
Cyara kini hanya menatap Vier yang sedang menyuapi anak-anaknya sambil Rey dan Rain yang asyik menceritakan semua hal baik tentang temannya maupun tentang sekolahnya, dan Vier menanggapi ocehan keduanya dengan antusias dan bersemangat.
Mereka kini sudah sampai di tempat makan yang menjadi favorit Cyara dan anak-anaknya, setelah Vier meminta maaf tadi di mobil bahkan setelah sampai sambil menunggu makanan mereka datang, kini mereka sudah tampak akrab lagi.
Wajah bahagia kedua anaknya membuat Cyara tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Cyara hanya ikut mendengarkan apa yang kedua anaknya ceritakan kepada papinya sambil tersenyum, dan Cyara hanya akan menyahuti sesekali, jika anak-anak bertanya dan menyebutnya. Ketiga orang itu sepertinya semakin asyik bercerita seperti tidak pernah kehabisan bahan cerita yang mereka bahas.
Vier melirik Cyara, keduanya kembali tidak saling bicara setelah kejadian di mobil tadi, keduanya seolah bungkam.
Setelah Vier kembali mengalihkan pandangannya ke arah anak-anaknya, kini giliran Cyara yang menatap Vier, menatap pria itu yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa saat di rumah tadi, bahkan ketika Rey dengan polos luka pada tangan papinya itu. Vier tampak pintar dengan jawabannya seolah dia memang ahlinya dalam memberi alasan dan Rey anak yang polos itu hanya percaya-percaya saja pada yang papinya ucapkan.
"Habis ini kalian mau kemana lagi?" Tanya Vier kepada Rey dan Rain, menatap kedua anak itu bergantian.
Rey mengetuk-ngetukkan jarinya di meja seolah sedang berpikir. Kemudian tatapannya beralih kepada maminya, saat dia terpikirkan kemana tempat yang akan di tujunya.
"Mami, gimana kalau kita ke rumah nenek?" Tanya Rey, meminta pendapat maminya.
"Iya Mi, kita baru satu kali ke rumah nenek, bagaimana kalau kita sekarang kesana?" Sahut Rain yang sepertinya setuju dengan apa yang kakaknya katakan.
Cyara awalnya terkejut begitu mendengar apa yang tadi putranya katakan, dia tidak menyangka jika Rey ternyata masih berharap ingin bertemu dengan nenek yang tak lain adalah ibu Cyara.
Cyara menatap kedua anaknya bergantian, dia bukan tidak mau, tapi dia takut kedua anaknya akan ditolak sepertinya dulu, tapi dia juga tidak mungkin mengatakan alasan itu kepada anak-anaknya, lalu apakah Cyara harus mencari alasan lain agar anak-anaknya mengurungkan niat untuk bertemu nenek mereka? Tapi alasan apa? Memikirkan semua itu membuat Cyara terdiam cukup lama, hingga dirinya tidak menyadari jika saat ini kedua anak-anaknya masih mengajaknya berbicara.
"Mami!" Rain menggoyangkan tangan Cyara hingga spontan membuatnya terkejut.
"Iya, kenapa sayang?"
"Bagaimana Mami apa boleh?" Tanya gadis kecil itu yang rupanya masih menunggu persetujuan maminya.
"Kalau Mami tidak setuju tidak apa-apa, Rey akan memikirkan tempat lain."
Vier yang sedari tadi diam dan memperhatikan ekspresi Cyara, kini akhirnya angkat bicara.
"Baiklah kita sekarang ke rumah Nenek," ucap Vier memutuskan sepihak dan Cyara langsung menatap tajam pria itu yang kini juga menatapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah mengambil keputusan yang bahkan belum Cyara setujui.
Rey dan Rain bersorak senang, mereka pun meminta bantuan pada Vier untuk turun dari kursinya.
Ketiga orang itu kini sudah berjalan lebih dulu, meninggalkan Cyara di belakang yang tampak cemas memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Cyara mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, Cyara berharap orang itu, segera menjawab panggilan teleponnya, tapi harapan Cyara sepertinya tidak terkabulkan karena ketiga kalinya, Cyara menghubungi orang itu, tapi tidak kunjung dijawab.
Dan Cyara menghela nafas lega, saat di detik-detik terakhir, akhirnya panggilannya pun dijawab, dan Cyara kembali merasa begitu lega saat orang yang diteleponnya mengatakan jika ibunya tidak ada di rumah. Cyara pun segera berlari dan meraih tangan kanan Rey yang bebas karena tangan kanan bocah itu kini dalam genggaman Vier.
"Sayang, sepertinya nenek sedang tidak ada di rumah, kita ke rumah nenek lain kali saja ya, nanti biar Mami yang antar kalian kesana," ucapnya begitu dia sudah berjalan di samping putranya.
Ketiga orang itu berhenti melangkah dan menatap Cyara.
"Kenapa menatap Mami seperti itu?"
"Kamu tidak membohongi mereka kan?" Tanya Vier dengan tatapan menyelidik.
"Kamu menuduhku berbohong?" Cyara menatap Vier tidak menyangka jika pria itu malah menuduhnya seperti itu.
"Mungkin saja kan?" Vier membuka pintu dan membantu Rain untuk masuk ke mobil, kemudian melepaskan tangan Cyara dari Rey dan mengangkat tubuh Rey, mendudukkannya di kursi belakang.
Cyara segera menyusul masuk dan berkata meyakinkan anak-anaknya.
"Mami tidak berbohong sayang, kalau tidak percaya, Mami akan buktikan," Cyara kembali menghubungi nomor yang tadi di hubungi sekalian agar Vier bisa mendengarnya langsung dan tidak menuduhnya berbohong.
"Bagaimana sekarang kau percaya kan jika aku tidak berbohong, lagian untuk apa aku membohongi anak-anakku?" Kata Cyara yang rasanya tidak sabar untuk membahas hal itu.
Bukannya menjawab Vier justru mengedikkan bahunya acuh, kemudian mulai melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, karena Rey dan Rain meminta untuk pulang saja, dan tidak ingin kemanapun lagi.
*
*
Ken menatap putrinya yang kini terlelap, dia tau kesalahannya, tapi dia sama sekali tidak menyesal, berkat semua itu, putrinya kini hadir di sisinya dan menemani disaat dia dalam kesendiriannya. Putrinya yang selama ini menjadi kekuatannya di saat semua orang bahkan para sepupunya yang kini menjauhinya.
"Maafkan Ayah sayang, maafkan Ayah, Ayah selalu menjadikan kamu alasan agar ibu mu tidak meninggalkan kita, tidak masalah jika Ibu tidak menyayangi Ayah, karena yang Ayah harapkan hanya kasih sayang Ibu mu terhadapmu, Ayah menyayangimu Keisha, sangat-sangat menyayangimu, maaf karena kamu harus ada di antara Ayah dan Ibu yang hubungannya tidak baik-baik saja," ucap Ken mengecup kening putrinya cukup lama.
Hingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Buru-buru Ken menghapus air mata yang terjatuh di wajah putrinya tapi terlambat karena putrinya kini sudah mengerjapkan matanya, mengangkat tangan dan menghapus air mata Ken yang terjatuh di wajahnya.
Tangan kecil itu tampak seperti meraba-raba sesuatu, dan Ken dengan cepat menangkapnya dan dibawanya tangan mungil itu untuk menyentuh pipinya.
"Ayah, apa itu Ayah?" Tanyanya merasakan sesuatu yang hangat menempel di tangan mungilnya.
"Apa Ayah menangis?" Tanyanya lagi mencoba bangun kemudian meraba wajah ayahnya dengan tangan satunya dan Ken kembali menangkap tangan itu, di genggamnya kedua tangan mungil putrinya dan dikecupnya cukup lama. Tak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya, Ken menarik Keisha ke dalam pelukannya.