
"Kenapa?" Tanya Cyara hendak mengambil ponsel Vier tapi Vier lebih cepat mendahuluinya.
"Tidak apa-apa, kamu tunggu disini," Vier keluar untuk menelpon, dirinya merasa lega saat tahu semuanya baik-baik saja.
Sheira melarikan diri dan keberadaannya sampai saat ini belum ditemukan. Vier harus segera membicarakan hal ini dengan Alno dan Damian. Tapi dia tidak bisa meninggalkan istrinya sendiri, dia meminta Vian untuk datang dan menemani Cyara. Setelah Vian setuju, Vier pun mengatakan niatnya pada sang istri.
"Sayang, aku harus pergi, hmm hanya sebentar, ada masalah mendesak di perusahaan, aku sudah menghubungi Vian untuk datang kesini menemanimu, setelah itu aku akan segera kembali," ucap Vier pada istrinya.
"Tidak perlu meminta Vian kesini, nanti akan merepotkannya, lagian aku disini sendiri juga tidak apa-apa. Banyak perawat yang akan membantu jika aku butuh sesuatu."
"Tidak apa-apa, Vian juga tidak merasa direpotkan. Aku akan pergi setelah Vian datang kesini," ucap Vier yang kemudian mengirim pesan kepada kakaknya dan Davian, mengajak mereka bertemu.
"Ya sudah kita lanjutkan makan," kata Vier yang berpura-pura, seolah semua baik-baik saja.
Cyara yang tidak tahu apa-apa hanya menurut, bahkan wanita itu tidak curiga sama sekali. Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Ibu Cyara juga tertidur karena efek obat yang belum lama disuntikkan pada selang infus.
Tak lama, Vian datang bersama istrinya. Karena dia juga tidak mungkin meninggalkan istrinya sendiri.
Vier berpamitan dan mencium kening Cyara, sebelum akhirnya pria itu menitipkan Cyara kepada adiknya dan dia pun melangkah pergi.
Vier kembali menghubungi kakaknya dan kali ini, akhirnya dia mendapatkan jawaban. Tapi kakaknya tidak bisa, anaknya sedang sakit, dan dia tidak bisa meninggalkan Vira.
Vier menutup ponsel kemudian mencoba menghubungi seseorang, Alma, kata kakaknya Alma yang akan membantunya. Dan kebetulan, Alma sedang ada di markas, hingga Vier pun memutuskan untuk bertemu disana saja.
Vier menghubungi Damian dan mengirim lokasi tempat mereka akan bertemu nanti, setelah itu, barulah Vier berangkat.
Vier datang bertepatan Damian yang juga baru saja sampai.
"Ayo!" Ajak Vier dan keduanya kini melangkah bersama memasuki markas milik Alno.
"Sebelah sini!" Vier menunjukkan jalan, dia sudah beberapa kali datang kesana, jadi tahu ke arah mana, dia harus melangkah.
Damian hanya mengangguk dan mengikuti Vier kemanapun. Hingga seorang pria datang menghampirinya.
"Tuan Anda sudah datang? Silahkan Tuan, Alma sudah menunggu di dalam," ucap pria itu.
Vier hanya mengangguk, dan pria itu pun membukakan pintu untuk mereka.
"Alma, Bobby, Tuan Vier sudah datang," ucapnya melapor.
Pria itu kemudian menyuruh Vier dan Damian masuk, lalu dia berpamitan, menutup pintu dan pergi dari sana.
"Kemarilah Kak!" Alma berbalik menatap pria itu.
"Kamu!"
"Kau!"
Ucapnya kedua bersamaan.
Vier menatap Alma dan Damian bergantian, "Kalian saling mengenal?" Tanyanya.
"Tidak!"
"Iya,"
Lagi-lagi keduanya menjawab bersama tapi jawaban kali ini berbeda.
Alma mengalihkan pandangan, kemudian menunjukkan beberapa rekaman cctv dari rumah sakit tempat Sheira dirawat.
"Jadi maksud kamu, lokasinya terakhir di tempat ini? Setelah itu, kamu tidak bisa menemukannya lagi?"
"Sedang aku usahakan Kak, tapi mungkin perlu waktu, karena sepertinya dia tahu bagaimana menghindari titik yang bisa menemukannya."
"Kakak minta tolong kamu selalu pantau dia, dan juga, Kakak ingin kamu mengawasi Cyara, karena jika kakak menyuruh orang lain, Cyara pasti akan curiga jika telah terjadi sesuatu.
"Baiklah Kak, Kakak tidak perlu khawatir, lalu bagaimana dengan Rey dan Rain?"
Alma mengangguk-angguk mengerti.
"Jika ada kabar terbaru, aku pasti akan hubungi Kak Vier, dan sepertinya kita juga harus menyusun rencana Kak, apa yang harus kita lakukan selanjutnya."
"Kakak masih memikirkan hal itu, jika kakak sudah menemukannya, Kakak pasti akan memberitahumu, dan jika kalian ada pendapat, kalian juga bisa katakan padaku, aku pasti akan mempertimbangkannya," ucap Vier menatap Alma dan Bobby.
"Terima kasih Al, kamu memang mirip seperti paman Jason," ucap Vier.
"Tentu saja, aku ingatkan Kak Vier, kalau-kalau Kakak lupa, karena paman Jason adalah ayahku, jadi wajar saja bukan jika kita mirip," canda Alma menjawab ucapan Vier.
"Ya, ya, tentu saja aku tidak akan melupakannya, adik Ipar."
"Kak, aku bukan adik iparmu!" Alma mendengus mendengar ucapan Vier.
"Kamu belum bisa juga melupakannya?" Tanya Vier yang kini mulai serius.
Alma hanya mengedikan kedua bahunya, "Aku tidak ingin membahasnya," jawab Alma yang kemudian memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Alma, maaf jika perkataan kakak menyakitimu," kata Vier yang jadi merasa bersalah, karena sudah mengungkit hal itu.
Alma berbalik dan tersenyum, "Tidak masalah," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
"Tunggu, namanya Alma, bukan Cinta?" Gumam Damian.
"Jadi kamu membohongiku?" Tambah Davian berteriak.
Vier dan Bobby menatap Davian, Alma yang sudah di ambang pintu menoleh ke belakang.
"Aku bukan penipu Tuan, aku tidak membohongi Anda, dan pertanyaan bo*do apa yang baru saja Anda tanyakan? Hmm sudahlah tidak penting, karena setelah ini, kita juga tidak akan pernah bertemu lagi," setelah mengatakan itu, Alma pun kini benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
"Dia…"
"Sudahlah, aku juga akan pergi," Vier menepuk bahu Damian dan berlalu pergi, dia tidak tenang meninggalkan istrinya terlalu lama.
*
*
"Kenapa Kak? Apa Kakak butuh sesuatu?" Tanya Aulia yang melihat Cyara berjalan mondar-mandir sedari tadi, di dalam ruangan itu hanya ada Aulia, dan Cyara serta ibu Cyara yang masih terlelap. Vian tadi pergi keluar untuk menelpon, dan belum juga kembali padahal pria itu, sudah keluar cukup lama.
"Hmm tidak, hanya saja kenapa Vier belum juga kembali, padahal dia bilangnya hanya sebentar," ucapnya.
"Kak Cya duduk saja, sebentar lagi, Kak Vier juga akan kembali, lagian kasihan anak Kakak, dia pasti pusing, karena maminya mondar-mandir terus," kata Aulia bercanda.
"Bukan kamu nih yang pusing?" Tanya datar Cyara menatap Aulia.
Wajah Aulia panik, saat mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti dari Cyara, sungguh niatnya hanya bercanda, tidak ada maksud lain.
"Hah? Oh bukan kok Kak? Bukan, maaf bukan maksudku untuk berbi…"
"Hahaha, tidak perlu tegang seperti itu, kakak tadi juga cuma bercanda," kata Cyara yang kini berjalan mendekat dan duduk di samping adik iparnya itu.
"Kak Cya, aku kira tadi beneran tahu," kata Aulia yang tadi sempat takut jika Cyara tersinggung akan ucapannya.
"Hehe, maaf ya, kakak hanya ingin mengerjai kamu saja." Ucap Cyara menatap Aulia.
"Tapi tidak lucu."
"Makanya Kakak minta maaf," ucap Cyara yang kini duduk bersandar dan menatap lurus ke depan.
"Andai saja, Kakak dan adik Kakak bisa akrab dan bercanda seperti ini, rasanya pasti akan menyenangkan, tapi rasanya semua itu, tidak akan pernah terjadi," ucap Cyara sendu.
Aulia yang tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa memberi Cyara pelukan, berharap pelukannya membuat Cyara jadi lebih baik.