
"Rey sini sayang!" Jasmine memanggil bocah laki-laki yang kini masih berdiri di tangga menatap kepergian Vier.
Rey kemudian menoleh dan tersenyum langsung menghampiri Jasmine.
"Rey belum kenal kan sama Opa? Ayo kenalan dulu ini Opa," kata Jasmine memperkenalkan suaminya pada anak Cyara itu.
"Rey, Opa," ucap bocah itu, mencium punggung tangan Stevano.
"Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sih sayang kamu bawa jagoan ini ke rumah? Kan aku tidak main rumah-rumahan terus sama Aira, kalau sama Rey kan bisa main sepak bola, iya tidak Rey?" Kata Stevano meminta persetujuan Rey, dan Rey mengangguk dengan antusias.
"Kamu tuh ada saja-saja."
"Ayo Rey main sama Opa!" Kata Stevano kemudian mengajak Rey ke ruang keluarga dan bermain di atas karpet.
Sementara di tempat lain, Vier masih saja mengajak Aira berbicara, "Princess sebenarnya kenapa? Kok gitu sama Rey? Rey kan teman princess juga, satu sekolah, princess tidak boleh seperti itu," ucap Vier yang melihat keponakannya tidur telungkup di atas kasur.
"Om, lebih baik Rain dan Kak Rey pulang saja, daripada kami disini malah bikin Aira nangis, hmm Om bisa telepon Mami?" Ucap gadis kecil itu yang hanya diam saat Vier membujuk Aira.
Aira langsung bangun mendengar itu, "Siapa yang ngebolehin kamu pulang? Kamu tidak boleh pulang, kita kan belum main bareng," ucap Aira dengan wajah yang kesal saat mendengar Rain meminta pulang.
"Tapi kamu tidak suka sama Kak Rey," kata Rain polos.
"Aku bukan tidak suka, tapi aku kesal karena tadi di sekolah, Rey kasih makanannya ke Nana."
Vier hanya terdiam menyaksikan interaksi kedua bocah itu.
"Tadi pagi Kak Rey tidak sengaja menabrak Nana hingga makanannya tumpah, makanya buat gantinya Kak Rey kasih makanan Kak Rey ke Nana," jawab Rain menceritakan tentang apa yang terjadi di sekolah tadi.
Vier tersenyum saat mengetahui jika ternyata alasan itu yang membuat keponakannya tidak mau dengan Rey, "Dasar anak kecil jaman sekarang," gumam Vier sampai geleng-geleng kepala.
"Ya sudah nanti aku minta Mami buat bekal lebih buat kamu, tapi kamu maafin Kak Rey" ujar final si Raina dan Aira pun mengangguk.
"Ya sudah ayo kita makan siang sama-sama, Opa sama Oma pasti sudah nunggu di bawah," kata Vier yang mendengar kesepakatan mereka.
Ketiganya pun menuju ke ruang makan, dan benar saja, disana sudah ada Jasmine, Stevano dan Rey yang sudah mulai makan terlebih dahulu.
"Ayo sini sayang, kita makan sama-sama," kata Jasmine yang kemudian membantu Aira naik ke kursi, sedang Vier membantu Rain.
Jasmine mengambil makanan untuk ketiga orang itu dan mereka pun makan bersama dengan tenang.
Seusai makan kelima orang itu pun kumpul di ruang keluarga, menonton televisi tentunya film kartun kesukaan ketiga bocah itu.
"Kenapa Cyara tidak kesini?" Tanya Jasmine saat cucunya sedang fokus dengan tayangan di depannya.
"Dia sibuk," jawab Vier dan Jasmine menangkap ada nada kekesalan dari putranya itu saat menjawab pertanyaannya.
"Terus bagaimana dengan Rey dan Rain nanti?"
"Biarkan saja mereka berdua tidur disini, biar dia kelimpungan nyariin."
Ya Jasmine tahu jika putranya memang sedang kesal dan dia tahu siapa penyebabnya.
Tiba-tiba dering ponsel Vier terdengar, Vier ambil ponselnya dan nama Cyara terpampang nyata di layar.
"Kenapa tidak dijawab?" Tanya Jasmine karena melihat Vier hanya melihat nama dan kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Mungkin saja penting," kata Jasmine.
"Kamu tidak kembali bekerja Vier? Ini sudah lewat jam istirahat loh!" Kata Stevano yang tahu jika putranya orang yang gila kerja, lebih tepatnya setelah kejadian itu.
"Tidak," ucap Vier kemudian mengelus lembut rambut Rey yang duduk di sebelahnya dan sibuk berbisik-bisik dengan anak laki-laki Cyara itu.
Jasmine dan Stevano saling pandang, kemudian keduanya sama-sama mengedikkan bahunya.
Ponsel Vier kembali berdering. "Om ponselnya bunyi," kata Rey mendongak menatap Vier.
"Biarkan saja," kata Vier kemudian mengangkat Rey, membiarkan Rey duduk di pangkuannya. Keduanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, bahkan fokus Rey sudah tidak pada televisi lagi.
***
"Bagaimana?" Tanya Martin pada Cyara yang terus menghubungi bos mereka.
"Tidak dijawab, sebenarnya dia niat bekerja tidak sih," kesal Cyara karena sudah panggilan ke delapan tapi Vier tidak menjawab teleponnya.
Bahkan Cyara sampai mengesampingkan urusan kedua anaknya, setidaknya Cyara tahu jika kedua anaknya ada di tempat yang aman, dia memutuskan untuk lebih dulu mementingkan pekerjaan dengan menghubungi Vier, karena setengah jam lagi mereka ada pertemuan.
"Mungkin Tuan Vier sedang sibuk," kata Martin mencoba menenangkan Cyara yang tampak gelisah. Tak lama ponsel Martin berdering dan ternyata Vier yang menghubunginya.
"Kau handle sisa pekerjaan hari ini, saya ada urusan, tidak bisa kembali ke kantor," ucap Vier lalu segera memutuskan panggilan.
"Dasar aku yang sedari tadi telepon dia malah dia nelponnya ke kamu?" Gerutu Cyara.
"Bilang apa dia?" Tanya Cyara.
"Kita harus ke tempat pertemuan sekarang, itu lebih penting," jawab Martin.
"Iya."
"Ya sudah ayo berangkat!" Ajak Martin.
"Kenapa tidak dari tadi coba, dia pikir karena dia atasan dia bisa seenaknya gitu," tampaknya Cyara tidak puas jika tidak mengomel.
Martin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Kamu mau terus mengomel disini? Jika iya, sudah dapat dipastikan jika kita akan benar-benar terlambat," ucapnya kemudian.
Cyara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe maaf, habisnya aku kesal, ya udah aku ambil berkasnya dulu," kata Cyara kemudian mengambil berkas yang tadi sudah dia siapkan dan kemudian keduanya berangkat ke tempat janji temu dengan klien mereka.
.
.
"Untung tidak terlambat," Martin dan Cyara langsung bergegas mencari meja yang sudah dipesannya.
"Nah sepertinya itu mereka, mereka ternyata datang lebih cepat dari kita," ujar Martin. Kemudian Cyara dan Marti segera berjalan menghampiri dua orang pria yang sedang mengobrol.
"Selamat siang Tuan," sapa Martin.
Pria yang disapa pun menoleh.
"Cyara," ucap pria itu tersenyum.
"Rayyan," kata Cyara dengan lirih.
Cyara dan Rayyan terlihat sama-sama terkejut, membuat Martin dan orang yang bersama Rayyan merasa heran. Rayyan tidak menyangka jika Cyara bekerja di G company.
"Kamu dan Tuan Rayyan saling kenal?" Tanya Martin untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Iya kami…"
"Teman lama, benar kan Tuan Rayyan?" Potong Cyara cepat.
"Hmm iya," jawab Rayyan.
"Oh, jadi Tuan Rayyan dan Cyara teman lama," ujar Martin manggut-manggut mengerti.
"Tidak menyangka ya kita bisa bertemu lagi (bertemu secepat ini, padahal aku ingin memberi kejutan padamu)," ucap Rayyan tersenyum pada Cyara.
Cyara tampak mengangguk dan balas tersenyum.
Setelah sapaan singkat itu, kemudian mereka berempat pun membahas tentang urusan kerjasama dan semua berjalan dengan lancar.
"Terima kasih atas kerjasamanya Tuan, semoga kerjasama kita sukses," kata Martin menjabat tangan Rayyan diikuti Cyara bergantian dengan pria yang bersama Rayyan yang ternyata adalah sekretarisnya.
Rayyan pun mengangguk dan kemudian menoleh kepada Cyara.
"Maaf Tuan Martin apa boleh saya berbicara dengan Cyara, hmm apa kalian masih ada pekerjaan?" Tanya Rayyan.
Martin melirik Cyara, "Terserah sama Cyara, ku rasa tidak ada pekerjaan yang mendesak," ucap Martin menyerahkan keputusan pada Cyara.
Rayyan menatap Cyara, Cyara kemudian mengangguk dan itu membuat Rayyan langsung tersenyum lebar.
"Tapi jangan lama-lama," ujar Cyara memberi syarat dan Rayyan pun menyetujui.
"Baiklah kalian bicaralah, Cyara aku tunggu di mobil," kata Martin meninggalkan Cyara bersama Rayyan.
"Den, kamu bisa kembali dulu," kata Rayyan kepada sekretarisnya itu.
"Baik Tuan, saya permisi dulu, Tuan, Nona," kata sekretaris itu menunduk hormat kepada atasannya dan Cyara berpamitan.
Rayyan menghela nafas pelan dan menatap Cyara. "Ara bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu?"
Cyara menghela nafas, tidak menyangka akan bertemu dengan Rayyan lagi setelah sekian lama, 6 tahun.
"Pasti anak-anak sudah besar. Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Rayyan yang tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Cyara.
"Mereka baik-baik saja, kamu…"
"Ya aku mencari tahu tentangmu, maafkan aku Ara, aku tahu kesalahanku begitu besar, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf, ijinkan aku menebus semuanya, ijinkan aku bertemu anak-anak, aku minta maaf karena sudah meninggalkan kalian," kata Rayyan penuh sesal.
Cyara menggeleng, "Untuk apa minta maaf, semua sudah berlalu, dan jika kamu mau bertemu dengan mereka, aku tidak akan melarangnya tapi…"
"Tapi apa Ara?"
"Bolehkah aku minta satu permintaan?" Tanya Cyara menatap pria itu.