Love Revenge

Love Revenge
Bab 134



Meisya meremas jarinya gugup melihat siapa yang ada di depannya kini. Dia bahkan tidak berani menatap pria itu. Kepalanya terus menunduk, merapalkan doa dalam hati, semoga saja pria di hadapannya ini mau memaafkan perkataannya yang hanya melampiaskan kekesalannya saja.


"Kenapa tidak dijawab? Kamu mau apakan anak dan cucuku?" Tanya pria itu dengan suara datar dan dinginnya.


"Ma...maafkan saya Tuan Max, saya hanya…"


Lagi-lagi Meisya tidak bisa meneruskan perkataannya, apalagi saat tadi mengangkat kepala, tatapan Max begitu tajam padanya.


"Hanya apa? Cepat katakan!"


"Saya hanya kesal sama anak dan cucu Anda," jawab Meisya cepat.


Dan Max justru tertawa, membuat Meisya mengernyitkan dahi bingung.


"Oh, rupanya kamu disini? Siapa yang kamu goda honey?"


Seseorang datang dan langsung menjewer telinga Max.


"Meisya jangan dengarkan rayuan pria tua ini," ucap Bunga menatap tajam suaminya.


Meisya melambaikan kedua tangannya di depan  dada.


"Tidak...tidak Nyonya, Tuan Max tidak merayu saja," jawab Meisya gugup takut pasangan suami istri itu salah paham terhadap dirinya, makanya dia cepat-cepat menjelaskan apa yang terjadi.


"Haha tidak kok sayang, aku percaya padamu, oh ya kenapa kamu disini? Mana Keisha?" Tanya Bunga yang memang sedari tadi di dapur, dia tadi baru saja dari kamar mandi.


"Nona Keisha bersama Kak Cyara, Nyonya," jawab Meisya dan Bunga mengangguk.


Tapi tiba-tiba dia menatap Meisya, setelah melepaskan tangannya dari telinga suaminya.


"Cyara sudah pulang?"


Meisya pun mengangguk.


"Ya sudah, honey kamu lanjutkan bereskan ya, aku mau menemui cucuku," kata Bunga melepas celemek dan memberikan kepada suaminya. 


Max hanya bengong menatap kepergian istrinya, Meisya hanya menahan tawa, kemudian memutuskan untuk ikut pergi dari sana, tapi belum saja melangkah, Max sudah memanggilnya.


"Kamu!"


"Saya Tuan," kata Meisya menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, memang siapa lagi, tidak ada orang lain disini," kesal Max karena disuruh membersihkan dapur yang sudah seperti kapal pecah.


"Kenapa Tuan?" Meisya melangkah dengan ragu.


"Sini kamu bantuin saya, ingat saja mau ikutan kabur, lagian juga sih istri saya kenapa tidak mau dibantuin pelayan, ujung-ujungnya ditinggalin gitu saja."


Tak hanya harus membantu Max, Meisya bahkan harus mendengar gerutuan pria itu.


"Gak kakek, anak, sama cucu sama saja, menyebalkan," gumam Meisya.


"Ngomong saya kamu."


"Ti...tidak Tuan, mana berani saya ngomongin Tuan."


"Bagus, sekarang cepat bereskan!" Pinta Max karena dirinya kini sudah mulai membereskan kekacauan istrinya.


"Ngapain kamu disini? Bukannya jagain anak saya?"


"Bapak mengejutkan saja, ah iya Pak segera! Tuan, maaf saya tinggal di suruh anak Tuan ini!" Kata Meisya yang langsung berlari kabur.


"Aneh," gumam Ken mengambil minum dan melihat papinya sedang menatapnya.


"Papi kenapa?" Tanya Ken mengerutkan dahi bingung.


"Kamu gantiin dia bantuin papi!" Ucap Max kemudian.


"Kenapa aku tadi tidak membaca situasinya dan menyuruh gadis itu pergi sih, jadi kena kan? Awas kamu Meisya," ucap Max dalam hati kesal karena sudah dikerjai oleh Meisya, pantas saja gadis itu langsung mau begitu disuruh, biasanya jika untuk diminta untuk menjaga putrinya, Meisya selalu beralasan ini dan itu, hingga akhirnya Ken memutuskan agar Meisya jadi pengasuh Keisha.


"Iya," jawab Ken terpaksa.


Sementara itu Meisya kembali ke ruang keluarga, sekarang seluruh anggota keluarga sudah berada disana, kecuali anak-anak kecil dan seorang wanita yang tadi Meisya dengar bernama Vira yang tidak ada di sana. Mungkin Keisha juga ikut dengan wanita itu, karena dia tidak melihat bocah kecil yang selalu membuatnya kesal. Meisya menatap seluruh anggota keluarga itu, karena tidak ada Keisha disana, membuat Meisya akhirnya memutuskan untuk lebih baik pergi dari sana hingga tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggilnya.


"Sini Mey!" Cyara meminta Meisya untuk duduk di sampingnya saat melihat Meisya celingukan karena bingung harus bergabung atau tidak.


Cyara tahu karena dulu dia juga seperti Meisya, saat dia berada di tengah-tengah keluarga baru ibunya, hingga dia ingin membuat Meisya nyaman di tempat ini.


Semua orang menatap ke arah Meisya, dan terlihat jelas jika saat ini gadis itu tampak gugup. Tapi akhirnya dia menurut dan duduk di samping Cyara. Sedangkan yang lain kini kembali sibuk mengobrol.


"Tidak usah gugup, keluarga ini baik semua kok," bisik Cyara.


Meisya menoleh, tersenyum kemudian mengangguk. Dan benar apa yang Cyara katakan keluarga Nyonya itu memang baik semua, hanya dua orang, ayah dan anak yang menurut Meisya menyebalkan, siapa lagi jika bukan Ken dan Keisha.


"Oh ya Max mana Flo?" Tanya Stevano karena tidak melihat adiknya itu.


"Max sepertinya masih di dapur deh Kak, tadi aku memintanya untuk membereskan dapur, soalnya aku pengen lihat anak Vier," jawab Bunga dan Stevano hanya mengangguk.


"Kirain mau nyusulin Max ke dapur," ucap Jasmine pelan pada suaminya.


"Tidak, lebih baik bersantai disini sambil menatapmu," jawab Stevano duduk bersandar, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hmm rame banget ya jadinya disini, coba saja Ken dan Keisha tinggal di rumah, pasti suasana di rumah juga akan seramai ini. Apalagi Zio memutuskan tinggal terpisah bersama istrinya, juga putriku masih betah melajang.


"Putri kita masih kecil Mi, dan aku ingin menghabiskan waktuku dulu dengan putri kita," jawab Max yang kini tiba-tiba sudah ikut begabung.


"Kamu sih honey, selalu menganggap putri kita masih kecil, putri kita itu sudah 21 tahun loh, setidaknya pacaran tidak masalah, tapi ini boro-boro pacar, teman pria saja tidak punya, itu gara-gara kamu yang membuat teman-teman prianya pada kabur duluan, sebelum mendekati putri kita.


"Sudahlah honey ini demi kebaikan putri kita," ucap Max yang kini berjalan ke arah istrinya, Vier bangun dan membiarkan pamannya duduk di samping bibinya menggantikan tempatnya.


Bunga hanya memutar bola matanya malas, karena seperti itulah jawaban Max jika membicarakan tentang putrinya. Dan yang lain hanya bisa diam, tahu bagaimana posesifnya Max, karena mungkin dia hanya memiliki satu putri.


"Sini Bi, biar Vier bawa Bryan ke kamar," ucap Vier mengambil alih Bryan dari pangkuan Bunga.


"Baru aja Paman ingin lihat cucu Paman Vier, uda main dibawa kabur aja," gerutu Max karena dirinya baru saja duduk, Vier justru akan membawa putranya masuk.


"Lagian Paman kelamaan, daritadi memangnya kemana saja?"


"Biasa, dapat tugas dari ibu negara…" jawab Max melirik istrinya yang kini sibuk mengobrol dengan Cyara dan Jasmine.


"Salah sendiri!" Jawab Vier kemudian pandangannya beralih pada Cyara.


"Ayo sayang, kita ke kamar!" Ajak Vier pada istrinya itu.


Merasa dipanggil, Cyara pun menoleh dan mengangguk.


"Ke kamar ke kamar aja Vier, ngapain ajak Cyara," celetuk Max.


"Paman seperti tidak pernah muda saja," canda Vier dan langsung mendapat tatapan dari mamanya.


"Ingat Vier, Cyara baru melahirkan."


"Iya, iya Ma, Vier hanya bercanda."


Cyara kemudian berpamitan pada semua orang disana untuk masuk ke kamarnya. Dan semua orang mengangguk, membiarkan agar Cyara bisa istirahat nyaman di kamarnya.


Begitu sampai di kamar, Vier langsung menidurkan Brian di box bayi, kemudian pria itu berjalan mendekat ke arah sang istri yang tengah membereskan barang-barangnya yang sekalian tadi dia bawa masuk.


Greb


Tangan Vier tiba-tiba melingkar di perut Cyara. "Aku kangen sama kamu sayang," bisik Vier di telinga Cyara, membuat wanita itu merinding, apalagi saat merasakan nafas Vier yang langsung menerpa lehernya.


"Cyara!"


Cyara melepas pelukan suaminya saat  mendengar suara seseorang memanggilnya.