Love Revenge

Love Revenge
Bab 93



Vier menatap Cyara penuh amarah, dia mendekat dan membawa Rey juga Rain meninggalkan wanita itu. 


"Vier tunggu! Mau kau bawa kemana anak-anakku?" Teriak Cyara sambil berusaha mengejar pria itu.


"Tahan dia!" Ucap Vier pada pelayan yang ada di rumahnya, mereka memegangi Cyara agar tidak bisa mengejar Vier. 


"Sayang maafin Mami, Mami tidak bermaksud seperti itu," dengan air mata yang berjatuhan Cyara menatap kepergian mereka. Anak-anaknya hanya menoleh sebentar dan setelah itu Cyara tidak melihat mereka lagi karena sudah masuk ke dalam mobil Vier.


"Sayang Mami mohon jangan tinggalkan Mami!" 


Tubuh Cyara merosot ke lantai, pelayan pun segera melepaskannya. Merasa iba melihat Nyonya seperti itu.


"Rey, Rain jangan tinggalkan Mami!" Ucap Cyara dengan lirih.


Bagaimana jika Vier benar-benar membawa anak-anaknya, mereka adalah kekuatannya selama ini, lantas bagaimana Cyara menjalani hidupnya jika kekuatannya pergi? Entahlah Cyara tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


Melihat mobil yang kini mulai melaju, Cyara segera mengejarnya, dia bahkan lagi-lagi terjatuh hingga lututnya terluka, tapi sepertinya Vier tidak mau menghentikan mobilnya. Cyara mencoba bangkit, tapi kembali terjatuh dan menangis menumpahkan air matanya saat melihat mobil Vier sudah menjauh.


Cyara berteriak bahkan meraung, merasa jika dunia begitu kejam padanya, tidak membiarkan dia bahagia walau hanya sebentar saja.


"Rey! Rain! Kenapa kalian tinggalkan Mami? Dan kau Vier kenapa kau membawa anak-anakku? Kau tidak berhak melakukan itu, aku yang melahirkannya, lalu kau siapa? Kau hanya orang yang datang mengobrak-abrik hatiku, kau jahat Vier! Kau jahat!" Teriak Cyara yang sudah seperti orang gila.


Satu bulan sudah Cyara menjalani rumah tangga dengan Vier, dia kira bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya, tapi nyatanya tidak, Vier sangat sulit untuk digapai, jika tidak demi anaknya Cyara lebih baik menyerah, dia merasa percuma menjalani rumah tangganya sementara hati suaminya tetap mencintai wanita lain. Bahkan wanita itu adalah masa lalu pria itu. 


Tapi jika anak-anaknya pergi bersama Vier, lantas alasan apalagi yang akan hatinya katakan agar bisa bertahan pada pernikahannya?


Hati? Kenapa hati terus saja ingin berjuang padahal pikiran ingin menyerah? Kenapa hati justru menentang otak pemiliknya.


Cyara mencoba bangkit sambil meringis menahan sakit pada lututnya hingga seseorang datang dan mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


*


*


"Papi berhenti Papi, Om berhenti! Mami jatuh Papi pasti Mami kesakitan?" Teriak Rain yang menangis kencang, gadis kecil itu tidak tega saat melihat maminya tadi terjatuh.


"Tuan…"


"Terus jalan!" Ucap Vier dengan datar membuat supir merinding melihat Tuannya yang begitu mengerikan.


"Papi kenapa Papi tidak menghentikan mobilnya? Om tolong berhenti, kalau begitu Kakak saja yang pergi sama Papi, Rain ingin sama Mami, Om cepat hentikan mobilnya!"


"Rain!" Teriak Vier dengan suara meninggi membuat tubuh gadis kecil itu gemetar.


Vier menatap gadis kecil itu dan membawanya ke dalam pelukan, Rain terus meronta tidak mau Vier memeluknya, gadis kecil itu bahkan memukul-mukul Vier tapi tak membuat pria itu menyerah untuk memeluk Rain menenangkannya.


"Maafkan Papi," hanya kata itu yang bisa Vier ucapkan.


Dirinya tadi begitu kesal dan marah saat mendengar Cyara membentak anak-anak itu, tapi lihatlah, bukannya dirinya sama, dia juga sudah menyakiti kedua anak itu.


Tangan Vier mengepal, dirinya teringat kejadian tadi di kantornya.


Vier yang sedang berkutat dengan laptopnya langsung mengangkat wajahnya saat menyadari ada seseorang yang masuk. Dia mengira jika itu istrinya karena orang itu tidak mengetuk pintu. Tapi dugaannya salah, yang datang bukan Cyara melainkan Sheira.


"Untuk apa kamu kemari?" Ucap Vier datar.


"Aku ingin membahas kerjasama perusahaanmu dengan perusahaan tempatku bekerja. Untuk lokasinya, Tuan Damian ingin menggantinya. Dan Tuan Davian memintaku untuk mewakili dirinya memimpin proyek ini," kata Sheira yang terus berjalan mendekat.


"Tapi tidak ada jadwal hari ini dengan perusahaan tempatmu bekerja. Jadi silahkan keluar!"


"Ini hampir jam istirahat, dan tujuanku sebenarnya ingin mengajakmu makan sebagai teman, kita sudah tidak menjalin hubungan jadi bisakah kita berteman?"


"Teman?" Vier tertawa. Di bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekat ke arah Sheira.


"Anda ini lucu sekali Nyonya Sheira, atau Nyonya Anderson? Tidak ada namanya teman bagiku pada mantan. Jadi lupakan niatan Anda itu."


"Terus maumu apa Vier? Apa hubungan sebagai Kakak Ipar? Tapi bukankah kau tidak mencintai istrimu itu, kau menikahinya karena masih mencintaiku itu kan yang sebenarnya. Kamu tidak tega menyakitiku, jadi kau lebih memilih menyakitinya? Apa yang aku katakan benarkan?" Kata Sheira yang terus mendekati Vier.


"Kau!" Tangan Vier mengepal mendengar perkataan wanita di hadapannya. Mana Sheira yang kenal dulu, kenapa sekarang dia bukan seperti Sheiranya atau itu memang sikap asli wanita itu. Vier terus bertanya dalam hati.


"Vier aku masih mencintaimu, aku melakukan semua ini untukmu Vier. Jika tidak kenapa aku repot-repot harus bekerja di tempat orang? Itu karena aku tahu dia akan menjalin kerja sama denganmu, dan saat aku dengar dia tidak memiliki sekretaris aku mendaftarkan diri, ini semua demi kamu Vier," kata Sheira mencoba menjelaskan tapi sayangnya Vier hanya diam saja.


"Apa yang aku lakukan untukmu kurang? Terus apalagi Vier? Apalagi yang harus aku lakukan?" Teriak Sheira.


Dengan gerakan cepat, Sheira menarik dasi Vier dan mencium pria itu, Vier terpaku, dia mencerna apa yang terjadi saat ini dan begitu tersadar, buru-buru dia mendorong Sheira dan pergi meninggalkan wanita itu menuju kamar mandi dan menguncinya tidak ingin melihat wanita itu lagi.


Vier mengepalkan tangan dan menghantam kaca di depannya, hingga cairan merah segar mengalir di kepalan tangannya. Dirasa Sheira sudah pergi, Vier pun keluar, dia mencari-cari keberadaan istrinya. Tapi darahnya dibuat mendidih saat melihat istrinya sedang berduaan dengan Martin. Vier tidak tahu apa yang mereka obrolkan, tapi Vier melihat jika mata asistennya itu seperti memiliki perasaan terhadap istrinya. Vier kemudian melihat Cyara berjalan menjauh, dan Martin berjalan di belakang wanita itu, lebih tepatnya mengikutinya.


Vier yang marah kembali masuk ke ruangannya.


"Argh!" Teriak Vier menghancurkan barang-barang yang dilihatnya, menyapu dengan tangannya semua berkas di atas meja, hingga berserakan di lantai ruangan itu. Dirinya benar-benar marah, dia mengambil kunci mobil dan kembali keluar, kemudian langsung meninju wajah Martin yang berdiri di depan ruangannya seperti hendak mengatakan sesuatu, Vier terus saja melampiaskan amarahnya pada Martin, hingga pria itu jatuh tersungkur barulah Vier melanjutkan langkahnya. Tapi langkahnya berhenti saat Martin bilang jika Cyara sepertinya kurang sehat. Buru-buru Vier mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai ke mobilnya dan pulang. Tapi sesampainya di rumah amarahnya kembali naik saat mendengar Cyara membentak anak-anaknya, hingga memutuskan menghampiri mereka dan membawa anak-anak pergi bersamanya memberi pelajaran pada Cyara karena hari ini selalu membuatnya merasa marah yang tidak jelas apa penyebabnya.


Dan sebenarnya tadi saat melihat Cyara jatuh, dirinya tidak tega, dia ingin berhenti dan berlari menghampiri wanita itu, tapi ego rupanya mengalahkan dirinya hingga dia tetap menyuruh supirnya untuk terus menjalankan mobil bahkan tidak mau mendengarkan rengekan gadis kecilnya yang meminta turun ingin kembali bersama mami mereka.