Love Revenge

Love Revenge
Bab 115



Vier buru-buru mengambil ponsel dan segera menyusul Cyara ke depan, dia yakin jika saat ini Cyara hendak berangkat kerja, dan Vier sebenarnya tidak suka itu, selain itu akan membuat Cyara kelelahan, Vier juga tidak suka melihat Cyara bersama dengan pria yang bernama Arga-Arga itu. 


Baru juga Vier menyampaikan dalam hati ketidaksukaannya, kini pria itu sudah ada di depannya, pria yang bernama Arga itu membukakan pintu mobil untuk istrinya. 


Vier menghentikan langkahnya, tangannya mengepal, darahnya mendidih, ubun-ubunnya terasa panas, dan hatinya seperti terbakar melihat itu, apalagi saat Cyara tidak menolak pria itu yang merangkul pinggangnya. 


Dengan kesal Vier menutup pintu dan berjalan menuju mobilnya, mengikuti mobil di depannya yang memiliki tujuan yang sama.


Tidak begitu lama, karena memang lokasinya tidak jauh dari rumah yang Cyara tinggali. Tapi tetap saja, bagi Vier terasa lama, apalagi saat mengingat istrinya berada satu mobil dengan pria lain. Dapat Vier lihat kini Cyara dan pria itu turun, Arga bahkan tak segan-segan menggendong Cyara ala bridal, bahkan pria itu seakan tidak peduli dengan tatapan para karyawannya yang pastinya merasa heran dengan apa yang keduanya lakukan. Vier jadi tidak tahan melihat itu semua, bagaimana jika semua orang salah paham, tidak, bukan hanya semua orang karena mungkin sebenarnya Vier sendiri juga salah paham terhadap mereka, dalam hati bertanya-tanya apa ada hubungan antara Cyara dan pria itu.


Vier terus mengikuti kemanapun langkah Cyara dan pria itu pergi, jika dia berpapasan dengan karyawan pria itu, Vier berpura-pura menyibukan diri, entah itu menelpon ataupun pura-pura mengamati tempat itu, tak terasa langkah kaki Vier terhenti saat pria itu juga berhenti, rupanya mereka telah tiba di tempat tujuannya. Vier melihat Cyara membukakan pintu, masih dalam gendongan Arga. Keduanya pun segera memasuki ruangan yang Vier yakin adalah ruangan Arga, tempat kemarin dia pertama kalinya bertemu keduanya.


"Apa yang akan mereka lakukan di dalam?" Gumam Vier mengepalkan kedua tangannya. 


Vier buru-buru segera menyusul tapi terlambat karena tiba-tiba pintu ditutup. Vier menengok kanan dan kiri, untungnya di ruangan Arga, sangat jarang orang lewat, kecuali jika memang ada kepentingan dengan pria itu. 


Vier mendekat dan menempelkan telinga di pintu, mencuri dengar apa yang sedang dua orang itu lakukan.


Dan baru saja berniat menguping, dia sudah mendengar teriakan Cyara.


"Akh sakit Ar!"


"Sabar ini hanya sebentar."


"Tapi sakit, pelan-pelan!"


"Iya ini juga pelan, kamu diam dulu, jangan banyak bergerak!"


Vier yang tidak tahan mendengar itu, langsung membuka pintu begitu saja, telinganya terasa panas pada apa yang sedang mereka bicarakan.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Teriak Vier tiba-tiba.


Cyara dan Arga langsung menoleh saat pintu ruangan Arga terbuka diiringi suara teriakan seseorang.


Cyara menurunkan kakinya yang ada di paha Arga dan mengernyit menatap Vier. Tidak tahu kenapa Vier ada disana. Bahkan pria itu membuka pintu ruangan Arga tanpa mengetuk juga berteriak.


"Apa yang Anda lakukan Tuan Vier?" Tanya Arga yang kini sudah bangun dari duduknya.


"Justru yang seharusnya bertanya itu saya, apa yang sedang kalian lakukan? Apa pantas seorang bos menggendong sekretarisnya bahkan mengajak memasuki ruangan lalu menutup pintunya, apa yang karyawan Anda pikirkan nanti?" Ucap Vier mencari alasan karena dirinya merasa malu, karena begitu masuk, dia tidak melihat Cyara dan Arga melakukan sesuatu yang tadi sempat dipikirkannya.


Arga hanya terbengong mendengar ucapan Vier, apalagi saat Vier mendekat dan menarik tangan Cyara untuk bangun dari duduknya.


"Akh sakit Vier!" Teriak Cyara saat pria itu mengajaknya pergi dari ruangan Arga.


Vier mengerutkan dahi, padahal dia tidak menggenggam tangan Cyara erat, tapi kenapa wanitanya itu malah meringis kesakitan.


Vier menoleh dan melihat Cyara memegang kakinya. Arga yang melihat itu maju dan mendorong Vier agar menjauh.


"Terserah aku mau melakukan apa? Kau tidak berhak melarangku."


Vier menyenggol tubuh Arga membuat pria itu spontan menyingkir. Dia yang kemudian menyadari jika kaki Cyara sakit, segera mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya keluar.


"Vier!" Cyara terpekik kaget saat merasakan tubuhnya melayang tiba-tiba. Tapi kemudian Cyara tiba-tiba tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, berharap agar Vier tidak melihat senyumnya.


"Hei mau kau bawa kemana Cyara?" Teriak Arga yang hendak mengejar mereka tapi wajahnya justru hampir menabrak pintu saat Cyara justru menarik menutupnya.


Cyara tertawa terbahak karena akhirnya bisa mengerjai Arga. Sifat jahil Cyara akhirnya keluar, kapan lagi dia bisa mengerjai Arga, selama ini pria itu yang selalu mengerjainya dan tadi dia punya kesempatan untuk membalasnya, tentu saja Cyara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Senang banget kelihatannya," ucap Vier kemudian, terlihat kesal di dengar dari nada suaranya.


Cyara tidak ambil pusing, dia melanjutkan tawanya, dan Vier yang mendengar Cyara masih tertawa, memutuskan untuk menunduk agar bisa menatap wajah cantik sang istri yang sedang tertawa lepas.


Cyara langsung menghentikan tawanya dan mengerucutkan bibir, jika melihat Cyara yang seperti itu, Vier seperti melihat Rain versi dewasa. Mereka begitu mirip.


Cup


Vier tidak bisa menahan untuk mencium bibir Cyara yang begitu menggemaskan di mata Vier.


Mata Cyara membelalak, mendapatkan ciuman mendadak dari Vier untuk pertama kalinya tepatnya di tempat umum setelah mereka baru bertemu setelah sekian lama.  Ya lama, bagi Cyara 4 bulan dirinya pergi terasa begitu lama. 


Cyara kemudian menatap ke sekeliling, memastikan jika tidak ada siapapun disana. Bagaimana jika ada seseorang yang melihatnya? Apa yang akan Cyara katakan? Sementara semua orang tahunya Vier adalah tamu kami, bukan suami Cyara.


"Vier apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang lihat? Lagian kamu mau membawaku kemana?"


Mungkin kemarin tidak apa-apa karena hanya mereka berdua tapi sekarang mereka ada di tempat kerja Cyara, harusnya Vier tahu itu." 


"Biarkan saja apa salahnya? Kau istriku? Tidak jadi masalah, dan nanti kamu juga akan tahu kemana aku akan membawamu," ucap Vier mengedikan bahu. Kemudian pria itu membawa Cyara masuk ke dalam kamar yang memang sudah disiapkan untuknya, selama dia tinggal disini.


Cyara kembali mengerucutkan bibirnya, sisi lain yang tidak pernah Vier lihat selama menjalani rumah tangga dengan wanita itu, apa sebenarnya Cyara nya memang seperti itu? Lantas kenapa selama dulu bersamanya Cyara bahkan tidak pernah menunjukkan apa yang dirasakannya, dan Vier lebih suka Cyara yang sekarang, karena Cyara yang kini bisa mengekspresikan apapun yang dia rasakan. 


"Aku suka kamu yang seperti ini, seperti Rain," ucap Vier tiba-tiba.


Wajah Cyara langsung bersemu merah dan Vier semakin gemas saja melihat itu, ingin rasanya Vier langsung…


"Tidak Vier jangan lakukan itu dulu, yang terpenting sekarang adalah mendapatkan maaf Cyara dulu," ucap pria itu menepis pikiran yang terlintas begitu saja.


"Dan lagi Cyara masih hamil, aku tidak mau anak kita sampai kenapa-kenapa," gumam Vier yang tanpa sadar menyuarakan apa yang tadi dalam hatinya katakan.


"Hah? Kenapa?" Tanya Cyara yang seperti mendengar Vier mengatakan sesuatu.


Vier yang baru sadar itu langsung gelagapan, bingung harus menjawab apa.