Love Revenge

Love Revenge
Bab 79



Ken menahan sebisa mungkin agar air matanya tidak kembali jatuh, jika sampai itu terjadi putrinya pasti akan sedih.


"Apa tadi Ayah menangis?" Tanya Keisha lagi.


"Tidak sayang, Ayah tidak menangis, tadi itu keringat Ayah, Ayah tadi habis memasak makanan kesukaan Keisha, apa Keisha mau makan? Keisha belum makan kan tadi," Ken melonggarkan pelukan dan mengelus lembut wajah putrinya yang kini berusia lima tahun.


"Hmm Ayah, apa Ibu sudah pulang? Kei tadi belum makan karena sengaja menunggu Ibu, Kei ingin makan sama Ibu."


Ken mendongakkan kepalanya, berharap air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak terjatuh.


"Ibu belum pulang, Kei makan sama Ayah yah, Ayah lapar nih, apa Kei tidak kasihan sama Ayah? Bagaimana nanti kalau Ayah kelaparan?" Ucap Ken dengan suara yang terdengar parau.


Gadis kecil itu tampak berpikir, kemudian mengangguk. Ken bangun dan menggendong putrinya untuk turun menuju dapur.


"Ayah," panggil gadis itu ragu.


"Ayah tidak lupa kan besok hari apa?" Tanyanya di tengah perjalanan mereka menuruni tangga.


"Hmm hari apa ya?" Ken seperti sedang berpikir, walaupun jelas jika Keisha tidak bisa melihatnya. 


"Hari minggu?" Jawab Ken yang seakan berpura-pura lupa.


"Ih Ayah, masa Ayah lupa sih besok hari apa?" Bibir Keisha kini sudah mengerucut maju beberapa senti.


Ken mencium pipi Keisha, "Tidak mungkin dong sayang Ayah lupa, besok kan hari ulang tahun putri Ayah yang cantik ini," ucap Ken dan kini menarik kursi dan mendudukkan Keisha disana.


"Kamu minta apa sayang? Ayah akan belikan apapun yang kamu inginkan."


"Ayah, aku ingin keluar, apa boleh?"


Ken menghapus air matanya yang tanpa ijin menetes begitu saja.


"Ayah apa tidak boleh?" 


"Hmm tentu saja boleh, Ayah akan menemani Kei seharian kalau perlu."


Gadis kecil itu tersenyum lebar tangannya terangkat menggapai udara, Ken meraih tangan itu, Keisha merubah posisi miring saat tahu ayahnya ada di sampingnya.


"Apa Ibu juga akan menemaniku?"


Ken bingung harus menjawab apa, Ken saja tidak yakin apa Sheira mengingat ulang tahun putri mereka atau tidak.


"Ibu tidak bisa menemanimu, Ibu sibuk," ucap seseorang yang baru saja turun dari tangga.


Keisha melepaskan tangan yang di pegang Ayahnya dan mencoba turun dari kursi, tapi justru terjatuh.


"Keisha sayang!" Pekik Ken dengan kejadian yang tiba-tiba terjadi, membantu putrinya berdiri, tapi setelah berdiri, Keisha melepaskan tangan Ayahnya, berjalan meraba-raba ke sumber suara dimana tadi dia mendengar suara ibunya.


"Ibu, ibu, ibu,"


Tak peduli panggilan itu, Sheira justru berjalan melewatinya dan keluar.


"Sheira mau kemana kau?" Teriak Ken tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.


Melihat putrinya yang kembali terjatuh, buru-buru Ken membantunya berdiri dan segera memeluknya erat.


*


*


"Selamat malam sayang," Cyara mengecup kening Rey dan Rain bergantian. Keduanya tertidur sejak lima belas menit yang lalu saat dalam perjalanan pulang.


Cyara menarik selimut untuk menutupi tubuh anak-anaknya sebatas dada, kemudian dirinya pun bangkit.


"Semoga mimpi indah," tambahnya mengelus rambut mereka.


Cyara berbalik dan betapa terkejutnya dia, saat melihat Vier berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menatapnya intens.


Cyara menghela nafasnya pelan, berjalan ke arah Vier karena memang di sana tempat pintu dimana dirinya bisa keluar. Tapi semakin dekat dengan posisi Vier, jantung Cyara justru berdebar kencang.


Tiba-tiba saja Vier menarik tangan Cyara dan menarik kemudian mendorong dan memepetkannya di dinding di luar kamar anak-anaknya.


Cyara benar-benar terdiam hingga Vier menarik dagu, mencium bibir hingga melu*matnya


"Kenapa kau diam saja?" Vier kembali mencium Cyara bahkan menggigit bibirnya pelan.


Vier menahan dagu Cyara, memaksa istrinya agar mau menatapnya.


"Tidak ada yang ingin ku katakan, jadi sebenarnya kau ingin aku mengatakan apa?" Ucap Cyara balik bertanya.


Vier menghela nafas dan kemudian muncul seringaian di bibirnya.


"Kita lihat, setelah ini apa yang akan kau katakan," ucap Vier yang tiba-tiba saja mengangkat tubuh Cyara ala bridal hingga membuat wanita itu terpekik kaget.


"Vier turunkan aku!"


Vier sama sekali tidak mendengarkan protes yang dilayangkan Cyara, Vier terus berjalan menuju kamarnya, mendorong pintu dengan kakinya dan kembali menutup pintu dengan cara yang sama.


Dibaringkannya Cyara di atas ranjang. Vier pun kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu. Melihat itu Cyara mencoba bangun tapi dengan cepat Vier mendorongnya dan bahkan kini menindihnya.


"Vier!"


"Diamlah Cyara, kau tidak akan bisa kemana-kemana," ucap Vier tegas. Vier melempar kemejanya yang sudah terlepas semua kancingnya hingga memperlihatkan dada bidangnya.


Cyara mencoba memberontak, tapi tenaga Vier jauh lebih kuat darinya. Tangan Vier kini menahan kedua tangan Cyara di atas kepala.


"Vier kau mau apa? Aku tidak mau," tolak Cyara tegas.


Tidak mendengarkan  perkataan Cyara, Vier justru melepas pakaian Cyara dan dengan mudah, pakaian itu terlepas melewati kepala wanita itu, mengabaikan penolakan Cyara, Vier kini justru melepas kaitan penutup tubuh atasnya yang tersisa.


"Vier!"


"Biasanya kau selalu menuruti apa yang aku katakan, dan ini pertama kalinya kau menolakku, tapi Cyara kali ini aku tidak akan melepasmu, walaupun jika kamu menangis.


Entah kenapa dada Cyara terasa sesak, Vier memaksanya.


"Tidak salahkan jika aku mengambil hakku sekarang?" 


"Vier ku mohon jangan!"


"Kau tidak bisa menolaknya Cyara, ini sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang istri!" Tegas Vier.


"Vier!"


Cyara menggeleng dan  bulir bening kini terjatuh dari sudut matanya.


Tak peduli, Vier segera menarik celana Cyara hingga akhirnya terlepas.


"Apa kau akan menyentuhku dengan cara pemaksaan seperti ini Vier?" Tanya Cyara pilu. 


"Iya," jawab Vier tanpa keraguan sedikitpun.


Satu tangan Vier menarik tengkuk Cyara, menciumnya dan melu*matnya cukup lama, menghisap hingga pagutan itu terlepas.


Cyara meraup oksigen sebanyak-banyaknya, hampir saja Cyara kehabisan nafas jika Vier tidak segera melepaskan pagutan bibir mereka.


Cyara memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh begitu saja merasakan hatinya yang teramat sakit.


Vier kembali mencium bibir Cyara, tidak peduli pada apa yang Cyara rasakan saat ini.


Cyara menarik nafas sudah payah, saat Viwr mengecupi leher, mencium  bahkan menghisapnya. Cyara sama sekali tidak memberikan reaksi apapun.


"Vier apa kau melakukan ini karena kau mencintaiku?" Tanya Cyara begitu pelan nyaris tidak terdengar.


"Tidak, aku hanya mengambil hakku," jawab Vier tanpa ragu.


Kau menyakitiku Vier


Bulir bening kembali menetes membasahi wajah Cyara.


"Baiklah lakukanlah!" Genggaman tangan Cyara melemah, dia sudah tidak melakukan perlawanan lagi.