Love Revenge

Love Revenge
Bab 53



"Cyara!" Panggil Vier dengan suara yang meninggi.


Kedua orang itu terkejut saat melihat Vier. Seketika wajah Vier memerah bahkan rahangnya mengeras. Tanpa banyak kata Vier segera menarik tangan Cyara.


"Vier!" Cyara menahan tubuhnya agar tetap di tempat, karena Vier menarik tangannya terlalu kencang.


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau bilang mau berbelanja, tapi kau justru berpelukan dengan laki-laki lain, ingat Cyara kau itu calon istriku!" Marah Vier pada Cyara.


Rayyan mengernyitkan dahinya, "Maaf Tuan, lepaskan tangannya, jangan berbuat kasar pada wanita," kata pria itu.


Vier kini menatap Rayyan tajam, tak lama tatapannya berganti ke arah Cyara tak kalah tajam.


"Aku tahu Cyara, pria ini adalah mantan suamimu, tapi apa pantas kau melakukan hal seperti itu di depan umum?" Ketus Vier.


Cyara menatap tidak suka mendengar ucapan Vier, segera menepis tangan pria itu yang sedari tadi memegang pergelangan tangannya dan mendorongnya. "Apa maksud perkataanmu itu ha?" Tanya Cyara dengan suara yang meninggi.


"Kau disini, di tempat umum, dan bermesraan dengan pria lain disaat calon suamimu ini tidak ada, apakah itu pantas menurutmu?"


Wajah Cyara memerah karena marah, "Aku tidak bermesraan dengan Rayyan, kau salah paham!"


"Tunggu, benar apa yang Ara katakan, dan aku bisa jelaskan, jadi Anda jangan marah," sahut Rayyan.


"Jangan ikut campur, ini urusanku dengan calon istriku, oh ya dan siapa tadi namamu Bayan atau... oh Rayyan, apa seperti ini sikapmu kepada mantan istrimu?" Ucap Vier dengan menekankan kata mantan istri.


Rayyan menautkan kedua alisnya, dipandanginya Cyara yang langsung ditarik Vier ke belakang tubuhnya, dan akhirnya Rayyan hanya bisa menatap Vier.


"Tunggu sepertinya…"


"Rayyan," Cyara lebih dulu menghentikan ucapan Rayyan, wanita itu menyembulkan kepalanya dari belakang tubuh Vier.


Cyara menatap Rayyan seolah mengatakan sesuatu lewat tatapannya. Dan Rayyan yang mengerti arti tatapan Cyara pun akhirnya memilih diam.


"Kamu jangan menuduhku sembarangan, kamu hanya salah paham, aku bisa jelaskan, aku dan Rayyan sama sekali tidak ada hubungan apapun, seperti yang kau tuduhkan tadi," ucap Cyara tegas.


Vier menoleh dan berbalik badan menatap Cyara yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya agar Rayyan tidak bisa leluasa menatap calon istrinya itu.


"Apa tadi kau bilang? Aku menuduh? Cyara aku jelas-jelas melihat apa yang kau lakukan tadi bahkan dengan mata kepalaku sendiri dan menurutmu aku sedang menuduh," Vier sampai menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Cyara tadi.


"Kami memang tidak bermesraan seperti apa yang kau pikirkan, harus berapa kali aku jelaskan padamu Vier?"


"Oh ya, baiklah," kemudian Vier menarik pinggang Cyara agar merapat di tubuhnya dan dipeluknya erat.


"Seperti ini kau bilang bukan bermesraan? Terus bermesraan menurutmu seperti apa?" Vier dengan cepat mencium bibir Cyara dan melu*matnya," apa seperti ini?" Tambahnya begitu pagutan bibir mereka terlepas.


Dan hal itu membuat bola mata Rayyan membesar. Bahkan Cyara sampai membelalakan kedua matanya kaget dan tidak menyangka Vier akan melakukan itu di depan Rayyan terlebih lagi di tempat umum.


"Kami permisi dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan calon istriku," ucap Vier dengan menekankan kata calon istriku.


Setelah mengatakan itu, Vier pun langsung menarik Cyara dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Rayyan yang terdiam di tempatnya.


Kemudian Vier berlari kecil, memutari mobil dan saat melewati Rayyan rupanya pria itu menahan tangan Vier.


"Kau selalu mengatakan Cyara adalah calon istrimu, tapi bahkan tidak terpasang cincin di jari manisnya, bukankah itu akan membuat orang salah paham? Semua pria pasti akan mengira jika Cyara adalah wanita single," kata Rayyan yang kemudian lanjut berbisik di telinga Vier, "Jadi wajar saja bukan, jika aku tadi memeluknya karena aku pikir dia bukan milik siapa-siapa."


Setelah mengatakan itu, Rayyan pun meninggalkan Vier yang kini gantian terdiam di tempatnya sambil mengepalkan kedua tangannya erat. Dengan cepat dia masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang tidak terlalu padat kendaraan.


"Vier kita mau kemana?" Tanya Cyara saat melihat jalanan bukan arah ke sekolah anak-anaknya.


Vier sama sekali tidak menjawab perkataan Cyara justru menghubungi mamanya.


"Halo ma, mama mau jemput Aira kan? Sekalian jemput Rey dan Rain ya, nanti biar aku jemput di rumah," ucap Vier kepada mamanya diseberang telepon.


"Baiklah, terima kasih Ma, iya soalnya aku dan Cyara mau pergi ke suatu tempat dulu," kata Vier lagi.


"Ya sudah kalau gitu Vier tutup ya, Vier lagi di jalan soalnya sedang menyetir," ucap Vier yang kemudian memutuskan panggilannya setelah mamanya mengiyakan.


"Kenapa minta Mama yang jemput anak-anak? Kenapa tidak kita saja? Lagian kita mau kemana Vier, bukankah kamu masih ada pekerjaan lain setelah ini?" Ucap Cyara lagi.


"Aku tidak datang ke kantor satu hari, tidak membuat perusahaanku bangkrut, jadi kamu tidak perlu khawatir akan hidup kekurangan denganku," jawab Vier tanpa menoleh ke arah Cyara, terlihat jelas jika pria itu tengah fokus mengemudi.


"Bukan itu maksudku, sudahlah! Sekarang kita sebenarnya mau kemana?" Tanya Cyara lagi karena belum mendapatkan jawaban yang ingin didengarnya.


"Bukannya tadi sepertinya kamu menguping pembicaraanku dengan Mama? Jadi ku rasa kamu tahu."


"Aku tidak menguping, aku hanya menajamkan telinga saja, lagian kita berada di tempat yang sama, jadi wajar jika aku mendengarnya."


"Sama saja bukan? Bagaimana aku tidak mengatakan kamu menguping, jika kamu mendekat ke arahku disaat aku menelpon Mama," ucap Vier mencibir.


Cyara hanya mengerucutkan bibirnya, percuma mengelak karena memang benar apa yang dikatakan pria itu.


"Tapi tadi kamu tidak bilang kemana kita akan pergi, kamu hanya bilang kita akan pergi ke suatu tempat," lanjut Cyara.


"Sebentar lagi, kamu akan tahu," ucap Vier dan benar saja tidak lama mobil Vier berhenti.


Dahi Cyara mengernyit saat melihat dimana Vier menghentikan mobilnya.


"Toko perhiasan? Vier untuk apa kita kesini?" Tanya Cyara begitu turun dari mobil, sambil menunjuk bangunan yang akan mereka tuju.


"Mau makan," jawab Vier seadanya.


"Jika mau makan kenapa ke toko perhiasan, bukankah seharusnya ke restoran atau kafe, lagian aku juga belum lapar," ucap Cyara yang belum bisa membaca situasi.


"Sudah ayo!" Tak ingin menjawab ucapan Cyara, Vier kini malah menarik tangan wanita itu agar segera masuk.


"Apa sudah disiapkan yang tadi aku minta?" Tanya Vier.


"Sudah Tuan, ini barang yang Anda minta," kata seorang wanita setelah mengambilkan barang yang dipesan Vier.


"Selera suami Anda memang bagus Nona," tambah wanita itu.


"Hah," Cyara hanya bengong menatap bingung pada pegawai toko emas itu.