana yang bisa Cyara pastikan jika nomor itu, mungkin saja milik Bibi yang dimaksud oleh Keisha, dan Cyara akan menghubunginya nanti di tempat makan.


Sesampainya di salah satu tempat makan yang berada di dalam pusat perbelanjaan, Cyara membawa anak-anaknya kesana. Mereka memilih tempat duduk dan setelahnya Cyara memanggil pelayan memesan makanannya. 


Sambil menunggu makanan yang dipesannya, Cyara memperhatikan kedua anak itu, dan dirinya baru ingat pada kertas yang Keisha berikan. Dengan segera Cyara menghubungi nomor itu, satu kali, dua kali teleponnya itu tidak kunjung mendapatkan jawaban dan pada panggilan ketiga kalinya, barulah terdengar seseorang di seberang telepon. Cyara kira nomor itu nomor Bibi yang dimaksud Keisha, nomor itu ternyata adalah nomor Ayah Keisha. Ya seperti itulah, pria di seberang telepon memperkenalkan dirinya.


Ayah Keisha bilang akan segera menjemputnya dan Cyara pun memberitahukan dimana posisi dirinya berada. Setelah mengatakan itu Cyara pun segera memutus panggilan, bertepatan dengan makanan pesanannya yang kini sudah tersaji di atas meja.


Cyara tersenyum saat melihat anak-anaknya terlihat antusias saat makanan datang dan buru-buru melahapnya, kemudian arah pandang Cyara beralih pada Keisha yang hanya diam menatap makanannya.


Cyara kemudian mengambil makanan Keisha, "Biar tante suapin ya," kata Cyara dan Keisha mengangguk dengan mata berbinar.


Air mata Keisha tiba-tiba menetes saat menerima suapan dari Cyara, membuat Cyara panik dan segera menghapus air matanya. Cyara takutnya dirinya melukai Keisha tanpa sengaja, hingga membuat gadis kecil itu menangis, bahkan sekarang, terdengar semakin kencang. Cyara menoleh ke arah sekitarnya, sedikit menundukan kepala, takut mereka semua salah paham seperti seorang pria yang kini datang dan menepis tangan Cyara yang menyentuh wajah Keisha dan bahkan sampai menarik Keisha dan memeluknya erat, buru-buru menyembunyikan wajah Keisha karena pria itu mengira jika Keisha menangis karena ulah Cyara.