Love Revenge

Love Revenge
Bab 97



Rasanya seperti tersambar petir, setelah mendapatkan telepon tadi. Padahal Vier baru saja kehilangan Cyara, dan sekarang…


Cobaan apalagi ini?


Vier segera berlari meninggalkan kamar Cyara dengan air mata yang tidak bisa dibendung.


Vier masuk ke mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi, menuju alamat yang tadi disebutkan oleh penelpon.


Begitu sampai Vier dengan segera ke bagian administrasi, menanyakan tentang keberadaan anaknya.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Vier begitu bertemu dengan dokter.


Nyawanya serasa direnggut paksa melihat tubuh mungil itu terbaring di atas brankar, dengan darah di wajah dan lengannya, bahkan di beberapa tempat juga mengalami luka-luka.


Vier mendekati tubuh mungil itu dengan langkah gontai, hingga tiba-tiba tubuhnya merosot ke lantai, tangannya menggenggam tangan mungil di hadapannya.


"Rey sayang, bangun Nak! Ini Papi" pinta Vier lirih. 


Dokter itu hanya menatap Vier iba, kemudian menjelaskan pada Vier jika Rey harus segera di operasi.


"Tolong lakukan apapun dok untuk keselamatan anak saya, saya mohon selamatkan dia…" mohon Vier lirih.


"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan," jawab dokter kemudian beralih menatap suster.


"Tolong siapkan prosedurnya dan bawa pasien ke ruang operasi," perintah dokter tadi.


Suster pun mengangguk dan dengan segera menjalankan perintah dari dokter.


*


*


"Vier!" Stevano dan Jasmine segera berlari menghampiri putranya yang terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Rey, Ma! Rey, Pa! Dia pasti baik-baik saja kan? Rey akan sembuh kan Ma?"


Jasmine tidak bisa lagi menahan air matanya, dia segera menarik Vier dalam pelukannya.


"Rey pasti sembuh sayang, Rey anak yang kuat seperti maminya, Mama yakin itu, kita berdoa saja ya sayang," ujar Jasmine menenangkan putranya walaupun sebenarnya dia sendiri tidak tenang.


"Bagaimana keadaan Rey sekarang?" Tanya Stevano yang sangat khawatir dengan kondisi cucunya itu.


Vier menggeleng, dia tidak tahu harus menjelaskan apa.


"Kata dokter Rey harus dioperasi Pa."


"Maaf Tuan, saya guru Rey, hmm apa Anda ayah Rey bisakah kita bicara sebentar," kata guru itu yang tadi pergi karena mengurus sesuatu dengan orang yang tanpa sengaja menabrak Reynan.


"Biar Papa saja," ujar Stevano menatap istri dan anaknya bergantian yang kemudian mengikuti guru Rey.


"Ma, Rey pasti baik-baik saja kan Ma?" Kata Vier yang kini menatap Jasmine dengan berlinang air mata.


"Rey pasti baik-baik saja," gumam Jasmine yang sekarang juga berharap dalam hatinya jika cucunya akan baik-baik saja, dan mereka semua akan berkumpul lagi.



Vier mondar-mandir di depan ruang operasi, dia menunggu dengan gelisah, dadanya terasa sesak apalagi mengingat Cyara yang pasti akan bersedih jika tahu hal ini.


"Sayang Papi mohon, jangan tinggalin Papi, jangan buat Mami bersedih, kamu harus sembuh Nak, Papi janji, Papi akan terus mencari Mami, dan kita akan tinggal sama-sama lagi." Vier menempelkan kepalanya di dinding, doa tidak henti-hentinya dia panjatkan agar anaknya selamat.


Vier yang kini hanya disana sendiri menunggu Rey, kembali menyeka air matanya, padahal dia terus menerus melakukan itu tapi rasanya air mata Vier tidak ada habisnya hingga lagi-lagi mengalir deras.


Jasmine tadi pergi untuk menjemput Rain, karena dia mendapat kabar jika Rain terus saja menangis. 


Vier buru-buru menghampiri seseorang yang baru saja keluar begitu pintu ruang operasi kini terbuka, bisa Vier lihat, suster muncul dengan wajah yang tidak baik-baik saja.


"Ada masalah Tuan, anak Anda kekurangan banyak darah, kita butuh donor darah secepatnya.


"Cepat lakukan suster!"


"Maaf Tuan, golongan darah pasien termasuk golongan darah langka, dan di rumah sakit kami saat ini tidak ada persedian. Anda ayah pasien? Bagaimana kalau kita lakukan cek darah Anda dulu, karena kemungkinan besar akan cocok," kata suster.


Tubuh Vier lemas seketika, bagaimana ini, Rey bukanlah anaknya, dan apa tadi golongan darah langka? Otak Vier merasa blank mendadak, dirinya tidak bisa berpikir jernih saat ini.


"Tunggu, apa golongan darahnya sus?" Tanya Vier kemudian, begitu mengingat sesuatu.


Suster pun menyebut golongan darahnya.


"Ambil darah saya berapapun yang Rey butuhkan, golongan darah kami sama," ucap Vier dengan dada yang bergemuruh hebat.


Pertama dia menemukan satu anting di kamar Cyara, anting yang sama persis dengan yang selama 6 tahun dia simpan. Anting itu terlihat sepasang, anting yang dia temukan di bawah selimut saat peristiwa yang menimpanya waktu itu, Vier menyimpannya berharap bisa bertemu dengan gadis yang sudah dia ambil kehormatannya.


Dan sekarang, golongan darah Rey sama dengannya, hal itu membuat pikiran Vier begitu kacau.


"Apa jangan-jangan…" tubuh Vier hampir saja limbung, jika saja Vian tidak dengan cepat menahannya.


"Kenapa Kak?" Tanya Vian yang baru datang begitu mendapat kabar dari mamanya. Dia menatap Vier yang keadaannya sangat sulit di jelaskan.


Vier menggeleng kemudian menatap suster.


"Kita lakukan sekarang sus! Sebelum itu bisakah saya meminta tolong sesuatu?" Kata Vier membuat suster mengernyitkan dahi bingung.


"Saya ingin melakukan tes dna," kata Vier yang membuat Vian terkejut dan langsung menatap kakaknya itu dengan pandangan bingung.


"Baiklah, silahkan ikut saya!" Kata suster kemudian berlalu dan Vier pun mengikutinya.


*


*


"Apa maksud Anda?"


"Begini Tuan, tadi setelah mobil Anda pergi, Rey yang hendak masuk ke kelas kembali keluar, dia berlari dan hendak menyebrang jalan, tapi dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan kencang, dan terjadilah kecelakaan, itulah info yang saya dapatkan dari penjaga sekolah.


"Apa Anda tahu sesuatu kenapa Rey tiba-tiba berlari keluar? Hmm maksud saya Anda mendengar sesuatu dari cucu saya, karena tadi sebelum berangkat ke sekolah, cucu saya baik-baik saja," Tanya Stevano dengan suara yang lirih.


"Kami sudah tanyakan pada Rain, dia bilang Rey akan pergi mencari maminya. Rain bilang, Aira mendengar mama dan papanya bicara dan mengatakan jika mami mereka pergi, dan Rey bermaksud untuk mencarinya. Saat itu Rain juga berlari di belakangnya, tapi penjaga melihatnya dan segera menahannya tapi… kami mohon maafkan atas kelalaian kami Tuan, penjaga terlambat dan tidak bisa mencegah Rey," ucap guru itu merasa bersalah karena merasa lalai, hingga Rey mengalami kecelakaan itu.


Stevano menarik nafas berat, tidak sepenuhnya guru Rey yang bersalah.


"Bagaimana dengan pengemudi mobil itu?"


"Dia bilang akan bertanggung jawab dan membiayai semua biaya rumah sakit Rey."


"Bisakah Anda mengantarkan saya menemuinya?"


"Tentu saja Tuan, mari!" Guru Rey pun menunjukkan jalan pada Stevano untuk menemui pengemudi yang menabrak Rey.


Sementara itu di tempat lain, Jasmine tengah menenangkan Rain yang terus saja menangis.


"Oma dimana Kak Rey? Oma Kak Rey baik-baik saja kan?" Tanya Rain sedari tadi.


Jasmine sedikit bersyukur karena Rain tidak melihat kejadian naas itu, penjaga yang menahan Rain segera menutup mata gadis kecil itu, jika tidak, Jasmine tidak bisa membayangkan jika sampai cucunya itu mengalami trauma seperti yang dulu dirasakan suaminya.


"Kak Rey baik-baik saja sayang, sekarang Kak Rey bersama papi," jawab Jasmine.


"Mami, Mami kemana? Aira bilang Mami pergi, itu tidak benar kan Oma? Mami tidak pergi meninggalkan Rain dan Kak Rey kan Oma?" Tanya Rain lagi.


Dan Jasmine hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Apapun jawabannya pasti akan membuat gadis kecil itu bersedih.