
"Jangan berani-berani kau menyentuh istriku, seujung rambut saja kau menyentuhnya, aku akan menghancurkanmu sehancur-hancurnya," geram Vier mencengkram leher Sheira saat mengetahui wanita itu akan menyerang istrinya.
"Vi...Vier!" Ucap Sheira dengan suara tercekat.
Vier langsung menghempaskan Sheira kasar kemudian menoleh dan menatap istrinya, melihat istrinya masih terkejut dengan apa yang akan Sheira tiba-tiba.
"Sayang ayo kita pergi!" Vier segera mengajak istrinya segera keluar dari tempat itu. Dia tidak akan membiarkan Cyara berlama-lama dengan Sheira.
"Vier aku mau duduk dulu," ucap Cyara yang kakinya terasa lemas, tidak bisa membayangkan, jika sampai Sheira tadi benar-benar melukainya.
Vier membantu istrinya duduk, "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, dan kamu tidak perlu takut lagi, karena aku akan selalu melindungi kalian," kata Vier membawa sang istri ke dalam dekapan.
Vier menepuk-nepuk punggung Cyara, dia harus segera membereskan masalah Sheira. Sheira memang dirawat disana, tapi bagaimana jika dia melarikan diri dan kembali menyakiti keluarganya, Vier harus mengantisipasi hal itu sebelum terjadi sesuatu, setelah ini, dia harus menemui Alno kakaknya, dia harus membicarakan hal ini padanya.
"Sudah tenang?" Tanya Vier dan Cyara pun mengangguk.
"Kita pulang?"
Cyara menggeleng, "Aku ingin menemui Ibu," ucapnya kemudian, dia memang kecewa tapi dia tidak bisa marah terlalu lama.
"Baiklah, ayo!" Kata Vier mengulurkan tangan membantu istrinya berdiri.
Cyara tersenyum dan menyambut uluran tangan Vier. Keduanya kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit yang menampung orang-orang dengan gangguan jiwanya.
*
*
Cyara membuka pintu ruang rawat ibunya, di dalam terlihat Ken sedang menyuapi ibunya, Cyara tersentuh melihat itu, Sheira sudah menyakiti pria itu, mereka juga telah berpisah, tapi pria itu masih saja menyayangi ibunya. Harusnya Sheira tidak menyia-nyiakan pria sebaik Ken.
"Kenapa tidak masuk dan malah melamun disini?" Tanya Vier yang baru datang, tadi pria itu memarkirkan mobilnya dulu.
"Tuh!" Cyara menunjuk apa yang terjadi di dalam dengan dagunya dan suaminya itu pun mengikuti kemana arah pandang istrinya.
Melihat tatapan suaminya terhadap Ken, Cyara menghela nafasnya. "Apa kamu belum bisa memaafkan Ken? Kamu sudah mendengarkan dari Sheira kan kenapa mereka menikah? Berarti Ken juga terpaksa melakukan itu, dia juga tidak ingin membuatmu terluka, tapi keadaanlah yang memaksa dia untuk melakukan itu. Kamu sudah tidak mencintai Sheira kan? Jika sudah tidak, bagaimana jika kamu ikhlaskan saja, dan melupakan kejadian yang selama ini menyakitimu, sudah waktunya kamu berdamai dengan masa lalu. Karena jika kamu tidak ikhlas, kamu tidak akan pernah merasa tenang. Hidupmu hanya akan diliputi dendam karena masa lalumu, atau mungkin kamu masih mencintai She…"
"Cukup sayang! Aku tidak mencintai Sheira, aku mencintaimu dan itu sejak pertemuan pertama kita di pusat perbelanjaan, tapi bodohnya aku yang baru menyadari belakangan ini."
"Benarkah? Tapi aku tidak percaya," jawab Cyara memicingkan matanya.
"Aku harus bagaimana biar kamu bisa percaya?"
Cyara mengedikan bahunya, kemudian masuk ke dalam ruang rawat ibunya.
"Cyara!"
Ibu Cyara sepertinya terkejut melihat putrinya ada disana, dia mengira jika Cyara pasti marah karena ucapannya kemarin, bahkan wanita itu sudah berpikir jika Cyara tidak akan mungkin datang lagi, karena marah dan kecewa padanya, tapi sekarang putrinya ada di depan matanya.
"Aku bawa makanan buat Ibu, tapi ternyata Ibu sudah makan," kata Cyara meletakkan makanan di dekat meja samping ranjang rawat ibunya.
"Akan Ibu makan nanti, terima kasih ya," ucap wanita itu tersenyum.
"Baiklah, sekarang lebih baik ibu habiskan makanan ini," kata Cyara mengambil sesendok makanan dari piring dan menyuapkan pada sang ibu.
Gerakan tangan Cyara yang hendak menyuapi ibunya terhenti, saat mendengar apa yang ibunya katakan.
"Cyara, jika kan memang mau menghukum Sheira, hukumlah dia! Ibu tidak akan melarangmu lagi, maafkan ucapan ibu kemarin ya, ibu tidak berpikir panjang dulu mengenai itu, dan masalah Keisha…," ibu Cyara kemudian menatap Ken.
"Ibu yakin, Ken akan menjaganya dengan baik," lanjut wanita itu tersenyum pada Ken.
Ken mengambil kesempatan itu untuk berpamitan, Cyara dan ibunya mengangguk, Vier juga berpamitan pada Cyara untuk keluar sebentar, Cyara pun mengiyakan.
"Jadi kamu jangan pikirkan apa kata ibu ya, saat itu Ibu hanya panik dan terkejut, kenapa Sheira tega melakukan itu kepada keponakannya sendiri."
Cyara tersenyum, "Terima kasih Bu, karena sudah mau mengerti Cyara, Sheira memang harus mendapatkan hukumannya, jika tidak, Sheira tidak akan pernah jera," ucapnya merasa senang karena ibunya mendukungnya, tidak seperti kemarin yang membela Sheira mati-matian.
"Sekarang ibu lanjutkan makannya!" Ucap Cyara dan wanita itu tersenyum, menerima suapan putri pertamanya.
Tiba-tiba ingatan ibu Cyara tertuju pada beberapa tahun silam, saat dirinya sakit, dan Cyara berusaha untuk merawatnya, Cyara membuatkan bubur dan hendak menyuapinya, tapi wanita itu dengan kasar menepisnya, mengingat itu dia benar-benar merasa bersalah. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Ibu kenapa menangis?" Tanya Cyara yang dengan segera menghapus air mata ibunya.
"Tidak apa-apa, oh ya bagaimana keadaan Rey dan Rain?"
"Hmm, tadi Cyara sudah mengantar ke sekolah, nanti sepulang mereka sekolah rencananya, Cyara akan membawa mereka ke dokter, Cyara hanya takut jika mereka nantinya mengalami trauma, dan hal itu lebih baik diobati sejak sekarang," jawab Cyara tersenyum getir jika membicarakan tentang trauma, karena dirinya juga mengalami itu.
"A...apa kejadian saat itu…" tanya Ibu Cyara ragu.
Cyara mengangguk lemah.
"Cyara maafkan Ibu, Ibu…
"Ibu tidak perlu khawatir, Cyara akan mengatasinya," jawab Cyara meyakinkan sang ibu bahwa dia akan baik-baik saja, tidak ingin ibunya mengkhawatirkannya.
"Ibu, boleh Cyara tanya sesuatu?" Tanya Cyara ragu, tapi dirinya begitu penasaran, ada sesuatu yang mengganjal.di hatinya dan dia ingin membicarakan hal ini dengan ibunya, ingin mengetahui jawaban wanita itu secara langsung.
"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan pada Ibu?"
"Bu, kenapa Ibu bisa menyelamatkan Rey dan Rain, hmm maksud Cyara kejadian itu terjadi di jalan depan sekolah anak-anak, kenapa ibu bisa di sana? Aku mau Ibu menjawab semuanya dengan jujur," ucap Cyara menatap sang ibu.
"Sebenarnya ibu, sering memperhatikan Rey dan Rain dari jauh, Ibu selalu menunggu di depan sekolah anak-anak kamu sampai ibu lihat mereka pulang bersama sopirnya. Dan waktu kejadian, Ibu tidak sengaja melihat mobil dari arah berlawanan. Ibu segera turun dan ibu…"
Cyara langsung memeluk ibunya, sangat berterima kasih padanya, dan dia senang, karena ibunya berkorban untuk menyelamatkan anak-anaknya.
Sementara itu di luar ruang rawat Cyara, Vier yang tadi buru-buru berpamitan keluar, ternyata untuk mengejar Ken.
"Tunggu!" Teriak Vier dan Ken spontan menghentikan langkahnya, berbalik badan dan menatap Vier.