Love Revenge

Love Revenge
Bab 8



"Halo," ucap Vier setelah Reynan menyerahkan ponselnya kembali.


"Iya Halo, maaf ini dengan Tuan Pir? Tuan maaf sudah merepotkan Anda karena harus menjaga anak-anak saya, dan terima kasih. Hmm Anda dimana, biar saya nanti yang jemput anak-anak saya," ucap Cyara tanpa henti.


"Maaf nama saya bukan…


"Tuan Pir bisakah Anda mengirim alamat Anda sekarang? Maaf bukannya saya tidak sopan, tapi saya harus segera kembali ke kantor sebelum jam istirahat saya habis, jadi tolong segera beritahu saya dimana Anda berada?" Cyara dengan cepat segera memotong ucapan Vier.


Vier menatap kedua anak kecil di hadapannya yang  sepertinya tampak lelah dan mengantuk, merasa kasihan Vier pun memberikan  alamat dimana dirinya sekarang berada.


Sebenarnya Vier ingin mengantar anak-anak itu sampai ke rumahnya tapi dering ponsel mengharuskannya pergi meninggalkan mereka.


Vier dengan kecepatan tinggi mengendarai mobilnya ke kantor agar segera sampai, ada yang tiba-tiba mengajukan jadwal pertemuan karena harus segera kembali ke negaranya saat ini juga. Vier yang tidak ingin kehilangan kerja sama dengan klien itu, membuatnya langsung menyetujuinya. Tapi sesampainya di kantor, Vier tidak melihat sekretaris barunya ada di meja kerjanya.


"Kemana dia? Apa dia tidak berniat untuk bekerja?" Teriak Vier kepada Martin yang juga ada disana.


Vier yang sedang marah melampiaskan semuanya kepada Martin yang hanya bisa diam menunduk.


"Sekarang siapkan berkasnya, kita akan berangkat sekarang!" ucapnya kemudian menatap tajam Martin dan berlalu pergi masuk ke dalam ruangannya. 


*


*


*


Dengan kecepatan tinggi, Cyara buru-buru ke tempat yang tadi sudah diberitahu Vier. 10 menit menempuh perjalanan, akhirnya Cyara pun sampai di sebuah restoran mewah, restoran yang biasanya hanya orang-orang kaya yang datang kesana, adapun orang seperti dirinya, maka hanya akan menguras kantong  saja jika makan di tempat itu. Bukan pelit tapi Cyara memang harus lebih berhemat.


"Apa uangku cukup membayar makanan mereka? Mungkin saja cukup dengan tabunganku selama ini, tapi  jika untuk tiga orang, pasti uangku langsung terkuras habis," Cyara tampak berpikir saat dirinya akan masuk.


Tapi Cyara langsung masuk saat melihat jam di ponselnya, rupanya dirinya sudah keluar kantor selama hampir satu jam, dan dia hanya punya waktu 5 menit lagi untuk segera kembali ke kantor.


Cyara mencari keberadaan anaknya, tapi tidak Cyara temukan.


"Apa pria itu berbohong? Bagaimana kalau pria itu membawa anak-anakku?" Cyara panik ketika tiba-tiba memikirkan hal itu, tapi Cyara langsung menggeleng menepis pikiran buruk yang tiba-tiba terlintas di benaknya.


"Mami!" Terdengar suara panggilan yang tidak asing untuknya.


Cyara menengok dan kedua anaknya ada disana, di sebuah ruang VIP.


"Apalagi ini?" Cyara dibuat pusing saat melihat anak-anaknya ada disana.


Cyara dengan segera menghampiri kedua anaknya dan langsung memeluknya, merasa lega saat tahu jika anak-anaknya baik-baik saja.


"Sayang kalian kemana saja? Kalian tahu Mami mencari kalian kemana-mana. Maafkan Mami ya, terlambat jemput kalian. Sekarang mana Paman Pir?" Tanya Cyara mencari orang yang sudah menemani anak-anaknya.


"Om Pir sudah pergi tadi Mi, baru saja, apa Mami tidak bertemu dengannya?" Tanya Rain menatap Maminya.


"Pergi?" 


"Iya," jawab Reynan dan Rain bersamaan.


"Kalian sudah makan?" 


"Sudah Mi, tadi bareng sama Om Pir."


"Ya sudah kalian tunggu disini sebentar ya," ucap Cyara dan kedua anaknya mengangguk mengiyakan.


Cyara pun menuju kasir untuk membayar makanan yang dimakan mereka bertiga.


"Apa-apaan dia, oke aku makasih karena sudah menemani anak-anakku, tapi bukan begini juga caranya, bagaimana dia bisa meninggalkan anak-anakku, dia kabur setelah makan di tempat mahal ini, apa dia bermaksud meminta anak-anakku yang membayar makanannya," gerutu Cyara  pelan tanpa henti sepanjang jalan.


Sampai akhirnya Cyara pun sampai di tempat kasir.


"Mbak berapa?" Tanya Cyara menunjuk tempat tadi putra dan putrinya makan.


"Semua sudah dibayar Nona."


"Sudah dibayar?" Tanya Cyara memastikan


Cyara merasa lega karena tidak harus menghabiskan uangnya di tempat ini, Cyara berjanji akan mentraktir orang yang bernama Pir lain kali, tentunya di tempat yang semua harga makanannya bisa dijangkau olehnya.


"Boleh saya tahu, siapa orang yang membayarnya?" 


"Maaf Nona, kami tidak bisa memberitahu Anda, apalagi beliau adalah pelanggan disini." 


"Baiklah saya mengerti, terima kasih," kata Cyara kemudian meninggalkan meja kasir kembali ke arah anak-anaknya.


"Ayo kita pulang!" Ajak Cyara kepada Reynan dan Rain dengan mengulurkan kedua tangannya.


"Ayo! Tapi Rain sudah mengantuk Mi," kata putrinya manja.


Cyara yang mengerti berjongkok dan menggendong putrinya, "Kak Rey tidak mengantuk kan? Jalan tidak apa-apa kan sayang, kasihan adik," ujar Cyara pada putranya yang kini menatapnya.


"Iya Mi, tidak apa-apa, Kakak belum mengantuk kok, jadi bisa jalan sendiri."


"Good boy," ya sudah ayo!" Cyara pun menggandeng tangan putranya dengan tangannya yang bebas.


"Mami!" 


"Hmm kenapa sayang?" Cyara menunduk menatap putranya yang tadi memanggilnya.


"Maafkan Kak Rey dan adik ya sudah melanggar pesan Mami, padahal kami sudah bilang ke Mami tidak akan ikut dengan orang asing tapi Kami justru pergi bersama dengan Om Pir yang baru kami kenal. Tapi Mami tidak perlu khawatir, Om Pir baik kok orangnya," ucap Reynan dengan tatapan polosnya.


Cyara tersenyum, "Untuk kali ini Mami maafin, tapi jangan diulangi lagi ya sayang, Mami tahu mungkin Om Pir baik, tapi tetap saja, kalian baru kenal sama Om Pir, Mami yakin Kak Rey tahu maksud perkataan Mami tanpa Mami harus menjelaskan panjang lebar.


"Iya Mami, Kak Rey mengerti, Kak Rey sama Adik tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi, maaf sudah membuat Mami khawatir," ucap tulus bocah 5 tahun itu.


"Iya sayang Mami sudah maafkan," Cyara melepaskan tangannya yang di genggam Reynan dan membuka pintu mobilnya bagian depan, dan mendudukan putrinya yang sudah tertidur di sana.


Setelah memastikan posisi tidur putrinya nyaman, Cyara membantu putranya untuk masuk ke dalam mobil di kursi bagian belakang.


"Sudah?" 


"Sudah Mami."


Cyara berlari kecil menuju kursi bagian kemudi, dan segera masuk kemudian melajukan mobilnya.


"Kata Mami, Bibi yang akan menjemput kami?" Tanya Reynan.


"Bibi sakit kepala sayang, makanya tidak bisa menjemput kalian, nanti di rumah kalian bantu Mami jagain Bibi ya," pesan Cyara pada putranya.


"Iya Mi, oh ya Mami tidak bekerja?" 


Cyara melihat jam di ponselnya. Tadi karena terburu-buru, Cyara meninggalkan jam tangannya di meja kerja, Cyara lupa jika tadi dirinya melepaskan jam tangannya.


"Ya ampun!" Teriak Cyara begitu tahu pukul berapa sekarang.


Sepuluh menit lebih jam istirahatnya sudah berakhir, dan Cyara justru masih di perjalanan pulang menuju rumahnya.


"Kenapa Mami?" Reynan terlihat panik saat mendengar maminya berteriak.


"Ah tidak apa-apa sayang? Reynan tidak apa-apa kan jika Mami sedikit mengebut?" Tanya Cyara meminta persetujuan putranya.


Reynan pun mengangguk, Cyara langsung menambah kecepatan saat putranya setuju.


Tak lama mereka pun sudah sampai di rumah sederhana Cyara.


Cyara berlari membuka pintu rumahnya terlebih dahulu, kemudian kembali ke mobil untuk mengangkat tubuh putrinya yang masih terlelap tidak terusik sama sekali. Sedangkan Reynan berjalan dengan membawakan tas milik adiknya.


"Mami mau kerja lagi ya sayang," kamu ganti baju terus tidur siang, nanti setelah bangun, kalian bisa temui Bibi di kamarnya, temani Bibi," kata Cyara setelah membaringkan tubuh putrinya dan sekarang dirinya sedang berbicara dengan putranya.


"Iya Mami, Mami hati-hati ya," kata Reynan mencium pipi maminya begitupun dengan Cyara yang mencium seluruh wajah putri dan putranya bergantian.


Cyara segera berangkat setelah tadi berpamitan kepada Bibi terlebih dahulu. Dengan kecepatan di atas rata-rata Cyara melajukan mobilnya ke tempatnya bekerja.