Love Revenge

Love Revenge
Bab 108



Seorang pria turun, dari mobil dan melangkah tegap menghampirinya.


"Selamat datang di resort kami Tuan," sapa Arga menjabat tangan pria itu. 


Pria itu dengan wajah datarnya membalas jabatan tangan Arga.


"Sebelumnya saya perkenalkan diri saya dulu, saya Arga sepupu Damian," ucap pria itu memperkenalkan diri.


"Mari Tuan!" Ucap Arga mempersilahkan pria itu untuk masuk.


Vier mengikuti langkah Arga memasuki ruangannya.


"Silahkan duduk!"


Vier pun duduk sambil mengamati seisi ruangan itu.


"Sebelumnya Damian sudah memberitahu kami tentang kedatangan Anda. Dan kami sudah mempersiapkan segala yang Anda butuhkan selama disini. Sebentar saya akan panggilkan sekretaris saya untuk mengantar Anda langsung," ucap Arga kemudian menelpon seseorang.


*


*


Nia kini meninggalkan pekerjaannya, saking sibuknya dia sampai lupa waktu, hingga kini ternyata sudah lebih dari 2 jam, ya rencananya, Nia memang akan berhenti setelah 2 jam, untuk menemani Arga menemui kliennya. Untung saja, Arga tadi menelponnya, jika tidak, dirinya pasti akan benar-benar lupa waktu.


Kini Nia bangkit dari kursinya, menuju ke ruangan Arga. Nia mengetuk pintu yang memang kini sudah terbuka lebar. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan, dimana di sana ada Arga dan seorang pria yang duduk membelakanginya.


"Nia!" Arga melambaikan tangan memanggil Nia, dan dia pun tersenyum dan sedikit mempercepat langkahnya. Tapi belum juga dirinya sampai, langkah Nia terhenti saat pria yang tadi duduk membelakanginya menoleh. Kakinya terasa membeku hingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Jantungnya pun kini berpacu dengan kencang, matanya tampak berkaca-kaca. Perasaan yang empat bulan ini dia coba lupakan, tapi langsung bergejolak walau hanya menatap pria itu.


Tak berbeda jauh dari Nia, pria itu pun melakukan hal yang sama, pria itu menatap Nia, tepat di manik matanya.


"Kenapa? Kenapa Vier bisa ada disini? Ini tidak mungkinkan? Apa ini hanya mimpiku saja?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Nia.


Arga merasa tidak enak karena Nia hanya diam saja, dia berjalan mendekat ke arah Nia, menggenggam tangan wanita itu dan mengajaknya untuk segera menemui tamu pentingnya.


"Nia ayo!" Ucap Arga.


Nia pun menurut dengan langkah yang berat, Nia berjalan mendekat ke arah tamu Arga.


Dan apa yang dilakukan Arga pada Nia, tidak luput dari pandangan pria yang sedari tadi diam dan bahkan tidak berkata sepatah katapun.


Deg


Hatinya mencelos, saat kini Nia berdiri di hadapan pria itu, melihat wajah pria itu, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ada rasa rindu dan sakit yang muncul bersamaan.


"Nia, perkenalkan ini Tuan Vier," ucap Arga memperkenalkan tamunya.


"Dan Tuan Vier perkenalkan ini Lavenia, dia sekretaris saya, Anda bisa memanggilnya Nia," ucap Arga yang kini memperkenalkan Nia pada Vier.


Vier mengulurkan tangannya pada Nia. Tapi


Nia tidak langsung membalas uluran tangan pria itu, dia masih terdiam, batinnya kini tengah berperang memikirkan keberadaan Vier yang kini tiba-tiba sudah ada di depannya. 


"Kenapa Cya? Apa kau berharap Vier datang menemuimu? Tidak Cya, kau tidak boleh berharap seperti itu, karena itu hanya membuatmu terluka, jadi jangan terlalu percaya diri, karena Vier datang kesini karena pekerjaannya. Lagian untuk apa dia menemuimu, bukankah sekarang statusmu sudah bukan istrinya lagi, mungkin saja Vier sekarang sudah bahagia dengan hidupnya barunya,  atau mungkin saja, Vier sudah menikah lagi dengan wanita yang dicintainya? Bukankah terakhir yang kamu dengar jika wanita itu juga telah berpisah dengan suaminya?" 


"Nia kenapa malah melamun?" 


"Lavenia," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Nia, kamu bisa kan mengajak Tuan Vier untuk berkeliling melihat resort kita ini," ucap Arga.


"Tapi Ar…"


"Nia please!"


"Baiklah," pasrah Nia.


"Mari Tuan!" Nia mempersilahkan Vier untuk mengikutinya.


"Kenapa kita harus bertemu lagi?"


"Kenapa kamu datang Vier, disaat hatiku kini mencoba ikhlas melepasmu?"



Vier terus saja menatap wanita yang kini berjalan di sampingnya yang sibuk memperkenalkan tempat itu  yang sudah sangat dihafalnya. Pantas saja, Vier tidak bisa menemukannya, karena Cyara memakai nama belakangnya Lavenia.


"Aku menemukannya, akhirnya aku menemukannya setelah empat bulan aku kehilangannya, setelah aku hampir putus asa dan akhirnya aku bangkit lagi. Ingin rasanya aku memeluk dia saat ini juga, tapi aku takut, aku takut jika dia akan lari lagi dariku, ya, setidaknya aku harus bisa menahannya, aku harus menahan perasaan ini, seperti dia yang selama ini juga bertahan untukku, Cyara istriku, aku sangat mencintaimu sayang, ingin rasanya aku mengatakan itu."


Vier menghapus air matanya, dadanya terasa sesak, saat dia menyadari jika dia mengulangi kesalahannya yang dulu. Dulu dia tidak bisa menemani Cyara saat kehamilan Rey dan Rain, dan sekarang dia juga tidak menemani istrinya yang sedang hamil. Ya Vier melihat perut istrinya yang sudah membesar. 


Vier merasa lega karena bisa menemukan Cyara, tapi Vier merasa Cyara berubah, tatapan mata wanita itu penuh dengan luka, dan Vier tahu dengan jelas, bahwa dialah yang membuat luka itu, dan kini Vier datang untuk menebusnya, Vier berharap dia tidak terlambat. Karena tadi yang Vier lihat jika hubungan Cyara dan atasannya berbeda. Vier sebenarnya ingin marah saat melihat pria yang bernama Arga itu menggenggam tangan istrinya. Ubun-ubunnya mendadak panas bahkan dadanya terasa terbakar saat melihat pemandangan itu.


"Sudah berapa bulan?" Tanya Vier tiba-tiba membuat langkah wanita di sampingnya berhenti. Tapi itu hanya sebentar, karena wanita itu kini kembali melanjutkan langkahnya.


"Cyara!" Ucap Vier sendu.


Langkah kaki Cyara terasa berat, saat nama itu kembali dia dengar, sudah lama dia tidak mendengar sebutan itu. Cyara memegang dadanya yang terasa sesak. Sudah sudah payah Cyara melupakan semuanya, tapi hanya satu kali melihat pria itu, membuat pertahanan yang dia buat selama empat bulan ini justru langsung goyah.


Dengan sekuat tenaga, Cyara kembali berjalan, tapi tiba-tiba 


Grep


Sepasang tangan kini melingkar di perutnya. Cyara membulatkan kedua matanya mendadak mendapatkan pelukan itu.


Cyara terdiam selama beberapa detik, dirinya masih shock dengan apa yang terjadi.


Hingga Cyara pun tersadar dari lamunannya.


"Lepas!" 


Cyara meminta Vier untuk melepaskan pelukannya, tapi Vier tidak segera menuruti perintah wanita itu, Vier ingin lebih sedikit lebih lama memeluk wanita yang begitu sangat dirindukannya.


"Vier lepas!" Ucap Cyara mencoba melepas kedua tangan Vier yang melingkar di perutnya.


Vier pun langsung melepaskan tanpa perlawanan tidak ingin membuat istri dan anaknya terluka. Vier kini dengan pelan membalik tubuh Cyara agar menghadapnya. Vier meraih tangan Cyara dan menggenggamnya, ditatapnya lekat ke dalam mata wanita itu.


"Cyara maafkan aku," ucap Vier lirih.