
Damian memeluk Cyara yang kini menangis histeris. Bagaimana tidak, disaat Rey sakit Cyara justru tidak ada di sampingnya, dia sangat merasa pada putranya itu. Pikiran Cyara kini kemana-mana, tapi dia buru-buru menepis pikiran buruk yang tiba-tiba muncul di benaknya. Tidak, semoga Rey tidak kenapa-kenapa, itu yang Cyara yakini dan harapkan.
"Kak aku ingin kembali, aku ingin menemui anak-anakku," pinta Cyara di tengah tangisannya.
"Iya Cya, kamu tenang dulu ya, ingat kamu sedang hamil sekarang, kamu juga pikirkan anak yang sedang ada di dalam kandunganmu," ujar Damian mengingatkan.
"Kak aku ingin kembali sekarang!" Cyara melepaskan pelukan kakaknya, kemudian berlari dan tiba-tiba gerakannya terhenti merasakan perutnya yang mendadak sakit.
Damian yang melihat itu langsung berlari, menghampiri adiknya.
"Cya kamu kenapa?"
"Perut aku sakit Kak," kata Cyara sambil memegangi perutnya.
Damian tanpa banyak kata langsung mengangkat tubuh Cyara. Pengawal yang tadi pergi bersama Cyara dan memantau wanita itu dari jarak jauh langsung menghubungi temannya untuk membawa mobil ke tempat mereka sekarang.
"Kak sakit!" Cyara meremas kuat kaos yang Damian kenakan, melampiaskan rasa sakit yang dirasakannya sekarang.
"Cya kamu harus bertahan, Kakak akan segera membawamu ke rumah sakit," ujar Damian dan dia langsung membawa Cyara ke mobilnya, yang baru saja sampai.
Pengawal dengan sigap membukakan pintu untuk Tuan dan Nonanya.
"Cepat ke rumah sakit!" Pinta Damian dan pengawal yang kini merangkap menjadi supir mengangguk mengerti dan dengan segera melajukan mobilnya ke tempat terdekat.
"Kak!" Cyara terus merintih hingga Damian semakin panik sekaligus cemas melihat adiknya seperti itu.
"Cepat! Lebih cepat lagi!" Teriak Damian karena dirinya bingung harus melakukan apa sekarang.
"Baik Tuan."
Tak lama mobil mereka pun kini sudah di rumah sakit yang tidak terlalu besar tapi cukup terkenal di desa itu.
"Suster tolong!" Teriak Damian dan para perawat dengan sigap membantu Davian.
…
"Kak aku ingin bertemu Rey," rengek Cyara sudah seperti anak kecil sedari tadi tepatnya setelah Cyara selesai diperiksa oleh dokter kandungan dan kini dipindahkan ke ruang perawatan.
Damian menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Kamu tidak dengar apa yang dikatakan dokter? Kondisi kandungan kamu lemah, untung saja tadi Kakak cepat membawamu ke rumah sakit. Lagian Cyara, perjalanan yang akan kita tempuh tidaklah sebentar, dan itu bisa saja membahayakan anak kamu."
"Tapi Kak…"
"Bukankah kamu bilang jika Vier pasti akan menjaganya? Jadi biarkan dia yang menjaga Rey, berikan dia kesempatan untuk mengurus putra dan putrinya yang selama ini harusnya mendapatkan kasih sayang darinya. Dan kamu tenang saja, Kakak akan menyuruh orang untuk mengawasi anak-anak kamu dari jauh. Kamu akan selalu tahu kabar tentang mereka. Dan kamu jangan egois karena bukan cuma Rey dan Rain saja yang butuh kamu, tapi kamu juga harus memikirkan anak kamu yang masih di dalam kandungan. Setidaknya Rey dan Rain akan aman karena mereka bersama dengan ayah kandungnya," ucap Damian panjang lebar membuat Cyara hanya terdiam.
*
*
Vier bisa bernafas lega, keadaan Reynan kini semakin membaik. Setelah satu minggu dirawat, akhirnya Reynan kini sudah diperbolehkan pulang.
"Ma titip Rey dulu ya," ucap Vier kepada mamanya yang datang bersama papa dan Vian sengaja untuk membuat Rey.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jasmine.
"Aku harus menemui dokter dulu," jawab Vier.
Rey hanya mengangguk. Setelah itu Vier pun kembali masuk, dirinya akan mengambil hasil tes dna yang waktu itu dilakukannya.
"Terima kasih," ucap Vier dirinya kemudian memasukkannya di saku celananya. Dia segera kembali ke mobilnya karena keluarganya pasti sedang menunggunya saat ini.
"Ayo!" Ucap Vier begitu masuk mobil pada Vian yang kini menyetir.
Vian menatap kakaknya, dia sepertinya tahu kenapa kakaknya tadi kembali masuk.
"Vian!"
"Ah iya Kak," Vian kemudian segera melajukan mobil ke rumah orang tuanya.
Awalnya Vier akan kembali ke rumahnya, tapi Jasmine melarang, dengan alasan nanti takut Rey dan Rain tidak terurus. Bukan tidak ada alasan Jasmine mengatakan itu, karena Jasmine melihat sendiri bagaimana Vier seminggu ini. Dia sendiri mengurus Rey, kemudian pulang untuk mengurus Rain, setelah itu dia harus ke kantor, dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani putranya, setelah Rey tertidur, Vier selalu keluar untuk mencari keberadaan istrinya yang belum juga ditemukan.
Dan akhirnya Vier hanya bisa pasrah, dirinya tidak mungkin lagi untuk menolak permintaan mamanya, terlebih jika papanya sudah ikut bicara.
Lima belas menit akhirnya mereka sampai. Vier turun terlebih dulu dan menggendong Rey yang tadi duduk di pangkuan Jasmine. Kemudian disusul ketiganya, saat akan melangkah, Jasmine menarik tangan Vian, entah kenapa dia merasa ada yang Vier sembunyikan dan Jasmine merasa jika Vian mengetahui itu.
"Kenapa Ma?" Tanya Vian bingung, menatap ke arah mamanya kemudian menatap Vier yang kini sudah masuk ke dalam rumah.
Tak hanya Vian, bahkan Stevano pun kini mengernyitkan dahinya.
"Apa yang kalian sembunyikan dari Mama?" Tanya Jasmine to the point.
"Maksud Mama?" Tanya Vian yang memang tidak mengerti maksud mamanya.
Jasmine menghela nafas, kemudian menatap putranya.
"Tadi Vier kembali masuk ke dalam pasti ada sesuatu kan yang dia sembunyikan dari kami?" Tanya Jasmine.
"Maksud kamu sayang?" Tanya Stevano yang memang belum juga mengerti pada apa yang istrinya katakan.
Jasmine memberi isyarat, meminta suaminya agar diam dan mendengarkan dulu, karena dia pun tidak tahu kenapa dia mengatakan itu, tapi dia hanya punya firasat jika ada yang putranya sengaja tutup-tutupi darinya.
Stevano yang mengerti isyarat dari istrinya hanya menurut, dia diam dan ikut mendengarkan apa yang akan putranya katakan.
Vian menatap mamanya ragu, antara akan mengatakannya atau tidak. Karena Vian pun belum mengetahui secara pasti.
"Benarkan? Ada yang kalian sembunyikan dari Mama?"
"Sebenarnya…"
"Katakan Vian, ada apa?"
Vian menghela nafas dan menceritakan semuanya kepada mama dan papanya, tentang apa yang terjadi di rumah sakit dari Rey yang kekurangan darah dan Vier mendonorkan darah untuknya, serta dirinya yang mendengar Vier meminta untuk melakukan tes dna.
"Jadi maksud kamu Vier...ada kemungkinan Rey dan Rain anak-anak Vier? Bagaimana bisa?" Tanya Jasmine yang begitu shock mendengar itu.
"Aku tidak tahu Ma, dan sepertinya tadi Kak Vier mengambil hasil tes itu."
Jasmine dan Stevano memang tahu jika Rey sempat perlu donor darah. Tapi dia tidak tahu jika Vier yang mendonorkannya, karena semuanya seakan kompak tidak mengatakan hal itu.
Jasmine buru-buru berlari masuk, dia harus memastikan hal itu.