
"Kamu tidak pulang?"
"Arga kamu mengagetkan saja," Nia memegang dadanya terkejut karena tiba-tiba Arga sudah ada di depan mejanya.
"Ini juga mau pulang."
"Ya sudah ayo, aku akan mengantarmu," ucap Arga menawarkan diri.
"Tidak perlu Ar, aku bisa pulang sendiri, lagian rumah juga tidak jauh dari sini, selain itu aku juga mau sambil jalan-jalan sambil menghirup udara segar di sekitar pantai," jawab Nia menolak Arga.
"Tapi Nia, selama Ian tidak disini, kamu akan menjadi tanggung jawabku, dia sudah menitipkanmu padaku, dan aku tidak bisa mengabaikan itu."
"Kamu tidak perlu khawatir, nanti aku yang akan tanggung jawab jika sampai Kak Damian marah, sudah ah aku pulang dulu."
Nia kemudian membereskan mejanya, dan mengambil tasnya. Menepuk bahu pria itu, "Ayo pulang!" Ucapnya kemudian melangkah lebih dulu.
"Kamu beneran tidak mau aku antar?" Arga kembali menawari Nia, saat pria itu sudah berada di samping mobilnya.
"Tidak, terima kasih, sudah sana masuk ke mobil!" Nia membuka pintu mobil lalu mendorong agar Arga masuk ke dalam mobilnya.
Wanita itu kemudian melambaikan tangannya, agar Arga segera melajukan mobilnya.
Arga membunyikan klakson kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan Nia yang terus melambai ke arahnya.
Begitu mobil Arga tak terlihat barulah Nia melangkah, melewati pinggiran pantai. Nia memang sengaja ingin sendiri dulu untuk saat ini. Entahlah, tiba-tiba perasaannya kembali tidak tenang.
Langkah Nia terhenti, dia kemudian duduk di atas pasir, dia mencoba baik-baik saja, walaupun dia setiap malam sering menangis diam-diam, dia begitu merindukannya keluarganya, tapi dia tidak bisa...ya dia memutuskan untuk tidak kembali, karena merasa dia sudah tidak punya hak lagi untuk kembali.
"Kenapa menangis lagi sih?" Gumamnya saat bulir bening jatuh membasahi pipinya, sungguh dia tidak berniat menangis, tapi entah kenapa air matanya itu tidak mau berkompromi, dan tiba-tiba saja menetes.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Nia dengan suara pelan entah pada siapa.
*
*
"Bagaimana Tuan Vier? Saya dengan tulus langsung menemui Anda, dan masalah sekretaris saya, saya minta maaf, saya dengar dia menemui Anda secara pribadi, karena saya mengancamnya bahwa saya akan memecatnya jika sampai tidak bisa mendapatkan kerja sama ini, dan di luar sikap sekretaris saya, bisakah kita lebih profesional?"
Vier membaca berkas-berkas yang kliennya itu berikan. Dan memang kerjasama kali ini sangat menguntungkan, tapi dia memikirkan bagaimana nanti anak-anaknya, dia tidak mungkin meninggalkan anak-anaknya, apalagi harus melakukan perjalanan bisnis yang cukup jauh dan tentunya juga akan menghabiskan waktu yang cukup lama.
"Kenapa Anda ingin sekali bekerja sama dengan saya Tuan Damian? Padahal jelas-jelas saya membatalkan kerja sama kita, dan akan membayar kerugiannya."
"Entahlah, mungkin karena saya percaya dengan kemampuan Anda. Jadi bagaimana? Apa Anda setuju dengan penawaran saya? Atau kalau tidak, Anda bisa pikirkan baik-baik, aku tinggalkan ini pada Anda, jika Anda setuju, Anda tanda tangani itu dan hubungi saya. Saya akan meminta adikku untuk menyediakan layanan spesial untuk Anda di resort kami."
"Saya...maaf sebentar," ujar Vier yang mendapatkan telepon dari mamanya, Damian mempersilahkan Vier untuk menjawabnya.
"Iya Ma, Vier akan segera pulang," ucap Vier yang kini terlihat cemas.
"Maafkan saya Tuan Damian, sepertinya saya harus pergi sekarang, untuk kerjasama kita, nanti asisten saya akan langsung mengabari Anda," ucap Vier yang mengambil berkas-berkas dan segera pergi dari tempat itu, ada hal yang lebih penting saat ini.
Vier kemudian segera meninggalkan rapatnya, dirinya buru-buru pulang begitu mendapat kabar jika Rain kini demam. Dengan tergesa-gesa Vier berjalan menuju ke mobilnya yang ada di pikirannya hanya sang putri, padahal tadi pagi sebelum meninggalkannya, Rain masih baik-baik saja.
Vier masuk ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Tet
Tet
Berkali-kali Vier membunyikan klakson dan menyalip kendaraan-kendaraan yang menurutnya menghalangi jalan. Bahkan dia harus menerima umpatan-umpatan dari pengguna jalan lainnya. Tapi sepertinya pria itu tidak peduli, yang ada di pikirannya saat ini hanya Rain, Rain dan Rain.
Sepuluh menit menempuh perjalanan akhirnya kini dia sampai di depan rumahnya. Vier menghentikan mobil sembarangan, dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana Ma?" Tanya Vier dengan nafas terengah-engah saat pria itu kini telah sampai di kamar anak-anaknya.
"Sstt!" Jasmine menempelkan jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan agar Vier tidak berisik.
Jasmine pun segera menarik Vier keluar dari kamar cucunya.
Jasmine menghela nafas, "Panasnya sudah turun, tadi Mama panggil Paman Al untuk memeriksanya, maaf ya Mama sudah bikin kamu khawatir, Mama soalnya tadi panik banget. Tubuh Rain panas dan dia terus memanggil-manggil maminya, sepertinya dia sangat merindukan Cyara.
"Terus Rey kenapa dia…?"
Rey juga ternyata ikut demam tadi. Seperti dulu kamu dan Vira, kalau Vira sakit kamu pasti juga ikut sakit, mungkin karena ikatan keduanya begitu kuat."
Vier menghela nafas lega yang terpenting sekarang keduanya kini baik-baik saja.
"Ya sudah Ma, Vier ke kamar dulu, Vier ingin melihat mereka," pamit Vier dan Jasmine pun mengangguk, dia tidak tega melihat putranya terus dalam keterpurukan seperti itu.
Vier dengan perlahan, duduk di sisi ranjang dekat putrinya, menatap keduanya yang kini tertidur mungkin efek obat yang baru diminumnya. Di tempelkan punggung tangannya di dahi keduanya bergantian. Vier jadi berfikir, bagaimana dengan Cyara selama ini yang mengurus kedua anaknya itu seorang diri, mengingat itu, Vier tidak bisa membayangkannya. Dia benar-benar merasa bersalah.
"Maafkan Papi sayang, kalian sama Mami pasti selama ini menderita, maafkan Papi karena baru mengetahui keberadaan kalian, jika saja lebih awal Papi tahu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini, mungkin Mami masih ada di sini. Mungkin Papi sudah berterima kasih pada Mami karena sudah melahirkan anak-anak hebat seperti kalian, mungkin kita akan hidup bersama dan bahagia, andai waktu bisa diputar kembali..." Vier tidak bisa lagi menahan tangisnya. Pria itu menangis tanpa bersuara, sesekali dia menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Vier menyesal, dan benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa penyesalan selalu datang belakangan.
"Bagaimana?" Ucap Vier menempelkan ponselnya di telinga sesaat setelah pria itu menggeser ikon tombol hijau yang menandakan dia menerima panggilan masuk.
Vier menghela nafas berat, lagi-lagi laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika dia belum menemukan keberadaan Cyara.
"Kami akan terus berusaha bos, kami baru saja menemukan petunjuk, yang mungkin saja itu Nyonya Cyara dilihat dari ciri-ciri yang orang itu sebutkan."
"Baiklah, aku tunggu kabar baik kalian," jawab Vier yang kemudian langsung mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.
Vier sudah lelah marah-marah sebulan ini karena tidak pernah berhasil menemukan Cyara, apalagi kini kedua anaknya sedang tertidur lelap, dan Vier tidak ingin mengganggu tidur mereka.
"Cyara sebenarnya kamu dimana? Walaupun mungkin nanti kamu akan membenciku, tapi asal kamu tahu Cya, aku akan tetap mencarimu walaupun harus sampai ke ujung dunia."