
Ibu Cyara menatap nanar kepergian putrinya, wajar saja jika Cyara tidak memaafkan Sheira, karena bagaimanapun Sheira memang keterlaluan. Wanita itu bahkan tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak ada disana saat itu. Bagaimana dengan cucu-cucunya? Dia bukan bermaksud egois karena meminta Cyara memaafkan Sheira. Tapi dia tahu bagaimana sifat putri bungsunya itu. Jika Cyara tidak memaafkan, takutnya Sheira akan lebih nekat lagi. Apalagi jika memikirkan Keisha, gadis sekecil itu harus menghadapi perpisahan orang tuanya, Sheira yang sama sekali tidak mempedulikannya, dan kini, jika sampai Sheira ditahan, dia tidak mau jika Keisha tumbuh menjadi gadis seperti Sheira, sudah cukup kesalahannya selama ini pada Cyara, dan dia beruntung, Cyara memiliki sifat seperti ayahnya. Dan kenapa dia melepas Cyara? Karena dia yakin putrinya itu, bisa hidup mandiri, dia yakin Cyara bisa melewati kesulitan-kesulitan yang ditemuinya. Dia melepas Cyara juga karena untuk kebaikan putrinya itu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi, jika Cyara tetap tinggal di rumah. Sheira akan terus menyakitinya, dan dia tidak tega melihat hal itu.
Wanita itu tersentak saat seseorang tiba-tiba menggenggam tangannya. Ibu Cyara mengangkat wajahnya, menatap wanita yang usianya lebih muda darinya, tengah tersenyum lembut padanya.
"Saya yakin Cyara tidak beneran marah pada Anda, dia hanya kecewa, bagaimana bisa Anda meminta hal yang sangat menyakiti hatinya, jelas jika Sheira melukai anak-anaknya, tidak mungkin Cyara bisa memaafkan semudah itu, bagi Cyara, Rey dan Rain adalah separuh nyawanya. Jika sampai terjadi sesuatu sama mereka, apa Cyara masih bisa bernafas, tidak, Anda sebagai orang tua tentunya juga tahu hal itu. Selama ini, Cyara tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Anda, dan Anda tadi bilang seperti itu? Coba bayangkan bagaimana perasaan Cyara? Sakit tentunya, Cyara pasti akan berpikir seperti ini, kenapa bahkan Sheira berbuat salah, ibu tetap membelanya, bukankah jika salah memang seharusnya dihukum? Agar dia merasa jera dan bisa memperbaiki dirinya, jika salah terus dimaafkan, maka tidak ada pelajaran yang didapat oleh si pembuat kesalahan. Dia semakin menganggap semuanya mudah. Aku sudah melukainya, tapi dia memaafkanku, lain kali, jika aku kembali melukainya, bukankah dia juga akan kembali memaafkanku? Lalu untuk apa aku takut berbuat salah? Jika semudah itu aku dimaafkan, maka bisa jadi kelak Sheira akan berpikir seperti itu. Sheira sudah berbuat salah, harusnya Anda mendukung Cyara agar membuat adiknya mau berubah menjadi yang lebih baik, Anda harus menjadi contoh, jika kita harus bertanggung jawab dengan kesalahan yang kita perbuat. Bukannya Anda mendukung yang salah, itu sangat salah. Sheira yang seperti itu saja membuat Anda sedih, lalu bagaimana perasaan Cyara, saat tahu bahwa adiknya sendiri hendak menyakiti anak-anaknya. Saya berterima kasih, karena Anda sudah menyelamatkan cucu-cucu saya, tapi saya tidak akan membiarkan Sheira lepas dari tanggung jawabnya begitu saja. Dan masalah Keisha, saya tahu itu bisa mengguncangnya, tapi Anda tenang saja, keponakan saya Ken, pasti bisa menjaganya dengan baik, dan Anda tidak perlu meminta Cyara untuk melakukan apa yang Anda inginkan. Karena kalaupun nanti Cyara memaafkan Sheira itu pasti karena terpaksa, karena ibu yang dia sayangi yang memintanya, memaafkan memang mudah, tapi luka itu tidak akan terlupakan seumur hidupnya. Maaf karena sudah berbicara panjang lebar seperti ini, ku mohon Anda pikirkan apa yang semua tadi saya katakan, dan lebih baik Anda istirahat dulu, biar Anda lekas pulih," kata Jasmine melepas genggaman tangannya lalu beranjak meninggalkan ibu Cyara yang hanya diam saja, entah mendengarkan apa yang tadi Jasmine katakan atau tidak.
*
*
Seperti janjinya kemarin, kini Vier mengajak Cyara untuk datang menemui Sheira. Berbekal alamat yang diberikan Alno, kini mereka telah sampai di tempat tujuan. Keduanya segera turun dari mobil. Awalnya Cyara cukup terkejut begitu sampai di tempat itu. Tapi setelah memastikan kembali alamatnya, ternyata memang benar. Cyara menatap tempat itu ragu. Kenapa Vier membawanya kesana? Apa Sheira benar ada di tempat itu? Bukankah harusnya Sheira ditahan? Berbagai pertanyaan muncul di benak Cyara saat ini. Dia menatap Vier, Vier yang sepertinya mengerti tatapan sang istri langsung menggenggam tangannya erat.
"Vier…"
"Ayo!" Ujar Vier membawa Cyara untuk melangkah masuk menuju ke ruangan dimana Sheira dirawat.
Vier menggandeng istrinya menemui salah seorang perawat. Dan menanyakan tentang Sheira. Setelah berbicara panjang lebar dengan perawat itu mengenai kondisi Sheira, Vier pun akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya kesana.
"Bagaimana apa kami bisa menemuinya?" Tanya Vier pada perawat itu.
"Bisa Tuan, tapi saya sarankan untuk berhati-hati, takutnya nanti Nyonya Sheira akan mengamuk lagi," ucap perawat itu sambil menunjukkan jalan pada Vier dan Cyara untuk menemui wanita itu.
Mengamuk? Apa sampai separah itu?" Dalam hati Cyara bertanya-tanya.
"Baik, kami mengerti." Ucap Vier yang melirik istrinya yang terlihat melamun.
"Mari saya antar!" Ucap perawat itu kemudian.
"Ayo sayang!" Ajak Vier tapi Cyara justru masih sibuk melamun.
"Sayang!
"Ayo, katanya mau menemuinya," ajak Vier dan Cyara mengangguk. Keduanya lalu mengikuti perawat yang menunjukkan jalan kepada mereka dimana ruangan Sheira berada.
"Ini ruangannya Tuan, Anda bisa masuk, jika ada sesuatu secepatnya hubungi kami."
Cyara menahan tangan Vier, saat melihat pria itu hendak membuka pintu. Dirinya ragu, tapi Vier meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dia akan selalu menemani Cyara.
Akhirnya Cyara pun menghela nafas panjang, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Sheira duduk di atas ranjang rawatnya dengan tangan dan kaki terikat. Wanita itu langsung tertawa begitu melihat Cyara dan Vier.
"Apa kalian ingin menertawakanku?" Kalian pikir aku menderita? Tidak, aku bahagia, aku sangat bahagia, karena kamu sudah tidak memiliki apapun dari Vier, aku sudah menyingkirkan apa yang kamu miliki dari Vier," ucapnya.
Plak
Tangan Cyara melayang di pipi wanita itu.
"Kau tidak berhak menyentuh mereka!" Marah Cyara mendengar apa yang Sheira katakan.
Sementara itu, Vier mengepalkan tangan erat, dia yakin jika Sheira memiliki gangguan jiwa, setelah apa yang dilakukannya, dia justru tertawa dan tidak merasa menyesal sedikitpun.
"Tunggu! Kenapa kamu memilikinya lagi? Tidak, itu tidak boleh terjadi, aku harus menyingkirkannya lagi," teriaknya tiba-tiba saat melihat perut Cyara yang besar.
Dia mencoba untuk mendekat dan hendak menyakiti Cyara, tapi dengan cepat, Vier menyembunyikan Cyara di belakang tubuhnya.
Melihat itu Sheira tiba-tiba menangis, dia sedih karena Vier lebih memilih melindungi wanita lain, dan tidak membelanya sama sekali.
"Kenapa Vier? Kenapa kau tidak membelaku? Kamu tidak pantas untuknya, dia hanya…Akhh!" Sheira berteriak lagi sambil menutupi kedua telinganya, dia kembali menatap Cyara dengan penuh kebencian.
Mendadak Sheira memberontak, tenaganya yang begitu kuat akhirnya bisa melepaskan tali yang mengikat tangannya. Dia menatap Cyara dengan seringainya. Wanita itu dengan tangan yang mengepal erat segera menghampiri Cyara dan...