Love Revenge

Love Revenge
Bab 83



Kini Vier dan Cyara dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, setelah keduanya bertemu di rumah Lily untuk menitipkan anak-anaknya, karena tidak memungkinkan jika membawa mereka semua ke sana. 


Keduanya tadi hanya saling diam, tak ada yang mengalah untuk lebih dulu memulai berbicara. Hingga terdengar helaan nafas yang panjang, membuat Cyara menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya.


"Siapa pria tadi?" 


"Bukan siapa-siapa," jawab Cyara tampak tenang.


"Kamu mengajak anak-anak keluar untuk menemui pria itu? Atau dia salah satu pria mu, kamu bingung diantara banyak pria siapa ayah kandung sebenarnya Rey dan Rain, hingga membuatmu  menemui mereka satu persatu?"


Cyara langsung menatap Vier, "Apa maksudmu bertanya seperti itu? Oh atau jangan-jangan kamu cemburu?" Tanya Cyara yang kini berusaha untuk tidak terpancing amarah atas ucapan Vier.


"Aku? Cemburu? Hanya dalam mimpimu saja, untuk apa aku cemburu dengan wanita sepertimu?"


"Oh ya? Baiklah, akan aku ingat kata-katamu ini," Cyara tersenyum kemudian mendekat pada Vier.


"Kita lihat saja nanti Tuan Vier, kadang apa yang kamu ucapkan justru akan berbalik menimpamu," bisik Cyara tepat di telinga Vier, membuat pria itu sedikit menjauh.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku? Apa yang Anda ucapkan, sebaliknya suatu saat nanti biasanya itu yang akan terjadi pada Anda. Anda bilang tidak suka, tidak suka, tapi kelak Anda akan suka bahkan sangat suka, jadi hati-hati dengan apa yang Anda ucapkan," kata Cyara kemudian dirinya menatap keluar jendela, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Tak lama mereka pun sampai, Vier menghentikan mobilnya, Cyara turun dan berjalan lebih dulu, Vier segera berlari menyusul Cyara. Dan tiba-tiba, Vier meraih tangan Cyara dan menggenggamnya erat.


Cyara menoleh dan melepaskan genggaman tangan Vier, tapi apa yang Vier katakan membuat Cyara akhirnya hanya bisa pasrah, berjalan bergandengan dengan Vier menyusuri lorong rumah sakit.


*


*


"Kalian akhirnya sampai juga," ucap Jasmine yang kini langsung menghampiri anak dan menantunya.


"Bagaimana dengan Vira, Ma?" Tanya Vier yang melihat pintu ruangan bersalin yang tertutup.


"Vira di dalam, Kak Alno menemaninya." 


Cyara mendekat dan memeluk Jasmine, "Mama tenang ya, aku yakin semuanya baik-baik saja. Vira dan anaknya pasti selamat," kata Cyara menenangkan mama mertuanya.


Jasmine menoleh dan tersenyum, membalas pelukan menantunya.


Vier melihat interaksi keduanya dan tanpa sadar tersenyum, dan hal itu tak luput dari pandangan Stevano yang tengah menatap ketiganya.


Oek...oek...oek..


Hingga tak lama terdengar suara tangisan bayi yang mengalihkan perhatian mereka.


"Sayang, bayinya sudah lahir," ucap Jasmine mengecup kening Cyara berkali-kali, dan terasa air mata membasahi wajah wanita itu.


Cyara mengusap air mata Jasmine dan kini keempat orang di sana menghampiri perawat yang membawa bayi mungil. Dan tak lama disusul beberapa perawat yang akan memindahkan Vira ke ruang rawat.


Kemudian Jasmine dengan mata yang berkaca-kaca memeluk Alno setelah suaminya melepaskan pelukan mereka.


"Selamat sayang!"


"Makasih Ma," Alno memeluk mamanya erat, dia benar-benar bersyukur anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki dan istri tercintanya selamat setelah sama-sama berjuang.


Vier tak mau kalah, dia juga memeluk kakaknya. "Selamat Kak, akhirnya aku punya keponakan lagi," kata Vier diiringi tawanya. Karena dia sudah mempunyai banyak keponakan dari kakak dan juga adik-adiknya, hanya dirinya yang sama sekali belum memberikan cucu untuk orang tuanya.


"Makasih, kakak doakan semoga kalian cepat menyusul, berikan Mama dan Papa lagi cucu agar rumah semakin ramai," kata Alno membalas pelukan adiknya. 


Alno memang sempat marah kepada Vier karena Vier menyakiti Cyara waktu itu. Tapi melihat Vier yang sekarang tampak akur dengan Cyara membuatnya merasa lega, mungkin adiknya sudah menyadari kesalahannya dan kini sudah berubah.


"Selamat Kak," ucap Cyara tersenyum tulus, Alno pun mengangguk dan tersenyum.


"Semoga kamu cepat menyusul dan memiliki anak lagi, berikan Rey dan Rain adik agar mereka senang," kata Alno mengelus rambut Cyara. Dia sudah menganggap Cyara seperti adiknya sendirinya.


"Semoga saja," jawab Cyara dengan senyum yang tak pernah luntur dari sudut bibirnya.


*


*


Kini semua orang sudah berkumpul di ruang rawat Vira, Zeline dan suaminya, serta Vian dan istrinya sekarang juga sudah berada disana. Semuanya berkumpul dan bercanda penuh tawa. Tapi tawa mereka terhenti tiba-tiba saat mendengar suara dering ponsel yang terdengar nyaring, mereka saling pandang satu sama lain, mencari siapa pemilik ponsel yang berbunyi itu, hingga pandangan mereka, tertuju pada Vier yang tengah mengambil ponselnya di kantong celananya. Vier melihat nama pemanggil dan buru-buru keluar setelah berpamitan pada semua keluarganya, dan Cyara hanya menatap punggung Vier yang kini sudah menghilang dari pandangan setelah pria itu menutup pintu rapat ruangan Vira. Cyara menatap nanar ke arah pintu, Cyara dengan jelas melihat siapa nama pemanggil, dan dia tidak menyangka jika Vier langsung bergegas keluar menjawab panggilan itu.


"Cya kamu kenapa sayang?" Tanya Jasmine yang melihat Cyara hanya terdiam sambil terus menatap ke arah pintu.


"Kak Cya pasti tidak jauh dari Kak Vier, saat melihat Kak Vier pergi sebentar saja, rasanya Kak Cya tidak rela," ujar Aulia meledek kakak iparnya itu.


Cyara hanya tersenyum kaku mendengar perkataan wanita yang Cya kenal sebagai istri dari adik suaminya itu.


"Sudah-sudah, Kak Lia jangan goda Kak Cya seperti itu, nanti Kak Cya malu," sahut Zeline menatap sendu pada Cyara yang kini diam menunduk.


"Iya darling jangan goda Kak Vira gitu," kata Vian yang kini menarik sang istri dan memeluknya dari belakang," karena Aulia saat ini memang duduk di depan suaminya, lebih tepatnya di pangkuan suaminya.


"Memang kalian tidak ada malu-malunya pamer kemesraan di depan kita semua," Vira yang sedari tadi hanya mendengarkan, melemparkan ucapan kepada Aulia dan Vian adiknya.


"Iya ini nih, adik kakak, posesifnya tingkat dewa, masa iya, aku duduk saja harus seperti anak kecil begini," jawab Aulia yang kesal karena suaminya meminta dirinya duduk di pangkuan, membuatnya merasa malu.


"Jangan dengarkan Kak Vira darling, Kak Vira hanya iri saja melihat kita," kata Vian membuat Vira menatap kesal adiknya.


"Aku iri? Tidak akan jika aku mau, aku juga pasti sudah melakukannya seperti kalian ini, hanya saja aku memang tidak ingin terlalu pamer seperti kalian," jawab Vira yang tidak terima dirinya dibilang iri.


Asyik berdebat, membuat mereka lupa jika saat ini, ada wanita yang hanya diam saja sedari tadi.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Vier masuk dan hanya berpamitan saja kepada seluruh keluarganya, setelah itu dirinya pun berlalu pergi meninggalkan Cyara yang hanya diam menatap punggung Vier yang kini sudah berjalan menjauh.