Love Revenge

Love Revenge
Bab 45



"Apa keputusanmu Cyara?" Tanya Vier saat di mobil hanya tinggal mereka berdua.


"Baiklah," jawab Cyara menghela nafasnya.


"Baiklah aku mau menikah denganmu secepatnya, tapi bolehkah aku minta satu hal? Satu hal yang pasti mudah untuk kamu setujui," tambah Cyara yang kini menatap Vier.


"Apa yang kau minta?" Suara Vier terdengar datar.


Cyara masih terdiam, dia memikirkan apa yang akan dia minta benar atau tidak, tapi Cyara harus melakukannya.


"Katakan saja! Kamu minta rumah mewah, mobil atau apapun itu, aku  pasti akan memberikannya.


"Apa seburuk itu aku dimatamu Vier?" Ucap Cyara dalam hati.


"Katakan saja Cyara!"


"Aku minta di pernikahan kita nanti tidak perlu mengundang keluargaku, cukup aku, anak-anak dan Bibi saja," Cyara mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tidak ingin Vier melihat air matanya yang sudah menetes.


"Kenapa? Aku tidak akan mengundang Sheira jika itu yang kamu takutkan," ucap Vier dingin.


"Apalagi yang kau minta?" Vier sepenuhnya melihat ke arah Cyara.


"Tidak hanya itu saja," setelah  jawaban Cyara itu, suasana di dalam mobil kini benar-benar hening, hanya  terdengar deru mesin mobil, karena baik Cyara maupun Vier hanya saling diam.


"Berhenti di sini saja!" Kata Cyara begitu mobil Vier sudah berada di sekitar kantornya, Cyara tidak ingin kehadirannya bersama dengan Vier menjadi bahan perbincangan seisi kantor,  Cyara tidak segila itu yang mencari kepopuleran dari gosip dirinya datang bersama Vier yang bahkan kini jadi bahan perbincangan karena kejadian yang terjadi di Bali, dari menjadi orang ketiga, dan yang lebih gilanya lagi, sebagian orang justru mendukung Vier bersama Sheira, mengatakan jika keduanya lebih cocok jika disandingkan.


Vier mendadak mengerem mobilnya. Mengernyitkan dahi tidak mengerti maksud Cyara tiba-tiba meminta dirinya segera berhenti.


"Aku tidak mau jadi bahan gosip seisi kantor," jawab Cyara yang langsung membuka  pintu mobil, keluar dan berjalan sebentar agar sampai ke kantor tempatnya bekerja.


Vier menatap Cyara, kemudian kembali menjalankan mobilnya, melewati  Cyara yang sedang berjalan begitu saja.


Cyara yang sudah sampai segera masuk ke ruangan Vier, seperti biasa dia langsung membacakan jadwal Vier hari ini.


"Tunggu!" Ucap Vier yang menghentikan langkah Cyara saat wanita itu akan kembali ke meja kerjanya.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu," ucap Cyara menatap Vier yang hanya memandanginya dari atas ke bawah.


"Nanti malam kamu temani aku untuk menghadiri acara pernikahan teman sma ku, nanti aku akan meminta pegawai butik Mama datang membawakan baju dan kau bisa memilih sendiri. Dan anak-anak biarkan tinggal di rumah Mama," ucap Vier yang seperti perintah bukan hanya memberitahu saja.


"Tapi aku tidak enak jika harus merepotkan Mama, dan lagi bukankah…"


Vier menautkan kedua alisnya menunggu Cyara melanjutkan perkataannya.


Cyara menggeleng, "Hmm tidak jadi, aku hanya tidak enak sama Mama," jawab Cyara. 


"Bukankah gosip bersama Sheira sedang beredar, lantas kenapa harus mengajakku? Apa kamu hanya menjadikan aku tameng agar gosip itu mereda dengan sendirinya begitu orang-orang melihat kamu yang datang bersamaku," ucap Cyara tapi hanya dalam hatinya saja.


"Cyara kamu dengar aku tidak?" Tanya Vier yang tiba-tiba sudah berdiri menjulang di depan Cyara, setelah tadi dirinya terus berbicara tapi Cyara tidak meresponnya sama sekali, hingga akhirnya Vier memutuskan untuk menghampiri wanita itu.


"Hah apa? Mmm tadi apa yang kamu katakan?" Jawab Cyara yang refleks mundur karena jaraknya yang begitu dekat dengan Vier.


"Mama tidak akan merasa direpotkan, Mama justru pasti senang dengan adanya Rey dan Rain, lagian tidak ada salahnya bukan jika mereka sering tinggal di rumah Omanya, bukankah sebentar lagi, kita semua akan menjadi keluarga?" Ucap Vier yang sengaja menggoda Cyara dengan semakin maju mendekatkan tubuhnya ke arah Cyara dan Cyara hanya bisa memundurkan langkahnya saat Vier melakukan itu.


"Ehem, ehem," Maaf Tuan mengganggu, saya sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi Anda sepertinya tidak mendengar, makanya saya memutuskan untuk langsung masuk saja," ucap Martin yang baru saja membuka pintu ruangan Vier, kemudian pria itu melirik kemudian menatap ke arah Cyara, "Ada hubungan apa kamu dengan bos kita," seperti itulah arti tatapan Martin kepada Cyara saat ini.


Cyara hanya menunduk saat Martin menatapnya, Cyara masih teringat jelas kejadian kemarin di rumahnya, Cyara benar-benar tidak tahu harus menjelaskan yang seperti apa, karena percuma saja dirinya menjelaskan, orang yang mendengarnya pasti tidak percaya. Bagaimana mau percaya jika yang mengatakannya hanya Cyara saja, Cyara pasti dianggap orang-orang sedang bermimpi jika sampai dirinya yang mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Vier, seorang Ceo muda yang sudah sukses di usianya yang belum mencapai kepala tiga.


"Katakan ada apa?" Ucap Vier datar kemudian melihat ke arah Cyara yang hanya diam menunduk.


"Cyara buat laporan yang aku minta tadi sekarang juga," ucapnya ketika melihat Cyara yang merasa tidak nyaman di ruangan itu.


"Baik Tuan," jawab Cyara menundukkan kepala memberi hormat pada Vier bergantian dengan Martin sebelum berlalu keluar.


Martin yang sedari tadi berdiri di depan pintu, kini berjalan mendekat ke meja kerja Vier "Ini saya sudah siapkan yang Anda minta Tuan," ucap Martin setelah Cyara meninggalkan tempat, mengeluarkan map dan menyerahkannya kepada Vier.


Vier menerima kemudian membukanya, "Baiklah, kamu bisa lanjut bekerja," Vier kemudian kembali menutup map dan kembali sibuk dengan laptopnya.


Martin tidak langsung pergi justru masih berdiri tepat di depan meja kerja Vier dan Vier yang menyadari itu mengangkat wajahnya dan menatap Martin sebentar kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya.


"Apa ada yang perlu kamu sampaikan lagi?" Tanya Vier yang tahu jika seperti ada yang ingin asistennya itu bicarakan lagi dengannya. 


"Nona Sheira dan Tuan Muda Keanu juga akan hadir di acara yang nanti malam akan Anda hadiri Tuan," beritahu Martin.


Seketika gerakan jari-jari Vier berhenti mendengar informasi yang diberikan asistennya.


"Aku tahu," jawabnya kemudian.


"Baiklah hanya itu yang tadi ingin saya sampaikan, kalau begitu saya pamit undur diri," pamit Martin bergegas keluar dari ruangan Vier.


"Hmm," Vier hanya bergumam kemudian kembali terdiam saat melihat Martin sudah menutup pintu ruangannya kembali.


Vier membuka laci dan mengambil sebuah foto, "Kamu tahu Sheira walaupun kau sudah menyakitiku, nyatanya perasaan yang aku miliki terhadapmu masih sama, aku masih mencintaimu Sheira, jika saja kamu dulu lebih memilihku, hidup kita pasti sudah bahagia, aku kamu dan anak-anak kita, tapi kenapa kamu lebih memilihnya Sheira? Kenapa?" Bulir bening jatuh di foto yang Vier pegang saat ini.