Love Revenge

Love Revenge
Bab 91



"Selamat siang Tuan, maaf karena sudah membuat kalian menunggu," ucap seorang wanita yang cantik dan tinggi.


Cyara langsung menegang melihat siapa wanita itu. Bahkan Vier ikut terdiam menatap wanita itu tanpa berkedip. Dan Cyara yang melihat merasakan hatinya begitu sakit.


"Oh ya Tuan Vier perkenalkan ini sekretarisku Sheira Adelia," ucap Damian memperkenalkan Sheira pada Vier.


"Sheira perkenalkan ini Tuan Vier rekan kita." Pria itu kini berganti menatap Sheira.


"Selamat siang Tuan Vier, hmm maaf Nona…"


Sheira sengaja menggantung ucapannya.


"Cyara, dia istriku," ucap Vier menekankan kata istri.


Sheira mengepalkan tangannya, ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendengar pria yang dicintainya memperkenalkan Cyara sebagai istrinya.


Tapi dengan cepat Sheira kembali tersenyum mengulurkan tangannya pada Cyara.


Cyara pun membalas uluran tangan Sheira.


"Sebenarnya kami sudah saling mengenal, Tuan Vier ini…"


"Kami pernah menjadi rekan, Nyonya Sheira ini pernah jadi model pada produk baru perusahaan kami." Ucap Vier memotong ucapan Sheira membuat wanita itu semakin mengepalkan tangannya erat.


Damian tampak terkejut, "Wow benarkah? Dunia begitu sempit ya," ucap pria itu.


"Benarkan Nyonya Sheira?"


Sheira tersenyum dan mengangguk.


"Benar Tuan, selain itu kami juga satu sekolah," jawab Sheira menatap Vier.


"Oh aku kira Nyonya Sheira tidak mengingatnya," kata Vier.


"Mana mungkin aku tidak mengingatnya bahkan Anda lah pria pertama selain keluargaku yang memperlakukan aku seperti ratu.


"Wah, benarkah itu Tuan Vier? saya benar-benar tidak menyangka, padahal Tuan Vier yang saya kenal adalah pria dingin yang tidak pernah ada skandal dengan wanita manapun," ucap Damian.


"Itu hanya masa lalu, dan tidak baik bukan jika membahas hal itu di depan istrinya. Atau kalian ini tidak menghargai keberadaanku disini? Dan Nyonya Sheira, sepertinya Anda tipe wanita pekerja keras ya, padahal suami Anda adalah orang yang terkenal dalam jajaran pebisnis muda, tapi Anda justru bekerja di tempat orang lain? Dan lagi bukankah Anda ini seorang model? Apa Anda kekurangan uang sampai bekerja sampingan menjadi seorang sekretaris, padahal saya yakin harta suami Anda tidak akan habis sampai tujuh turunan walaupun Anda tidak bekerja, hmm atau jangan-jangan Anda punya maksud lain?" Ucap Cyara yang sedari tadi hanya diam saja dan menyimak, mengalihkan perhatian Vier dan Sheira yang saling pandang, seolah mereka berbicara hanya berdua saja.


Sheira mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, mendengarkan apa yang Cyara katakan. 


Damian menatap Cyara dengan tatapan yang sulit diartikan. 


Sheira memaksakan senyumnya dan menatap Cyara.


"Bukankah kita sama Nyonya Cyara? Aku yakin Tuan Vier juga bisa menghidupi Anda sampai tujuh turunan walaupun Anda tidak bekerja, tapi lihatlah Anda malah tetap menjadi sekretarisnya, atau jangan-jangan Anda takut Tuan Vier akan bersama wanita lain?"


Sheira dan Cyara saling menatap tajam, seakan ada aliran listrik yang keluar dari mata kedua wanita itu.


"Tentu saja, aku harus menjaga milikku baik-baik, takutnya ada ular berbisa yang melilitnya," ucap Cyara.


"Kau!"


"Sudah, sudah kenapa jadi membahas masalah pribadi, bagaimana kalau kita mulai membahas rencana kerja sama kita," ucap Damian.


"Ah iya maaf Tuan Damian, baiklah kita mulai saja untuk membahas kerjasama kita," ucap Cyara yang kini mulai membuka berkas-berkas kerjasama mereka.


Vier sedari tadi hanya menatap kedua wanita yang pernah ada di hidupnya, terdiam merenungkan sesuatu, hingga buyar saat Cyara menepuk pahanya, meminta pria itu untuk fokus pada pekerjaan.


Keempat orang itu pun mulai membahas kerjasama hingga mencapai kesepakatan.


"Baiklah Tuan Vier, semoga kerjasama kita berjalan lancar," ucap Damian menjabat tangan Vier bergantian dengan Cyara.


*


*


"Ayolah sayang, kalian menginap ya di rumah Tante Vira, kalian tidak mau menemani dedek bayi?" Vira membujuk anak-anak Cyara yang tadi di jemput Alno dan membawanya ke rumah mereka.


Dan Cyara yang sudah ada di rumah Kakak Iparnya hanya menatap Vira kasihan karena sedari tadi wanita yang kini sudah beranak dua itu tidak juga berhasil membujuk anak-anaknya.


"Tidak mau tante, kami sudah janji mau tidur sama mami sama papi, iya kan papi?" Rain mendongak menatap Vier karena gadis kecil itu kini duduk dalam rangkulan Vier.


Vier hanya mengangguk tanpa banyak bicara.


"Ya sudah Kak Rey mau kan?" Kini Vira beralih membujuk anak laki-laki Cyara. "Kak Rey bisa menemani Aira loh," tambahnya.


Rey melihat Aira yang sedang tidur dengan berbantalkan paha omanya.


Anak laki-laki itu mengetuk-ngetukkan jarinya di dahi, sepertinya sedang berpikir, menimbang antara mau atau tidak.


"Kak Rey jangan ingkar janji!" Teriak Rain.


"Maaf tante sepertinya Rey tidak bisa sekarang," ucapnya dengan wajah rasa bersalah.


"Kalian yakin? Memangnya kalian tidak mau adek bayi seperti Aira?"


Ucapan seseorang yang baru datang membuat Rey dan Rain saling pandang. Sementara Cyara melotot mendengar ucapan Zeline yang baru saja datang bersama suaminya yang kini duduk di sebelah Alno yang memangku bayinya. Dan Vier, pria itu sedari tadi hanya berwajah datar.


"Aku mau punya adek bayi!" Kata keduanya kemudian, bersamaan.


Vira yang tadi sudah merasa putus asa, kemudian tersenyum saat mendengar ucapan adiknya.


"Yups, jadi Rey dan Rain harus tidur disini! Biar kalian cepat punya dedek bayi," kata Vira kembali membujuknya.


Dan Cyara tertawa saat melihat wajah Vira selanjutnya saat mendapat pertanyaan dari kedua anaknya. Semua orang tersenyum bukan karena wajah Vira saat ini tapi karena melihat dan mendengar tawa Cyara.


"Memangnya kenapa Rey dan Rain harus tidur disini biar punya adek bayi seperti Aira?"


"Ya tentu saja karena…" Vira menatap orang-orang satu persatu yang sepertinya tidak mau membantu dirinya menjawab pertanyaan anak itu.


"Kenapa tante?" Kini giliran Rain yang bertanya karena tidak sabar mendengar jawaban dari Vira.


"Ya karena jika Rey dan Rain di rumah, mami sama papi tidak bisa membuat dedek bayinya," ucap Vira yang membuat Cyara menatapnya tajam, dan Vira mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.


Kedua anak itu menggaruk kepalanya, sepertinya bingung mendengarkan penjelasan Vira.


"Tapi Rain ingin melihat? Memang bagaimana papi? Papi mau ajarin Rain?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"Tanya sama Mami," ucap Vier yang melempar itu pada Cyara agar menjawabnya.


"Vier!" ucap Cyara tanpa bersuara menatap Vier dan pria itu hanya mengedikan kedua bahunya acuh.


"Mami…" Rain turun dan mendekat ke arah maminya.


"Hmm itu…" Cyara bingung harus menjawab apa.


"Eh sayang, kamu sama Kak Rey kali ini ulang tahunnya mau dirayakan seperti apa?" Tanya Cyara yang mendapatkan bahan pembicaraan untuk mengalihkan anaknya.


"Tunggu Mami!" Kini Rain berlari ke arah kakaknya dengan mata berbinar, membicarakan tentang ulang tahun mereka bulan depan. Sepertinya mereka kini sedang berunding.


"Kak Cyara curang!" Ucap Vira yang di tanggapi Cyara dengan senyumannya.


Cyara tidak sadar jika saat ini Vier tengah menatapnya. Entah apa arti tatapan pria itu.