Love Revenge

Love Revenge
Bab 92



Cyara yang akan duduk urung saat mendengar suara Martin yang memanggilnya.


"Kamu sudah kembali? Tuan Vier memanggilmu untuk ke ruangannya," ucap Martin yang sedari tadi menunggu Cyara yang katanya pergi ke toilet.


Cyara mengangguk, dirinya kemudian membereskan berkas yang perlu tanda tangan Vier. 


Cyara semakin memperlambat langkahnya saat samar-samar mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Dengan perlahan coba mengintip dibalik pintu yang memang sedikit berhenti.


Tangan Cyara memegang gagang pintu menguat hingga jari-jarinya memutih. Kaki Cyara lemas seketika, tubuhnya limbung dan hampir saja jatuh jika dia tidak berpegangan dinding.


Nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak. Di dalam sana, di ruangan Vier, suaminya  tengah berciuman dengan Sheira. Itu yang Cyara lihat saat ini.


Sebelum air matanya terjatuh, Cyara buru-buru berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Vier. Dia mempercepat langkahnya entah menuju kemana. Dia seperti kehilangan arah saat ini.


Kini langkah Cyara membawanya menuju ke arah tangga darurat. Cyara membuka pintu, dia menaiki tangga sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak menangis.


"Kenapa kau menangis Cyara? Harusnya kamu tahu hal ini akan kembali terjadi cepat atau lambat, lalu apa yang sekarang kau tangisi? Kenyataan? Kenyataan bahwa suamimu masih mencintainya? Kenapa? Kamu sakit? Bukankah ini pilihanmu? Lalu sekarang kamu mau apa? Kau menyesal? Kau menyesal karena hatimu sudah kau berikan seutuhnya untuk dirinya? Atau kau menyesal dengan pilihanmu yang justru membuatmu terluka?"  Tanya Cyara dalam hatinya pada dirinya sendiri. Tapi Cyara tidak bisa menemukan jawabannya.


Langkah Cyara berhenti saat dia tersandung  dan hampir saja jatuh, beruntung dirinya segera berpegangan, hingga hidupnya tidak berujung tragis karena jatuh dari tangga.


Cyara terduduk dengan satu tangan menggenggam pegangan tangga, dan tangannya satu tangannya memukul-mukul dada yang terasa begitu sesak.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Akh kenapa rasanya sakit sekali?"


Cyara kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Aku baik-baik saja, iya aku baik-baik saja, aku baik-baik saja," Cyara  terus mengulang perkataannya meyakinkan dirinya baik-baik saja.


Cyara menyeka air matanya yang akhirnya jatuh juga. Tiba-tiba dirinya terisak.


"Tidak, aku tidak baik-baik saja, hatiku sakit, sakit sekali," ucap Cyara begitu lirih.


Cyara memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sana.


"Apa yang kau lakukan Vier?"


*


*


*


"Mami!" 


Cyara berjongkok tersenyum menyambut anak-anaknya yang kini berlari ke arahnya.


Cyara langsung memeluk kedua anaknya erat, dirinya segera menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja.


Rey melepaskan pelukan Cyara lebih dulu. Kemudian melihat ke sekeliling seperti sedang mencari seseorang.


"Papi mana? Mami datang sama papi kan?" Tanya Rey akhirnya saat tidak juga melihat keberadaan papinya disana.


"Cyara melepas pelukan Rain kemudian menatap Rey, menggenggam tangan putranya.


"Papi sibuk sayang, jadi papi tidak bisa ikut jemput kalian," jawab Cyara.


Wajah Rey dan Rain terlihat kecewa saat mendengar maminya mengatakan jika papinya tidak ikut dan Cyara paling tidak suka melihat wajah anak-anaknya seperti itu. Mengingatkan dirinya saat itu.


"Sayang kok sedih gitu sih? Kan ada Mami, kalian tidak senang jika Mami yang jemput?"


"Tidak Mi, Rain senang kok, Kak Rey juga senang kan?" Tanya gadis kecil itu menatap kakaknya.


"Aku senang Mam, hanya saja Rey lebih senang jika papi juga ikut menjemput kami," kata Rey yang masih menunduk.


"Sudahlah lagian kan nanti di rumah juga ketemu, ya sudah ayo kita pulang sekarang! Mami akan memasakan makanan kesukaan kalian," ucap Cyara menatap kedua anaknya bergantian.


Rey dan Rain pun mengangguk, tapi Cyara tahu jika anak laki-lakinya sepertinya terpaksa mengiyakan ajakannya.


Cyara mengingat kejadian di kantor sebelum dirinya akhirnya memutuskan berpamitan pulang kepada Martin, setelah bersusah payah mencoba menenangkan hatinya.


"Martin maaf bisakah kau menggantikanku, aku harus…"


"Cyara apa kamu sakit? Wajahmu pucat, apa perlu aku panggilkan Tuan Vier," kata Martin yang akan segera pergi tapi dengan cepat mencegahnya.


"Tidak perlu, tadi aku lihat Vier sedang sibuk,  aku hanya pusing, makanya aku mau izin pulang, apa kamu mau mengganti…"


"Kamu tenang saja aku akan mengurusnya, lebih baik kamu cepat pulang dan istirahat. Apa perlu aku antar?"


Cyara mencoba memaksakan senyumnya.


"Tidak usah, aku bisa naik taxi, dan Martin sebelumnya terima kasih," kata Cyara yang kemudian mengambil tasnya dan pergi setelah menyerahkan pekerjaannya pada Martin.


"Ayo Mi!" Rain menarik-narik jari Cyara yang justru melamun.


"Ayo!" Cyara kemudian mengajak anak-anaknya untuk naik taxi dan membiarkan taxi membawanya hingga sampai di kediaman Gottardo.


Cyara membantu anak-anaknya turun dan menggandengnya untuk masuk.


Pelayan menyambut dengan ramah, Cyara membalasnya dengan tersenyum. Kemudian Cyara pun mengajak anak-anaknya berganti pakaian dan setelahnya membiarkan Rey dan Rain menikmati tontonan televisi yang menampilkan film kartun kesukaan mereka, sementara Cyara sendiri memilih menuju dapur. Memasak makanan kesukaan anak-anaknya seperti janjinya tadi.


Tak butuh waktu lama, kini makanan favorit kedua anaknya sudah tersaji di meja makan. Cyara memanggil anak-anaknya.


"Ayo sekarang kita makan!"


"Papi mana? Papi belum pulang Mam?" Tanya Rey karena belum juga melihat papinya pulang, karena belakangan ini biasanya jika maminya pulang maka papinya juga pulang tidak seperti hari ini.


"Sayang papi sibuk, nanti pulangnya agak malam, sekarang kalian makan ya?" Bujuk Cyara kemudian menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya kepada putranya.


Rey menggeleng, "Rey tidak mau, makannya nanti saja sama papi."


"Rain juga Mi," kata Rain yang ikut menyahuti ucapan kakaknya.


Cyara mengalah, dia kemudian mengambil makanan Rey dan akan mencoba menyuapinya, jika susah makan, anak-anaknya pasti mau jika dia yang menyuapi.


"Sayang papi masih lama pulangnya, nanti bagaimana jika perut kalian sakit? Mami suapin ya?" Cyara masih terus membujuk anak-anaknya. Bukan tanpa alasan Cyara mengatakan itu, karena Cyara tahu jadwal Vier hari ini, di jam segini pria itu akan pergi keluar kota untuk mengecek proyek yang dikerjakannya, dan jika dihitung Vier akan pulang tengah malam nanti, dan Cyara tidak mungkin membiarkan anak-anaknya kelaparan karena menunggu Vier yang bisa dipastikan tidak bisa pulang cepat.


"Tapi Rey mau nunggu papi, Rey mau makan bareng sama papi juga."


"Sayang papi masih lama pulangnya, jika tidak kan kalian nanti bisa makan lagi kalau papi pulang biar bisa makan sama-sama. Yang penting kalian sekarang makan dulu ya," kata Cyara karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.


"Rey tidak mau Mam," Rey menutupi mulutnya agar maminya tidak bisa menyuapinya.


"Rain juga tidak mau," ucap anak perempuannya ikut-ikutan.


Cyara menghela nafasnya, dia tetap meminta anaknya untuk membuka mulutnya sementara dirinya mencoba kembali untuk menyuapkan makanan kepada keduanya.


Cyara begitu terkejut saat tiba-tiba Rey justru menepis sendoknya. 


"Sayang!"


"Rey tidak mau!"


"Rey! Apa seperti ini sikap kalian sama Mami? Mami bilang papi sibuk, apa kalian tidak mengerti?" Kata Cyara dengan suara yang meninggi membuat  Rey dan Rain ketakutan. Baru pertama kalinya mereka dibentak oleh maminya.


Cyara tersadar melihat wajah ketakutan anak-anaknya, sungguh dia tidak sengaja, dia kelepasan, pikirannya sedang kacau dan anak-anaknya yang biasanya menurut tapi sekarang tidak, bahkan berani menepisnya.


Cyara bangkit, dia kemudian bersimpuh di antara tempat duduk Rey dan Rain.


"Maafkan Mami sayang, Mami tidak sengaja, Mami tidak bermaksud membentak kalian, maafkan Mami," kata Cyara menyentuh wajah keduanya dengan tangan yang gemetar, dirinya benar-benar merasa bersalah. Apalagi saat dia melihat anak-anaknya yang justru menangis kencang. 


"Apa ini yang kau lakukan jika aku tidak ada di rumah?" 


Terdengar suara yang menggelegar mengisi ruangan, Cyara menoleh ke arah sumber suara, dan dirinya bisa melihat sosok Vier dengan aura yang begitu mengerikan.