
"Om Pir?" Rey dan Rain segera berlari ke arah Vier dan langsung memeluk pria itu.
Cyara dan Martin sama-sama terkejut melihat kedatangan Vier tiba-tiba, apalagi mereka tahunya Vier masih berada di Bali, bahkan baru tadi keduanya menonton gosip tentang pria itu.
Martin jauh lebih terkejut mendapati bosnya itu bisa berada di rumah Cyara bahkan sangat akrab dengan kedua anak Cyara yang malah menolaknya.
"Cyara aku pamit dulu," ucap Martin melihat tatapan menghunus Vier.
"Martin maaf," ucap Cyara tidak enak karena niat baik pria itu justru ditolak mentah-mentah oleh anak-anaknya dan kini, Vier yang baru saja datang justru mendapat sambutan hangat baik dari Rey maupun Rain.
"Tidak apa-apa, maklum namanya juga anak-anak," Martin tersenyum kepada Cyara meyakinkan pada wanita itu bahwa dirinya baik-baik saja.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan," tambah Cyara yang tidak mungkin meninggalkan kedua anaknya bersama Vier.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri, Rey, Rain, Om pamit dulu ya, Tuan saya permisi," ucap Martin yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Vier, Rey dan juga Rain, hingga Martin pun hanya bisa menghela nafasnya dan berlalu.
Cyara berjalan menghampiri kedua anak-anaknya, "Sayang maafin Mami, Mami tidak sengaja, Mami hanya ingin Kakak dan adik dengerin apa yang Mami katakan."
Vier menatap tajam Cyara. Dan menghentikan langkah ibu dari anak-anak yang dipeluknya agar tidak lagi mendekat ke arah mereka.
"Berhenti disitu! Untung aku cepat-cepat kembali, jika tidak, aku tidak tahu apalagi yang akan kamu lakukan," ucap Vier datar dan dingin.
"Rey, Rain ayo ikut Om, Om bawa oleh-oleh banyak untuk kalian," ucap Vier kemudian menghapus sisa air mata keduanya, kemudian menggandeng anak-anak itu berlalu meninggalkan Cyara.
"Sayang maafin Mami, Vier berhenti! kamu mau bawa anak-anakku kemana? Vier!" Teriak Cyara berlari dan menghadang langkah kaki Vier yang membawa kedua anaknya.
"Aku mohon jangan bawa anak-anakku!" Pinta Cyara memohon.
"Jangan harap aku akan menuruti apa yang kamu minta setelah melihat perlakuan kamu kepada anak-anak!" Kata Vier kemudian melanjutkan langkahnya membuat tubuh Cyara meluruh begitu saja di lantai dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Kamu tidak berhak! Kamu tidak ada hak mengambil anak-anakku! Mereka hanya milikku, aku yang melahirkan dan membesarkannya, sedangkan kau? Kau siapa hingga dengan seenaknya membawa mereka?" Teriak Cyara, dan mungkin saja Vier sudah tidak mendengarnya karena pria itu sudah keluar dari rumah Cyara.
Cyara tersentak saat tiba-tiba ada dua pasang tangan mungil yang memeluknya.
"Mami maafin Kakak dan adik, Mami jangan nangis lagi ya, Kakak dan Adik sedih kalau lihat Mami menangis seperti ini," ucap Rey menghapus air mata Cyara dengan jari-jari mungilnya.
"Mami jangan nangis, Rain sayang sama Mami, Rain tidak akan ninggalin Mami sendiri," tangis Rain memeluk maminya.
Cyara segera menarik lembut tangan kedua anaknya membawa ke dalam dekapannya dan memeluknya erat.
"Mami yang minta maaf sayang, Mami tadi benar-benar tidak sengaja membentak kalian, Mami minta maaf," kini ruang tamu rumah itu, diisi dengan isak tangis ketiga orang yang kini masih saja berpelukan.
"Iya kami akan maafin Mami asalkan Mami buatkan kita puding," celetuk Rain tiba-tiba hingga membuat Rey dan Cyara tertawa.
"Baiklah Tuan putri, perintah siap dilaksanakan," ucap Cyara dan kini ketiganya sudah kembali tertawa.
"Mami tadi benar-benar takut, takut jika kalian benar-benar akan ninggalin Mami, terus nanti Mami sama siapa?"
"Tidak akan, Mami tenang saja, pokoknya kita akan sama-sama terus, apalagi nanti ditambah dengan Om Pir, pasti sangat menyenangkan iya kan Dek?"
"Betul," kata Rain mengangguk menyetujui ucapan kakaknya.
"Om Pir mana?" Tanya Cyara karena tidak melihat keberadaan pria itu.
"Om Pir pergi, katanya ada kerjaan," jawab Rey.
"Ayo Mami kita bikin pudingnya sekarang!" Rain menarik tangan maminya agar bangun dan ketiganya pun menuju ke dapur.
*
*
"Apa yang kamu lakukan Vier? Kamu benar-benar keterlaluan!" Teriak Stevano begitu melihat anaknya yang baru saja datang.
"Sayang!" Jasmine mencoba menenangkan suaminya.
"Jika kamu belum menyelesaikan urusanmu dengan masa lalumu itu, jangan libatkan Cyara dan anak-anaknya! Untuk apa kau bilang ingin cepat-cepat menikahi Cyara tapi kau justru masih menemui mantan kekasihmu itu Vier, kau tahu ini bukan hanya tentang kau dan wanita itu lagi, ini juga menyangkut tiga keluarga, keluarga Cyara, keluarga kita bahkan keluarga pamanmu, apa kau tidak berpikir sampai kesana?" Marah Stevano dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran putranya.
Vier duduk di sofa tampak tenang, seolah yang baru saja mendapat amarah Stevano bukan dirinya.
"Vier!" Geram Stevano karena Vier sama sekali tidak merasa bersalah.
"Ini akan menjadi urusanku, papa lebih baik tidak ikut campur, aku yang akan menyelesaikan semuanya, apa yang aku lakukan bukan urusan Papa."
"Vier!" Kini Jasmine berteriak mendengar jawaban putranya yang dia rasa sudah tidak sopan kepada papanya.
"Kamu anak Mama dan Papa, jadi urusanmu akan menjadi urusan kita? Baik Mama ataupun Papa berhak ikut campur urusan kamu, karena kamu anak Mama dan Papa, jadi kamu tidak pantas berbicara seperti itu, jika anak salah, maka tugas kami untuk mengingatkannya, dan sekarang kamu salah Vier, selain menyakiti Cyara kamu juga menyakiti Ken, kamu tahu jelas bagaimana disakiti, apa kamu juga akan melakukan itu? Apa kamu akan menyakiti orang yang tidak bersalah?"
"Terus apa yang Mama dan Papa inginkan? Klarifikasi atas berita itu? Baiklah aku akan melakukannya, tapi apa Mama dan Papa bisa menebak apa yang akan aku katakan? Jadi biarlah, biarkan semua itu berlalu dengan sendiri, seiring berjalannya waktu semua juga akan kembali seperti biasa. Sudahlah, aku harus pergi sekarang!" Jawab Vier yang tidak memberikan penjelasan apa-apa kepada kedua orang tuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, perkataan Vier justru membenarkan berita yang kini sudah beredar dimana-mana.
"Lagian berita itu benar, aku memang disana bersama dengan Sheira," ucap Vier bangkit dari duduknya tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung saat tiba-tiba mendapat pukulan secara mendadak.
"Kamu sudah berbicara tidak sopan sama Mama dan Papa hanya karena wanita itu? Hebat juga dia bisa membuat kedua kakak adik jadi mengejar-ngejarnya, apa perbuatannya dulu yang meninggalkanmu dan lebih memilih Ken, tidak membuatmu sadar bahwa dia bukanlah wanita baik-baik,"
Bug
Tangan Vier yang mengepal kuat kini sudah mendarat sempurna di wajah Alno yang tiba-tiba datang memukulnya bahkan menjelek-jelekkan Sheira, wanita yang masih saat ini Vier cintai.
Bug
Alno yang tidak terima membalas pukulan Vier, hingga terjadilah baku hantam keduanya.
"Stop!"
"Alno, Vier hentikan!" Teriak Jasmine yang melihat kedua anaknya justru saling baku hantam.
"Sayang cepat pisahkan mereka!" Panik Jasmine yang melihat Vier sudah jatuh tersungkur.
"Biarlah, dia berhak mendapatkan itu, jika bukan Alno, maka aku sendiri yang akan memukulnya," ucap Stevano yang kemudian memilih pergi.