
Vier kini melajukan mobilnya dengan tenang, mereka kini sedang dalam perjalanan pulang. Perjalanan menjadi lama karena tadi Vier ada urusan mendadak dan Cyara pun dengan setia menemaninya.
Vier menoleh ke arah sampingnya, dimana sang istri kini tengah terlelap. Setelah bangun tidur tadi pagi, Vier bukan tidak merasakan jika sikap Cyara berubah, wanita itu kini kembali dingin bahkan diam dan kembali menghindarinya.
Vier menghela nafas, memikirkan jika mungkin saja, Cyara melihat Sheira menghubunginya.
"Apa aku harus melupakan dan merelakan semuanya? Lalu memulai lembaran baru bersama Cyara?"
Memikirkan itu membuat Vier kini kembali menghela nafasnya panjang. Vier kembali menoleh ke arah istrinya dan seulas senyum kini terukir di sudut bibirnya sambil mengelus wajah wanita itu lembut, takut membangunkannya.
"Sepertinya hatiku sudah terbagi untukmu Cyara."
*
*
Sementara itu seorang wanita melangkah memasuki rumah dengan amarah yang tertahan di hatinya. Dia berkali-kali menghubungi Vier tapi pria itu tidak juga menjawab panggilannya. Bahkan ratusan pesan yang dikirimkannya tidak satupun mendapat balasan dari pria itu membuat dirinya geram.
Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, dan mengamuk memecahkan apa saja yang suaranya bisa didengar sampai luar karena memang pintunya juga dalam keadaan terbuka.
"Cyara sialan! Kenapa kau dan Ayahmu selalu menghancurkan hidup keluargaku!"
Prang
Teriak wanita itu yang kini melemparkan botol parfum ke cermin yang ada di depannya hingga terdengar suara yang begitu memekakkan telinga.
Sekejap saja kamar itu sudah seperti kapal pecah, dengan banyaknya barang yang berserakan bahkan pecahan kaca ada dimana-mana.
Seorang pria yang baru saja pulang, berjalan cepat ke sumber suara, sambil melonggarkan dasinya.
Dirinya semalam memutuskan untuk menginap di kantor setelah meminta pelayan untuk menemani putrinya.
Baru pagi ini pulang, dia harus mendengarkan keributan yang diciptakan istrinya sendiri.
"Sheira apa yang kau lakukan?" Geram pria itu menarik Sheira keluar, takut jika wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya itu sampai melukai dirinya sendiri.
"Ini semua salahmu! Kau yang membuat Vier tidak peduli lagi padaku! Aku membencimu, sangat-sangat membencimu!" Teriaknya dengan tatapan yang begitu menusuk.
Ken hanya menatap Sheira sendu, nyatanya cinta yang diberikannya selama ini tidak pernah cukup dan bisa membuat wanita itu balas mencintainya. Dulu dia mengiyakan permintaan terakhir ayah Sheira, mau menikahinya, berharap jika mereka sudah menikah akan tumbuh cinta di hati Sheira untuknya. Bahkan Ken sampai tega mengkhianati sepupunya sendiri, demi amanah terakhir ayah Sheira. Tapi dirinya salah, cinta Sheira tetaplah untuk Vier, dan bagaimanapun usaha yang dilakukannya tidak membuat wanita itu jatuh cinta padanya. Bahkan penilaian Ken terhadap Sheira salah besar. Dulu sewaktu sma, Sheira terkenal ramah, penyayang, dan mandiri, dia juga gadis yang pintar, hingga saat itu Ken mengaguminya, dan rasa kagum itu perlahan berubah menjadi rasa cinta. Tapi harapan Ken untuk mendapatkan gadis itu harus pupus, saat tiba-tiba sepupunya Vier mengenalkannya sebagai kekasihnya. Ken mundur, dia kemudian memutuskan untuk keluar negeri, tempat ibunya berasal, berangkat lebih awal dari waktu yang ditentukan, dia berharap bisa move on dari Sheira. Tapi sepertinya takdir berkata lain, disaat dia menghadiri ulang tahun pernikahan koleganya, dia kembali dipertemukan dengan Sheira yang ternyata adalah putri dari kolega yang tengah mengadakan acara. Ken diperkenalkan pada Sheira dan hingga waktu kembali mempermainkan takdirnya. Ken yang berharap itu pertemuan terakhirnya dengan Sheira, nyatanya mereka kembali dipertemukan karena Sheira adalah model dari produk yang dikeluarkan perusahaan milik keluarganya, membuat mereka kembali sering bertemu, hingga perasaan yang Ken anggap sudah hilang, ternyata masih ada, saat dia kembali dekat dengan Sheira. Hingga saat itu, dirinya datang menjenguk Ayah Sheira yang di rawat di rumah sakit, Ayah Sheira mengidap kanker stadium akhir dan saat tahu Ken memiliki perasaan pada putrinya. Ayah Sheira meminta Ken menikahi putrinya. Pria itu ingin melihat putrinya menikah sebelum dirinya pergi. Pernikahan yang Ken jalani nyatanya tidak seperti pada umumnya. Mereka menikah, tapi sudah seperti orang asing. Ken menjalani hidupnya sendiri, dan Sheira pun juga seperti itu. Hingga saat Ayah Sheira meninggal, wanita itu selalu mengatakan ingin berpisah dari Ken. Ken yang benar-benar mencintai wanita itu pun mencari cara agar bisa menahan Sheira yaitu dengan membuat Sheira melahirkan anaknya. Tapi rupanya cara itupun tidak membuahkan hasil karena nyatanya setelah tahu dirinya hamil, Sheira selalu berusaha untuk menghilangkan anak mereka. Tapi selalu gagal karena Ken selalu berhasil menghalanginya. Akhirnya terjadilah perjanjian diantara mereka dimana Sheira harus melahirkan anak itu, dan setelah itu Ken akan membebaskan hidup Sheira, bukan bebas karena Ken melepaskannya, tapi bebas, jika wanita itu bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Terserah kau mau mengatakan apa, dan yang perlu aku tegaskan padamu, rasanya tidak pantas jika kau pulang hanya untuk meluapkan emosimu saja."
Setelah mengucapkan itu, Ken pun berlalu, dia harus melihat kondisi putrinya saat ini.
Ken buru-buru berjalan menuju kamar putrinya, membuka pintu dan Ken terkejut saat putrinya duduk di lantai, tidak, lebih tepatnya di bawah kolong meja menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di atas lipatan lutut. Air mata Ken terjatuh saat mendengar suara putri kecilnya.
"Ayah? Apa itu Ayah?" Tanya gadis itu mengangkat wajahnya dengan suara yang bergetar.
Ken berjalan gontai menghampiri sang putri, kakinya terasa lemas, hingga dia pun terjatuh tepat di dekat Keisha.
Ken membantu putrinya keluar, kemudian memeluknya erat.
"Maafkan Ayah sayang, maafkan Ayah," ucap Ken dengan suara serak menahan tangis.
"Ayah, Key takut Ayah."
Ken dapat merasakan jika kini tubuh putrinya bergetar hebat di pelukannya.
"Jangan takut sayang, ada Ayah disini," ucap Ken mengusap punggung putrinya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Ayah!" Pecah sudah tangis gadis kecil yang sedari tadi ditahannya. Membuat kini air mata Ken juga mengalir dengan deras.
Ken mendongakan wajah, berharap jika air matanya berhenti menetes tapi semua seperti tidak mempan, air mata itu terus menetes tanpa bisa dicegah. Kini keduanya sama-sama menangis.
Setelah cukup tenang, Keisha mengulurkan tangannya, berusaha mencari wajah sang Ayah, begitu menemukannya. Keisha menghapus sisa air mata Ken yang tertinggal membasahi pipi, dengan jari-jari mungilnya.
"Ayah, jika Ayah tidak bahagia bersama Ibu, kita bisa tinggal berdua saja. Keisha baik-baik saja, Keisha tidak apa-apa jika Ayah berpisah dari Ibu. Karena bagi Keisha kebahagiaan Ayah adalah segalanya bagi Keisha."
Mendengar perkataan putrinya, Ken tidak bisa lagi menahan untuk tidak memeluk putrinya. Walaupun masih kecil, ternyata Keisha memahaminya. Dan Ken beruntung ada Keisha di sisinya yang mampu menguatkannya, disaat dirinya dalam keadaan yang tidak baik, seperti sekarang ini.