Love Revenge

Love Revenge
Bab 75



Vier mengucek matanya saat tiba-tiba sosok Cyara yang dilihatnya menghilang begitu saja. Vier kemudian menggelengkan kepala melanjutkan makannya, tak lama pria itu menatap kursi sampingnya, kosong, Cyara nyatanya tidak disana, tadi yang dia lihat hanya bayangannya saja.


"Tuan apa ada yang perlu saya bantu lagi?" Tanya Bibi yang merasa heran dengan tingkah Vier yang malah justru melamun dan terus menatap kursi sampingnya.


Perkataan Bibi seketika membuat lamunan Vier langsung buyar begitu saja.


"Tidak Bi, terima kasih," ucap Vier dan dia kembali melanjutkan memakan makanannya yang sempat tertunda tadi.


*


*


*


Semantara itu di tempat lain, setelah mengambil mobilnya, Cyara pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Jasmine untuk menjemput anak-anaknya dan mengantarkannya ke sekolah.


Tak lama mobil Cyara pun sampai di pelataran kediaman Stevano, dan dapat Cyara lihat jika kedua anaknya, Rey dan Rain sudah menunggunya di depan pintu.


Cyara tersenyum dan segera turun dari mobil, buru-buru berjalan menghampiri kedua anaknya, satu malam tidak bertemu dengan kedua anaknya membuat Cyara begitu sangat merindukannya.


"Pagi sayang," sapa Cyara mencium kening, kedua pipi Rey dan Rain bergantian.


"Pagi Mami," jawab keduanya kompak, Rey mencium pipi kanan Cyara dan Rain mencium pipi kiri maminya. 


Kemudian mereka pun berpelukan. Rey segera melepaskan pelukannya begitu menyadari ada yang kurang. Rey berlari menuju ke mobil maminya dan raut wajahnya langsung berubah kecewa saat melihat jika di dalam mobil tidak ada siapa-siapa.


Saat Rey melepaskan pelukannya, Cyara terus menatap putranya itu, apalagi saat Cyara melihat Rey berlari ke arah mobilnya, sepertinya Cyara tahu apa yang sedang putranya lakukan, Cyara tahu jika saat ini Rey melakukan itu karena tidak melihat papinya. Dan Cyara begitu sedih saat melihat wajah putranya penuh dengan rasa kecewa.


Cyara berdiri, menggandeng tanga Rain mengajak gadis kecil itu untuk menyusul kakaknya.


"Kenapa sayang?" Cyara berpura-pura seolah tidak tahu, apa yang sedang putranya lakukan.


"Papi mana? Papi tidak ikut mengantar ke sekolah juga?" Tanya Rey menatap Cyara berharap jika maminya itu segera menjawab pertanyaannya.


"Iya Mi, Papi mana?" Kini giliran Rain ikut-ikutan bertanya.


"Maafkan Mami karena mungkin saja, Mami nanti akan berbohong pada kalian," kata Cyara dalam hati mengelus rambut putra dan putrinya.


"Papi berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, ada pekerjaan yang harus papi selesaikan, untuk kali ini sama Mami saja ya perginya," bujuk Cyara dan untungnya kedua anaknya langsung setuju dan percaya begitu saja hingga membuatnya merasa lega.


"Ayo sekarang kita berangkat," ajak Ciara dan segera membantu putra putrinya menaiki mobil, mengantarkan ke sekolahnya. Setelah itu, Cyara pun segera menuju ke kantor tempatnya bekerja, setelah memastikan anak-anaknya sudah masuk ke dalam kelas, sebelum pergi, Cyara seperti biasa berpesan pada satpam untuk membantu menjaga kedua anaknya. Lebih tepatnya membantu memantau putra dan putrinya sebelum Cyara datang menjemput.


Kini Cyara langsung berangkat ke kantor pagi itu, tidak peduli jika saat ini masih begitu pagi untuk berada di kantor.


Begitu masuk, Cyara langsung mengerjakan apa yang perlu dikerjakannya. Cyara tahu pelarian bukanlah hal yang tepat tapi saat ini yang bisa Cyara lakukan adalah menghindar, Cyara tidak punya pilihan lain, inilah jalan satu-satunya agar dia bisa terlihat baik-baik saja.


Saat Cyara sedang berkutat dengan laptopnya tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan segelas kopi di mejanya. Cyara mengangkat kepala untuk melihat siapa gerangan orang yang melakukannya.


"Minumlah, sepertinya kamu membutuhkannya," ujar Martin tersenyum lembut pada Cyara.


"Tidak apa-apa kan aku bersikap seperti biasa seperti sebelum kamu belum menikah dengan bos kita?" Tambah Martin bertanya.


"Tentu saja, tapi Martin maaf soal…"


"Sudahlah tidak perlu bahas hal itu lagi. Sepertinya kamu akan mendapat predikat pegawai paling rajin, bahkan bos aja sampai kalah datang dari kamu."


"Itu…" Cyara tidak jadi menjawab ucapan Martin saat dari jauh dia melihat Vier melangkah.


Cyara kembali sibuk dengan jari-jari yang kini sudah mulai menari-nari di atas keyboard. Melihat gelagat Cyara, Martin buru-buru menoleh dan betapa terkejutnya dia, saat tiba-tiba Vier sudah ada di belakangnya.


"Aku menggaji kalian bukan hanya untuk berpacaran," ucap Vier dengan suara datar dan terkesan dingin. Vier melirik Cyara yang sama sekali tidak menanggapi ucapannya dan masih tampak sibuk dengan pekerjaan entah apa yang Vier tidak tahu.


Sedang Martin diam menunduk, tidak berani menatap bos nya. Karena saat melirik saja, Martin jelas melihat ada kilatan marah di matanya.


Vier mengepalkan tangan dan berlalu begitu saja, meninggalkan kedua orang itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Cyara suami kamu…"


"Ini di kantor, jadi tolong jangan campur adukan urusan pribadi dengan pekerjaan," kata Cyara bangun dan masuk ke dalam ruangan Vier, seperti biasa membacakan jadwal pria itu hari ini, Cyara merasa lega karena hari ini tidak ada jadwal bertemu klien di luar, jadi Cyara tidak harus menghabiskan waktu dengan Vier seharian ini.


"Itu jadwal Anda hari ini, jika sudah tidak ada yang perlu saya lakukan, saya permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan saya," kata Cyara tanpa menatap Vier sama sekali.


"Tidak juga mendapat jawaban dari Vier, Cyara pun langsung saja keluar dari ruangan bos nya untuk kembali mengerjakan apa yang sejak tadi dia sedang lakukan.


Vier hanya bisa menatap kepergian Cyara dari posisinya duduk. Vier merasa Cyara berbeda dari Cyara yang biasanya, tiba-tiba Vier rindu berdebat dengan Cyara, tidak seperti sekarang yang terkesan Cyara lebih seperti robot yang sedang bekerja, tanpa senyum yang ada hanya ekspresi datarnya saja.


*


*


*


Vier baru sampai di rumah dan begitu masuk dia mendengar suara tawa, tawa yang tidak didengarnya seharian ini. Vier melangkah ke arah sumber suara, didapati di ruang keluarga, Cyara dan anak-anak sedang menonton televisi. Vier semakin mendekat, Rey yang lebih dulu menyadari menoleh, buru-buru turun dan berlari menghampiri Vier. Membuat arah pandang Cyara dan Rain mengikuti kemana Rey berlari.


"Papi!"


Rain ikut turun dan berlari. Cyara yang tadi tertawa kini langsung terdiam. Sedangkan Vier yang mendengar teriakan kedua anaknya yang berlari ke arahnya langsung berjongkok menyambut mereka, Vier menangkap Rey dan Rain dalam pelukannya. Ekor mata Vier melirik ke arah Cyara yang sudah berdiri dan berjalan menghampirinya.


"Sayang, biarkan Papi mandi dulu," kata Cyara dan anak-anak pun langsung menurut, Rey dan Rain melepaskan pelukannya.


"Ya sudah, Papi mandi dulu," kata Vier mencium kening kedua anak itu dan beranjak menaiki anak tangga, mengikuti Cyara yang sudah lebih dulu melangkah menuju kamar mereka.