
"Cukup Sheira! Apalagi yang mau kau jelaskan, aku menemuimu bukan ingin mengungkit yang dulu, aku menemuimu untuk memberi peringatan kepadamu untuk tidak datang lagi ke sekolah Rain bahkan berbicara hal-hal aneh padanya. Jangan pernah melibatkan anak kecil itu pada masalahmu, jika sampai aku tahu jika kamu menemuinya lagi, aku tidak akan segan-segan terhadapmu!" Marah Vier begitu panggilan dengan Sheira terhubung.
"Vier aku berbicara pada anak itu berdasarkan fakta Vier, kamu milikku dan mereka telah merebutmu dariku, dan aku yakin suatu saat kau akan meninggalkan mereka, apa aku salah berbicara seperti itu?"
"Oh ya," Vier tersenyum sinis. "Perlu aku ingat Sheira, jika sejak saat itu, kita sudah benar-benar berakhir dan jangan pernah menganggap aku milikmu lagi."
"Kenapa Vier? Kenapa kau berubah? Dulu kau tidak seperti ini, kau selalu membelaku, dan sekarang hanya karena anak-anak itu, kau memarahiku seperti ini Vier, dia bukan anakmu, untuk apa kau sampai berbuat sejauh itu? Terdengar dari seberang telepon Sheira berteriak.
"Karena aku menyayangi mereka, bahkan aku menganggap mereka anak-anakku, apa kau puas dengan jawabanku? Sudahlah aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, dan harus kamu tahu, jika aku menerima kerjasama kita bukan karena aku masih mengharapkanmu, tapi aku hanya bersikap profesional saja," kata Vier yang akan mengakhiri panggilan tapi dengan cepat Sheira mencegahnya.
"Tunggu Vier! Vier aku bisa jelaskan kenapa dulu aku melakukan itu Vier, jadi tolong dengarkan aku dulu, aku…"
Tut tut tut
Sheira menatap ponselnya yang layarnya sudah mati, Vier mengakhiri panggilannya.
Vier kini menatap ponselnya yang kini sudah berganti dengan foto dirinya bersama seorang wanita.
"Semua sudah terlambat Sheira, apalagi yang akan kau jelaskan? Tidak ada Sheira, tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, karena sejak pernikahanmu dengannya, yang aku tahu kau sudah menghianatiku," Vier menatap foto itu, kemudian melempar ponselnya.
"Tapi kenapa Sheira, kenapa walaupun kau menyakitiku begitu dalam, aku masih mencintaimu, aku masih sangat mencintaimu, aku ingin membalasmu secara langsung tapi aku tidak tega menyakitimu, dan perlu kau tahu Sheira, aku menikahinya karena untuk membalaskan apa yang sudah kau lakukan padaku, aku hanya menjadikannya pelampiasan untuk membalas rasa sakitku."
Tanpa Vier sadari, seseorang mendengarkan semua apa yang Vier katakan sejak awal.
*
*
Sejak pertengkarannya malam itu dengan Vier, sudah tiga hari ini Cyara sama sekali tidak melihat pria itu, ya Cyara tahu, jika saat ini Vier sedang melakukan perjalanan bisnis ke Korea. Dan pria itu akan pulang lusa.
Mengingat itu, Cyara tidak yakin jika Vier akan menepati janjinya pada anak-anak. Cyara menghela nafasnya untuk kesekian kalinya dan jika itu terus terjadi, mungkin berkas-berkas yang ada di atas meja Cyara akan berhamburan karena Cyara terus saja menghela nafasnya.
"Kak Cya!"
"Kak Cya!"
"Hah? Oh Vira? Kenapa? Maksudku sejak kapan kau ada disini?" Tanya Cyara yang baru menyadari keberadaan wanita hamil itu.
"Sejak Kakak terus saja melamun? Kenapa? Apa Kakak deg-deg an saat ini, karena pernikahan Kakak akan terjadi sebentar lagi?" Ucap Vira mencoba calon Iparnya itu yang terlihat murung beberapa hari ini, tepatnya saat saudara kembarnya pergi.
"Aku tidak melamun, aku hanya sedang berpikir," jawab Cyara mengelak.
"Ya sudah mau Kakak sedang melamun apa sedang berpikir itu tidak penting, yang penting sekarang, ayo Kakak ikut aku!" Kata Vira menarik Cyara agar bangun.
Untungnya sejak bertambahnya usia kehamilan Vira, wanita itu sudah tidak merasa mual-mual lagi seperti beberapa waktu lalu, dan kini wanita itu tampak antusias ikut mempersiapkan acara pernikahan kembarannya. Dia ingin dilibatkan dalam berbagai hal, contohnya seperti saat ini, Vira akan mengajak Cyara untuk menemaninya ke pusat perbelanjaan membeli beberapa kebutuhan wanita itu, karena suaminya ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan.
"Kita mau kemana?" Tanya Cyara saat mereka kini sedang berjalan berdampingan dengan bergandengan tangan, tidak, tepatnya Vira menarik tangan Cyara.
"Tapi Vi, ini masih jam kerja, Kakak tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja," kata Cyara yang merasa tidak enak apalagi saat melewati beberapa karyawan Vier yang memperhatikannya, seolah bertanya-tanya ada masalah apa sampai saudara pemilik perusahaan menarik-nariknya.
Vira berhenti melepaskan tangan Cyara dan berbalik badan menghadap wanita dua anak itu.
"Tidak ada yang berani melarangku untuk mengajak pegawai disini pergi Kak, dan masalah pekerjaan aku sudah meminta Martin untuk menghandle semuanya, jadi Kak Cya tidak perlu khawatir soal itu," kata Vira penuh penekanan.
"Tapi Vi…"
"Sudah ayo! Atau mungkin Kak Cya tega membiarkan aku pergi sendiri dengan perutku yang besar ini, ya sudah kalau Kak Cya tidak mau, aku bisa pergi sendiri" kata Vira yang sepertinya merajuk, wanita itu kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Cyara.
"Vi, tunggu! Baiklah, aku akan menemanimu, tapi aku pergi ambil tas dulu," teriak Cyara yang melihat Vira sudah menjauh.
Vira tersenyum dan bersorak senang dalam hatinya, karena akhirnya Cyara mau menemaninya.
Vira membuat wajahnya sedatar mungkin, kemudian berbalik, "Ya sudah ayo buruan, aku tunggu disini," ucap wanita itu membiarkan Cyara untuk mengambil tasnya.
Cyara berjalan kembali menuju ke mejanya, tapi Cyara berhenti saat melihat Martin, sejak kejadian itu, Martin seperti menghindarinya, Martin akan berbicara pada Cyara jika pria itu memang punya kepentingan sama wanita itu.
"Martin tunggu!"
Martin berhenti, dan menoleh dan dapat dirinya lihat jika saat ini Cyara berjalan mendekat
"Ada apa?"
"Aku…"
"Saya tahu, Nona Vira sudah bilang padaku, Anda bisa pergi sekarang, dan Anda tenang saja, saya akan menghandle semua pekerjaan Anda," ucap Martin yang baru pertama kalinya berbicara formal setelah mereka menjadi teman dekat.
"Martin!"
"Apa ada yang bisa saya bantu? Kalau iya katakan saja dan Anda tidak perlu sungkan-sungkan."
"Martin kenapa kamu jadi aneh begini? Dan untuk apa kau berbicara formal padaku, lebih baik seperti biasanya saja."
"Maaf Nona, saya tidak bisa melakukan itu, apalagi ini di tempat kerja, dan kalau Anda memang mau pergi, pergi saja, Anda tidak perlu khawatirkan tentang pekerjaan.
"Martin!"
"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, dan disana, sepertinya Nona Vira sedang menunggu Anda," ucap Martin menunjuk ke arah Vira.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Martin kemudian berlalu meninggalkan Cyara.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Martin sepertinya berubah?" Gumam Cyara yang saat ini melihat punggung Martin yang berjalan menjauh.