
"Maaf Ma, Pa, tadi pasti Rey hanya asal bicara saja," ucap Cyara seketika tahu, arti tatapan keluarga Vier padanya.
"Kakak tidak asal bicara Mam, memang selama ini, Kakak tidak pernah…"
"Kakak, Kakak lebih baik istirahat saja ya."
"Oh ya Rey, ini Oma bawain buah buat Rey, Rey mau buah yang mana?" Jasmine mendekat dan duduk di kursi yang memang disediakan disana.
"Bukan hanya Oma, lihat ini, Opa bawa makanan untuk Rey, karena takutnya Rey tidak biasa makan makan disini, makanya Opa sengaja bawain semua makanan yang Rey suka," sahut Stevano yang langsung menyita perhatian Rey hingga anak itu lupa dengan kejadian tadi.
"Oh ya Cya, lebih baik kamu istirahat saja, biar Mama yang jagain Rey disini, Mama yakin kamu pasti lelah," ucap Jasmine menatap ke arah Cyara.
"Ya Nak sebaiknya kamu pulang dulu saja, kamu juga perlu ambil beberapa pakaian ganti juga," kata Stevano menambahi.
"Tapi Ma, Pa…"
"Biar aku antar," kata Vier yang kemudian keluar lebih dahulu.
Cyara memandangi Jasmine dan Stevano, hingga sepasang suami istri pun mengangguk membuat Cyara akhirnya terpaksa menuruti permintaan Jasmine, padahal saat ini, Cyara benar-benar tidak ingin berbicara maupun bertemu Vier, apalagi sampai berdua-duaan dengan pria itu. Cyara masih mengingat betapa menyakitkannya ucapan Vier semalam. Vier tidak tahu apa saja yang sudah Cyara lalui, tapi dengan tanpa beban atau bahkan sedikit saja rasa bersalah, Vier mengkritik hidupnya, Vier menilai buruk tentangnya. Sebenarnya Cyara sebelumnya tidak peduli tentang pandangan orang terhadapnya, tapi tidak untuk kali ini.
"Lamban sekali!" Ucap Vier yang ternyata masih di depan pintu membuat Cyara terkejut.
Setelah menetralkan keterkejutannya, tanpa memperdulikan perkataan Vier tadi, Cyara langsung berjalan begitu saja melewati pria itu untuk bisa segera keluar.
Vier yang diacuhkan Cyara menjadi kesal sendiri, dan dengan cepat menyusul Cyara.
"Kenapa pria itu bersama kamu semalam?"
Cyara hanya terdiam, dia benar-benar malas untuk menjawab pertanyaan pria yang berjalan di sampingnya.
"Cyara!" Kesal Vier karena Cyara tidak menanggapi ucapannya sama sekali.
"Bukan urusanmu," jawab Cyara dingin dan Vier hanya bisa menghela nafasnya.
Mereka sudah tiba di parkiran, "Kamu tunggu disini, aku ambil mobilnya," ucap Vier berlalu pergi meninggalkan Cyara.
Tak lama mobil Vier pun datang, Vier membuka kaca jendela, "Cepat masuk!" Katanya dan Cyara pun hanya bisa menurut.
*
*
"Rey sayang, boleh Oma bertanya sesuatu?" Tanya Jasmine setelah selesai menyuapi anak kecil yang sudah seperti cucunya sendiri.
Rey pun langsung mengangkat wajahnya dan memandangi Jasmine kemudian mengangguk.
"Tentang Nenek…"
Rey tersenyum, kemudian berkata, "Kami belum pernah ketemu sama Nenek Oma," jawab anak kecil itu.
Jasmine tidak ingin mencari tahu lebih banyak lagi, satu kalimat jawaban yang Rey ucapkan, sudah menjawab rasa penasarannya. Jasmine sepertinya tahu ada banyak hal yang calon menantunya itu sembunyikan.
.
.
Hari ini Rey sudah diizinkan pulang, Rain sudah tidak sabar, untuk kembali berkumpul dengan kakak dan maminya.
Dan kini gadis kecil itu menunggu di kediaman Stevano bersama Aira dan kedua orang tua Aira, menyambut kedatangan Rey yang akan pulang ke kediaman Stevano terlebih dahulu dan tinggal selama beberapa hari disana sampai kondisinya benar-benar pulih, itulah yang Jasmine katakan untuk membujuk Cyara. Awalnya Cyara menolak, tetapi akhirnya terpaksa menyetujui, apalagi Cyara tidak bisa meninggalkan kedua anaknya di rumah, sementara dirinya harus pergi bekerja.
Dan di mobil yang satunya Vier keluar dengan menggendong Rey dan disusul dengan Cyara yang membawa perlengkapan kedua anaknya untuk beberapa waktu tinggal di rumah calon mertuanya.
"Kakak!" Teriak Rain senang, karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan kembarannya itu.
Rey pun tersenyum dan meminta turun dari gendongan Vier, saat melihat Rain berlari ke arahnya, dan Vier pun hanya bisa menuruti keinginan anak itu.
"Sayang jangan lari-lari, nanti jatuh," ucap Cyara mengingatkan kedua anaknya, Rey dan Rain yang mendengar ucapan mami mereka pun menurut.
Rey langsung memeluk saudara kembarnya, dan Rain balas membalas pelukan Rey. Setelah pelukan mereka terlepas, Rain dengan semangat menarik tangan Rey membawanya masuk ke kamar yang sudah Vira dan Jasmine siapkan untuk anak laki-laki itu.
"Kita mau kemana?" Tanya Rey yang tiba-tiba ditarik Rain.
"Ke kamar Kak Rey, Mama dan Oma, sudah siapkan kamar untuk Kakak," jawab Rain antusias, sesampai di depan pintu gadis kecil itu, juga menarik tangan Aira agar ikut juga dengan mereka.
"Pelan-pelan ya sayang!" Kata Alno yang melihat ketiga anak itu berjalan cepat-cepat.
"Iya Papa," jawab Aira dan Rain bersamaan.
Sementara itu, Cyara hanya mengernyitkan dahi mendengar perkataan putrinya.
Vira tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri Cyara menggenggam wanita itu.
"Selama tinggal disini, Rain memanggilku Mama dan Kak Alno papa, mengikuti Aira, Kak Cya tidak keberatan kan?" Kata Vira tersenyum menatap Cyara.
Cyara pun balas tersenyum, kemudian menggeleng, "Kakak tidak keberatan sama sekali, terima kasih ya, sudah menjaga Rain selama Kakak tidak bisa menjaganya," ucap Cyara tulus.
"Kakak tidak perlu berterima kasih, bagaimanapun mereka akan menjadi keponakanku bahkan aku sudah menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri," jawab Vira.
"Boleh aku peluk kakak?" Tambahnya dan Cyara pun mengangguk.
"Maaf Kak, maaf, maaf aku tidak bisa mengatakan ke kakak atas sebenarnya apa tujuan Vier menikahi Kakak, maaf Kak, aku hanya bisa berharap Vier kelak akan menyesal," ucap Vira dalam hati yang tidak terasa meneteskan air matanya.
Cyara yang merasakan itu langsung melepaskan pelukannya.
"Vira kamu menangis?"
"Ah tidak, tadi aku hanya kelilipan saja," elak wanita yang tengah mengandung itu, cepat-cepat menghapus air matanya.
Jasmine, Stevano dan Alno hanya saling pandang, melihat Vira yang tiba-tiba menangis dipelukan Cyara.
"Aku ke dalam dulu," kata Vier yang kemudian berjalan melewati kakaknya.
Vira memandangi Vier yang berlalu kemudian kembali menatap Cyara.
"Kak apapun yang terjadi nanti, jika Kakak butuh apapun, Kakak harus ingat jika ada aku, suamiku, mama dan papa yang akan ada di belakang Kakak," ucap Vira membuat keempatnya merasa bingung kenapa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.
"Ada apa sayang?" Kata Alno yang yakin jika ada sesuatu yang istrinya tutup-tutupi.
Vira mendongak menatap suaminya, kemudian menggeleng, "Tidak apa-apa Kak, mungkin hanya sedang sensitif saja," jawabnya sembari tersenyum.
"Oh ya Cya, ayo masuk Nak, kamu tidak mau lihat kamar anak-anak kamu?"
"Oh iya Kak, ayo kita masuk, Kakak harus melihat kamar yang sudah aku dekor buat Rain dan Rey!" Ucap Vira menimpali ucapan mamanya.
Vira pun menggandeng tangan Cyara mengajak wanita yang akan menjadi kakak iparnya itu untuk masuk dan menyusul anak-anaknya.