
"Diam Cyara! Atau kau ingin anak-anakmu melihatku menciumu lagi?" Bisik Vier di telinga Cyara dan Cyara tidak punya pilihan lain, dia tidak mau mata anak-anaknya kembali karena perbuatan seenaknya bosnya yang sombong itu.
"Lepas!" Kata Cyara setelah lima menit sudah membiarkan Vier memeluknya seperti guling.
Akhirnya Vier pun melepaskannya, dan Cyara langsung turun dari ranjang, dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
Tak lama, kedua kelopak mata Rey bergerak dan bocah itu membuka matanya.
"Mami!"
Cyara yang mendengar itu langsung menatap ke arah Rey yang memanggilnya.
"Sayang, sudah bangun?"
Vier langsung duduk begitu tahu Rey sudah bangun.
Rey tampak mengucek matanya dan mengulurkan kedua tangannya.
Cyara tersenyum melihat itu, dia berjalan ke arah putranya kemudian menarik kedua tangan Rey lembut agar bocah itu bangun, kebiasaan Rey saat bangun tidur.
Vier langsung terpaku melihat pemandangan itu, ada rasa bergejolak yang tiba-tiba dia rasakan, ada yang ingin dia tanyakan tapi tertahan dalam hatinya dan hanya bisa menyaksikan.
"Kenapa masih mengantuk?" Cyara mengelus rambut putranya.
Rey hanya mengangguk kemudian memeluk maminya yang kini sudah duduk di pinggiran ranjang.
Cyara menoleh sekilas ke arah Vier yang sedang memperhatikannya, benar-benar sekilas karena Cyara langsung mengalihkan pandangan ketika tatapan mereka bertemu.
"Ayo pulang, terus kita mandi, sudah sore," kata Cyara melonggarkan pelukan dan menatap wajah putranya, wajah putranya jika diperhatikan baik-baik saat bangun tidur sekilas mirip dengan…" Cyara segera menggelengkan kepalanya.
"Mami kenapa?" Rey mendongak menatap maminya.
"Hah, oh tidak Mami tidak apa-apa kok sayang," kata Cyara kembali melirik Vier yang turun dari tempat tidur.
"Mami datang," tiba-tiba Rain sudah membuka matanya lebar.
"Iya sayang, ayo kita pulang," ajak Cyara membantu anak-anaknya untuk turun.
"Biarkan anak-anak mandi disini! Ayo Rey, mandi sama Om!" Kata Vier pada Cyara yang kemudian mengajak putra Cyara.
"Rey, bagaimana kalau sebelum mandi kita berenang dulu?" Tanya Vier pada anak laki-laki itu.
"Mau Om, mau tapi…" Rey menatap maminya yang menggeleng.
"Ayolah sayang temani Om!" Bujuk Vier dan membuat Rey akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Kamu sama Rain juga boleh ikut, kita berenang bersama," dan perkataan itu membuat mata Cyara melotot.
"Rain juga mau Mi renang sama Om Pir," ucap gadis kecil itu, mendongak memandangi Cyara.
"Ayo Mam juga ikut, kita renang sama-sama," sahut Rey yang melepas tangan Vier dan menarik tangan maminya agar ikut bersamanya. Dan Rain pun ikut-ikutan menarik tangan Cyara yang satunya. Rey dan Rain tertawa senang karena mereka akan berenang bersama-sama.
"Sayang, lepasin tangan Mami Nak," kata Cyara memandang kedua anaknya bergantian dengan tatapan memohon.
"Tidak mau!" Kata Rey dan Rain bersamaan tidak mau berhenti.
Cyara menatap tajam Vier, ini semua karena ucapan pria itu, sementara yang ditatap hanya tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Cyara akhirnya hanya bisa pasrah, saat dirinya sudah diseret keluar oleh kedua anaknya menuju kolam renang yang tidak jauh dari kamar pria yang membuat Cyara semakin kesal saja.
Cyara bersama kedua anaknya saja sudah benar-benar jadi masalah dan ini, dia juga harus bersama dengan bos sombongnya itu.
"Ayo Paman!" Teriak Rey yang sudah dibantu Cyara melepas pakaiannya.
Vier kemudian masuk lebih dulu ke dalam kolam renang setelah mengoleskan sunscreen kemudian juga memakaikan itu pada Rey dan memberikannya pada Cyara untuk memakaikan juga pada Rain.
"Mami cepat!" Kata Rain yang sedang dibantu maminya bersiap, dirinya sudah tidak sabar untuk bergabung dengan Om Pir dan Kakaknya.
"Iya sayang, sabar, sebentar lagi," Cyara segera menahan anaknya yang ingin berlari saja begitu pakaiannya sudah terlepas.
"Lepas Mami, aku mau kesana!" Rengek Rain.
"Iya sayang, biar Mami bantu," Cyara menuntun putrinya takut terpeleset, karena jalan putrinya yang terburu-buru.
"Yeh," teriak Rain begitu sudah bergabung dengan Om Pir dan kakaknya.
"Mami ayo ikut sini!" Teriak Rain sambil memainkan air membuat Cyara geleng-geleng kepala.
"Tidak sayang, kalian saja," Cyara menolak ajakan putrinya.
Cyara memilih duduk di pinggiran kolam sambil memotret kedua anaknya yang sedang tertawa lepas. Momen yang sangat jarang ditemuinya. Cyara tersenyum melihat itu. Tapi tiba-tiba senyumnya pudar.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi," kata Cyara yang akan beranjak, tapi tiba-tiba tubuhnya tertarik ke bawah, Cyara tercebur ke kolam.
"Tolong! Tolong!" Teriak Cyara sambil menggapai-gapai tangannya di atas air.
Vier panik, dia tadi hanya berniat mengerjai Cyara dan ternyata respon Cyara seperti itu.
Vier langsung membantu Cyara berdiri, "Cyara kolam ini tidak dalam," kata Vier menahan tubuh Cyara yang hampir kembali terjatuh lagi.
"Aku takut, aku takut," kata Cyara, tubuhnya terasa lemas dan sama sekali tidak bertenaga.
"Mami, Mami kenapa?" Tanya anak-anak Cyara yang berenang ke arahnya.
Pandangan Cyara menggelap dan Cyara tidak mengingat apa-apa lagi.
"Cyara! Cyara!" Vier menepuk-nepuk pipi Cyara, tapi sama sekali tidak mendapatkan respon dari wanita itu.
Vier mengangkat tubuh Cyara dan membaringkannya di pinggiran kolam.
"Hati-hati sayang," kata Vier yang melihat kedua putra Cyara naik.
"Mami, Mami kenapa?" Tanya Rain menggoyangkan tubuh maminya.
"Sayang minggir dulu, biar Om bantu Mami," Vier kemudian memberi pertolongan pertama, hingga Cyara menyemburkan air dari dalam mulutnya.
"Mami, Mami kenapa? Rain, gadis kecil itu sudah menangis melihat keadaan maminya.
Vier mengangkat tubuh Cyara dengan segera, Rey dan Rain mengekori Vier di belakang. Jasmine yang berniat memastikan apa Cyara sudah melihat putranya apa belum, begitu terkejut saat mendapati Vier menggendong tubuh Cyara.
"Sayang apa yang terjadi?"
"Cyara tenggelam Ma, Ma tolong panggilkan dokter sekarang! Pinta Vier yang buru-buru menuju ke kamarnya.
"Ayo Rain, Rey ikut Oma," ucap Jasmine mengajak kedua anak Cyara agar tidak berada disitu, terlebih tadi mereka melihat keadaan saat maminya tenggelam.
"Kamu bawa Cyara, Mama urus Rey dan Rain lebih dulu, takut mereka masuk angin.
Vier mengangguk, dan Jasmine segera membawa Rey dan Rain ke kamar Zeline begitu selesai menelpon dokter pribadinya.
"Mami! Oma, mami, Oma," Ray terus saja melihat ke arah Om Pir membawa maminya.
"Ayo sayang!"
"Mami, Oma, Rain ingin melihat Mami, mami tidak meninggalkan Rain dan Kak Rey kan?"
"Hush, tidak boleh berbicara seperti itu sayang! Mami tidak apa-apa, Rey dan Rain ayo mandi dulu, setelah itu kita lihat Mami sama-sama ya, kalau tidak ganti baju kalian bisa sakit, kalau sakit Mami akan sedih," bujuk Jasmine kepada keduanya hingga mereka pun mau menuruti apa kata Jasmine.