Love Revenge

Love Revenge
Bab 119



"Jadi apa maksud dari apa yang tadi papa katakan saat di ruangan Cyara?" Tanya Vier yang kini duduk di sofa, masih ada Alno dan Ken, juga kedua anaknya yang kini terlelap di sofa, Rey berbantalkan paha Alno dan Rain tidur di pangkuan Ken.


Vier menatap kedua anaknya dengan seksama, wajah keduanya terlihat sembab, seperti habis menangis.


"Kenapa juga dengan anak-anak?" Tanya Vier lagi.


"Ada seseorang yang ingin mencelakai anak-anakmu," bukan Stevano yang menjawab, melainkan Alno.


"Maksud Kak Alno?"


Alno pun menceritakan semuanya, apa yang terjadi menurut kesaksian sopir ibu Cyara.


Vier mengepalkan kedua tangannya erat, rahangnya mengeras mendengar cerita kakaknya, "Siapa…siapa yang melakukan itu?" Tanyanya geram.


"Sheira," jawab Ken lirih.


"Dada Vier rasanya ingin meledak saat mendengar nama itu.


"Kenapa? Kenapa dia melakukannya? Rey dan Rain tidak tahu apa-apa? Kenapa dia melakukannya?"


"Vier tenang!" Ucap Stevano tegas.


"Bagaimana aku bisa tenang, saat ada seseorang yang mencoba mencelakai anak-anakku?"


"Itu salahmu Vier!" 


Vier langsung menatap tajam orang yang baru saja berbicara.


"Maksud Kak Alno apa? Kenapa ini jadi salahku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa, aku juga tidak ingin hal itu terjadi, siapa yang menginginkannya Kak?" Teriak Vier, dirinya lupa jika kedua anaknya sedang tidur disana.


"Papi! Papi sudah pulang?" Rain mengucek kedua matanya, memastikan jika apa yang dilihatnya tidak salah, papinya sudah pulang.


Rain kemudian mengedarkan pandangan, seperti ada yang tengah dicarinya.


Stevano memberi isyarat pada Alno untuk menghentikan pembicaraan mereka, tidak ingin jika kedua cucunya mendengar, sesuatu yang seharusnya tidak mereka dengar.


"Rain cari Mami ya?" Tanya Ken yang langsung mengerti.


"Iya Om, mana Mami? Mami juga sudah pulang kan Pi?"


Vier tersenyum dan mengangguk.


"Mami sudah pulang?" 


Rey kini tiba-tiba saja bangun ketika sedang membicarakan maminya.


"Iya Kak, Mami sudah pulang," jawab Rain dengan pandangan mata berbinar.


"Kalian mau melihat Mami?" Tanya Ken dan keduanya pun mengangguk.


"Ayo Om antarkan ke tempat Mami," ucap Ken menurunkan Rain dari pangkuannya, kemudian juga membantu Rey turun.


"Kalian lanjutkan saja, aku akan membawa Rey dan Rain," ucap Ken berbisik pada Alno sebelum akhirnya Ken keluar membawa Rey dan Rain ke ruang rawat Cyara.


Alno pun menjelaskan semuanya menurut saksi di lokasi kejadian, dan Vier, jangan tanyakan, dia benar-benar marah mendengar itu semua, tangannya mengepal kuat, bahkan rahang pria itu mengeras.


"Dimana dia sekarang?"


"Cyara...Cyara..."


Pembicaraan mereka buyar saat mendengar nama Cyara dipanggil. Ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara, dan Alno langsung memanggil dokter saat melihat ibu Cyara sudah sadarkan diri.



"Mami!" Teriak Rey dan Rain bersamaan berlari ke arah ranjang rawat Cyara.


Cyara yang sedari tadi memberontak berusaha turun dan terus memaksa Jasmine ingin bertemu ibunya pun berhenti, saat melihat putra dan putrinya datang.


Ken yang menyaksikan itu ikut tersenyum, kemudian dirinya pun langsung pamit pulang.


Cyara tersenyum, Rey dan Rain pun langsung masuk ke dalam pelukan Cyara.


"Terima kasih, ucap Cyara dan Ken pun mengangguk. 


"Mami Rey kangen Mami," ucap Rey setelah pintu ruang rawat Cyara tertutup.


"Rain juga kangen Mami," sahut Rain.


Cyara tersenyum, "Mami juga kangen bangeeeet sama kalian, kalian tidak nakal kan selama Mami pergi?" Tanya Cyara kemudian mengecup seluruh wajah Rey dan Rain bergantian.


"Mami, perut Mami gerak," kata Rey yang merasakan jika perut Cyara bergerak.


Cyara melepas pelukan kemudian meraih tangan Rey dan Rain membiarkan kedua anak itu menyentuh perutnya.


"Iya adik Rey dan Rain juga kangen sama kalian," ucap Cyara membuat mata keduanya berbinar.


"Benarkah Mami?" Tanya Rain.


"Hmmm."


"Rain mau mengelus dedek bayinya boleh?"


"Tentu saja."


Dengan senang hati Rey dan Rain mengelus perut maminya. Wajah bahagia kedua anak itu pun sangat terlihat jelas. Dan Cyara tersenyum melihat itu sambil mengelus kepala Rey dan Rain. Jasmine yang melihat itu merasa bahagia, hingga tidak bisa menahan air matanya yang kini sudah jatuh membasahi pipi, terharu melihat Rey dan Rain akhirnya bisa tersenyum lagi, setelah beberapa bulan terakhir selalu murung dan lebih banyak diam. 


Saat semuanya sedang sibuk dengan momen pertemuan mereka, pintu tiba-tiba terbuka, Vier yang tadinya marah kini perlahan sudut bibir pria itu terangkat menyaksikan anak-anak dan istrinya, rasanya dia masih tidak menyangka jika sudah mempunyai anak sebesar Rey dan Rain. 


"Vier kenapa?" 


Pertanyaan Jasmine membuat Cyara dan anak-anaknya menoleh, Rey dan Rain saling pandang, kemudian berlari menghampiri ayahnya, tangan kedua anak kecil itu menarik tangan Vier di sisi kiri dan kanannya. Membawa pria itu untuk mendekat ke arah maminya.


"Papi, tadi dedek bayinya bergerak," ucap Rain mengadu pada papinya.


"Oh ya? Benar sayang?" Tanya Vier kepada Cyara, memastikan jika apa yang dikatakan putrinya itu benar.


Cyara tersenyum dan mengangguk. Vier dengan mata berbinar menyentuh perut Cyara, tapi dia harus kecewa karena dia tidak dapat merasakan gerakan anaknya seperti apa yang tadi dibilang Rain.


"Benarkan papi?" Tanya Rey karena papinya hanya diam saja setelah menyentuh perut mami mereka.


Jasmine dan Cyara saling pandang, kemudian wanita itu menyentuh bahu putranya, "Nanti juga pasti kamu akan merasakan gerakannya," ucap Jasmine menenangkan Vier.


Vier menatap mamanya dan mengangguk, kemudian pandangannya beralih pada sang istri.


"Ibu ingin bertemu kamu," ucap Vier pada Cyara.


"Beneran? Kamu tidak bohong kan? Sungguh ibu mau bertemu denganku?" Tanya Cyara memastikan jika apa yang didengarnya tidak salah.


Vier mengangguk, "Kamu tunggu disini sebentar," ucapnya kemudian berlalu keluar.


Tak lama pria itu kembali dengan mendorong kursi roda.


"Aku bisa berjalan sendiri, lagian ruangan Ibu ada di sebelah," kata Cyara menatap kursi roda.


"Mami, Papi tidak ingin Mami dan anak kita kenapa-napa, lagian tubuh Mami masih lemah, jadi nurut ya sama Papi," ucap Vier dan Cyara menatap suaminya itu.


"Kita harus terbiasa dengan panggilan seperti itu, apalagi di depan anak-anak, memberi contoh untuk mereka," tambahnya lagi.


"Iya."


"Jadi mau kan menggunakan kursi roda?"


Cyara pun mengangguk, hanya bisa pasrah.


Setelah membantu Cyara hingga duduk di kursi roda, Vier kemudian berjongkok, di depan putra dan putrinya.


"Rey dan Rain, nanti pulang bersama Om Alno ya, nanti kalian menginap dulu di rumah Aira," kata Vier pada keduanya, tadi memang Alno berpamitan akan pulang, karena tidak tega, meninggalkan istri dan anaknya terlalu lama, apalagi papa dan mamanya juga masih ada di rumah sakit. Dan Vier meminta pada kakaknya itu, untuk mengajak sekali Rey dan juga Rain.


"Tapi Pi…"


Terlihat dengan jelas jika Rain keberatan.


"Iya Papi, kami akan ikut Om Alno," Rey menggenggam tangan adiknya agar menurut dengan permintaan papi mereka.


Vier tersenyum dan mengacak rambut Rey, "Anak pintar, ingat jangan nakal disana.


Keduanya pun mengangguk.


"Ya sudah ayo!" Vier mendorong kursi roda Cyara. Sedang Jasmine menggandeng kedua cucunya.


Mereka masuk ke dalam ruangan, terlihat jika Ibu Cyara kini sedang mengobrol dengan Alno dan Stevano.


Alno pun berpamitan diikuti Rey dan Rain. Kemudian ketiga orang itu pun pergi.


Stevano mengajak Vier dan istrinya keluar, memberi waktu agar Cyara bisa leluasa berbicara dengan ibunya.


"Ibu!" Panggil Cyara dan wanita itu justru memalingkan wajahnya dan hal itu membuatnya merasa sedih.