Love Revenge

Love Revenge
Bab 89



"Kamu sudah siap?" Vier membuka pintu walk in closet dimana disana Cyara sedang memakai pakaiannya.


Tadi Cyara buru-buru ke kamar mandi, hingga melupakan pakaiannya. Untungnya waktu dia keluar Vier tidak ada di kamarnya, karena mungkin saja pria itu ada di kamar Rey dan Rain. Kemarin sepulang dari rumah lama mertuanya, Cyara meminta sang suami untuk menjemput anak-anaknya. 


Cyara masuk ke walk in closet dan menutup pintu. Tapi saat dirinya hendak memakai pakaiannya tiba-tiba terdengar suara Vier yang membuat dirinya begitu terkejut.


Cyara yang hanya mengenakan handuk, langsung menutup bagian atasnya dengan blouse yang tadi sudah diambilnya.


"Kenapa?" Tanya Cyara gugup apalagi melihat Vier yang kini berjalan ke arahnya.


"Kita akan berangkat ke kantor bersama sekalian mengantar anak-anak," ucap pria itu kini sudah berdiri tepat di hadapan Cyara.


"I...iya, kamu tunggu di luar dulu," kata Cyara sedikit terbata, apalagi Vier kini mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Cyara.


"Tidak, aku akan menunggumu disini," bisik Vier di telinga Cyara yang membuat tubuh wanita itu meremang.


"A...aku akan melakukannya dengan cepat, jadi lebih baik kamu keluar." Cyara menundukkan wajahnya tidak berani untuk menatap mata suaminya.


"Aku tidak mau," jawab Vier tersenyum, ternyata menyenangkan menggoda istrinya, batinnya berkata.


Cyara mundur, Vier pun maju, mereka terus seperti itu, hingga tidak ada ruang lagi bagi Cyara untuk mundur, tubuh wanita itu kini sudah terpentok pada lemari di belakangnya. Dia meremas pakaian yang digunakan untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Cyara benar-benar malu dan gugup saat ini, di lampu dengan cahayanya yang terang, Vier melihatnya dalam keadaan yang…


Cyara kemudian mendongak memberanikan diri menatap suaminya, karena jika seperti ini terus, dia tidak tahu kapan akan selesai memakai bajunya, padahal anak-anak kini pasti sedang menunggunya.


"Vier please jika kamu disini nanti aku tidak selesai-selesai," kata Cyara cepat agar tidak tergagap.


Vier tersenyum menyeringai, menempelkan keningnya di kening Cyara.


"Kamu salah, jika aku disini, maka kamu akan lebih cepat selesainya, aku akan membantumu memakaikan pakaianmu," ucap Vier tangannya kini sudah menarik blouse yang Cyara gunakan menutupi tubuhnya, hingga kini tersisa handuk yang melilit tubuh Cyara.


"Vier!" Cyara terkejut saat blouse itu sudah ada di tangan Vier dan saat Cyara akan merebutnya, Vier justru melemparnya asal membuat mata Cyara melotot melihat apa yang pria itu lakukan.


Vier tersenyum iblis, seketika seperti ada alarm di kepala Cyara yang menandakan jika dirinya kini dalam bahaya.


Wajah Vier mendekat dan tiba-tiba terdengar gedoran pintu yang cukup keras membuat Vier menarik wajahnya kembali.


"Papi! Mami!" Cepat kami sudah lapar," suara sang putri kini terdengar bersamaan dengan gedoran pintu.


Mendengar itu, Vier mencium bibir Cyara sekilas.


"Cepat kamu bersiap!" Ucapnya berbalik dan melangkah sambil mengacak rambutnya frustasi.


Cyara merasa lega, dan dia harus berterima kasih kepada kedua anaknya, karena akhirnya Vier tidak jadi melakukannya, jika iya, bisa dipastikan mereka akan tidak masuk ke kantor hari ini. 


"Memangnya tidak cukup yang semalam," gumam Cyara mengambil pakaian yang baru dan segera memakainya, tidak lupa sebelum itu Cyara mengunci pintu terlebih dahulu takut jika Vier akan kembali masuk secara tiba-tiba seperti tadi.


*


*


Saat akan memasuki ruangannya Vier melirik istrinya yang kini sedang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Vier merasa kesal karena Cyara bahkan tidak melirik dirinya saat pria itu melewatinya.


"Ehem! Ehem!" Vier berdehem sambil terus menatap Cyara.


Cyara yang mendengar itu, menghentikan aktivitasnya.


"Pagi Tuan," sapanya kemudian wanita itu kini kembali dengan pekerjaannya, sekarang tidak pada kertas-kertas tapi pada laptop di depannya membuat Vier kesal dan berjalan masuk membanting pintu.


Martin yang sedari tadi mengikutinya sampai terlonjak kaget saat hampir saja wajahnya terhantam pintu yang tidak bersalah.


Cyara bahkan sampai memegang dadanya saat mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras itu.


Cyara menatap Martin dan bertanya. "Kenapa?"


Martin hanya mengedikan bahunya acuh, kemudian dirinya memilih melanjutkan langkah untuk memasuki ruangan Vier.


Cyara kemudian bangun dan berjalan ikut masuk ke ruangan bos sekaligus suaminya.


Martin pamit undur diri saat sudah menyampaikan kepentingannya. Pria itu sedikit menundukkan kepalanya pada Cyara yang berdiri di depan pintu sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan Vier meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Ada apa?" Tanya Vier dengan nada datarnya.


Cyara mengerutkan dahi bingung, padahal tadi mereka berdua baik-baik saja.


Cyara pun menyampaikan maksud kedatangannya membicarakan jadwal pria itu hari ini.


"Untuk rapat dengan DMC company kau ikut denganku," ucap Vier begitu Cyara selesai membacakan jadwalnya.


"Baik Tuan kalau begitu saya permisi," kata Cyara saat berbalik, Cyara begitu terkejut saat tiba-tiba semua tirai di ruangan itu tertutup. Cyara menoleh ke arah Vier dan melihat pria itu memegang sebuah remote.


Vier bangkit dan berjalan mendekat ke arah Cyara. Cyara refleks mundur dan berbalik berjalan menuju pintu, tapi saat akan membuka, ternyata pintu itu sudah terkunci. Cyara terkesiap saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan mendorongnya hingga terpojok di dinding.


"Vier apa yang kau laku…" belum juga Cyara menyelesaikan perkataannya bibirnya sudah lebih dulu oleh bibir Vier.


Cyara menahan dada Vier, tapi Vier menahan tangan Cyara di atas kepalanya. Cyara yang awalnya menolak karena mengingat mereka saat ini berada di kantor, kini sudah mulai hanyut dan menikmatinya.


Nafas keduanya kini terengah saling berebut untuk menghirup udara begitu tautan bibir mereka terlepas.


Cyara terkejut saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Vier mengangkat tubuh Cyara ala bridal dan berjalan kemudian membuka sebuah lemari, tidak lebih tepatnya sebuah pintu yang terlihat seperti lemari, dan mata Cyara membelalak saat tahu jika ternyata di sana ada sebuah ruangan bahkan ada juga tempat tidur.


Vier dengan perlahan menurunkan tubuh Cyara, menindih tubuh sang istri dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Cyara. Sementara itu, tangan Cyara kini sudah mengalung di leher Vier. Vier melepaskan ciumannya, kedua tatapan mereka bertemu dengan nafas yang saling memburu. Vier memiringkan wajah akan kembali mencium bibir Cyara tapi tiba-tiba terhenti saat mendengar sesuatu yang membuatnya menahan tawa.


Kruyuk


Kruyuk


Cyara kini memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, saat mendadak perutnya berbunyi cukup kencang.