
"Ayo tidur!" Vier melepaskan pelukannya dan mengajak Cyara menuju ke ranjangnya.
"Vier aku mau mandi dulu," kata Cyara melepaskan tangan Vier dari pinggangnya.
"Baiklah," Vier pun mengangguk membiarkan Cyara pergi.
Cyara menuju lemari, mengambil pakaian gantinya dan membawa ke kamar mandi.
Begitu sampai di dalam kamar mandi, Cyara segera menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang terasa lengket.
Setengah jam menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, kini Cyara segera keluar mengenakan pakaian tidurnya.
"Vier ngapain kamu disitu?" Tanya Cyara yang melihat Vier justru berbaring di kasurnya. Cyara mengira jika Vier sudah pulang sejak tadi karena sama sekali tidak mendengar suaranya.
Vier yang sedang sibuk dengan ponsel, menghentikan kegiatannya dan menoleh menatap Cyara, wanita itu kini sudah terlihat lebih segar.
"Tentu saja mau tidur," ucap Vier meletakkan ponsel di atas meja, membaringkan tubuhnya dengan posisinya miring ke samping membelakangi Cyara.
"Vier tapi kamu tidak boleh tidur disini!"
"Vier!" Bukannya menjawab Cyara pria itu kini justru terlihat memejamkan matanya.
Tidak ingin berdebat dengan Vier yang pasti akan menguras tenaga, Cyara menarik bantal dan selimut, dirinya akan tidur di sofa malam ini daripada membangunkan macan yang sedang tidur, tapi Vier dengan cepat menarik selimut yang tadi diambilnya.
Cyara menoleh dan menatap tajam Vier, "Lepaskan!"
"Tidak,"
"Vier aku lelah, aku tidak ingin berdebat," ucap Cyara pelan.
"Aku juga tidak ingin berdebat Cyara, dan kalau kamu memang lelah, kamu tidurlah disini!"
"Vier!"
"Aku janji tidak akan macam-macam," Vier menarik bantal yang sedang Cyara peluk, kemudian meletakkan kembali ke tempat semula.
"Cepat sini tidur!" Vier menepuk sisi kosong di sampingnya.
Cyara menghentakkan kakinya dan terpaksa menuruti pria itu.
Cyara merebahkan tubuhnya di samping Vier, Vier berbalik hingga posisinya menghadap Cyara.
Cyara yang kesal karena Vier terus memandanginya, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Vier!" Kesal Cyara karena Vier menarik selimutnya.
Cyara pun tersenyum, hingga satu, dua,
Bruk
"Akh! Akh!"
"Cyara!" Teriak Vier yang jatuh dari ranjang karena Cyara menendangnya.
"Kenapa kamu mendorongku?" Marah pria itu.
"Oops maaf aku tidak sengaja," kata Cyara menutup mulutnya pura-pura terkejut.
"Kau!" Vier mencoba bangun.
"Hoam! Hmmm aku sangat mengantuk, aku mau tidur, kalau kau mau tidur sebaiknya mandi dulu," kata Cyara merubah posisi tidurnya membelakangi Vier.
"Cyara kau!" Vier yang hendak membalas Cyara menghela nafasnya saat melihat wanita itu kini sudah tidur, terdengar dari suara nafasnya yang mulai teratur.
Vier kemudian berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri seperti apa yang tadi Cyara katakan.
"Apa yang kau pikirkan Vier? Cyara, kenapa kamu selalu menggangguku?" Vier mengguyur seluruh tubuhnya mencoba melupakan Cyara yang terus mengganggu pikirannya.
Vier keluar dari kamar mandi terlihat lebih segar, berjalan mendekat ke arah ranjang, Vier melihat Cyara yang terlelap dalam tidurnya. Dibenarkannya selimut yang tersingkap, kemudian Vier pun melangkah keluar dan pergi menuju kamar anak-anak. Vier akan lebih baik jika tidur bersama mereka.
*
*
Persiapan pernikahan Cyara dan Vier hampir semua sudah dilakukan, semuanya berjalan lancar dan tinggal menunggu hari H saja.
Sikap Vier berubah, itulah yang Cyara rasakan, Vier berubah menjadi lebih dingin dengannya, jarang berbicara, dan Cyara tidak tahu kenapa Vier tiba-tiba berubah secepat itu sehari setelah mereka jalan-jalan.
"Sebenarnya ada apa denganmu Vier? Apa inilah diri kamu sesungguhnya terhadapku?" Cyara menatap Vier yang sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama anak-anaknya, pria itu tampak tertawa lepas, dan saat itulah yang paling Cyara suka.
"Sayang, ayo belajar terus tidur, nonton televisinya besok lagi ya," Cyara datang menghampiri ketiga orang itu.
Dan tawa Vier seketika berhenti, hal itu sungguh membuat Cyara semakin yakin jika Vier memang mengabaikannya.
"Tapi Mi,"
"Kalian belajar dulu saja sana, Papi akan pulang sekarang," pamit Vier pada Rey dan Rain, pria itu mencium kening keduanya bergantian.
"Tapi Papi besok kesini lagi kan?" Tanya Rey menahan tangan Vier yang hendak berlalu.
Vier tersenyum dan mengangguk, "Papi pulang dulu ya," ucapnya dan berjalan keluar, Cyara hanya bisa menatap punggung Vier yang semakin menjauh.
"Mami kok melamun? Ayo katanya belajar!" Kata Rain menarik tangan Cyara menuju kamarnya.
Sementara itu, Vier yang kini berada di depan rumah Cyara, tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari rumah itu.
Vier mengamatinya cukup lama, hingga itu baru dia masuk ke dalam mobilnya.
"Apa benar yang Sheira katakan? Jika benar, apa tujuanmu menyembunyikan itu dariku Cyara? Tau pun aku tidak peduli, karena apa? Karena aku memutuskan menikahimu hanya karena untuk membalaskan rasa sakit hatiku, aku sungguh tak peduli dengan semua itu." Vier mengepalkan tangannya dan memukul setir kemudi.
"Kalian ternyata sama saja, kau dan Sheira sama sekali tidak ada bedanya. Bagaimana tidak sama, bagaimanapun mereka adalah kakak dan adik," ucap Vier pada dirinya sendiri.
Vier menelungkupkan wajahnya pada setir, dirinya teringat kemarin saat bertemu dengan Sheira.
"Vier ada yang ingin aku katakan!" Sheira menarik tangan Vier, setelah keduanya melakukan pertemuan untuk peluncuran produk baru yang sedang perusahaan Vier garap.
"Apalagi Sheira, kurasa kita sudah tidak ada urusan," Vier menepis tangan Sheira.
"Ini penting dan kau perlu tahu," Sheira kembali menarik tangan Vier dan membawanya pergi dari sana.
"Cepat katakan! Ada apa?"
"Kak Ara kamu tidak tahu apapun tentangnya bukan?"
"Apa maksudmu? Sudahlah mau aku tahu tentangnya atau tidak ku rasa ini semua bukan urusanmu," Vier pergi meninggalkan Sheira begitu saja.
"Kak Ara belum pernah menikah, apa kau tahu itu?"
Ucapan Sheira tersebut membuat Vier spontan menghentikan langkahnya.
"Kak Ara dia tidak seperti yang kau dan keluargamu pikirkan Vier, dia bukan wanita baik-baik, kau tahu kekasihnya saat itu sampai meninggalkannya, karena dia ketahuan berselingkuh dan mengandung anak selingkuhannya," Sheira berjalan mendekat menghampiri Vier memeluk pria itu dari belakang.
"Aku tahu Vier, aku tahu kamu masih mencintaiku, kamu jadi seperti ini karena kamu begitu mencintaiku, iya kan? Jadi Vier, ayo kita mulai semuanya dari awal, ayo Vier, aku akan meninggalkan Ken untukmu, karena aku juga masih sangat mencintaimu. Dan satu lagi Vier aku akan katakan kebenarannya, aku sama Ken…"
"Cukup Sheira, hentikan omong kosongmu itu, aku tidak akan semudah itu mempercayai ucapanmu lagi," Vier melepaskan tangan Sheira yang melingkar di perutnya dan pergi meninggalkan wanita itu.
"Vier tunggu Vier! Vier ada yang belum aku sampaikan, Vier!"
Vier terus berlalu tidak peduli jika saat ini Sheira berteriak-teriak memanggil namanya.