Love Revenge

Love Revenge
Bab 56



"Akh!" Ringis Vier saat tubuhnya kini berada paling bawah dari tiga orang yang kini ada di atasnya.


"Yeah," kata Rain yang kini menaiki punggung Cyara bersama sang kakak.


Rain dan Rey yang melihat bagaimana posisi papi dan maminya, mengira jika kedua orang itu sedang bermain, hingga dengan segera Rain langsung naik ke punggung maminya dan diikuti sang kakak.


"Sayang turun! Kasihan Om Pir pasti sakit," kata Cyara, karena sejujurnya dirinya juga merasa sakit, apalagi tubuhnya menekan tubuh Vier.


"Mami kita kan lagi main pesawat-pesawatan," kini putra Cyara lah yang menjawab ucapan maminya.


"Sayang, ayo turun, tangan Mami sakit ini," Ucap Cyara yang memang kedua tangannya ada di depan dadanya menjadi salah satu pembatasnya.


"Tapi…" mereka merasa keberatan dengan permintaan maminya.


"Nanti Papi ajak jalan-jalan, bagaimana mau?" Ucap Vier yang dari tadi menahan sesuatu.


"Mendengar ucapan Vier, mata kedua anak itu berbinar senang, bahkan Rey kini sudah turun dari tubuh Cyara, dan kini dengan perlahan Rain juga ikut turun, Cyara langsung menggulingkan tubuhnya hingga dia kini berbaring di samping Vier.


"Akh sakit sekali?" Terdengar ringisan dari bibir Cyara.


Vier yang juga merasa kesakitan kini menoleh ke arah Cyara.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Vier.


"Apa mau dipijit?" Tawarnya membuat Cyara melotot menatapnya.


"Hahaha, sudah ayo!" Vier bangun dan mengulurkan tangannya membantu Cyara bangun.


"Tidak nanti saja," jawab Cyara yang kini malah tengkurap dan memejamkan matanya.


"Apa kalian sudah lapar?" Tanya Vier kepada kedua anak yang kini hanya menatap apa yang dilakukan Vier dan juga maminya.


Keduanya pun mengangguk karena memang benar-benar sudah lapar apalagi ini sudah lewat setengah jam dari jam makan siang.


"Tuh anak-anak sudah lapar," kata Vier menggoyang-goyangkan tubuh Cyara yang ternyata memang benar-benar terlelap.


"Hmm," jawab Cyara yang langsung bangun setelah meregangkan otot-ototnya.


Kemudian mereka pun menuju ke ruang makan, untuk makan siang bersama.


*


*


"Apa ada pertemuan lagi hari ini?" Tanya Vier pada Cyara yang berjalan cepat di sampingnya.


Mereka kini sedang berjalan menuju mobil, setelah melakukan pertemuan dengan klien nya di luar.


"Jam sepuluh kita akan melakukan kunjungan ke lokasi syuting, untuk iklan produk terbaru kita Tuan," ucap Cyara memberitahu.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil, dimana Martin sudah berada di dalamnya, menunggu mereka.


"Jam makan siang Anda akan ke bu...tik? Butik?" Cyara mengulang itu sambil mengernyitkan dahinya, karena kemarin saat melihat jadwal pria itu sama sekali tidak ada jadwal ke butik.


"Hmm terusin," kata Vier yang tidak ingin menjelaskan.


"Pukul 2 siang, Anda ada ke kunjungan ke rumah sakit menjenguk Tuan Peter, dan pukul 4 sore, Anda ada janji bertemu dengan Tuan Bara," kata Cyara menjadwalkan keseluruhan jadwal hari ini.


Vier mengangguk mengerti, "Martin kita jalan sekarang ke lokasi syuting iklan," perintah Vier kepada asistennya.


Sepuluh menit perjalanan mereka pun akhirnya sampai. Martin turun lebih dulu dan dengan segera membukakan pintu untuk Vier, bertepatan dengan Cyara yang juga ikut keluar.


Vier mengancingkan jasnya dan berjalan tegap bersama dengan Martin di sampingnya, sementara Cyara berjalan di belakang kedua pria yang kini sedang membicarakan perkembangan produk baru di pasaran setelah belum lama ini diluncurkan.


"Selamat datang Tuan," beberapa orang menunduk hormat dan menyapa Vier jika kebetulan berpapasan, dan Vier hanya mengangguk dengan wajah datarnya, bahkan membalaskan sapaan mereka pun tidak.


"Tuan Anda sudah datang," seorang pria buru-buru menghampiri Vier, dialah orang yang dipercaya Vier untuk mengurus tentang iklan produk mereka.


"Sebelah sini Tuan," pria itu pun menunjukkan jalan kemana kita harus melangkah ke tempat dimana syuting sedang dilakukan.


Dan begitu masuk ke dalam, tidak hanya Vier, Cyara pun begitu terkejut, tapi saat Cyara melihat ke arah Vier, rupanya pria itu, sudah tampak biasa-biasa saja, jelas tadi Cyara menangkap wajah terkejut Vier, tapi Vier sepertinya dengan cepat bisa menguasai diri, hingga kini wajah pria itu tampak tenang dan biasa-biasa saja lagi seperti tidak ada yang pernah terjadi.


"Oh ya Tuan, perkenalkan ini Sheira Adelia Tan, yang akan menjadi model produk kita mulai sekarang, saya yakin Anda sudah mengenalnya," ucap pria yang mengantarkan mereka tadi.


"Perkenalkan Tuan, saya Sheira Adelia Tan," ucap Sheira memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.


"Kemana yang sebelumnya?" Tanya Vier berjalan sembarang arah tanpa membalas uluran tangan Sheira.


"Dia mengundurkan diri Tuan," jawab pria tadi.


Sheira melihat Vier dengan tatapan penuh luka, bahkan dia kembali menarik tangannya dan mengepalnya kuat-kuat.


Dan Cyara melihat itu semua, dia hanya bisa saling meremas jari-jarinya.


Sheira menghela nafas dan tersenyum, kemudian kembali melakukan pekerjaannya, dan Cyara lagi-lagi memergoki bagaimana Vier menatap Sheira, tatapan penuh luka, kecewa dan penuh kerinduan.


"Martin, aku ke toilet dulu," pamit Cyara yang tidak tahan melihat pandangan Vier yang tidak beralihkan sedikitpun pada Sheira, beralih pun itu juga saat Sheira tiba-tiba menatap pria itu.


"Apa kamu bisa terus bertahan Cyara? jika dimata pria itu saja sudah menunjukkan cinta yang dalam untuk dia. Apa kamu yakin bisa membuat Vier akhirnya memilih kamu? Bagaimana jika dia justru berpaling darimu? Kau hanya orang yang baru hadir di kehidupannya, sedangkan Sheira? Menyerahlah Cyara, menyerah jika kau tidak ingin semakin terluka." 


"Tidak Cyara, kamu tidak boleh menyerah begitu saja sebelum berjuang, apa kamu mau menyerah hanya karena seorang wanita di masa lalunya, ingat Cyara dia hanya masa lalunya, dan kamu adalah masa depannya, kamu harus berjuang demi cintamu dan juga kebahagian anak-anakmu, iya Cyara ingatlah jika di antara hubunganmu dengannya ada kebahagian anak-anakmu yang akan dipertaruhkan."


Cyara menggelengkan kepala sekuat-kuatnya, mengusir bisikan-bisikan yang seperti dia dengar di sebelah kanan dan kirinya. Kedua nya seperti sedang berperang membuat bimbang hati dan pikiran Cyara.


Cyara segera membasuh wajahnya, berharap setelah itu dirinya akan sedikit merasa lebih tenang, entah kenapa pertemuan dengan Sheira membuat dirinya takut, membuat dirinya berkecil hati dan merasa tidak akan bisa jika harus bersanding dengan Vier.


Cyara menatap pantulan dirinya di cermin, menghela panjang nafasnya, membuka tas dan memperbaiki riasannya, setelah itu barulah Cyara keluar dan akan kembali ke tempat tadi.


"Sudah selesai?" Tanya Cyara begitu melihat Martin keluar lebih dulu.


"Iya."


"Tuan Vier?" Tanya Cyara saat tidak melihat keberadaan pria itu.


"Di belakang," jawab Martin dan benar tak lama Vier pun akhirnya keluar dan berjalan mendekat menghampirinya.


"Ayo!" Kata Vier begitu sudah berdiri di samping Cyara dan wanita itu justru tengah melamun.


"Ayo Cyara!" Ucap Vier lagi.


"Hah? Oh iya," jawab Cyara dan kemudian berjalan bersama pria itu.


"Vier!" 


Keduanya pun menoleh saat tiba-tiba ada seseorang memanggil Vier.