Love Revenge

Love Revenge
Bab 103



Vier mengantarkan Rey ke kamarnya, menemani putranya itu untuk beristirahat.


"Rain kemana Pi?" 


"Rain ke sekolah bersama Aira mungkin sebentar lagi dia juga pulang, apa kamu merindukannya?" Tanya Vier karena sudah seminggu ini kedua saudara itu tidak bertemu.


Rey mengangguk, "Rey juga ingin pergi ke sekolah lagi. Jika Rey terus diam, Rey pasti keingat Mami terus. Rey kangen sama Mami Pi, Mami pergi karena Rey, saat itu jika Rey tidak nakal, Mami tidak akan pergi kan Pi?" Tanya anak laki-laki itu mendongak dan menatap Vier dengan air mata yang sudah membasahi hampir seluruh wajahnya.


"Tidak sayang ini bukan salah kamu, sudah ya, Papi janji Papi akan terus mencari Mami dan membawa Mami kembali dan kita akan berkumpul lagi seperti dulu.


"Beneran Pi?"


"Benar dong, Papi tidak berbohong nanti hidung Papi tambah panjang," gurau Vier dan membuat Rey kini tertawa.


"Papi janji," Rey mengangkat jari kelingkingnya mau papinya berjanji padanya.


"Janji," Vier menautkan jari kelingkingnya dengan sang putra. 


"Sekarang Rey istirahat, katanya sudah ingin pergi sekolah, jadi Rey harus cepat sembuh," ucap Vier yang kini membantunya putranya berbaring dan dia pun ikut berbaring di sebelahnya.


Vier mengelus lembut hingga Rey pun kini terlelap. Vier turun dari ranjang perlahan, takut jika Rey akan terbangun. Dia membenarkan selimut putranya, kemudian mengecup dahi yang masih dalam balutan perban. Vier kemudian melangkah keluar menuju kamarnya.


Vier duduk di atas sofa kemudian mengambil hasil tes dna yang tadi dimasukkan ke dalam kantong celananya.


Vier menatap amplop berwarna putih itu cukup lama, jantungnya berdebar kencang saat ini, saat perlahan tangan kanannya menarik perlahan kertas yang ada di dalam amplop berwarna putih itu. Bahkan kini tangannya bergetar saat akan membuka lipatan kertas yang sudah berhasil diambilnya.


Dengan perlahan Vier membukanya dan jantungnya seakan melompat dari tempatnya, dadanya terasa sesak saat mengetahui isi dari kertas itu. 


Vier menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahkan Vier tidak sadar jika kini ada seseorang yang merebut kertas itu darinya.


"Sayang!" 


"Mama!" 


Teriak Stevano dan Vian bersamaan  saat melihat tubuh Jasmine yang limbung setelah membaca hasil itu.


Stevano dengan sigap menangkap tubuh istrinya, tapi tetap saja, kaki Jasmine rasanya begitu lemas, hingga tubuhnya kini meluruh begitu saja di lantai, wajahnya kini bahkan sudah dipenuhi air mata bercampur peluh karena dirinya tadi berlari dari luar menuju kamar putranya di lantai atas. Kertas yang di pegang Jasmine pun kini terjatuh dan Stevano buru-buru mengambil dan membacanya, Vian yang penasaran ikut mendekat agar bisa jelas melihat hasil itu. Keduanya juga ikut shock, melihat hasil itu.


"Bisa kau jelaskan sama Mama Vier?" Tanya Jasmine yang tidak menyangka jika putranya hal seperti itu, apalagi saat mendengar cerita Cyara dimana dia mengalami masa-masa sulit saat kehamilannya. Dan hal itu terjadi karena putranya, Jasmine bahkan saat ini sulit untuk berkata apapun.


"Jelaskan sama Mama Vier? Kenapa kamu melakukan itu?" Jasmine bangun karena putranya tidak mengatakan apapun.


Dia berjalan menghampiri putranya dan mendorong Vier.


"Katakan! Kenapa kamu diam saja? Kamu tahu betapa sulitnya Cyara saat itu, dia diasingkan, pertunangannya diputuskan begitu saja, dan dia juga diusir dari rumahnya. Kau…"


"Sayang tenang dulu!" Stevano mencoba menenangkan istrinya.


"Maafkan Vier Ma, maafkan Vier!" Tangis Vier pecah, bahkan dirinya sama sekali tidak menyangka hal itu. Selama satu tahun dulu Vier mencari keberadaan gadis itu, hingga Vier mengira jika tidak terjadi apapun dengan gadis itu setelah hubungan satu malam mereka. Apalagi Vier sama sekali tidak pernah di datangi gadis manapun yang meminta pertanggung jawabannya setelah kejadian itu.


"Vier kau…" tubuh Jasmine lagi-lagi hampir terjatuh dirinya sepertinya sangat shock tahu kenyataan itu. Dua anak kecil yang tiba-tiba bertemu dengannya, hingga perasaan asing yang dirasakannya saat bersama anak-anak itu, karena memang mereka adalah cucunya, anak kandung dari putranya yang selama ini tidak diketahui keberadaannya.


"Mama!" Vier mencoba membantu Jasmine, tapi Jasmine dengan cepat menepis tangan Vier.


"Kau harus menemukan Cyara dan membawanya kembali, jika tidak jangan harap kamu akan mendapatkan maaf dari Mama," kata Jasmine yang meminta Vian agar membawanya keluar dari kamar Vier.


Stevano yang kini sudah melihat Jasmine dan Vian dari kamar itu, tidak segan-segan mendaratkan bogem mentah di wajah Vier.


Bug


"Ini karena kamu menyakiti Cyara dulu."


Bug


"Ini untuk Rey dan Rain


Bug


"Ini karena kamu menyakiti Cyara  kemarin."


Bug


"Ini karena kamu membuatmu Cyara, ibu dari anak-anakmu pergi."


Vier hanya pasrah menerima hal itu bertubi-tubi, dia sadar jika dirinya salah dan  dia pantas mendapatkan itu.


"Papa cukup!" Teriak Zeline yang melihat papanya terus mendaratkan pukulan di wajah Vier.


"Biarkan Ze, kakak pantas mendapatkannya," kata Vier dengan suara yang teramat lirih.


"Tapi Kak…


"Menjauh Ze, kamu dengar apa yang kakakmu katakan tadi? Dia memang pantas mendapatkan itu.


"Pa, please hentikan!" Kata Zeline memeluk papanya agar berhenti.


Stevano menghela nafas panjang, Zeline yang melihat ayahnya sudah tenang kini melepaskan pelukannya. Stevano mengelus rambut Zeline sebelum akhirnya dirinya pergi dari sana.


"Kak, kau tidak apa-apa?" Tanya Zeline yang kini mendekati Vier.


"Mana mungkin kamu baik-baik saja," kata Zeline yang kemudian berlalu dan kini mencari kotak obat, begitu menemukannya, Zeline kembali menghampiri kakaknya.


"Duduk sini!" Pintanya menarik Vier agar duduk. 


Zeline pun dengan telaten mengobati luka kakaknya.


"Kamu tidak menyalahkan Kakak?" Tanya Vier lirih.


"Menyalahkan? Tentu saja, tapi aku tidak mau menghabiskan tenaga, karena rasanya percuma, hal itu sudah terjadi, dan juga tidak bisa diputar kembali. Lalu untuk apa, aku melampiaskannya sekarang, lagian aku tahu, tanpa aku seperti itu pun, Kak Vier juga kini sudah merasakan hukuman karena perbuatan Kakak yang sudah menyakiti Kak Cyara.


"Ze, dimana Kak Cya Ze, Kakak harus menemukannya, Kakak… kakak tidak bisa tanpanya Ze, Kakak sadar bahwa Kakak sangat mencintainya."


Zeline menarik tubuh kakaknya ke dalam pelukan, sesungguhnya dia kesal, tapi melihat kakaknya yang terpuruk seperti itu, rasanya dia harus mendukung kakaknya saat ini yang memang sangat membutuhkan orang-orang agar di sampingnya.


Zeline menepuk-nepuk punggung Vier, menenangkannya.


"Kak Cya, kakak dimana? Aku mohon Kak, cepatlah kembali, kami semua membutuhkanmu, terutama Kak Vier, Rey juga Rain," ucap Zeline dalam hati.


"Kak orang suruhan Kakak menelpon," ucap Zeline yang melihat ponsel Vier di atas meja bergetar.


Vier melepaskan diri dari pelukan sang adik dan dengan segera menjawab panggilan itu, karena tidak biasanya orang suruhannya menelpon dirinya terlebih dulu. Vier berharap mendapatkan kabar baik dari mereka.