Love Revenge

Love Revenge
Bab 37



"Untuk apa kau kemari?" Tanya seorang wanita dengan nada dinginnya.


"Bu!"


"Aku bukan Ibumu, sejak saat itu hubungan kita sudah putus," ucap wanita yang bahkan enggan untuk melihat wajah seorang wanita yang kini sedang bersimpuh di belakangnya.


"Ya aku tahu, Ibu sudah mengatakan itu berulang kali, aku mengerti, bahkan sebelum hubungan kita terputus, apa Ibu pernah menganggapku anak Ibu, tidak, bagi Ibu Sheira lah anak Ibu, kenapa Bu? Kenapa?" Aku anak kandung Ibu, tapi kenapa aku tidak pernah ada di mata Ibu?" Wanita itu menghapus air matanya yang sudah jatuh.


"Kau anakku? Anak sepertimu anakku? Kau terlalu bermimpi."


"Itu kenyataannya Bu!"


"Jangan panggil aku Ibu! kau bukan anakku, hanya Sheira lah anakku."


"Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi, tapi bisakah aku meminta tolong pada Anda, sekali saja, aku mohon! Tolong aku!" 


"Katakan setelah ini, jangan pernah kau temui aku lagi!"


Cyara kembali menghapus air mata yang terus saja keluar, seakan tidak akan pernah habis.


"Aku mau menikah, keluarga calon suamiku akan datang, aku mohon temui mereka. Aku janji setelah ini, aku tidak akan mengganggu Anda lagi."


"Aku tidak salah dengar, sekarang keluarga mana lagi yang ingin menikahimu, kemana yang dulu setelah kau gagal dengannya? Katakan yang sebenarnya tentangnya, takutnya kejadian dulu akan terulang lagi, dan justru akan kembali mempermalukanku, lihatlah Sheira! Dia menikah dengan keluarga terpandang, dari dulu dia tidak pernah sekalipun mengecewakanku, tidak seperti seseorang yang seperti ayahnya yang tidak berguna.


"Cukup! Anda boleh menjelekkanku tapi tidak bisakah Anda tidak menjelek-jelek kan dan menghina Ayah yang sudah tenang disana. Apa kurangnya Ayah pada Anda? Dia adalah suami yang selalu berusaha yang terbaik untuk membahagiakan Anda?"


"Kau tidak tahu apa-apa! Dan apa tadi yang kau katakan? Bahagia? Asal kau tahu apa yang dia lakukan sama sekali tidak bisa membuatku bahagia.


"Ibu!" Teriak Cyara yang mendengar perkataan Ibunya yang semakin keterlaluan.


"Kenapa? Tidak terima? Itulah kenyataannya!"


"Ayah tidak seperti yang Anda pikirkan!"


"Pelayan!"


Beberapa pelayan langsung berlari menghampiri Nyonya yang berteriak memanggil.


"Seret wanita itu keluar! Jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi!" Kata wanita yang dipanggil Cyara ibu.


"Ayo Nona! Tolong jangan mempersulit kami!" Ucap salah satu pelayan.


Cyara menatap dua pelayan yang menarik kedua tangannya bergantian. 


"Ada apa ini? Ma kenapa? Kak Ara?" Seorang wanita berlari dan menyingkirkan dua pelayan yang memegang kedua tangan kakaknya.


"Ayo Kak bangun!" Kata Sheira membantu Cyara untuk berdiri.


"Ma apa yang terjadi?" Kini Sheira menatap wanita itu.


"Sheira sayang, kamu sudah kembali Nak," wanita itu mendekat dan mengusap wajah Shiera penuh kelembutan.


"Tidak terjadi apapun, oh ya mana suamimu?" Wanita itu mengedarkan pandangan mencari menantunya.


"Dia pulang ke rumah orang tuanya dulu," jawab Sheira. "Sekarang  Mama jawab pertanyaan Sheira, apa yang terjadi? Kenapa para pelayan menarik tangan Kak Ara?"


"Mama tadi sudah bilang kan sayang, tidak terjadi apa-apa semuanya baik-baik saja, oh ya ayo sekarang ikut Mama, Mama akan siapin  makanan buat kamu dan suami kamu," wanita itu pun membawa Sheira untuk ikut dengannya.


Cyara mengepalkan kedua tangannya, melihat kedua wanita yang kini berlalu pergi meninggalkannya.


"Nona sebaiknya…,"


"Tidak perlu, Bibi kemarilah ada yang ingin aku katakan dan tolong sampaikan pada Ibu," ucap Cyara memanggil salah satu pelayan yang sedari tadi menatapnya, pelayan yang selama ini selalu berada di samping ibunya, setelah mengatakan apa yang harus dikatakan, Cyara pun kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Air mata Cyara kembali menetes tanpa bisa dicegah, dan dengan segera Cyara menghapus kasar air matanya.


"Tidak Cyara, kau tidak boleh lemah hanya karena hal seperti ini, kau harus kuat," ucap Cyara menguatkan hatinya sendiri.


*


*


"Vier bisakah kau hentikan permainanmu ini? Tidakkah kau merasakan sedikit saja rasa kasihan pada Kak Cya, oke jika kamu tega menyakitinya, apa kau tega menyakiti 0? Ku lihat kau sangat menyayangi mereka, apa kau tahu jika kau membuat Cyara menderita  anak-anaknya juga akan ikut terluka," kata Vira yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar kembarannya.


"Apa kau hilang sopan santun, menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar orang lain?" Vier bangun dari berbaringnya dan menatap Vira tajam.


"Orang lain? Oh jadi karena dendammu itu, kau bahkan menganggap aku orang lain? Baiklah Vier, lakukan sesukamu hingga kamu puas, aku tidak akan melarangmu untuk melakukan semua itu, tapi ingat Vier di setiap tindakanmu, tidak hanya Cyara yang akan terluka, ada anak-anaknya, ada aku, bahkan mama dan papa akan ikut terluka atas apa yang kau lakukan hanya demi satu orang wanita bernama Sheira."


"Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku dan jangan pernah campuri urusanku!" Vier menatap Vira dingin.


"Kenapa? Karena kau masih mencintainya? Makanya kau masih tidak percaya bahwa dia sudah mengkhianatimu, iya?"


"Cukup Vira! Lebih baik kau pergi dari kamarku sekarang juga!"


"Aku sangat berharap kelak kau akan menyesali apa yang sudah kamu perbuat Vier," ucap Vira yang kemudian meninggalkan kamar Vier dan menuju ke kamarnya.


Vira menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana, air matanya tumpah sudah.


"Kau berubah Vier, kau sangat berubah, ini semua karenamu Sheira, ini semua salahmu!" Vira terisak menutup wajahnya.


"Sayang ada apa? Kenapa kau menangis sampai seperti ini? Cepat katakan pada Kakak! Apa yang terjadi? Siapa yang menyakitimu? Ucap Alno yang baru keluar dari kamar mandi dan begitu terkejut ketika melihat istrinya menangis terisak.


"Baiklah, menangislah jika itu membuat perasaanmu lega sayang, tapi jangan terlalu berlarut, kasihan anak-anak kita," Alno menarik sang istri ke dalam pelukannya membiarkannya agar merasa tenang.


Sementara itu Vier yang berada di kamar mandi, membanting semua barangnya dan menghantamkan tangannya pada cermin di dinding, hingga cairan merah jatuh menetes.


"Untuk apa aku menyesal, aku justru merasa senang, wanita itu adalah kesayangan Sheira, dan Sheira pasti akan menderita melihat wanita yang disayanginya menderita, ya aku tidak akan pernah menyesal, tidak akan pernah menyesal!" Teriak Vier kemudian, hingga suaranya menggema di dalam kamar mandi.


Vier keluar dari kamar dengan membalut tangan seadanya, dia menuju ke mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata, dan tidak tahu kenapa Vier menghentikan mobilnya di depan rumah Cyara. Dan Vier mengepalkan kedua tangannya, setelah melihat dari kejauhan Cyara berpelukan dengan seorang pria yang dilihatnya tempo hari.