Love Revenge

Love Revenge
Bab 21



"Tuan apa yang Anda lakukan?"


"Aku sudah bilang kan jangan melanggar peraturan!" Bentak Vier langsung. Cyara begitu terkejut dibentak tiba-tiba oleh atasannya itu.


"Apa maksud Anda? Saya… saya tidak melanggar apapun," jawab Cyara tidak terima karena nyatanya dia tidak melanggar peraturan yang dimaksud pria di hadapannya.


"Kamu melanggarnya Cyara, kamu melanggar hal yang begitu penting, aku tidak mengizinkan satu orang pun menyentuh kamu! Saya tidak mengizinkan kamu dekat dengan pria manapun! Dan tadi apa yang ku lihat? Kau bahkan tertawa-tawa dengannya," kata Vier dengan nada suara yang masih tinggi.


Bola mata Cyara membesar mendengar perkataan bosnya  barusan. "Dengannya? Siapa maksudnya? Apakah yang dia maksud Martin?" Kata Cyara dalam hati bertanya-tanya.


"Apa yang Anda katakan? Menyentuh saya? Tidak ada yang menyentuh saya, apa yang Tuan Maksud Martin? Kami tidak ada apa-apa," entah kenapa Cyara menjelaskan hal itu, padahal Cyara tidak perlu menjelaskannya apalagi kepada Vier yang jelas bukan siapa-siapanya.


Tapi entah kenapa Cyara melihat kilatan amarah di pria itu, hingga membuatnya harus menceritakan semua itu.


"Kamu pikir aku orang bo*doh, kamu pikir aku tidak tahu apa-apa, aku tahu jika dari matanya dia suka sama kamu," kata Vier menatap Cyara tajam.


"Kenapa dengannya?" Ucap Cyara dalam hati. 


"Bagaimana Anda bisa mengatakan dia menyukai saya Tuan? Cyara menghela nafasnya sebelum dia melanjutkan perkataannya.


"Lagian jika memang Martin menyukai saya, apa urusannya dengan Anda? Anda tidak berhak melarang apapun dalam hidup saya? Saya wanita single, jadi terserah saya jika saya mau bersa…" belum selesai melanjutkan perkataannya, Vier sudah dulu membungkam mulut Cyara.


Cyara terkesiap, Vier menciumnya, pria itu kembali menciumnya, Cyara tersadar setelah sepersekian detik, dan dia pun mencoba memberontak, tapi Vier tidak membiarkannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah Cyara," bisik Vier begitu ciuman mereka terlepas. Jarak keduanya hanya beberapa senti saja, dan Cyara memalingkan wajahnya saat Vier menatap ke dalam matanya.


"Kamu bertemu di waktu yang salah Cyara dan itu akan menjadi kesialan mu, aku akan mempertahankanmu dan tidak akan melepaskanmu begitu saja, setidaknya untuk dalam waktu dekat ini, sebelum aku benar-benar membuatmu merasakan apa yang dulu aku rasakan, sebelum kamu menderita," kata Vier berucap dalam hatinya.


Pintu lift terbuka, dan dengan segera Vier menarik Cyara keluar. Vier kemudian membawa Cyara ke ruangannya, lebih tepatnya sebuah ruangan yang ada di dalam ruangannya. Lebih tepatnya Zavier memaksanya. Vier  kemudian  menutup dan mengunci pintu dan mendorong Cyara begitu sampai di dalam sana, membuat Cyara membulatkan kedua matanya.


Entah kenapa Cyara merasa takut hanya berdua di ruangan tertutup hanya berdua dengan bosnya, Cyara menatap sekeliling, dirinya baru tahu jika di dalam ruangan pria itu ada ruangan lain.


"Aku ingatkan sekali lagi Cyara, aku tidak ingin melihat kamu dekat dengan pria lain bahkan sampai pria itu menyentuhmu?" Bentakan Vier itu membuat Cyara tersadar  dirinya kini dalam bahaya, apalagi saat melihat tatapan pria itu.


"Perlu aku katakan pada Anda Tuan, tidak ada yang menyentuhku, dan harus berapa kali aku katakan hal itu!" Berbicara dengan Vier saat ini agaknya benar-benar menguji kesabaran Cyara.


"Jangan memancing amarahku Cyara, aku sudah bilang jangan pernah melanggar peraturan, tapi apa yang kau lakukan, kau justru melanggarnya, kau berdua-duaan dengan pria lain bahkan di depan kedua mataku!" 


Cyara rasanya sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada pria yang ada di hadapannya.


"Apa hakmu melarangku? Siapa kamu sampai aku harus mendengarkan apa katamu?"ketus Cyara merasa kesal karena pria itu masih saja tidak percaya pada ucapannya.


"Aku bosmu! Jadi aku berhak melakukan itu!" Ucap Vier tepat di wajah Cyara. Dan hal itu membuat darahnya berdesir, ada gelenyar aneh yang dirasakan. "Jadi aku berhak melarangmu!" Tambahnya lagi.


Cyara merasa nafasnya tercekat di tenggorokan, Vier menahan kedua tangannya dan 


Vier kembali mencium Cyara untuk kedua kalinya dalam sehari ini, hanya sekilas.


"Jangan menentangku dan turuti apa yang aku katakan," ucap Vier dengan suara yang terdengar lembut. Dan entah kenapa hal itu membuat Cyara tiba-tiba menjatuhkan air matanya.


"Percayalah dan jangan pernah membantahku, kamu tidak akan tahu apa yang aku lakukan jika kamu melakukan itu. Vier mendekatkan wajahnya ke wajah Cyara. Bibir Vier sudah mengulum bibir Cyara, dan Vier lakukan itu dengan lembut, tidak ada perlawanan sama sekali dari Cyara, entah karena Cyara sudah lelah, atau dia benar-benar menikmatinya. Dan itu membuat Vier senang, bibir Cyara begitu manis menurutnya.


***


Cyara adalah kakak Sheira, Vier sudah memastikan itu lewat orang suruhannya, tapi tentang kehidupan wanita itu, Vier tidak menemukan apapun. Wanita itu benar-benar menjaga privasinya hingga orang yang tidak benar-benar tahu, tidak akan pernah tahu tentang kehidupan rumah tangga sebelumnya.


"Anggap saja kau sedang sial Cyara, karena aku akan membalaskan dendam atas rasa sakit hati yang pernah adikmu lakukan, anggap saja aku pengecut karena sudah membalasnya padamu yang tidak tahu apa-apa. Selamat datang Cyara, selamat datang di awal penderitaanmu.


*


*


*


Cyara kembali menelpon Bibi untuk memastikan jika wanita yang sudah dianggapnya ibu, sudah benar-benar menjemput anak-anaknya, sepertinya kejadian waktu itu membuat rasa trauma tersendiri untuk Cyara. Cyara tidak ingin terjadi apa-apa dengan putranya. Untungnya waktu itu, kedua anaknya bertemu dengan Vier, jika tidak,  Cyara bahkan tidak tahu bagaimana nasib anak-anaknya.


Ngomong-ngomong tentang bosnya itu, Cyara dibuat kesal karena bosnya itu tadi bersikap biasa saja setelah apa yang dilakukannya padanya. Kenapa Cyara harus kesal? Seharusnya Cyara tidak perlu kesal, tapi entah kenapa, Cyara memang benar-benar kesal bosnya bersikap biasa saja seolah memang tidak pernah ada yang terjadi.


"Hei melamun," kata seseorang yang membuyarkan pikiran Cyara tiba-tiba.


"Martin, hmm kenapa?" Tanya Cyara melihat pria itu sudah di depan meja kerjanya.


"Ini, berkas yang harus kamu pelajari, setelah jam makan siang nanti, kita akan ada pertemuan dengan klien penting," ucap pria itu menyerahkan beberapa berkas pada Cyara.


"Oh oke nanti aku pelajari, terima kasih ya," kata Cyara yang kembali sibuk, bahkan jari-jari lentik Cyara sudah kembali menari-nari di atas keyboard.


"Sebentar lagi, makan siang, kamu mau makan dimana? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Ucap Martin kepada Cyara setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Cyara menghentikan gerakannya, menghela nafas, kemudian Cyara menatap Martin.


"Maaf Martin sepertinya tidak bisa, aku harus menyelesaikan ini semua," Cyara menunjuk pekerjaannya yang masih menumpuk.


"Apa perlu aku bantu?" Tawar Martin.


"Hah, tidak, tidak perlu, lebih baik kau makan siang saja, aku bisa menyelesaikannya kok," kata Cyara menolak bantuan pria itu. Bisa gawat jika bosnya itu tahu, saat mengatakan itu dalam hatinya, Cyara langsung refleks melihat ke dalam ruangan bosnya lewat kaca.


Deg


Jantung Cyara rasanya mau copot saat itu juga.