Love Revenge

Love Revenge
Bab 46



"Ma, maaf ya jadi merepotkan Mama lagi, Cya benar-benar tidak enak sama Mama dan Papa," kata Cyara kepada Jasmine dan Stevano yang datang menjemput Rey dan Rain ke rumahnya sekalian mereka juga menjemput Aira yang memang malam ini akan ikut tidur di kediamannya, karena Vira dan Alno juga akan hadir di acara pernikahan teman sma yang Vier maksud.


"Tidak apa-apa sayang, Mama dan Papa tidak merasa direpotkan kok, lagian kami juga senang karena rumah jadi ramai lagi dengan kedatangan Rey dan Rain, Mama kan sudah mengatakan itu sama kamu," jawab Jasmine.


"Benar Nak apa yang Mama katakan, Papa senang kok ada Rey dan Rain, dan lagi nanti juga ada Aira, jadi kamu jangan merasa tidak enak seperti itu, kalian juga senang kan sayang?" Sahut Stevano menatap Rey dan Rain bergantian meminta dukungan dari kedua anak itu.


"Iya Mami adik dan Kakak senang kok," jawab Rain dan Rey ikut mengangguk menyetujui ucapan adiknya.


"Baiklah, tapi kalian jangan nakal ya disana," kata Cyara berpesan. 


"Iya mami," jawab keduanya bersamaan.


"Ya udah, Mama dan Papa pamit ya, kita harus jemput Aira, sebentar lagi Alno sama Vira juga pasti akan berangkat. Nanti Vier akan jemput kamu kan?" Tanya Jasmine memastikan.


"Iya Ma, Vier bilang akan menjemputku ," jawab Cyara tersenyum, Jasmine pun balas tersenyum.


Rey dan Rain kemudian berpamitan sama maminya, mencium punggung tangan wanita itu, kemudian masuk ke dalam mobil.


Stevano pun menyusul setelah berpamitan juga pada calon menantunya itu.


Cyara melambaikan tangannya saat mobil Stevano mulai melaju, sementara di dalam mobil pandangan Jasmine tidak lepas dari Cyara, dia menatap Cyara dengan pandangan sendu apalagi saat mendengar jawaban mantap Cyara tadi tentang pernikahannya. Jasmine tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya berharap Vier bisa segera menyadari apa yang dia perbuat dan akhirnya bisa menerima Cyara di dalam hatinya.


*


*


Cyara kini sudah siap dengan penampilannya yang memukau, dan wanita itu tinggal menunggu kedatangan Vier yang sampai saat ini belum juga tiba. Sudah setengah jam berlalu bahkan Cyara sudah berkali-kali melongok dari jendela rumahnya.


"Apa yang sebenarnya kamu harapkan Cyara dari hubungan yang saling menguntungkan ini, pernikahanmu dengan Vier bagimu adalah untuk kebahagian Rey dan Rain.


Cyara kemudian terdiam mengingat kejadian kemarin malam.


"Sayang apa yang harus Mami lakukan?" Gumam Cyara yang tidak sadar jika Rey terbangun dan tengah menatapnya.


"Mami kenapa?" Tanya anak itu sambil mengerjapkan matanya yang sayu karena baru saja terbangun.


Cyara terkesiap kaget, tapi dengan cepat dia menghilangkan keterkejutannya.


"Sayang kenapa kok bangun? Ayo tidur lagi ini masih malam, apa Rey haus, biar Mami ambilkan minum," ucap Cyara yang hendak berdiri tapi anak laki-laki itu justru menahan tangannya.


"Ini sudah malam kenapa Mami sendiri belum tidur?" Tanya Rey membalikkan pertanyaan maminya.


"Mami belum mengantuk, tapi ini juga mau tidur kok," Cyara kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang putra.


Rey kini merubah posisinya menjadi miring menghadap Cyara. Tangan anak itu terulur dan menyentuh dahi maminya yang mengernyit, mengelusnya dengan lembut. Dan Cyara terharu mendapatkan perlakuan seperti itu dari putranya, Cyara tidak pernah menyesali keputusannya dulu untuk mempertahankan mereka, di tengah sulitnya hidup yang dia jalani, semua terbayarkan sudah saat mendapatkan kedua anak yang begitu sangat pengertian bahkan di usianya yang masih kecil.


"Mami kenapa? Apa ada masalah di kantor? Apa Mami dimarahi bos Mami lagi? Nanti biar Rey marahin balik bos Mami itu," ucap Rey dengan menggebu-gebu.


"Apa kamu sungguh akan membela mami seperti itu, jika kamu tahu, bos Mami adalah om Pir kesayangan kalian?" Ucap Cyara dalam hati.


Cyara tersenyum dan menggeleng, "Tidak bos Mami tidak memarahi Mami kok," jawabnya kemudian.


"Rey pengen cepet gede, biar bisa bantuin Mami, nanti kalau sudah gede biar Rey yang kerja, biar Mami tidak capek-capek lagi."


Mendengar celotehan putranya, Cyara tidak bisa menahan untuk tidak menciumi seluruh wajah putranya.


"Makasih ya sayang, makasih sudah hadir di hidup Mami, hal itu saja sudah membuat Mami sangat-sangat bersyukur, kalian yang selama ini membuat Mami kuat dan bisa berdiri di kaki Mami sendiri, tanpa kehadiran kalian sungguh Mami tidak ingin lama-lama disini."


"Mam," Rey menyentuh wajah maminya, setelah berkali-kali memanggil tapi maminya justru tidak meresponnya.


"Mami melamun lagi?" Rey menatap penuh selidik seolah meminta penjelasan pada sang mami yang belakangan ini sering melamun.


Cyara menatap putranya dan tersenyum, "Mami tidak melamun kok sayang, Mami hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Cyara berusaha mengelak.


Rey menatap maminya tepat di manik mata, mencoba mencari kebohongan di mata maminya itu, tapi lagi-lagi, bocah itu tidak bisa menemukannya. Maminya terlalu pintar menutupi semua masalah yang menimpanya. Rey kadang bisa mengerti kadang pula tidak.


Cyara mengulurkan tangan kanannya dan mengelus lembut pipi sang putra.


"Rey, bolehkah Mami bertanya sama sama Rey?" Tanya Cyara hati-hati.


Rey mengangguk, "Boleh memangnya Mami mau tanya apa?" Ucap anak itu yang kini menatap maminya serius.


"Apa Rey benar-benar senang jika Om Pir bisa menjadi Papi Rey?" Tanya Cyara dan Rey mengangguk dengan antusias.


"Hmm Rey bakalan senang sekali, karena Rey sayang sama Om Pir, adik katanya juga sayang sama Om Pir. Mami juga sayang kan sama Om Pir?"


Cyara terkejut saat tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya di tengah lamunannya.


"Apa yang sedang kau lamunkan? Aku berkali-kali memanggil tapi kamu tidak juga menyahut," ucap Vier yang baru saja datang.


"Tidak, siapa juga yang melamun, aku hanya merasa bosan menunggumu, ini sudah terlambat hampir 45 menit," kesal Cyara.


"Aku tadi ada urusan, ya sudah ayo berangkat!" Vier berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


Menunggu Vier membukakan pintu untuk Cyara, melindungi kepala Cyara saat hendak masuk ke dalam mobil, bahkan memasang seatbelt untuknya itu rasa hanya mimpi Cyara saja, karena Vier rasanya tidak mungkin melakukan itu. Cyara menghela panjang nafasnya dia terlalu berharap lebih.


"Kenapa?" Tanya Vier yang mendengar helaan nafas Cyara.


"Tidak apa-apa," jawab Cyara seadanya.


Vier kemudian hanya mengedikan bahunya dan segera melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam, tidak ada pembicaraan sama sekali, Cyara menatap keluar jendela mobil memandangi jalanan yang kini dilaluinya.


Vier melirik Cyara yang kini justru menggambar pola abstrak di kaca mobil dengan jarinya, dirinya hendak mengucapkan sesuatu tapi memutuskan untuk mengurungkannya.