Love Revenge

Love Revenge
Bab 38



"Maaf," kata Cyara yang langsung melepaskan pelukannya begitu tersadar.


"Ara kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai menangis seperti itu? Apa ada yang menyakitimu? Apa calon suamimu yang melakukan itu? Katakan Ara! Aku janji aku akan melindungimu," kata Rayyan.


Awalnya tadi Rayyan datang ke rumah Cyara untuk menjenguk Rey, saat mendapat kabar bahwa anak itu sudah keluar dari rumah sakit. Tapi saat tiba di rumah Cyara, Rayyan justru tidak mendapati Cyara ada di rumahnya, Rayyan mencoba menghubungi Cyara, tapi tidak ada jawaban, hingga akhirnya Rayyan pun memutuskan untuk menunggu Cyara, setengah jam menunggu Cyara tapi wanita itu tidak kunjung kembali, dan Rayyan pun beranjak akan pulang dan akan menemui Cyara besok pagi. Tapi saat Rayyan hendak masuk ke dalam mobilnya, Rayyan melihat taxi datang, dan orang yang turun dari taxi itu tidak lain adalah Cyara, tapi wanita itu hanya sendiri.


"Ara!" Rayyan menutup pintu mobilnya dan segera menghampiri Cyara, begitu terkejutnya dia saat melihat Cyara menangis, dan Rayyan pun akhirnya menarik Cyara ke dalam pelukannya.


"Ara apa yang terjadi? Tidak terjadi sesuatu sama Rey dan Rain kan? Kemana mereka? Kenapa kamu kembali sendiri?" Tambah Rayyan lagi karena Cyara sedari tadi hanya terisak tidak menjawab satupun dari pertanyaannya.


"Baiklah jika kamu tidak mau mengatakannya, tapi lebih baik kita masuk, aku tidak ingin kamu sakit, apalagi udara malam ini begitu dingin," ucap Rayyan khawatir.


Cyara pun mengangguk dan berjalan bersama Rayyan yang merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah.


Vier yang melihat kedua orang dewasa itu masuk ke dalam rumah, hanya  bisa memukul setir. 


"Kau akan menerima akibatnya sudah berani bermain dengan laki-laki lain," dan dengan penuh amarah, Vier meninggalkan rumah Cyara.


"Dimana Rey dan Rain? Kenapa kamu tidak bersama mereka? Tidak terjadi apa-apa kan dengan anak-anak?" Tanya Rayyan panik saat tidak melihat keduanya apalagi melihat Cyara yang pulang dalam keadaan menangis terisak.


Cyara menggeleng, "Mereka tidak apa-apa dan baik-baik saja."


"Terus dimana mereka? Kenapa kamu pulang sendirian?"


"Mereka ada di rumah Mama dan Papa."


"Mama dan Papa? Siapa mereka?"


"Oh itu, mereka orang tua Vier."


"Vier, pria itu? Pria yang mengaku sebagai calon suami kamu?" Ucap Rayyan yang rasanya tercekat  saat mengatakan itu.


Rayyan menatap Cyara dan meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. 


"Ara apa benar kamu akan menikah dengannya? Apa kamu sudah yakin? Bukankah kamu dan dia belum lama saling mengenal? Bagaimana jika dia hanya ingin mempermainkanmu?"


Cyara tersenyum, "Kenapa kamu menanyakan itu? Kenapa jika baru saling mengenal? Bukankah yang sudah puluhan tahun mengenal pun ujung-ujungnya akhirnya hanya mempermainkan?" Tanpa terasa air mata jatuh saat mengingat masa lalunya.


"Ara maaf, aku benar-benar minta maaf, dan aku menyesal Ara, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan sekali lagi saja, aku akan menebusnya Ara, aku janji, aku akan bahagiakan kamu," ucap Rayyan yang kini sudah bersimpuh di hadapan Cyara merasa tercubit saat mendengar ucapan Cyara tadi yang seperti sengaja membicarakannya.


"Sudahlah Ray, aku tidak ingin membahas hal ini lagi, semua sudah berlalu, dan sekarang sudah malam, jadi Ray tolong pergilah!" Kata Cyara mengusir Rayyan secara halus.


*


*


*


"Maaf Nyonya, Nona, ada yang harus saya katakan," ucap seorang pelayan yang baru masuk ke dalam kamar majikannya.


"Katakan!" Ucap wanita paruh baya yang dipanggil Nyonya.


"Maaf bisakah saya berbicara empat mata hanya dengan Nyonya?"


"Cepat katakan saja! Memangnya kenapa jika ada Sheira? Kalau tidak mau ya sudah,


pergilah!" 


"Terima kasih Nona atas pengertian Anda," kata pelayan tadi menunduk hormat pada Sheira yang kini berjalan keluar.


"Katakan!"


"Nyonya Chintya, kenapa Anda berbuat seperti itu? Bagaimanapun Nona Cyara adalah putri kandung Anda, tidak adakah rasa belas kasih Anda sedikit saja untuknya?"


"Kenapa? Kenapa aku harus berbelas kasih padanya? Dia memang anak kandungku,  tapi dia juga anak dari laki-laki yang sangat aku benci, sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya sebagai anakku."


"Nyonya, tolong jangan berkata seperti itu!"


"Tinggalkan aku sendiri!"


"Baiklah, saya kemari hanya ingin menyampaikan sesuatu, tadi Nona Cyara berpesan untuk memberitahukannya pada Anda. Kata Nona, dulu Anda pernah berjanji akan menuruti satu permintaannya, dan Nona Cyara menagih janji itu sekarang. Nona Cyara meminta Anda untuk menyambut keluarga calon suaminya dengan baik di rumah Nona besok malam, berpura-pura jika hubungan Nyonya dengan Nona baik-baik saja dan kali ini, Nona tidak akan mempermalukan Anda lagi. Selain untuk menepati janji Anda, Nona bilang jika ini adalah permintaan terakhirnya sebagai seorang anak, setelah ini Nona akan menuruti apa yang Anda inginkan, Nona akan membiarkan Anda tidak menganggapnya sebagai anak kandung Anda dan Nona tidak akan mengganggu kehidupan Anda lagi. Itu yang tadi Nona katakan, kalau begitu saya permisi dulu," pamit pelayan itu yang langsung meninggalkan tempat setelah menyampaikan pesan dari Cyara.


"Nona!" Pelayan yang baru keluar begitu terkejut saat mendapati Sheira yang ternyata masih ada di depan pintu.


"Bibi, apa yang Bibi katakan benar? Kak Ara akan menikah? Cepat Bi katakan!"


Pelayan itu menunduk kemudian mengangguk, "Benar Nona, Nona Cyara yang mengatakan itu sendiri, besok malam, keluarga dari calon suaminya akan datang dan meminta Nyonya untuk datang ke rumah Nona Cyara untuk menyambut keluarga calon suaminya," jawab sang pelayan.


Sheira tersenyum, "Baiklah Bi, aku akan persiapkan semua, dan masalah Mama, aku akan membujuknya, jadi Bibi tolong sampaikan kepada Kak Ara untuk tidak khawatir," ucap Sheira yang kemudian masuk ke dalam kamar mamanya, berusaha untuk membujuk wanita paruh baya itu.


*


*


*


"Sudah cantik sayang," kata Liora setelah merias Cyara, Liora kini berada di rumah Cyara. Dia diminta Jasmine untuk menemani Cyara.


"Kapan orang tuamu datang?" Tanya Liora sambil memastikan dandanannya lagi.


Cyara terdiam, bahkan dirinya saja  tidak tahu, Ibunya akan datang atau tidak.


"Sayang kok melamun?"


"Hah tidak apa-apa kok Bi, mmm mungkin sebentar lagi," jawab Cyara tidak yakin, dan Liora dapat menangkap keraguan dari jawaban Cyara.


Liora tersenyum, menepis apa yang sekilas ada dipikirannya, "Baiklah kita tunggu saja, mungkin saja keluargamu sedang dalam perjalanan."


"Iya Bi," Cyara kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Kenapa? Apa gugup?" Tanya Liora dan Cyara pun mengangguk, tidak bisa dipungkiri memang dirinya sekarang benar-benar gugup.


Di tengah perbincangan mereka, terdengar bel rumah Cyara berbunyi, "Biar Bibi yang membuka," kata Liora yang mencegah Cyara yang hendak berdiri membukakan pintu.


"Tapi Bi…"


"Sudah tidak apa-apa," jawab Liora yang langsung meninggalkan Cyara dan membukakan pintu.


"Anda?" Liora membelalakan mata saat melihat siapa orang yang datang.