
Cyara segera melepaskan tangan Vier yang menggenggamnya saat tiba-tiba mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
"Nia, kamu dicari bos," ucap seorang wanita yang pasti di suruh Arga.
"Hmm iya, oh ya tolong kamu temani Tuan Vier untuk berkeliling lagi ya," ucap Cyara pada wanita itu.
"Tentu, sana gih, keburu nanti bos mengomelimu," ucap wanita itu lagi.
Nia hanya tersenyum menanggapinya.
"Saya permisi Tuan, Tari akan menggantikan saya menemani Anda berkeliling" ucap Nia pada Vier sedikit menundukan kepala kemudian berlalu sambil mengelus perut buncitnya.
"Apa hubungan mereka dekat?"
"Hah?" Tari menoleh sambil mengernyitkan dahi.
"Nia apa dia dekat dengan bos kalian?" Tanya Vier lagi, dirinya benar-benar penasaran.
"Oh Nia, hm bisa iya, bisa tidak, Nia orangnya ramah ke semua orang, dia orang yang bisa menempatkan diri dimanapun hingga dia cepat akrab dan dekat dengan siapapun," jawab Tari sambil tersenyum memperhatikan Nia yang kini berjalan menjauh.
"Terus maksudmu, bos akan mengomelinya?"
"Oh itu pasti karena Nia terlambat makan atau mungkin meminum vitaminnya, oh ya maaf, kenapa kita jadi membahas Nia? Mari Tuan!" Ucap Tari begitu mengingat tujuannya saat ini.
Vier pun berbalik mengikuti Tari setelah Nia menghilang dari pandangan. Tari sibuk menjelaskan tapi seperti pikiran Vier tidak disana, dia terus memikirkan istrinya, benar dia sudah menemukan Cyara, tapi Cyara terasa jauh, dan Vier sepertinya harus lebih berusaha lagi untuk menggapainya.
"Bagaimana Tuan? Anda suka bukan?" Tanya Tari meminta pendapat Vier setelah mereka berkeliling.
Tapi bukannya menjawab Vier kini justru tengah memandang kedua orang yang tidak jauh dari posisinya saat ini. Dadanya seakan meledak, rahangnya mengeras saat melihat pria yang dia kenal sebagai pemilik resort itu mengelus perut Cyara.
Vier cemburu, ya Vier baru mengakui jika dirinya saat ini benar-benar cemburu. Sebelumnya dia hanya menganggap bahwa dia tidak suka jika yang sudah menjadi miliknya disentuh pria lain, dan kini Vier baru sadar jika itu yang dinamakan cemburu. Dulu bahkan saat bersama Sheira, Vier tidak pernah merasakan perasaan semacam itu, karena dia melihat Sheira yang tidak pernah dekat pria lain selain dirinya, dan bersama Cyara lah Vier merasakan perasaan takut kehilangan, marah jika Cyara bersama pria lain selain dirinya, bahkan tidak rela orang menatap Cyara lama, itu kenapa Vier tidak suka saat melihat Cyara dengan gaun pengantinnya saat fitting dan memintanya untuk menggantinya berkali-kali, hanya karena menurutnya gaun itu terbuka, dan bisa saja itu membuat para tamu terutama para pria bisa menatap Cyara lama. Vier tidak suka, dan bodohnya dia, karena baru menyadari itu saat istrinya pergi, mungkin dulu dia sadar tapi dia selalu berusaha menepisnya, karena dendam yang meliputi hatinya.
Vier terus menatap ke arah istrinya yang kini masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Arga.
"Tuan!"
"Ya saya suka," kata Vier yang kemudian berlari meninggalkan Tari menuju mobilnya, dia harus tahu kemana istrinya sekarang pergi.
Vier terus mengikuti mobil yang membawa Cyara, wanita itu tampak turun di depan minimarket, disusul pria yang bernama Arga, Vier mencengkram erat kemudi, hendak turun tapi dia mengurungkannya, Vier tidak ingin gegabah dan justru membuat istrinya lari lagi.
Vier setia menunggu sampai Cyara akhirnya keluar, Arga membawa dua kantong belanja di kedua tangannya, mereka berjalan berdampingan dan saling melempar senyum, bahkan Vier juga melihat Cyara tertawa lepas, lagi-lagi Vier merasa nyeri di dadanya melihat Cyara yang bisa tertawa seperti itu kepada orang lain tapi tidak pada dirinya. Dan Vier sadar itu salahnya, Vier yang membuat Cyara seperti itu.
"Apa mereka tinggal bersama? Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa mereka begitu dekat? Dan sialnya kenapa hatiku sangat sakit melihat itu semua?" Vier terus saja bertanya-tanya dalam hatinya.
Saat Vier akan menjalankan mobilnya, Vier mengurungkan saat melihat keduanya kembali keluar, Arga masuk ke dalam mobil dan Cyara di depan pintu melambaikan tangannya hingga mobil pria itu melaju meninggalkan Cyara di rumah itu.
Cyara berjalan masuk dan menutup pintu. Vier bimbang antara dia akan masuk atau tidak, tapi banyak hal yang ingin Vier katakan dan dengar dengan wanita yang dicintainya itu.
Akhirnya setelah memantapkan hatinya Vier pun memutuskan turun dari mobil dan melangkah berjalan menuju rumah itu.
Vier memencet bel, dengan jantung yang bergemuruh, menunggu wanitanya membukakan pintu untuknya.
…
Tadi Arga memanggilnya ternyata mengingatkan dia bahwa dia harus pulang, memang di hari senin itu, Arga selalu mengantar Cyara pulang lebih awal untuk berbelanja setiap minggunya, semacam rutinitas yang memang sudah Cyara lakukan selama bekerja bersama Arga, karena jika sampai menunggu jam pulang sesungguhnya, nanti Cyara akan pulang terlambat, belum lagi membereskan barang belanjaannya, hingga akhirnya Arga pun memutuskan mengambil salah satu hari kerja wanita itu untuk memulangkan lebih awal agar punya waktu untuk melakukan rutinitas itu, sebenarnya bisa saja jika Cyara libur, tapi Damian tidak mengizinkan itu, karena disana setiap hari libur pasti ramai dan dia tidak ingin adiknya itu kelelahan hanya karena itu, makanya dia membuat kesepakatan seperti itu bersama Arga.
Dan setelah Arga mengantar Cyara, dirinya pun kembali ke resort untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Cyara sendiri sebenarnya merasa tidak enak pada yang lain, karena merasa dirinya diistimewakan, tapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, jika kakaknya sudah ikut campur. Hingga terpaksa Cyara pun hanya bisa menuruti kedua pria itu.
Cyara kini membongkar barang belanjaan dan membereskannya sambil bersenandung, agar sepi tidak menyelimuti hatinya.
Saat Cyara sedang sibuk memasukkan dan menata sayuran ke dalam kulkas, tiba-tiba dia mendengar suara bel berbunyi.
"Ini orang pasti ada yang lupa," gumam Cyara sambil berjalan menuju pintu, yakin jika Arga lah yang datang.
Ting tong
Ting tong
Bel kembali berbunyi.
Ting tong
"Bawel banget deh," gerutu Cyara.
"Iya sebentar!" Teriak Cyara yang mendengar bel rumahnya kembali dibunyikan.
"Tidak sabar banget sih," kesal Cyara, jarak kakinya dengan pintu hanya sedikit lagi, tapi pria di luar sepertinya sangat-sangat tidak sabar menunggunya.
"Ada apa lagi sih Ar…" ucapan Cyara terpotong saat membukakan pintu, melihat bahwa bukan Arga lah yang datang ke rumahnya, melainkan sosok pria yang sukses mengobrak-abrik hatinya. Tubuh Cyara diam mematung, dan begitu tersadar buru-buru Cyara akan menutup pintu, tapi pria itu justru malah menahannya.