Love Revenge

Love Revenge
Bab 127



Seorang wanita dengan langkahnya yang lemah, berjalan menuju sofa dan dan duduk di samping putrinya yang sudah beberapa hari ini tidak menemuinya, padahal dirinya sedang sakit, tapi wanita itu tetap berpikiran positif, dia selalu berfikir jika putrinya itu merasa bersalah dan malu untuk menemuinya.


Wanita itu, mengulurkan tangan dan meraih wajah putrinya yang kini terlihat lebih kurus dan penampilannya, ya wanita itu, baru menyadari jika penampilan Sheira berbeda dari biasanya. Dia mengenakan hoodie yang cukup besar, kacamata hitam serta topi yang juga berwarna hitam, yang sudah dia lepas dan taruh di atas meja.


"Kamu apa kabar sayang?" Tanya wanita itu lembut.


"Menurut mama?"


Wanita yang dipanggil mama mengernyit mendengar jawaban dari putrinya.


"Hidupku tidak pernah lagi baik, karena dia sudah merebut orang yang aku cintai, dan aku masih sama, akan tetap merebutnya," ucapnya tersenyum sinis.


Mama Sheira terkejut mendengar ucapan putrinya itu. 


"Kenapa ekspresi mama seperti itu? Harusnya mama senang, karena secara tidak langsung aku membalaskan dendam mama padanya, mama juga membencinya kan? Karena dia anak dari laki-laki yang mama benci?"


"Sheira, bisakah kamu berhenti sayang, kamu akan terluka jika seperti ini terus, kamu tidak bisa terus memaksa orang yang sudah tidak mencintaimu lagi, Vier sudah bahagia bersama kakakmu, dan…"


"Tidak Ma, Vier tidak akan bahagia bersama dia, akulah bahagia Vier, tidak ada wanita lain yang bisa bahagia bersama Vier, jika ada, maka aku akan menghancurkannya," kata Sheira mengepalkan tangannya.


"Cukup Sheira, Mama tidak ingin kamu berbuat hal seperti itu lagi."


"Kenapa Ma? kenapa? Karena mama menyayanginya kan? Mama sayang sama dia kan? Mama kira aku tidak tahu, mama selalu diam-diam membantunya setelah mama menghukumnya kan, aku tahu itu Ma."


"Sheira kamu…"


"Kenapa? Mama terkejut karena aku mengetahuinya? Aku juga tahu, setelah kejadian tenggelam di kolam itu, mama juga merawatnya, dia demam dan mama menunggunya semalaman, pagi-pagi sekali, Mama keluar dari kamarnya, tapi aku…"


"Sheira waktu itu Mama juga merawatmu, bahkan waktu mama merawatmu lebih banyak dari merawat Cyara, dan lagi kamu pikir mama tidak tahu jika sebenarnya semua itu ulahmu, mama hanya diam dan membiarkanmu, mama memarahi Cya yang bahkan sebenarnya tidak bersalah, kamu tahu kenapa mama melakukan itu? Karena mama menyayangimu Sheira," tangis wanita itu akhirnya pecah, saat mengingat dirinya yang selalu menutup mata dengan kesalahan Sheira dan lebih menyalahkan Cyara, dia melakukan itu juga terpaksa, sejak kecil, lebih tepatnya sejak awal kedatangan Cyara, wanita itu tahu jika Sheira selalu iri pada Cyara, padahal ibunya itu tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya pada Cyara, hingga semakin lama dilihat, Sheira selalu berbuat nekat, demi untuk agar dirinya membenci Cyara, walaupun kadang cara itu bisa membahayakan Cyara dan dia sendiri. Hingga akhirnya ibunya itu memilih untuk bersikap dingin pada Cyara karena sifat Cyara yang sangat berbanding terbalik dengan Sheira. Dan kini wanita itu menyesal, karena dia tidak bisa membesarkan Sheira dengan baik.


"Bohong, yang mama sayang adalah Cyara, bahkan mama sampai mengirim bibi untuk selalu menemani Cyara."


"Mama menyayangi kalian berdua, karena kalian anak-anak mama."


"Tidak! Aku hanya mau semua orang menyayangiku, tidak dengan Cyara, wanita itu...aku harus segera menyingkirkannya," teriak Sheira tak terkendali.


"Sayang tenang Nak," wanita itu berusaha memeluk Sheira dan menenangkannya.


Sheira terdiam, dia kemudian tersenyum menyeringai. Perlahan kepalanya yang menunduk terangkat dan menatap mamanya.


"Mama sayang sama Sheira?"


"Tentu saja, mama sangat menyayangimu Nak, kamu tidak perlu meragukan lagi kasih sayang mama terhadapmu."


"Berarti mama akan menuruti apapun yang aku minta."


"Ya mama akan lakukan apapun, walaupun itu nyawa mama."


"Janji!"


"Ya mama janji."


Wanita itu tersenyum menatap wajah ibunya. 


"Aku mau meminta sesuatu dari mama, dan itu sangat mudah."


Ibu Sheira tiba-tiba saja merasa tidak tenang mendengar perkataan putrinya barusan. Apalagi melihat tatapan Sheira dan senyumannya yang mengerikan.


"Ingat, mama tidak boleh menolaknya, mama sudah berjanji."


Sheira kemudian mendekat dan berbisik pada ibunya.


Ibu Sheira terduduk lemas, menatap terus ke arah pintu dimana tadi Sheira pergi meninggalkannya. Dirinya menutup wajahnya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya nanti. Dia bingung, karena keduanya adalah putri yang sangat dia sayangi.


*


*


"Mami!"


"Papi!"


Rey dan Rain berlari dan langsung berhambur ke pelukan papinya.


Vier menggandeng keduanya dan memintanya untuk segera masuk ke mobil.


Cyara berjalan di belakang, ketiga orang yang dicintainya itu. Merasa lega, karena Rey dan Rain sekarang berjalan di depannya, baik-baik saja. Saat mendengar kecelakaan itu, jantung Cyara rasanya serasa akan dicabut paksa. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, takut terjadi apa-apa dengan kedua anaknya, dan sampai sekarang, Cyara masih tidak menyangka jika yang bermaksud mencelakai anaknya adalah Sheira. Dia tidak mengira jika Sheira bisa senekat itu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Mami bagaimana? mau kan?" Tanya Rain. Gadis kecil itu menoleh saat tidak mendapat sahutan dari maminya.


Vier dan Rey juga ikut menghentikan langkahnya saat melihat Rain berbalik dan menatap maminya.


"Sayang kenapa?" Tanya Vier setelah membuka pintu mobil dan menyuruh kedua anaknya untuk masuk lebih dulu.


"Sayang!"


Jasmine tersentak saat seseorang memegang bahunya, dan dia merasa lega, saat ternyata orang itu adalah Vier suaminya.


"Melamunkan apa?" Tanya Vier yang belum mendapatkan jawaban dari sang istri.


"Hah? Oh tidak kok, aku tidak melamunkan apa-apa," jawab Cyara berkilah sambil mengalihkan pandangannya.


Dan Vier tahu jika istrinya berbohong dan ada sesuatu yang dia sembunyikan.


"Sungguh, aku tidak apa-apa," ucap Cyara tiba-tiba, saat suaminya masih saja menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Oh ya sudah, ayo masuk, kasihan tuh anak-anak sudah menunggu lama," kawab Cyara yang langsung masuk ke dalam mobil.


Vier menghela nafas, mungkin istrinya butuh waktu, dan yakin jika Cyara nanti akan menceritakannya.


Vier lalu segera masuk ke dalam mobil, tidak ke rumah tapi ke restoran langganan mereka, karena putri kecilnya ingin makan disana.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai tapi saat akan turun ponsel Cyara berbunyi, ternyata ibunya yang kini menghubunginya.


"Siapa?" Tanya Vier.


"Ibu," jawab Cyara menunjukkan layar ponselnya pada Vier yang bertuliskan jika ibunya memanggil. 


Vier mengangguk, meminta Cyara untuk menjawabnya dulu, dan Cyara pun menurut.


"Kenapa?" Tanya Vier penasaran.


"Ibu meminta ditemani ke suatu tempat nanti malam," jawab Cyara.


"Ya sudah ayo turun!" Cyara kemudian mengajak anak-anaknya untuk turun.


"Kamu tidak turun?" Tanya Cyara yang melihat suaminya justru tengah menatap ponselnya.


"Kamu masuk duluan saja, Martin menelponku, aku akan menjawabnya sebentar," kata Vier dan Cyara mengangguk mengerti kemudian meraih dan menggandeng tangan anak-anaknya mengajaknya masuk.