Love Revenge

Love Revenge
Bab 65



Hari menjelang sore dan baik Vier maupun Cyara akhirnya memutuskan untuk kembali, dan disinilah mereka di dalam mobil, kini mereka sedang dalam perjalanan pulang. 


Cyara menatap Rey dan Rain bergantian, mereka tampak lelap dalam tidurnya, mungkin keduanya merasa kelelahan.


"Terima kasih," ucap Cyara tersenyum tulus sambil mengelus pipi kedua anaknya kemudian mencium dahi Rey dan Rain bergantian.


Vier melihat Cyara dari kaca di depannya. "Tidak perlu berterima kasih, karena aku juga bahagia melihat senyum mereka hari ini," jawab Vier.


Cyara pun mengangguk kemudian kembali terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Kalau kamu mau tidur, tidur saja, lagian perjalanan juga masih cukup jauh," ujar Vier memecah keheningan di antara keduanya. 


"Tidak, aku akan menemanimu," ucap Cyara kembali mengelus kedua anaknya yang duduk di samping kanan dan kirinya, tidak ingin mereka terbangun.


"Oh ya Vier kapan kamu pulang?" Tanya Cyara memulai obrolan kembali.


"Kenapa?" 


Cyara mendengus, "Selalu seperti itu jika ditanya."


Vier menatap Cyara masih menunggu jawaban wanita itu.


"Ya tidak apa-apa, hanya tanya saja, memangnya salah? lagian kemarin-kemarin tidak ada kabar sama sekali dan lihatlah sekarang, pagi-pagi sudah tiba di depan rumah," tambah Cyara.


"Kenapa? Apa kau merindukanku?" Tanya Vier yang sengaja menggoda Cyara.


"Tidak, kata siapa dan juga untuk apa aku merindukanmu? " kata Cyara mengelak, padahal sejak kemarin Cyara selalu melihat ponselnya berharap Vier menghubunginya.


"Jam 4 an mungkin," jawab Vier akhirnya.


"Jadi kamu pulang langsung ke rumahku?" Tanya Cyara yang memang mencurigai hal itu karena saat akan berangkat tadi pagi, dia melihat koper Vier masih ada di bagasi mobil.


"Hmm," jawab Vier hanya dengan gumaman.


Vier yang teringat dengan janjinya buru-buru pulang, dan Vier menghubungi seseorang untuk menjemputnya membawa dua mobil. Sampai orang  suruhan Vier awalnya mengira jika Tuan Mudanya itu akan membawa seseorang bersamanya, tapi tenyata begitu sampai, Vier menyuruh orangnya untuk kembali membawa salah satu mobilnya, karena Vier akan membawa mobilnya sendiri datang ke rumah Cyara untuk menepati janjinya dengan anak-anak Cyara.


"Vier harusnya kamu istirahat saja tadinya, kamu pasti lelah," kata Cyara setelah tahu bahwa pria itu bahkan belum istirahat sama sekali.


"Aku hanya ingin menepati janjiku kepada anak-anak, dan bukankah kemarin ada seseorang yang bilang jika tidak boleh mengingkari janji dan membuat anak-anak kecewa," kata Vier mengingatkan Cyara akan ucapan waktu itu saat mendengar Vier berjanji pada anak-anaknya.


"Tapi tidak begitu juga, kalau kamu lelah ya lebih baik kamu istirahat saja, kan kamu bisa menghubungi dan  beritahu sebelum-sebelumnya, aku yakin jika dijelaskan dulu anak-anak bisa mengerti."


"Iya dengan bilang aku sibuk seperti katamy tadi pagi sama anak-anak?"


"Ya memang benarkan jika kamu sibuk."


"Sudahlah, intinya aku tidak mau bikin mereka kecewa, apalagi mereka sudah menunggu dan berharap aku datang," ucap Vier yang kembali diam dan fokus pada jalanan di depannya.


"Tidak tahu apa jika aku mengkhawatirkannya," ucap Cyara menambahkan tapi hanya dalam hati saja.


Malas berbicara dengan Vier, Cyara pun mengambil ponselnya dan memainkannya.


"Tadi siapa yang bilang akan menemaniku dan sekarang justru sibuk sendiri dengan ponselnya," sindir Vier.


Cyara hanya bisa memberengut, meletakkan kembali ponselnya.


"Salah siapa begitu menyebalkan," gerutu Cyara pelan.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Vier seperti mendengar seseorang berucap.


Vier tampak berpikir dan kini berakhir dengan mengedikan bahunya acuh, fokus kembali mengemudi.


Cyara meregangkan badannya yang terasa pegal setelah Vier sudah membawa masuk Rey dan Rain ke dalam kamarnya.


Cyara kemudian berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya begitu lelah. Bahkan Cyara pun mengabaikan Vier yang tadi baru keluar dari kamar anak-anaknya.


Cyara merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencari posisi senyaman mungkin.


Sementara itu Vier melonggarkan dasinya dan berjalan menuju ke kamar Cyara, masuk begitu saja saat melihat pintu kamar Cyara terbuka. Vier melipat kedua tangannya di depan dada, diam-diam mengamati Cyara.


"Kenapa?" Tanya Cyara membuka matanya yang tadi terpejam, saat merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


"Tidak apa-apa, hanya ingin memandangmu saja, tidak ada salahnya kan memandangi calon istri sendiri?" jawab Vier enteng.


Cyara terdengar menghela nafas, "terserah kau saja, aku mengantuk," ucap Cyara yang kini mengubah posisi tidurnya menjadi miring membelakangi Vier.


"Kamu kenapa?" Tanya Vier yang kini mengulum senyumnya dan berjalan mendekat. 


Vier membalikkan tubuh Cyara hingga telentang mengecup bibir wanita itu sekilas.


Cyara yang terkejut spontan membuka matanya.


"Zavier Gottardo!" Mata Cyara melotot, tidak percaya jika Vier tiba-tiba menciumnya.


"Kenapa?" Tanya Vier mengangkat dagunya.


"Jangan cium-cium aku lagi sembarangan, membuatku kesal saja," kata Cyara yang kemudian bangun dan duduk menatap Vier tajam.


"Oh ya, masa?"


"Vier aku sedang tidak bercanda!"


"Aku tahu, aku juga sedang tidak bercanda," Vier kemudian mendekat lagi.


"Aku akan menebusnya karena sudah membuatmu kesal," Vier mengulurkan kedua tangannya dan itu membuat Cyara bingung.


"Ayo!"


Cyara dengan ragu mengulurkan tangannya pada Vier dan dengan cepat Vier menyambut uluran tangan Cyara dan menariknya hingga kini Cyara berdiri dan Vier segera menarik pinggang Cyara semakin menempel pada tubuhnya.


Tatapan Cyara dan Vier bertemu, dan dapat Cyara rasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya, pipinya memerah bahkan detak jantungnya berdebar dengan kencang, membuat Cyara buru-buru berusaha melepaskan pelukan Vier, takut jika pria itu sampai mendengar debaran jantungnya saat ini.


Vier meraih tangan Cyara bergantian mengalungkan di lehernya. Sementara kedua tangan Vier melingkari pinggang Cyara. Membuat Cyara terkejut, tapi tatapannya tak lepas sedikitpun dengan tatapan Vier.


"Vier!"


"Hmm," Vier menjawab hanya dengan gumaman.


"Kenapa kamu begitu ingin menikahiku? Selain untuk anak-anak, kamu punya alasan lain bukan?" Tanya Cyara yang memang ingin tahu.


Cyara tidak tahu tepat tidak dirinya bertanya seperti itu, tapi Cyara benar-benar ingin tahu, walaupun mungkin saja jawaban Vier akan menyakitkan, tapi Cyara ingin mendengar secara langsung dari pria itu.


Vier terdiam cukup lama, "Mungkin karena kamu memang ditakdirkan untukku," jawabnya yang terdengar tulus dari dalam hatinya, tenang dan tanpa ragu.


Cyara menurunkan tangannya dan memeluk pinggang Vier, dan Vier pun balas memeluk Cyara erat, bahkan sangat erat.


"Aku juga berharap begitu Vier, aku berharap jika kamu memang takdirku, entah kenapa ada rasa dalam hatiku yang ingin terus bersamamu, tidak ingin melepasmu, rasanya aku ingin waktu berhenti sekarang, saat aku dan kamu saling berpelukan seperti ini, dan tidak ada orang lain di antara kita, jujur aku takut Vier, aku takut hari esok kamu akan berubah, kamu akan berubah saat tahu kebenarannya," ucap Cyara dalam hatinya.