
Melihat suaminya hanya diam, Cyara mencoba tersenyum, lalu berkata.
"Ya sudah, jika kamu tidak mengizinkan."
Vier menatap istrinya lalu menghela nafas berat.
"Baiklah, tapi aku akan menemanimu, aku takut dia melakukan sesuatu padamu," jawab Vier akhirnya.
"Benarkah? Kamu memberiku izin untuk bertemu dengannya?"
Vier mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih sayang," ucap Cyara dan langsung memeluk suaminya.
Vier pun dengan senang hati membalas pelukan istrinya.
"Apapun jika itu membuatmu senang sayang."
…
Keesokan paginya, Cyara dan Vier bersiap untuk pergi melakukan apa yang direncanakannya semalam, mereka akan menemui Sheira di penjara.
"Kenapa?" Tanya Vier yang melihat istrinya yang enggan pergi.
"Aku tidak tega meninggalkan Bryan."
"Apa sebaiknya kita batalkan saja?"
"Hmm tidak seperti itu juga, aku ingin menemuinya, ayo! Kita harus cepat, biar kita juga bisa segera kembali," kata Cyara yang kini berlalu lebih dahulu.
Vier kemudian mengejar istrinya yang kini sudah masuk ke mobil. Kemudian segera melajukan mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kini mobil Vier sudah sampai di tempat tujuan mereka, mereka masuk dan diminta untuk menunggu, hingga beberapa menit kemudian, orang yang ditunggunya akhirnya muncul juga.
"Sayang bisakah kamu tinggalkan kami berdua?" Pinta Cyara pada Vier.
"Tapi…"
"Please, aku janji aku akan baik-baik saja."
"Baiklah, aku tunggu diluar," pasrah Vier akhirnya.
Sheira hanya menatap nanar kepergian Vier yang bahkan tidak meliriknya sama sekali, hatinya sakit, pria yang dicintainya, pria yang dulu sangat menyayanginya, kini tidak telah mengabaikannya. Pandangannya kemudian tertuju pada Cyara yang kini tengah menatapnya.
"Untuk apa datang kemari?"
"Sheira apa kabar?"
"Menurutmu? Kamu senang kan aku disini?"
"Apa selalu berpikir seperti itu tentangku?" Aku menderita, dan Cyara bahagia, aku tidak mendapatkan apa yang aku mau, tapi Cyara selalu mendapatkan bahkan apa yang dia tidak mau? Apa selalu itu yang kamu pikirkan tentangku? Apa kamu tidak berpikir sedikitpun jika aku sama terlukanya sepertimu, aku mendapatkan apa yang tidak aku mau karena aku berusaha keras. Tidakkah kamu tahu, jika aku menderita, apa yang kamu iri pada hidupku yang tidak seberuntung dirimu? Kamu hadir dari perasaan saling cinta dan ingin saling memiliki, dan kamu tahu sendiri, bagaimana aku hadir? Kamu pasti sudah mendengar dari ayahmu bukan? Kamu dicintai pria yang begitu baik, bahkan kamu bisa memilikinya, tapi aku… apa kamu belum cukup puas dengan apa yang kamu dapatkan selama ini?"
"Apa kami belum tahu kesalahanmu? Kau merebut semua orang yang aku sayang? Mama, Kak Rayyan dan sekarang Vier? Kamu merebut semuanya dariku!"
"Ibu? Aku tidak merebutnya darimu, kamu lupa, aku lahir lebih dulu darimu? Rayyan? Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa yang kau maksud? Dan Vier...aku juga tidak merebutnya darimu Sheira, tapi kamu yang dulu mencampakkannya."
"Tidak, aku tidak mencampakkannya, aku masih mencintainya bahkan sampai sekarang."
"Tidak Sheira, jika cinta seperti itu yang kau maksud, itu bukanlah cinta yang sesungguhnya, kamu hanya terlalu terobsesi pada Vier. Kamu hanya marah dan ingin memiliki yang aku punya, kamu…"
"Tidak! Hentikan! Pergi! Pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi, Pak, cepat usir wanita ini pergi dari sini!" Teriak Sheira, dia menutup telinganya, tidak ingin mendengar lagi apa yang Cyara katakan. Wanita itu terus memanggil polisi meminta untuk membawa Cyara pergi.
Vier yang mendengar itu, langsung berlari masuk, khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Sayang kamu baik-baik saja?"
Cyara langsung menoleh, dia tersenyum dan mengangguk, meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
"Ibu, sudah tidak ada, ibu sudah pergi untuk selama-lamanya," ucap Cyara yang kini berbalik pergi.
Sheira menatap tangannya yang kini gemetar hebat, ingatannya terulang pada malam kejadian itu.
"Mama...Mama...Tidak!" Teriak Sheira dan Cyara yang memang masih ada disana, mendengar teriakan menyedihkan adiknya.
Cyara awalnya memang ingin merahasiakan ini dari Sheira, takut jika adiknya itu terus merasa bersalah, tapi setelah dia memikirkannya cukup lama, Cyara memutuskan untuk memberi tahu Sheira, karena bagaimanapun, Sheira juga berhak tahu, dan dengan itu, dia berharap adiknya akan berubah dan juga bisa merasakan ada sedikit rasa penyesalan di hatinya, ya walaupun Sheira tahu jika Sheira tidak sengaja melukai ibunya, karena tujuan utamanya adalah dirinya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Vier membuyarkan lamunan istrinya.
"Sebenarnya aku tidak baik-baik saja," jawab Cyara lirih. Dia kemudian menatap Vier.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir," tambahnya kemudian meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat, menariknya menuju mobil mereka, meninggalkan tempat itu.
"Oh ya, nanti kita mampir sebentar di toko kue ya, aku ingin memesan untuk Rey dan Rain," kata Cyara kepada Vier begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Baiklah," kata Vier dengan segera mengendarai mobilnya menuju ke tempat yang tadi disebutkan sang istri.
…
"Mami! Papi!"
Teriak Rey dan Rain yang langsung menyambut kedatangan orang tuanya, bahkan kedua anak itu langsung berlari menghampiri mami dan papinya.
"Loh, Rey dan Rain sudah pulang?" Tanya Cyara karena masih terlalu pagi untuk anak-anaknya pulang sekolah.
"Iya, Bu gurunya mau pergi rapat, jadi kelas dibubarkan," jawab Rey.
"Papi bawa apa?" Kini giliran anak gadis mereka yang bertanya pada papinya.
"Bawa kue kesukaan kalian," jawab Vier.
"Yeah asyik!" Teriak keduanya bahkan sampai melompat-lompat, hal sederhana yang membuat Cyara bahagia karena melihat senyuman mereka.
"Ya sudah ayo masuk! Kita buka di dalam," ajak Cyara yang kemudian menggandeng anak-anaknya di sisi kanan dan kirinya.
"Oh ya, adik Bryan mana?"
"Sama uncle Ian," jawab keduanya bersamaan.
"Uncle Ian disini?"
"Iya, uncle Ian nyari Mami tadi."
Cyara menatap suaminya.
"Mungkin mau bahas soal yang kita bicarakan kemarin," kata Vier yang mengerti maksud tatapan istrinya. Dan Cyara pun mengangguk mengerti.
"Sayang, Mami sama Papi ke kamar dulu ya, mau lihat dedek Bryan, kalian buka kue sama Bibi," kata Vier berjongkok berbicara pada putra dan putrinya.
"Iya Pi," keduanya langsung berlari ke dapur membawa kue yang di belikan mami papinya.
"Sayang jangan lari-lari!" Tegur Cyara yang membuat mereka langsung berhenti yang tadinya berlari kini hanya berjalan.
Vier dan Cyara hanya tertawa melihat tingkah keduanya.
"Kalian sudah pulang?" Damian yang kini duduk di atas ranjang sambil memperhatikan keponakannya menoleh saat melihat Cyara dan Vier masuk ke dalam kamar.
Cyara meletakkan tasnya lalu berjalan menghampiri kakaknya.
"Kakak sejak kapan disini?"
"Sudah dari tadi, oh ya, kakak ingin membahas rencana kita semalam," ucap Damian.
Mereka bertiga kemudian duduk dan mulai membicarakan persiapan untuk merayakan ulang tahun Rey dan Rain yang sebenarnya sudah terlewat.