Love Revenge

Love Revenge
Bab 31



"Benarkah sayang?" Tanya Jasmine memastikan bahwa yang di dengarnya memang tidak salah.


"Iya Ma, Vier serius," jawab Vier dengan wajah seriusnya.


Cyara sepertinya masih meyakinkan pendengarannya, sementara Stevano menatap putranya dan Cyara bergantian.


Jasmine dan Liora saling pandang sambil melempar senyuman. Tidak dipungkiri jika kedua wanita itu kini terlihat bahagia mendengar perkataan Vier baru saja, tapi tidak dengan Stevano, Stevano bukan tidak setuju jika putranya dengan Cyara, tapi Stevano meragukan ucapan putranya, tidak ada perasaan bahagia yang tergambar baik dari wajah sang putra atau pun wanita yang akan menjadi mempelainya, seperti pasangan pada umumnya yang menyatakan bahwa mereka akan menikah.


"Maaf Bibi, Paman, aku permisi dulu, ada yang ingin aku bicarakan pada Vier," ijin Cyara menarik tangan Vier menjauh dari sana.


"Iya sayang pergilah, bagi pasangan yang akan menikah, memang harus banyak-banyak hal yang harus dibicarakan," jawab Liora yang akhirnya mendapat berita baik dari keponakannya yang satu itu. 


"Vier, sebenarnya apa yang kau mau?" Tanya Cyara yang langsung menghempaskan tangan Vier begitu saja, ketika Cyara sudah membawa pria itu menjauh dari keluarganya.


Sebenarnya Cyara bisa saja menolak apa yang Vier katakan tadi di depan keluarga pria itu, tapi entah kenapa jauh di lubuk hati Cyara yang paling dalam, ada yang mendorongnya agar tidak mengatakan itu, dan setelah berperang dengan batinnya, akhirnya Cyara memutuskan untuk membawa Vier pergi menjauh dan membicarakannya baik-baik.


"Apalagi? Apa yang aku katakan tadi kurang jelas? Apa aku harus mengulangnya dua kali, tiga kali atau berkali-kali?" Tanya Vier menatap Cyara yang tidak bisa berkutik melihat tatapan Vier saat ini.


"Kenapa? Kasih aku satu alasan, agar aku yakin bisa menikah denganmu," kata Cyara pada akhirnya setelah berpikir cukup lama.


"Demi Rey dan Rain, aku sangat menyayangi mereka," jawab Vier yakin, bahkan Cyara tidak melihat adanya kebohongan di mata pria itu.


Satu alasan yang membuat Cyara benar-benar goyah, menyayangi kedua putranya, disaat Vier baru mengenal kedua putranya, entah kenapa membuatnya terharu. Banyak yang membenci putranya bahkan sebelum lahir, bahkan ibunya sendiri, tapi Vier yang bukan siapa-siapanya justru dengan lantang mengatakan bahwa dia menyayangi putranya, apalagi bahkan Cyara sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan ayah kandung kedua anaknya terhadap mereka.


"Baiklah, aku mau menikah denganmu, tapi tolong, jangan pernah bikin Rey dan Rain kecewa, jujur aku tidak tahu pasti apa alasanmu sebenarnya ingin menikah denganku, karena aku tahu kalau kamu tidak benar-benar menyukaiku, aku tahu itu dengan jelas, dan aku menerimamu karena kita punya alasan yang sama, yaitu karena menyayangi Rey dan Rain, itu saja sudah cukup untukku dan aku minta agar kamu tidak menyakiti keduanya kelak, di luar alasan kamu yang sesungguhnya. Aku hanya minta kau akan terus menyayangi mereka terlepas dari apa yang akan kau tahu sebenarnya suatu saat nanti," jawab Cyara setelah mencoba meyakinkan keputusannya.


"Baiklah aku setuju, lebih baik kita kembali sekarang, kita sudah terlalu lama bicara," ucap Vier yang kemudian memasukkan kedua tangannya ke kantong celana dan berlalu pergi meninggalkan Cyara.


Cyara menghela nafasnya berat, "Semoga ini keputusan terbaik yang aku ambil, ini demi kebahagian kalian sayang, Mami lakukan ini semua demi kebaikan kalian, iya ini demi Rain dan Rey," Cyara bergumam memastikan bahwa keputusan yang diambilnya tidak salah. Setelah memantapkan pilihannya Cyara bergegas menyusul Vier untuk kembali menemui keluarga pria itu.


Dan saat berjalan mendekat, samar-samar Cyara mendengar namanya di sebut-sebut oleh wanita yang tadi dipanggil Vier, Bibi. Setidaknya Cyara tahu bahwa keluarga pria itu, sepertinya memang tulus menyayanginya, terutama anak-anaknya."


"Itu dia!" 


Cyara mendengar suara Vier yang ternyata menunjuk kedatangannya.


Wanita yang dipanggil Bibi oleh Vier mendekat dan langsung mendekat ke arah Cyara.


"Ayo sayang ikut Bibi, Bibi akan buatkan gaun pengantin yang cantik untukmu, sekarang kita ukur dulu ya," ucap Liora mengajak Cyara ke ruangannya.


"Bibi, Vier tinggal ya, biarkan Cyara disini, nanti kalau sudah selesai aku akan jemput saja," pamit Vier yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban bibinya Liora.


"Sudah tidak apa-apa Bibi, hmm Vier memang harus pergi, tadi ada rapat yang memang ditunda, karena Vier harus mengantarkan Cyara kesini," ucap Cyara menahan tangan Liora agar tidak perlu mengejar Vier.


"Tapi sayang…"


"Tidak apa-apa Bi," jawab Cyara menggenggam tangan Liora meyakinkan wanita itu, bahwa dirinya baik-baik saja.


"Benar sayang tidak apa-apa?" Tanya Liora memastikan sekali lagi dan hanya mendapat jawaban anggukan dari Cyara.


"Ya sudah kita ke ruangan mama Vier, kamu bisa pilih, desain mana yang kamu inginkan," ajak Liora ke ruangan Jasmine.


Cyara hanya bisa mengikuti langkah Liora yang masuk ke sebuah ruangan.


"Oh ya Bi, mama dan papa Vier kemana kok tidak kelihatan?" Tanya Cyara yang memang tidak melihat lagi keberadaan orang tua Vier  setelah tadi dirinya berbicara.


"Oh, Kak Vano dan Kak Olive tadi buru-buru pergi, katanya ada urusan mendadak," jawab Liora yang kemudian membawa gambar untuk diperlihatkan pada Cyara.


"Ini sayang, beberapa contoh gaun pengantin, coba kamu lihat-lihat dulu nanti kamu bisa katakan kepada Bibi, desain seperti apa yang kamu inginkan ya, oh ya sepertinya nanti kamu akan Bibi tinggal sendiri, tidak apa-apakan? Soalnya nanti lima belas menitan lagi, Bibi harus menemui klien," ujar Liora berpamitan.


Cyara tersenyum, "Tidak apa-apa Bi, Bibi bisa lanjutkan pekerjaan Bibi," katanya penuh pengertian.


"Baiklah kamu lihat-lihat dulu ya, Bibi tinggal," pamit Liora.


"Iya Bi," jawab Cyara yang kemudian memandangi beberapa desain yang ada di tangannya.


"Bagaimana sayang? Apa kamu suka?" Tanya Jasmine yang baru saja datang dan langsung masuk ke ruangannya, setelah bertanya kepada Liora dimana keberadaan Cyara.


"Eh Bibi," kata Cyara yang terkejut saat melihat Jasmine tiba-tiba ada di sampingnya.


"Kok manggilnya  masih Bibi, Mama dong sayang, kan sebentar lagi kamu akan jadi menantu Mama," kata Jasmine meralat ucapan Cyara.


"Iya Bi, eh Mama maksudnya," jawab Cyara gugup.


"Bagaimana sayang? Ada yang kamu suka dari beberapa gaun ini?" Tanya Jasmine yang ikut melihat beberapa gambarnya.


"Hmm suka semua sih Bi, maksudku Ma, jadi Cya bingung mau memilih yang mana, apalagi ini baru pertama kalinya, Cya memilih gaun seperti ini," ucap Cyara dan membuat kernyitan di wajah Jasmine terlihat jelas.


"Maksud kamu sayang?" Tanya Jasmine menatap calon menantunya itu.


Kini giliran Cyara yang bingung mendapat pertanyaan itu dari Jasmine, dan Cyara mengingat-ingat barangkali dirinya salah bicara, dan Cyara pun terdiam saat menyadari kesalahannya.