
Wanita yang sedari tadi mengamati dua anak kecil yang baru keluar dari sekolahan, seperti biasa dia menunggu sopir menjemput anak-anak itu, barulah dia menyuruh sopirnya meninggalkan tempat itu. Tapi tidak seperti biasanya, sudah lewat setengah jam mobil jemputan belum juga turun, sekolah anak itu pun sudah mulai tampak sepi.
Suara sopir mengejutkan dirinya, "Nyonya yakin tidak mau turun? Atau mungkin menawari anak-anak itu untuk ikut mobil kita?"
Wanita itu menghela nafasnya, sebenarnya ingin, tapi rasanya dia belum siap, dia takut kedua anak yang tak lain adalah cucunya itu akan menolaknya, karena sebelumnya dia juga pernah menolak anak-anak itu, entah akhir-akhir ini dia selalu kepikiran dua anak yang lahir dari anak yang selama ini tidak dianggapnya. Belakangan ini, dia selalu bermimpi buruk, dan dia tidak ingin hal itu terjadi, akhirnya memutuskan untuk diam-diam memantaunya, bagaimanapun mereka adalah cucunya, dan wanita itu tidak ingin menyesal nantinya karena sudah mengabaikan kedua cucunya. Apalagi, saat itu dia mendengar, cucu laki-lakinya dirawat di rumah sakit, tapi dia tidak berani untuk datang.
Saat sedang fokus menatap kedua anak itu, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang melaju cepat dari arah berlawanan dan anehnya mobil itu seperti sengaja menghampiri Rey dan Rain, hingga wanita itu pun buru-buru turun dan berlari untuk menyelamatkan mereka.
"Rey! Rain," ucapnya tanpa bersuara sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
"Nenek!" Keduanya berlari menghampiri wanita itu, mengguncang-guncang tubuh wanita yang dipanggilnya nenek.
"Nyonya!" Teriak seseorang yang kemudian memanggil mobil ambulance.
*
*
"Ibu!"
Cyara terbangun dari tidurnya, dengan peluh bercampur dengan air mata yang kini membasahi seluruh wajahnya.
Vier yang duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya, langsung bangun dan berlari menghampiri istrinya.
"Sayang ada apa? Mimpi buruk?" Tanya Vier yang dengan sigap mengambilkan air minum dan menyerahkan kepada Cyara.
Cyara segera meminumnya, kemudian menatap Vier ragu.
"Kenapa? Katakan saja!"
"Vier aku ingin pulang sekarang juga," ucap Cyara menatap dengan sorot mata memohon.
"Tapi ini sudah malam."
"Vier, aku mohon, aku ingin pulang sekarang, ayo Vier, ayo!" Cyara menggoyang-goyangkan tubuh suaminya meminta Vier untuk pulang saat itu juga.
"Vier!"
Vier yang tidak tega melihat istrinya yang terus merengek ingin pulang, dengan segera mengambil ponsel dan menghubungi Martin.
"Ayo kita bersiap!" Ucap Vier setelah selesai menghubungi Martin, Vier membantu istrinya untuk bersiap saat itu juga.
…
Kini Vier bersama Cyara dalam perjalanan menuju rumah orang tua Vier. Sedari tadi Vier terus melihat istrinya tampak gelisah, dia hanya bilang, jika bermimpi buruk dan mimpi itu seperti nyata.
"Sayang, tenanglah, berdoa saja, semoga semua baik-baik saja," ucap Vier menarik Cyara ke dalam pelukannya, mengelus punggung istrinya mencoba menenangkan.
Tiba-tiba ponsel Vier berdering, panggilan dari mamanya. Padahal Vier belum memberitahu keluarganya akan kepulangannya, apa Martin?
Tak berlama-lama, Vier segera menjawab panggilan itu.
"Iya Ma."
"Apa?"
"Baiklah, Vier dalam perjalanan pulang dan akan segera kesana?"
"Iya Ma, Vier tutup dulu teleponnya," ucap Vier yang segera mengakhiri panggilan telepon tersebut dan menunduk menatap istrinya.
"Cya…"
Ragu Vier memanggil sang istri.
Cyara menghapus air mata, melepaskan pelukan dan menatap suaminya.
"Kita akan ke rumah sakit, Rey dan Rain ada disana," ucap Vier kemudian.
Seketika raut wajah Cyara berubah cemas.
"Rey dan Rain ada di rumah sakit? Mereka kenapa? Mereka baik-baik saja kan Vier?"
Vier hanya diam saja, dia bingung harus menjelaskan bagaimana.
Vier menghela nafas, "Mereka baik-baik saja, tapi…"
"Tapi apa Vier? Katakan yang jelas!" Teriak Cyara yang tidak sabar, menunggu jawaban Vier.
"Ibu kamu…"
…
Cyara berjalan cepat, menuju ke sebuah ruang rawat yang sudah diberitahu oleh mama mertuanya.
"Sayang, pelan-pelan!"
Vier berjalan di belakang istrinya, terus mengingatkan agar Cyara berjalan lebih pelan, dia merasa ngeri sendiri dengan cara jalan istrinya yang seperti itu terlebih dengan perut besarnya.
Cyara sama sekali tidak memperdulikan ucapan Vier, yang ada dalam pikirannya saat ini, adalah dia ingin segera melihat bagaimana keadaan ibunya sekarang.
Tiba di depan ruang rawat, Cyara langsung saja membuka pintu itu, semua orang yang ada di dalam ruangan, seketika menatap ke arahnya, di dalam sana, ada Jasmine, Stevano, Alno dan juga seorang pria yang waktu itu Cyara pernah lihat, dia Ken, suami dari adiknya, lebih tepatnya mantan suaminya, karena Cyara mendengar bahwa adiknya sudah bercerai dengan pria itu.
Cyara berjalan pelan menghampiri ibunya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi kakinya tiba-tiba seperti mati rasa, hingga tubuhnya limbung, untungnya Vier dengan sigap langsung menangkap tubuh sang istri. Membantunya berjalan hingga dia kini berdiri tepat di samping ranjang ibunya.
"I...ibu!"
Dengan tangan yang gemetar, Cyara mencoba meraih wajah wanita yang telah melahirkannya. Diusapnya dengan lembut wajah pucat itu.
"I...ibu kenapa?" Tanya Cyara entah pada siapa.
"Cya tenang sayang, Mama yakin, ibu kamu baik-baik saja," ucap Jasmine yang kini memeluk menantunya.
"Ibu...Ma, apa yang terjadi sama Ibu? Kenapa Ibu bisa seperti ini?" Tangis Cyara pun pecah saat melihat kondisi ibunya yang hanya terbaring lemah dengan perban yang membalut kepalanya.
"Ibu kenapa seperti ini? Bangun Bu! Ayo bangun!"
"Sayang!"
"Vier, ibu Vier!"
Setelah mengatakan itu, Cyara pun jatuh pingsan.
Wajah Vier berubah panik, dan Ken pun keluar dan segera memanggil dokter.
…
Vier kini sedang duduk menunggu sang istri yang kini dipindahkan di ruang rawat. Untung saja istri dan bayinya baik-baik saja, kata dokter, istrinya hanya kelelahan, ditambah dengan banyak pikiran.
Vier menatap sang istri dan terus mengecup punggung tangannya, hingga kemudian dia mendengar suara pintu ruang rawat istrinya terbuka.
"Ada yang ingin Papa bicarakan," ujar Stevano tiba-tiba, Vier mengangkat wajahnya, ternyata yang datang adalah mama dan papanya.
"Nanti saja Pa, Vier hanya ingin menemani Cyara," ucap Vier yang kini menempelkan punggung tangan istrinya di pipi kanan pria itu, satu tangannya mengusap rambut Cyara dengan lembut.
"Ini penting Vier," ucap Stevano membuat Vier menatap ke arah papanya.
"Cyara jauh lebih penting Pa."
Stevano hanya menghela nafasnya.
"Ini tentang kecelakaan yang hampir saja terjadi pada Rey dan Rain."
Vier langsung menegakkan badan, mencerna apa yang baru saja papanya katakan.
"Maksud Papa?"
"Ikut Papa! Jangan bicara hal itu disini," kata Stevano menatap Cyara yang masih belum sadarkan diri.
Vier mengikuti arah pandang papanya, dan dia pun terpaksa harus meninggalkan sang istri.
Mengerti maksud tatapan putranya, Jasmine pun akhirnya berkata.
"Mama akan menjaganya," ucap Jasmine yang tahu kekhawatiran Vier.
"Titip Cyara ya Ma," ucap Vier yang langsung di angguki Jasmine, kemudian pria itu pun keluar mengikuti langkah Stevano yang ternyata, justru kembali masuk ke dalam ruang rawat mertuanya.