Love Revenge

Love Revenge
Bab 135



Cyara dan Vier menoleh dan Cyara tersenyum melihat siapa orang yang datang, tapi tidak dengan Vier yang kini terlihat menekuk wajahnya.


"Mengganggu saja," gerutu Vier dan langsung mendapat cubitan dari Cyara.


"Kak, kapan kakak pulang?" Cyara mendekat dan langsung memeluk pria itu.


"Baru saja, Kakak langsung kesini begitu mendengar kabar jika kamu melahirkan, kenapa tidak beritahu kakak, kenapa Kakak selalu tahunya dari orang lain, bukan dari kamu," pria itu membalas pelukan adiknya, sudah beberapa hari ini dia pergi ke luar kota dan langsung menyelesaikan pekerjaannya disana ingin cepat kembali saat mendengar kabar dari anak buahnya bahwa Cyara sudah melahirkan dan hari ini sudah diperbolehkan pulang.


"Maaf Kak, aku hanya tidak ingin mengganggu Kakak."


"Tidak ada kata mengganggu jika itu menyangkut kamu Cya, kamu tau Kakak sangat menyayangimu dan kamu adalah keluarga kakak satu-satunya yang tersisa."


"Ehem! Ehem!" 


"Tidak ingin menyapa adik iparnya," ucap Vier karena kesal sedari tadi di cuekin, dan Vier juga ingin mencairkan suasana, takutnya setelah mendengar perkataan Damian tadi, istrinya akan kembali menangis.


Cyara melepaskan pelukannya, membiarkan sang kakak berbincang dengan suaminya.


"Selamat, dan terima kasih karena sudah memberikanku keponakan lagi," ucap Damian tulus dan Vier pun mengangguk, mereka kemudian berpelukan, hingga pandangan Damian tertuju pada Box bayi.


Damian melepas pelukannya dengan Vier, lalu melangkah mendekat ke box bayi itu, ingin melihat ponakannya.


"Jangan diganggu," ucap Vier.


Damian mendengus kemudian hanya memperhatikan keponakannya.


"Mirip sekali denganmu," ucapnya membuat Vier tersenyum.


"Jelas saja aku ayahnya," jawab Vier.


Damian hanya memutar bola matanya malas, menanggapi adik iparnya itu.


"Oh ya Rey dan Rain mana, tadi saat kesini, Kakak tidak melihat mereka," tanya Damian yang ingin memberikan sesuatu kepada kedua keponakannya, lebih tepatnya pesanan dua anak itu.


"Tadi diajak ke kamar Vira, oh ya, ingat kakak jangan terlalu memanjakan mereka loh," kata Cyara yang tidak ingin kakaknya memanjakan anak-anaknya.


"Tidak kok, Kakak hanya membelikan mainan yang mereka inginkan saja," jawab Damian yang kini melangkah ke sofa dan duduk disana.


"Iya mainan, tapi mainan yang kakak belikan harganya…"


"Cuma sekali-kali Cya, lagian ini juga untuk hadiah ulang tahun mereka yang waktu itu kita lewatkan begitu saja, dan kakak sudah janji sama mereka jika Kakak akan membelikan mereka apa yang mereka sangat inginkan untuk menebus hari itu."


Cyara diam, dia juga merasa bersalah karena sampai melewatkan ulang tahun anak-anaknya, saat itu, dirinya sedang kacau-kacaunya karena kepergian sang ibu, hingga semua orang hanya fokus kepadanya, apalagi Cyara sempat dibawa ke rumah sakit karena pendarahan, dan untungnya anak di dalam kandungannya selamat. 


"Maafkan Kakak sayang, bukan maksud kakak mengingatkan hal itu padamu," kata Damian begitu menyadari raut wajah Cyara berubah.


"Iya sayang, kamu jangan sedih lagi, ini semua bukan salah kamu, oh ya, bagaimana kalau kita rayakan saja besok, sekalian kita adakan syukuran untuk kelahiran Bryan," ucap Vier memberi saran.


Cyara tersenyum, "Beneran?"


"Hmm tentu saja, daripada nunggu tahun depan kelamaan, lebih baik kita rayakan besok saja," tambah Vier lagi.


"Baiklah aku setuju," jawab Damian yang kini kembali bangkit dari duduknya kemudian menatap Cyara.


"Dan Kakak akan menyiapkan segala keperluannya. Kamu fokus saja sama Bryan," sahut Damian.


"Oke, aku juga setuju, makasih ya Kak, sayang," ucap Cyara menatap kakak dan suaminya bergantian.


"Coba ulangi sekali lagi Cya," kata Vier dengan wajah seolah tak percaya.


Cyara dan Damian mengernyitkan dahi, sama-sama bingung dengan maksud perkataan Vier.


"Maksud kamu?"


"Ulangi lagi, kamu bilang aku sayang, seneng banget karena sepertinya ini baru pertama kalinya kamu memanggilku sayang," kata Vier tersenyum.


"Ti...tidak, aku tidak bilang seperti itu, kamu salah dengar mungkin," jawab Cyara gugup mencoba mengelak.


"Masa? Tidak aku tidak salah dengar," ucap Vier kekeh karena dirinya merasa mendengar secara jelas kata sayang meluncur begitu saja dari mulut Cyara.


"I...iya, kamu pasti salah dengar."


"Ayolah sayang, bilang sayang!" Rengek Vier layaknya anak kecil.


Damian yang mendengar itu, memutuskan untuk keluar, daripada mendengar percakapan adik dan adik iparnya yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.


"Kak, Kakak mau kemana?" Tanya Cyara tapi Damian hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.


"Sayang jangan mengalihkan pembicaraan, cepat katakan sayang seperti tadi."


Cyara mengira suaminya akan berhenti meminta hal itu, tapi rupanya Vier belum menyerah, sebelum mendengar Cyara memanggilnya sayang. Cyara yang tidak ingin berdebat lagi, akhirnya memutuskan untuk menuruti saja, apa mau pria itu.


"Sayang," ucap Cyara lirih.


"Tidak dengar, lebih keras lagi."


"Sayang," ucap Cyara dengan suara lebih tinggi.


"Apa sayang? Aku tidak mendengarnya."


"Sayang!" Ucap Cyara yang kini berteriak, kesal karena tahu jika suaminya seperti sengaja mengerjainya.


Vier tersenyum puas lalu segera memeluk Cyara.


"Gemas deh, tidak sabar, Bryan cepat gede, nanti kita bikin adik lagi buat dia," ucap Vier yang langsung dihadiahi cubitan panas di perutnya.


"Aww! Sakit tau sayang," ringis Vier.


"Biarin," kata Cyara yang kini berjalan ke arah kamar mandi dan segera menutup pintu dan menguncinya saat tahu Vier mengikutinya.


Bukannya marah, Vier justru terkekeh melihat tingkah sang istri yang baginya begitu menggemaskan.


*


*


Selesai makan malam bersama, semuanya kini berpamitan untuk pulang, termasuk anak-anak Jasmine yang memang kini sudah tinggal terpisah dengan keluarganya masing-masing, hanya Vier dan Cyara, yang kini memutuskan untuk tinggal disana. Jasmine menantunya repot jika tinggal di rumahnya dulu, apalagi Cyara tidak ingin menyewa jasa pengasuh, dia bilang ingin mengurus anaknya sendiri, dan keputusan Cyara disetujui oleh Vier dan lainnya. Awalnya Vier tidak setuju, karena takut istrinya kelelahan, tapi karena bujukan mamanya yang bilang akan membantu Cya, akhirnya Vier pun setuju dan memutuskan untuk tinggal bersama orang tuanya.


Kini Vier masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan, istrinya tadi tidak ikut makan bersama karena harus menjaga Bryan.


Vier meletakkan nampan di atas meja, dia kemudian duduk di samping istrinya yang kini masih menyu**i putra mereka.


"Aku akan tidurkan Bryan dulu," ucap Cyara pelan dan suaminya mengangguk.


"Sini biar aku suapin!" Kata Vier yang sudah memegang piring dan bersiap untuk menyuapi istrinya, dengan senang hati, Cyara menerima suapan dari pria yang dicintainya itu.


Selesai makan, Cyara menatap Vier, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Kenapa?" Tanya Vier yang menyadari gelagat istrinya.


"Hah?"


"Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Vier lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Cyara.


"Hmm Vier, aku ingin mengunjungi Sheira," cicit Cyara pelan.


Vier langsung meletakkan piring di atas meja.


Cyara menunduk, saat melihat ekspresi suaminya kini berubah. Dia buru-buru menarik ucapannya tadi, tidak ingin membuat suaminya marah.