Love Revenge

Love Revenge
Bab 82



"Apa yang kau lakukan?" Ucap pria itu dingin dan datar.


Cyara langsung berdiri, kemudian menatap pria yang kini menatapnya tajam.


"Apa yang kau lakukan kepadanya?" Teriak pria itu, tidak terima.


"Om ini, Om Leo kan?" Tanya Keisha mengenal dari suara pria itu.


"Ayah mana? Kenapa Om Leo yang datang kemari?" Tanya Keisha karena ayahnya bilang yang akan menjemputnya, tapi kini justru Leo lah yang datang.


"Ayah sedang rapat, jadi Om yang datang, ayo kita pulang!" Ajak Leo tapi Cyara segera menghentikannya.


"Tunggu, tapi aku tidak bisa percaya padamu begitu saja, kamu tidak boleh membawa Keisha pergi tanpa izin dari ayahnya," ujar Cyara yang takut jika pria itu punya maksud tertentu. Padahal saat bertelepon dengan ayah gadis itu bilang bahwa dirinyalah yang akan menjemput, jadi Cyara setidaknya harus waspada.


"Kau! Terus kau pikir kau siapa bisa bersama keponakanku, atau jangan-jangan kau yang punya niat tidak baik kepada keponakanku?"


"Bukan seperti itu, tadi aku hanya…"


"Apa kau tadi tidak dengar bahwa Keisha mengenalku, Jadi biarkan aku bersama dia. Aku yang akan membawanya pulang.


"Tunggu!"


"Apalagi?"


"Om Leo jangan bentak-bentak tante Cia!" Kata gadis kecil itu di tengah-tengah tangisnya.


"Iya Om jahat, Om bentak-bentak Mami!" Tangis Rain terdengar, tidak suka jika ada orang tiba-tiba membentak maminya.


Tangis Keisha semakin kencang, pria yang bernama Leo duduk bersimpuh, menangkup wajah Keisha dengan kedua tangannya, menghapus air mata gadis kecil itu.


"Kenapa menangis? Maafkan Om datang terlambat, Keisha tidak apa-apa?"


"Om cepat minta maaf ke mamiku!" Teriak Rey yang kini hanya diam saja.


Leo menatap Rey tajam, tapi anak itu tidak takut sama sekali dengan tatapannya.


"Om minta maaf sama tante Cya, tante Cya tidak jahat kok sama Kei, tante Cya tadi yang menemani Kei, ayo Om minta maaf sama tante Cya, nanti setelah itu Kei pasti akan maafin om.


Leo menatap Keisha dan Cyara bergantian.


"Benar? Keisha tidak bohong?"


Keisha mengangguk mantap mendengar pertanyaan Leo.


"Maaf!"


"Maaf tidak seperti itu!" Protes Rey karena Leo meminta maaf Cyara tidak terdengar tulus.


"Sayang sudah!" Tegur Cya kepada putranya.


"Tidak apa-apa, oh ya berhubung kamu sudah datang, kami pamit pergi dulu, jaga keponakanmu baik-baik!" Pesan Cyara kepada Leo.


"Atas dasar apa kau berbicara begitu santai padaku?" Leo kembali berdiri masih dengan Keisha berada di pelukannya.


"Karena usiamu jauh lebih muda dariku, sudahlah kalau begitu kami pergi dulu," ucap Cyara kepada Leo. 


Cyara berjalan mendekat berjongkok di dekat Keisha, menyentuh wajah gadis itu penuh kelembutan. 


"Tante Cya pergi dulu ya sayang, jaga diri kamu baik-baik," ucap Cyara tulus kemudian dirinya kembali berdiri dan berjalan menghampiri anak-anaknya, membantunya turun dan menggandeng keduanya pergi.


"Tante Cya, kita akan bertemu lagi kan?" Teriak Keisha dengan mata yang berkaca-kaca, dirinya merasa baru mempunyai teman, tapi justru cepat berpisah.


"Tante sampai jumpa!" Keisha melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa Isha," Teriak Rey dan Rain bersamaan, membalas lambaian tangan Keisha.


"Keisha mau pulang," ucap Keisha setelah dirinya tidak mendengar suara Rey dan Rain lagi.


"Baiklah, Om akan mengantarmu," jawab Leo dan mengangkat tubuh Keisha untuk keluar.


Sementara itu, Cyara langsung menghentikan langkahnya saat tiba-tiba dia melihat Vier disana.


Vier berdiri tidak jauh, menatap Cyara tajam. Cyara bahkan sampai memalingkan wajahnya tidak ingin melihat tatapan Vier padanya.


Berbeda dengan Rey dan Rain yang kini langsung tersenyum lebar dan berlari menghampiri Vier.


"Papi!" Teriak keduanya membuat Vier tersenyum dan bersiap untuk menangkap mereka.


Setelah menangkap dan membawa Rey dan Rain dalam pelukan, Vier tidak tahan untuk tidak menciumi wajah anak-anaknya itu.


"Papi geli, hentikan!" Protes Rain agar papinya berhenti.


"Benarkah?"


Rain hanya mengangguk membuat Vier akhirnya menghentikan aksinya.


Cyara dengan perlahan menghampiri mereka. Tapi buru-buru Vier menggendong keduanya dan memilih pergi lebih dulu, meninggalkan Cyara yang hanya terdiam mematung. Dan begitu tersadar dirinya langsung pergi mengikuti Vier, dimana pria itu kini berjalan menuju mobilnya.


Vier membantu anak-anaknya untuk masuk. Kemudian pandangannya tertuju pada cyara yang hanya diam saja berdiri agak sedikit jauh dari mobil Vier.


"Cepat masuk! Apalagi yang kau tunggu?" Perintah Vier dingin dan tegas.


"Oh," Cyara kemudian berjalan mendekat dan segera masuk ke mobil Vier.


"Terus mobilku…"


"Aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya," setelah mengatakan itu barulah Vier melajukan mobilnya. 


Sepanjang perjalan Vier sama sekali tidak berbicara dengan Cyara, untung saja di dalam mobil ada Rey dan Rain yang terus berceloteh, hingga tidak membuat suasana semakin dingin saja.


"Jadi Papi langsung pulang kan? Tidak ke kantor lagi?" Tanya Rain setelah mereka bercerita panjang lebar tentang apa saja yang sudah mereka lakukan.


"Hmm tentu saja, demi kalian," kata Vier tersenyum pada kedua anak itu.


Tiba-tiba dering ponsel Vier berdering, tapi Vier mengabaikannya.


"Papi teleponnya bunyi," kata Rey memberitahu.


"Biarkan saja sayang, nanti Papi telepon balik saja, lagian kan Papi sedang menyetir," ucap Vier dan Rey pun mengangguk mengerti.


Bunyi dering ponsel Vier berhenti, dan tak lama, dering ponsel Cyara lah yang berbunyi. Cyara mengambil ponselnya di dalam tas, dan begitu melihat nama mama tertera dalam layar ponselnya, buru-buru Cyara menjawabnya. 


Vier melihat wajah Cyara yang berubah, sesekali wanita itu tampak mengernyitkan dahinya. Ya, Vier diam-diam memperhatikan Cyara dari kaca di atasnya. Vier yang terus memperhatikan Cyara hingga tak sadar, pandangannya dan Cyara bertemu, Vier langsung mengalihkan pandangan, dan bersamaan dengan itu, Cyara juga berhenti menelpon.


"Kata Mama, kita diminta untuk ke rumah Bibi Lily, dan menitip anak-anak di sana. Mama sudah menghubungi Bibi Lily, dan Bibi Lily juga bersedia. Tapi sebelum ke tempat Bibi Lily, kita ke rumah Vira dulu, menjemput Aira dan mengambil perlengkapan milik Vira, Bibi sudah menyiapkannya. Setelah itu kita diminta Mama ke rumah sakit secepatnya, Vira mau melahirkan," kata Cyara memberitahu Vier apa saja pesan mama mertuanya.


Vier dengan segera memutar balik mobilnya bergegas ke rumah Vira untuk menjemput Aira yang pastinya hanya tinggal bersama Bibi. Vier memukul setir kemudi saat ternyata jalan yang dilaluinya begitu macet.


"Sial!" Umpatnya karena dirinya terpaksa harus menunggu, karena untuk kembali putar balik pun rasanya tidak mungkin karena di belakangnya pun sudah padat kendaraan.


"Biar aku saja yang jemput Aira, kamu nanti kirim alamat Bibi Lily, kita ketemu disana," ucap Cyara dan dirinya langsung turun begitu saja meninggalkan Vier yang hanya diam menatap kepergiannya.