Love Revenge

Love Revenge
Bab 19



"Lain kali jangan ulangi hal seperti ini lagi, kamu tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya terjadi di antara seorang pria dan wanita di dalam kamar yang tertutup dan hanya berdua, apalagi kita sama-sama sudah dewasa," setelah mengatakan itu, Vier pun keluar dan kembali bermain bersama Rey dan Rain.


"Kenapa Om Pir lama?" Tanya gadis kecil yang kini mendongak menatapnya.


"Hmm iya tadi Mami meminta tolong pada Om, filmnya belum selesai?" kata Vier mengalihkan perhatian kedua anak itu.


"Belum," jawab bocah itu kembali fokus pada tayangan yang ada di layar televisi berukuran cukup besar.


"Tuan Vier Anda mau kapan akan disini?" Tanya Cyara pada Vier ketika anak-anaknya begitu fokus pada film yang ditontonnya.


"Apa maksudmu menanyakan aku sampai kapan disini? Kamu mengusirku?" Tanya Vier bukannya menjawab pertanyaan Cyara tadi.


"Bukan begitu, tapi ini hari minggu, mungkin saja Anda punya kesibukan lain yang perlu Anda kerjakan," jawab Cyara mencari alasan karena dia tidak mungkin mengusir pria itu secara langsung di depan anak-anaknya, ya walaupun anak-anaknya mungkin sekarang ini tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku tidak sibuk," jawabnya singkat dan ikut menonton tayangan di depannya entah benar-benar menonton atau tidak Cyara tidak tahu dan tidak mau tahu.


Cyara hanya bisa menghela nafasnya apalagi saat tiba-tiba pria itu mengajak anak-anaknya mengobrol dan lihatlah anak-anaknya tersenyum dengan kehadiran pria itu, senyum yang hanya dia dapatkan jika hanya bersama dengannya dan kini bersama bos sombongnya itu mereka bisa tersenyum bahkan tertawa lepas.


"Apa kau tega menghilangkan tawa mereka Cyara?" Tiba-tiba suara hatinya mengatakan itu membuat Cyara memutuskan untuk membiarkan pria itu tetap berada di sana walaupun sebenarnya hati dan pikirannya sedang berperang batin saat ini.


Cyara menghela nafasnya kemudian berlalu meninggalkan ketiga orang itu.


"Om suka film kartun apa?" Tanya si kecil Raina mendongak menatap Vier.


Vier tampak berpikir dan itu sangat lama membuat Raina yang ingin mendengar jawaban pria itu tidak sabar.


"Om Pir tidak pernah menonton film kartun ya?" Kini giliran Rey yang bertanya.


Vier tersenyum canggung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Iya, Om belum pernah lagi nonton film kartun, pernah sih tapi itu dulu waktu om masih kecil," jawabnya merasa malu.


Rey dan Rain pun mengangguk mengerti, kemudian mereka berdua memperkenalkan film yang ditontonnya kepada Vier dengan antusias.


Dan hal sederhana itu membuat seulas senyum terbit di sudut bibir Vier saat melihat dan mendengarnya, baru kenal kedua anak kecil itu tapi Vier sudah tampak akrab, bahkan dengan keponakannya  sendiri Vier tidak seakrab itu.


Vier juga merasa salut pada anak laki-laki seumuran Reynan yang sudah bisa menjaga dan mengawasi apapun tentang adiknya, dia selalu sigap, seolah dia memang dilatih untuk seperti itu. Contohnya saat melihatnya tadi makan, Reynan mengambil tisu dan menghapus mulut adiknya yang belepotan, bahkan mengambilkan air minum untuk gadis kecil itu dengan cepat saat tiba-tiba saja Rain tersedak. Vier yang awalnya pernah mengatai ibunya tidak becus menjaga anak-anaknya, kini dia tarik kembali ucapannya, setelah melihat bagaimana keseharian anak-anak itu.


Vier dan Vira juga kembar tapi mereka tidak kompak seperti Rey dan Rain. Justru yang ada Vier dan Vira sering ribut dan berdebat hingga membuat mamanya pusing.


Vier kemudian teringat kalimat anak laki-laki yang bernama Reynan ini, entah kenapa Vier begitu penasaran dan ingin bertanya tentang itu, selagi tidak ada Cyara dan tontonan mereka juga sudah selesai.


"Boleh Om tanya sesuatu?" Kata Vier dengan suara yang begitu pelan takut ibu dari anak-anak itu mendengarnya.


"Boleh Om Pir," mereka menjawab ucapan Vier dengan kompak.


"Om Pir?" Awalnya Vier keberatan karena mereka tidak bisa dengan benar menyebut namanya, tapi setelah Vier terus mendengar panggilan itu, ternyata cukup lucu juga, apalagi jika mereka berdua yang mengucapkan. Dan sepertinya panggilan itu, akan Vier  anggap sebagai panggilan kesayangan untuknya.


"Mmm boleh Om tahu kemana ayah kalian?" Waktu itu di sekolah Reynan bilang tidak tinggal bersama ayah?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi Vier tahan, meluncur juga.


"Kata Mami, Daddy kerja di tempat yang jauh, makanya tidak tinggal bersama kami," jawab gadis kecil itu.


"Bekerja di tempat yang jauh?" Vier mengulang jawaban anak gadisnya, hmm bolehkah Vier memanggilnya seperti itu? Apa maminya akan marah? Mungkin saja dia akan marah jika tahu, tapi jika tidak, menurut Vier tidak akan jadi masalah. 


Reynan dan Rain pun mengangguk, saat lebih diperhatikan, mereka terlihat begitu menggemaskan dan entah kenapa perasaan Vier begitu nyaman saat bersama mereka. 


"Sebentar ya sayang, kata Vier pada kedua anak itu kemudian bangkit dan menuju dapur untuk mengambil minum.


Vier terkejut saat Cyara tiba-tiba menghampirinya bahkan sudah ada di belakangnya.


"Kenapa kamu masih disini dan tidak kembali ke rumahmu?" Ucap Cyara ketus, secara tidak langsung dia mengusir Vier.


Dan Vier dia tetap tenang saat Cyara berbicara seperti itu padanya, dan bukannya menjawab, Vier justru berbalik dan berjalan mendekat ke arah Cyara, Cyara tidak sempat menghindar karena dengan cepat Vier menarik pinggangnya hingga tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Vier, untuk kesekian kalinya Vier cium bibir Cyara yang begitu terasa manis menurutnya untuk ukuran seorang janda.


Vier menyebut Cyara janda, karena dirinya yakin jika Cyara dan suaminya sudah berpisah. Dan Vier berpikir seperti itu, karena dia sama sekali tidak bertemu suami Cyara seharian ini. Apalagi saat Vier tadi menanyakan kepada anak-anak Cyara. Reynan dan  Rain bilang jika daddynya bekerja di tempat yang jauh dan sudah lama mereka tidak bertemu dengan daddynya.


"Mami, Om Pir? Apa yang Om Pir lakukan sama Mami? Kenapa Om Pir memakan bibir Mami?" Tiba-tiba saja terdengar suara Reynan dari arah belakangnya.


Mendengar suara putranya, Cyara langsung mendorong tubuh Vier.


Anak kecil itu dengan polos bertanya, bahkan Rain tiba-tiba saja menangis dan memukuli Vier, ya walaupun pukulan bocah itu, tidak bisa Vier katakan sebagai pukulan.


"Om jahat, Om Pir jahat sama Mami, Om Pir makan bibir Mami," isaknya masih terus memukuli tubuh Vier.


Vier hanya menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa, dan Cyara, wanita itu menatapnya tajam dan dari tatapannya seolah menyalahkan dirinya tanpa suara, karena sudah membuat putrinya menangis.