Love Revenge

Love Revenge
Bab 14



Zavier mendengus kasar, dia masuk ke kamar sebelah dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak, lebih tepatnya berendam setelah merasakan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya


Merendam tubuhnya dengan air dingin, sepertinya cara yang baik untuk menenangkan diri. Karena jujur saja, gairah yang Vier saat ini rasakan, terasa begitu menyiksa dan segera butuh pelepasan.


Vier mengusap kasar wajahnya, bagaimanapun Vier tetaplah pria normal, terlepas dari Vier yang ingin menikahi Cyara hanya untuk membalaskan dendamnya.


"Kejadian tadi, aku seperti pernah mengalaminya, apa itu kejadian waktu dulu?" Tepatnya 6 tahun yang lalu?" Gumam Vier.


"Entahlah aku tidak terlalu jelas mengingatnya," tambahnya lagi.


...


Sementara itu di sebuah kamar, Cyara mengelus dadanya merasa lega, nyaris saja..., Cyara hampir saja terbuai dengan sentuhan Vier. Bagaimanapun juga, Cyara adalah seorang ibu dari dua orang anak.


"Vier melepaskanku, akhirnya aku lepas," gumamnya dengan nafas yang masih naik turun, karena mendapat serangan tak terduga dari Vier. Cyara membenarkan pakaiannya yang sudah berantakan karena ulah Vier.


Cyara turun dari ranjang, mengambil tas yang tadi tergeletak begitu saja ketika Vier tiba-tiba menyerangnya. Sebelum itu, Cyara berjalan ke arah pintu, mengunci pintu kamar itu, Cyara takut, jika Vier akan kembali masuk dan akan menyerangnya lagi, mungkin tadi Cyara bisa selamat, tetapi Cyara tidak bisa menjamin jika untuk kedua kalinya Vier kembali masuk.


Diambilnya ponsel yang ada di dalam tasnya, ada belasan panggilan tak terjawab dari putranya, begitupun beberapa pesan yang dikirim bibi yang membantu menjaga kedua anaknya disaat dirinya bekerja selama ini.


Begitu melihat putranya masih online, Cyara dengan segera menelponnya.


"Halo sayang."


"Halo Mam, Mami dimana? Kenapa belum pulang? Kata Mami, Mami hanya pergi sebentar, dan ini sudah malam Mam, Rey khawatir sama Mami," ucap bocah itu tanpa titik koma.


"Maafkan Mami ya sayang, Mami sepertinya harus lembur, kok Rey belum tidur, terus adik dimana?" 


Terdengar bocah itu menghela nafasnya. "Adik sudah tidur sama Bibi, Rey belum tidur karena nungguin Mami, Rey khawatir sama Mami, takut terjadi sesuatu dengan Mami," ucap Rey mengutarakan kecemasannya.


"Iya sayang Mami minta maaf, karena lupa ngasih kabar ke Rey, Mami tidak apa-apa, Mami baik-baik saja, jadi Rey tidak perlu khawatir ya, sekarang Rey juga tidur, jangan sampai besok bangun kesiangan," nasihat Cyara pada putranya.


"Baiklah Mam, kalau begitu Rey tidur dulu, Mami juga jangan capek-capek, kalau memang capek Mami istirahat ya," bocah itu pun ikut menasihati maminya.


Cyara tersenyum, walau sebenarnya Rey tidak mungkin bisa melihat senyumnya karena mereka hanya melakukan panggilan telepon biasa.


"Ya sudah Mam, good night," kata Rey mengakhiri pembicaraannya.


"Good night sayang, have a nice dream," balas Cyara kemudian memutuskan panggilan teleponnya dengan sang putra.


Cyara menatap layar ponselnya yang kini berganti dengan foto dirinya bersama Rey dan Rain.


"Mami beruntung memiliki kalian sayang, kalian yang bisa membuat mami bisa berdiri di kaki mami sendiri, tanpa kalian mami tidak punya alasan hingga bisa bertahan sampai saat ini," kata Cyara yang kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dan segera menuju ke kamar mandi.


Begitu sampai di kamar mandi, Cyara basuh wajahnya, dia butuh penyegaran.


"Tidak mungkin kan aku memakai gaun ini untuk tidur," gumam Cyara menatap gaun yang dipakainya sendiri.


"Cyara buka!" Teriak Vier yang menggedor-gedor pintu kamarnya yang sekarang ada Cyara di dalamnya.


Saat Vier tadi berendam, dia teringat jika di kamarnya masih ada foto-foto Sheira bersamanya, tidak ingin Cyara melihat dan tahu dan membuat rencana balas dendamnya gagal, dengan segera Vier mengambil bathrobe dan cepat-cepat kembali ke kamarnya. Dan sekarang disinilah Vier sekarang, di depan pintu kamarnya masih menggedor-gedor pintu karena Cyara tidak kunjung membukanya.


"Cyara buka!" Teriak Vier lagi.


Tak lama pintu terbuka menampilkan wajah Cyara yang terlihat lebih segar.


Tanpa banyak kata Vier menarik tangan Cyara dan membawanya ke kamar mandi dan menguncinya dari luar.


"Buka Vier! Apa yang kau lakukan?" Teriak Cyara.


Vier kemudian dengan cepat mengambil foto-foto dirinya bersama Sheira dan menyembunyikan di laci dan menguncinya.


Setelah beres kemudian Vier membuka pintu kamar mandi, mendapati wajah Cyara yang begitu marah saat ini.


"Aku mau pulang sekarang!" Kata Cyara yang tidak terima diperlakukan seenaknya oleh Vier.


"Tidurlah disini Cyara ini sudah malam, aku akan keluar," kata Vier tegas.


"Aku mau pulang sekarang, apa kau tidak mengerti?" 


"Jangan membantah Cyara!" Bentak Vier yang sudah hilang kesabaran. Cyara tidak tahu bagaimana tadi Vier menahan gairahnya.


"Jika kau masih membantah, aku tidak janji akan melepaskanmu kali ini, dan kau tahu pasti apa yang aku lakukan bukan?" Ancam Vier kemudian pergi berlalu meninggalkan kamarnya dan mengunci pintunya dari luar, takut jika Cyara akan kabur darinya.


Cyara hanya diam mematung hingga Vier benar-benar menghilang, tubuh Cyara merosot ke lantai tiba-tiba, memegang dadanya yang terasa sesak. Dirinya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Vier yang sukses menjungkirbalikan hidupnya hanya dalam waktu satu hari ini. Bahkan pria itu hampir saja menghancurkan pertahanannya selama ini.


Cyara bangun tidak bisa berbuat apa-apa, Cyara memilih menuju ranjang king size milik pria itu dan membanting tubuhnya di atas kasur yang empuk, mencoba menghilangkan rasa lelahnya seharian ini, lelah pikiran, badan bahkan juga perasaannya.


*


*


*


Vier bangun dan segera turun dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, dia menuju ke kamarnya. Vier membuka kunci pintu kamarnya yang semalam dia kunci.


Vier melihat Cyara sudah bangun dan duduk bersandar di atas ranjang, Vier merasa jika Cyara masih mendiamkannya, dan lagi, Vier juga melihat  Cyara terus menatap dirinya tajam. Tak peduli dengan tatapan tajam wanita itu, Vier justru terus berjalan menghampirinya.


"Sebenarnya apa yang kau mau?" Cyara berteriak saat langkah Vier semakin mendekatinya.


Vier tersenyum menyeringai, "Kenapa? Apa kau marah?" Tanyanya terus mendekat ke arah Cyara yang semakin menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


"Aku beritahu, Itu semua hukuman karena kamu sudah berani membohongiku? Kau bekerja di perusahaanku, seharusnya kau tahu betul apa syaratnya, Belum menikah! Tapi apa yang semalam aku dengar,  Reynan dan Raina, siapa mereka? Benar mereka adalah anakmu?" Tanya Vier yang kini balas menatap tajam Cyara, dirinya benar-benar merasa geram karena sudah merasa dibohongi oleh Cyara, seorang wanita yang datang kepadanya di waktu yang salah.