
Kini Vier, Cyara dan Damian sedang duduk di kantin rumah sakit, Cyara mengajak kedua pria itu kesana, karena Cyara tidak ingin ibunya bertemu dengan Damian dulu.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Kakak? Bahkan Kakak dengar kamu sampai pingsan kemarin?" Kata Damian menatap adiknya itu.
"Cih, bukankah biasanya Tuan Damian lebih tahu segalanya," kata Vier memotong percakapan keduanya, setelah tadi hanya diam saja.
Damian melirik Vier sekilas, kemudian kembali menatap Cyara.
"Lalu bagaimana keponakan uncle? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Damian tidak mempedulikan apa yang Vier katakan tadi.
Vier hanya memutar bolanya malas, mendengar Damian yang terus mengajak Cyara mengobrol.
"Anakku baik-baik saja kak, Kakak tidak perlu khawatir," jawab Cyara dengan menyunggingkan senyum, meyakinkan bahwa dia memang baik-baik saja.
"Syukurlah Kakak lega mendengarnya," setelah berucap seperti itu, barulah Davian menatap Vier, tapi tatapan pria itu terlihat seperti tidak bersahabat.
"Dan kau, baru saja Cyara ikut denganmu satu hari, Cyara sudah kau buat pingsan. Jika sampai hal ini terjadi lagi, aku tidak segan-segan untuk kembali merebut Cyara darimu," ancam Damian tegas.
"Sudahlah Kak, lagian ini juga bukan salah Vier, Vier sudah berusaha untuk menjagaku," ucap Cyara yang tentunya membela sang suami.
Kini giliran Damian yang mendengus, "Kamu selalu saja membela pria ini," ucapnya kesal.
Dan Vier yang mendengar itu hanya bisa mengulum senyumnya. Dia senang mendengar Cyara yang membelanya di depan kakak wanita itu. Vier tidak sabar untuk menghadiahi ciuman di seluruh wajah istrinya.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Sela Damian yang tidak sengaja melihat Vier senyum-senyum sendiri saat tadi menatapnya.
Mendengar itu, Cyara pun menoleh menatap suaminya seakan bertanya "kenapa?"
Vier hanya menggeleng. Cyara mengedikan bahu, kemudian menatap ponselnya saat mendengar bunyi pesan masuk.
"Vier, Kak, aku akan kembali dulu, kalian lanjutkan saja ngobrolnya," pamit Cyara saat mendapatkan pesan dari mertuanya bahwa Ibu Ken akan datang menjenguk ibunya.
"Aku ikut," ucap Vier yang tidak ingin berpisah dengan sang istri walau hanya sebentar.
"Kamu mengobrol saja dengan Kak Damian, kalian belum pernah mengobrol dengan status sebagai adik iparnya bukan?"
Vier menatap Damian dan membenarkan perkataan sang istri, dan dia pun akhirnya mengangguk, bagaimanapun ada yang ingin dia tanyakan juga pada pria yang ternyata adalah kakak dari istrinya.
Setelah melihat kepergian Cyara, Damian mulai membuka suaranya, kini dia tampak serius menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, benarkah laporan yang diberikan oleh anak buahnya tentang kecelakaan yang hampir saja terjadi kepada Rey dan Rain.
Vier pun menjelaskan semuanya pada Damian tak terlewat sedikitpun, Damian hanya mengepalkan kedua tangannya erat di atas meja, saat tahu ada yang berniat mencelakai keluarga yang dia punya.
"Dimana wanita itu? Aku harus memberi pelajaran kepadanya?" Geram Damian.
Vier menyebut keberadaan Sheira sekarang, dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengannya, dia sudah berkali-kali berbicara baik-baik sama dia, tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkannya, hingga nekat melakukan perbuatan yang Vier sama sekali tidak menduganya. Vier menyadari jika Sheira yang dia kenal sekarang sangat berbeda dengan Sheira yang dulu.
"Kamu yakin dia beneran tidak waras?" Tanya Damian menatap Vier tidak yakin.
Vier mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu?"
*
*
"Kenapa melamun?"
Cyara yang sedari duduk di bangku samping ranjang ibunya bangkit menghampiri Vier dan duduk di sampingnya, Cyara perhatikan Vier sejak tadi hanya melamun sehabis pulang dari bertemu kakaknya, apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi, Cyara bertanya-tanya dalam hatinya.
Merasa diajak berbicara, Vier menoleh, tersenyum dan menggeleng, "Tidak ada apa-apa," ucap Vier yang tidak ingin istrinya banyak pikiran dan berakhir pingsan seperti kemarin.
"Tapi kenapa kamu melamun?"
"Tentang aku yang ingin tetap bekerja?" Cyara menghela nafas dan menjawab.
"Baiklah jika kamu memang tidak mengizinkanku bekerja lagi," kata Cyara sedih, sebenarnya dia masih ingin bekerja, selagi dirinya masih mampu.
"Tidak, aku berubah pikiran, aku mengizinkan kamu untuk tetap bekerja, tapi syaratnya kamu tidak boleh kelelahan dan ingat, kamu harus selalu ada di samping aku," ucap Vier agar bisa selalu memantau istrinya dan memastikan sang istri dalam keadaan aman. Sedangkan anak-anak, dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk menjaganya. Vier tidak ingin sampai lengah, dia antisipasi semua itu takut apa yang dikatakan kakak iparnya benar.
Vier jadi teringat pembicaraan dengan Damian tadi sebelum dirinya memutuskan untuk kembali ke ruang rawat ibu mertuanya.
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika Sheira pura-pura agar dia tidak ditahan? Bagaimana jika sebenarnya dia menyusun rencana untuk kembali melukai Cyara dan anak-anak kalian?"
Vier terdiam, membenarkan apa yang Davian katakan, awalnya nanti dia akan bertemu dengan Alno membicarakan mencari bukti-bukti Sheira bersalah, dan memasukkannya ke dalam tahanan, tapi Sheira yang tidak waras, bisa saja merencanakan sesuatu sebelum Vier mengumpulkan bukti-bukti itu.
"Itu tidak boleh terjadi, karena aku akan selalu menjaga mereka."
Setelah mengatakan itu, Vier menelpon Bobby orang kepercayaan Alno untuk mengirim beberapa orang untuk berjaga di rumah juga selalu mengawasi keluarganya, termasuk sekolah Rey dan Rain.
Begitu selesai menelpon, Vier berpamitan untuk segera kembali, dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya, apalagi dia tidak ada di sampingnya.
"Kenapa melamun lagi?"
"Hah? Oh tidak kok," kata Vier berkilah.
"Mama tadi mampir kesini, mengantarkan makanan," Cyara menunjuk makanan yang ada di atas meja dengan dagunya.
Vier langsung menatap sang istri, "Mama kesini? Sama siapa?" Tanya Vier langsung bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu langsung panik seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" Cyara kini ikut bangkit dari duduknya merasa heran dengan suaminya. Padahal mama mertuanya sudah bolak-balik ke rumah sakit.
Vier yang sadar menunjukkan kepanikannya, kini mencoba mengatur nafas, agar terlihat tenang kembali, entah kenapa saat mendengar keluarganya, Vier jadi sensitif dan merasa ketakutan.
"Mama sama siapa?" Tanya Vier setelah dia kembali tenang.
"Sama Cinta," jawab Cyara dan hal itu membuat Vier bernafas lega.
"Ya sudah ayo kita makan, kata kamu Mama sudah membawakan untuk kita," Vier mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, aku ambil dulu."
Vier mencegah memegang kedua bahu istrinya dan memintanya untuk duduk.
"Biar aku saja, aku tidak mau kamu kelelahan," ujar Vier.
"Tapi cuma kesitu saja, aku…"
"Sstt!" Vier menempelkan jari telunjuk di depan bibir istrinya, tidak ingin dibantah.
"Cukup duduk saja oke, biarkan suamimu ini yang melakukannya."
Cyara hanya bisa mengangguk, dia tersenyum kala melihat Vier mengambil makanan dan menyiapkan untuknya. walaupun sepele, tapi Cyara merasa senang diperhatikan seperti itu.
"Aku suapin, aaa…" kata Vier menyuapkan sendok berisi makanan di depan mulut sang istri.
Saat Cyara membuka mulut, Vier langsung menyuapkannya, lalu meletakkan sendok itu, saat mendengar ponselnya berbunyi. Vier mengernyit melihat nomor yang tidak dikenal, dia meletakkan ponselnya dan kembali menyuapi istrinya, tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi, terpaksa setelah beberapa kali tetap menghubunginya, akhirnya Vier pun menjawabnya, seperti yang istrinya katakan, mungkin saja penting.
"Halo," ucap Vier.
Seseorang di seberang telepon memperkenalkan dirinya dan memberi kabar yang sangat mengejutkan Vier, sampai Vier menjatuhkan ponselnya.