Love Revenge

Love Revenge
Bab 84



Semuanya terdiam melihat Vier pergi, tidak bertanya kenapa ataupun mau kemana, hanya saling pandang, yang mengerti hanya cukup mengerti, yang tidak tahu memilih untuk tidak ikut campur, mereka kembali mengobrol seolah tidak terjadi apapun barusan.


"Sayang kamu benar-benar tidak apa-apa?" Tanya Jasmine menyentuh tangan Cyara.


Cyara langsung menoleh dan tersenyum menatap mama mertuanya.


"Tidak apa-apa, hmm Ma, Cyara pamit pulang dulu ya," kata Cyara hanya kepada Jasmine.


Jasmine menatap wajah Cyara kemudian mengangguk, "Baiklah, tapi biar Vian yang antar ya?"


Cyara mengangguk dan bangkit.


"Vian kamu antar Kak Cya pulang ya," pinta Jasmine pada putranya.


"Baik Ma," jawab Vian tanpa bertanya lebih banyak.


Vian berpamitan pada istrinya, ikut bangkit dan berjalan keluar bersama Kakak Iparnya.


Di dalam perjalanan menuju parkiran, Cyara hanya diam saja. Begitupun dengan Vian yang enggan bertanya. Tapi Vian tetaplah Vian, dengan melihat wajah Cyara saat ini, pria itu tahu jika ada sesuatu yang terjadi di antara Kakak dan Kakak Iparnya. Tapi dia memilih diam, dia akan mencari tahu nanti apa yang sebenarnya terjadi.


"Awas Kak!" Vian menarik Cyara saat ada sebuah mobil yang hendak keluar.


"Ah terima kasih," kata Cyara yang tampaknya saat terkejut.


"Jangan jalan sambil melamun," ucap Vian dan Cyara pun mengangguk.


"Maaf," ucapnya.


Vian mengangguk, "Sebelah sini Kak!"


Pria itu kini menunjuk dimana mobilnya berada, kemudian dia berjalan lebih dulu dan Cyara pun mengikutinya.


Sesampainya di mobil Vian, kedua orang itu pun segera masuk. Vian segera melajukan mobilnya, saat dirinya dan Cyara sudah memasang seatbelt mereka.


"Vian bisakah kamu mengantarku ke rumah? Hmm maksudku ke rumahku?"


Vian menoleh dan menatap Cyara, "Baiklah," jawabnya kemudian.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Cyara yang tahu jika di benak Vian pasti  ada banyak pertanyaan yang mungkin ingin diajukan pria itu.


Vian menggeleng, bukan tidak ada yang ingin dia tanyakan, tapi Vian hanya merasa tidak berhak harus bertanya tentang masalah rumah tangga orang lain walaupun itu kakaknya sendiri.


Cyara tersenyum, dia tahu bahwa sepertinya Vian bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, melihat dari diamnya  Vian sedari tadi.


"Vian!" Panggil Cyara lagi.


"Iya Kak."


"Bisakah kamu ceritakan sesuatu padaku? Ceritakan hubungan Vier dan Sheira dulu," ucap Cyara yang membuat Vian spontan mengerem mobilnya mendadak.


"Kamu tahu aku adalah Kakak Sheira kan? Aku hanya ingin tahu tentang mereka."


Vian melirik Cyara yang kini tersenyum saat mengatakan itu, tapi Vian juga tahu  jelas, ada luka di balik senyuman Cyara itu.


"Ceritakanlah Vian, agar aku bisa bersikap menghadapi keduanya kelak," tambah Cyara dalam hati.


Cyara terdiam lalu tersenyum miris mendengar cerita Vian, dia kini tahu, bahwa Vier masih sangat mencintai Sheira, dan Cyara sama sekali tidak ada artinya buat Vier.


"Apa Kak Vier menyakiti Kak Cya? Apa Kak Vier sampai saat ini masih bertemu dengan Kak Sheira?"


"Hah, oh tidak, aku tadi hanya bertanya saja," jawab Cyara tapi hal itu tidak membuat Vian percaya begitu saja.


"Sudah sampai, makasih ya," kata Cyara lalu langsung turun dari mobil Vian begitu sampai di depan rumahnya.


"Kak Cya!"


Cyara yang hendak melangkah mendadak berhenti dan menoleh saat Vian memanggilnya.


"Kenapa?" Tanya Cyara karena bukannya berbicara, Vian justru diam saja.


"Jika Kak Cya butuh sesuatu, kakak katakan saja padaku, apapun itu aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu Kakak," ucap Vian serius, dia kemudian terdiam dan kembali berkata, "Walaupun mungkin aku akan menentang kakakku sendiri."


Cyara tersenyum dan mengangguk, lalu dirinya segera masuk ke dalam rumah, begitu Vian sudah kembali melajukan mobilnya.


*


*


Ketika sedang berkumpul dengan keluarganya, tiba-tiba terdengar dering ponsel Vier. Vier mengambil ponselnya dan melihat bahwa nama Sheira lah yang saat ini tengah menghubunginya. Vier buru-buru keluar setelah berpamitan pada semua keluarganya, tidak ingin keluarganya tahu jika yang menghubunginya Sheira, Vier menutup rapat ruangan Vira. Vier segera menjawab panggilan itu, dan yang terdengar adalah suara Sheira yang lemah, wanita itu bilang jika dirinya kini sakit dan hanya sendirian. Vier awalnya tidak peduli, dia bahkan hampir mengakhiri panggilan tapi saat mendengar teriakan Sheira dia buru-buru memutus panggilan, masuk ke dalam ruangan Vira dan berpamitan pada seluruh keluarganya jika dia ada urusan dan harus pergi saat itu juga. Pandangan Vier tertuju pada Cyara yang hanya diam saja bahkan tidak menatapnya, tanpa berpamitan pada Cyara, Vier pun langsung melangkahkan kakinya pergi. 


Vier berjalan tergesa-gesa menuju parkiran, begitu sampai di mobilnya, Vier segera masuk dan melajukan mobilnya sambil menghubungi Sheira kembali, menanyakan keberadaannya.


Vier begitu panik, saat Sheira tidak kunjung menjawab panggilan teleponnya, tapi Vier tidak menyerah, hingga sampai kesekian kalinya barulah Sheira menjawabnya. Dia menyebutkan alamat, tapi tak lama, panggilan pun tiba-tiba terputus. Vier semakin khawatir, dia mempercepat laju mobilnya, berharap agar segera sampai di alamat yang tadi Sheira katakan.


Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 30 menit kini hanya Vier tempuh selama 15 menit. Vier segera turun saat tiba di sebuah gedung tinggi, berlari cepat dan segera masuk lift yang untungnya saat itu masih terbuka. Vier gelisah menunggu lift yang terasa lama mengantarkannya ke tempat tujuan. Dan saat bunyi lift terbuka, Vier langsung berlari, menyusuri lorong mencari nomor kamar Sheira.


Vier memencet bel terus menerus, saat tiba di depan tempat tinggal Sheira saat ini. Tidak juga dibuka, Vier kembali menghubungi Sheira, berharap wanita itu menjawabnya. Satu kali, dua kali, dan yang ketiga kalinya baru pintu itu terbuka dan Vier segera masuk. Gelap itu yang pertama kali Vier lihat, hingga tiba-tiba pria itu tampak terkejut saat terdengar suara seseorang mengunci pintu bersamaan dengan lampu yang menyala dan bisa Vier lihat bahwa Sheira lah yang melakukannya. Bahkan wanita itu kini mencabut kuncinya, Sheira berdiri bersandar di pintu, menyembunyikan tangannya ke belakang tubuh, seolah tidak mengizinkan Vier meninggalkannya.


"Kau!" Vier berbalik dan menatap tajam wanita yang kini tampak baik-baik saja berdiri tepat di hadapannya.


"Vier, maaf aku terpaksa melakukan ini, aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar bisa bertemu kamu, jadi aku tadi berbohong, biar kamu datang ke sini," ucap Sheira lirih.


"Buka pintunya sekarang Sheira!"


"Tidak akan, aku sudah bersusah payah membawamu kesini, jadi aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja."


"Sheira!" Teriak Vier.


"Tidak."


Mendengar perkataan Sheira yang tidak mau membuka pintunya, Vier pun mencoba untuk mengambil kunci yang disembunyikan Sheira di belakang tubuhnya, hingga posisi Vier saat ini, sudah seperti sedang memeluk Sheira.


Vier tertawa menyeringai, akhirnya dia bisa merebut kuncinya, Vier menyingkirkan tubuh Sheira dari hadapannya, membuka pintu kemudian melangkah pergi, tapi belum jauh Vier melangkah, wanita itu langsung menahan Vier agar tidak pergi dengan memeluk pria itu dari belakang.


"Lepaskan Sheira!" Ucap Vier tapi wanita yang ternyata Sheira tidak mau melepaskan pelukannya.


"Vier aku merindukanmu," kata Sheira kemudian membalik badan Vier, Sheira menarik kemeja pria itu hingga wajah Vier begitu dekat dengan wajahnya.