
"Kita pergi sekarang! Apa berkas yang tadi aku minta sudah kamu siapkan?" Tanya Martin yang berjalan menghampiri Cyara.
Tadi saat Cyara sampai ke kantor, Martin langsung menghubunginya dan langsung meminta Cyara menyiapkan berkas yang akan dibawanya untuk meeting bersama klien. Bahkan Cyara pun belum sempat ke ruangan bosnya.
"Sudah Pak, semuanya sudah siap, kalau begitu saya permisi dulu untuk ke ruangan Tuan Vier membacakan jadwalnya hari ini.
"Cyara tunggu!" Kata Martin menahan Cyara menghentikannya.
"Kamu tidak perlu membacakan jadwal Tuan Vier hari ini," perkataan Martin tersebut membuat Cyara mengernyitkan dahinya.
Martin yang tahu kebingungan Cyara akhirnya menjelaskan.
"Tuan Vier tidak ada di ruangannya, tadi pagi-pagi sekali beliau berangkat ke Bali," ucap Martin dan hal itu jelas saja membuat Cyara terkejut, bagaimana bisa Cyara tidak tahu hal itu, dia sekretarisnya tapi dia tidak tahu jadwal bosnya, dan bukankah dia juga calon istrinya, tapi kenapa sama sekali dia tidak tahu.
"Cyara!" Martin menaik turunkan telapak tangannya membuyarkan Cyara yang justru melamun.
"Kepergian Tuan Vier kali ini memang tidak ada di jadwal, katanya ada urusan pribadi di sana, makanya beliau memintaku untuk merubah jadwalnya 5 hari ini," jelas Martin.
"Baik aku mengerti, ayo kita berangkat sekarang!" Cyara kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Martin.
"Tunggu Cyara!" Martin segera mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan Cyara.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Martin.
Cyara berhenti, menatap Martin sebentar kemudian melanjutkan langkahnya.
"Ya aku baik-baik saja, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Beberapa hari ini kamu tidak masuk ke kantor, apa kamu sungguh baik-baik saja?" Tanya Martin dan sekilas Cyara mendengar nada khawatir dari apa yang Martin ucapkan.
"Oh itu, Rey putraku sakit dan di rawat di rumah sakit, aku harus menjaganya, aku juga minta ijin pada Tuan Vier," kata Cyara menjelaskan.
"Rey sakit? Kenapa kamu tidak bilang dari awal?"
Cyara langsung kembali menghentikan langkahnya dan kini berdiri menghadap ke arah Martin.
"Kenapa memangnya?"
"Jika tahu Rey sakit, aku pasti akan datang menjenguknya, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah sembuh, bahkan sudah pulang dua hari yang lalu, sekarang saja dia sudah mulai masuk ke sekolah."
"Bolehkah aku menjenguknya?" Tanya Martin penuh harap.
"Baiklah," Martin tersenyum menatap kepergian Cyara.
Martin kemudian buru-buru berlari menuju mobil kemudian membukakan pintu untuk Cyara.
"Terima kasih," ucap Cyara kemudian segera masuk ke dalam mobil.
"Oh ya Cyara, apa yang Rey sukai?" Tanya Martin setelah menjalankan mobilnya, mengorek informasi tentang anak Cyara yang Martin tahu bahwa anak laki-laki itu tidak terlalu menyukainya.
"Hmm apa ya? Dia suka apa aja, apa yang aku belikan selalu menjadi kesukaannya. Pernah dulu aku belikan hadiah, hmm bukan belikan sih sebenarnya tapi lebih kepada aku dapatkan," kata Cyara yang tersenyum mengingat kejadian saat itu.
Martin menoleh ke arah Cyara sambil mengernyitkan dahi.
"Aku dapatkan dari mesin capit boneka, dan kebetulan saat itu aku dapat dua, menjelang hari ulang tahun mereka yang ke 3, ya sudah aku jadikan boneka itu sebagai hadiah, dan kamu tahu mereka sangat senang dan aku sangat lega, awalnya aku takut mereka menolak, tapi aku tidak menyangka mereka dengan senang hati menerimanya disaat teman-teman yang lain mendapatkan hadiah ulang tahun dari ibunya mainan yang mahal, aku justru memberi hadiah hanya dengan beberapa koin."
"Kamu hebat, dan anak-anak kamu juga hebat, itu artinya mereka menghargai kerja keras dan usaha kamu untuk mendapatkan hadiah itu, mereka tidak menilai seberapa mahal hadiah yang kamu berikan karena mereka tahu kamu begitu tulus menyayangi mereka," Martin tersenyum mendengar Cyara bercerita hingga tanpa sengaja tangannya terulur begitu saja mengusap rambut Cyara saat bertepatan dengan mobil mereka yang sudah berhenti karena sudah sampai ke tempat tujuan.
"Ah maaf," kata Martin begitu tersadar atas apa yang dilakukannya dan dengan segera dia menurunkan tangannya dari kepala Cyara.
"Oh tidak apa-apa, ayo kita turun!" Ajak Cyara yang merasa canggung pada apa yang terjadi tadi.
*
*
*
"Kemana anak itu, setelah menyebabkan keributan semalam di rumah Cyara, dia justru pergi seperti ini," geram Alno saat tahu dari papa dan mamanya, Vier pergi pagi-pagi sekali.
Ternyata tidak hanya Cyara yang tidak tahu kepergian Vier, bahkan keluarga Vier pun sendiri baru tahu tadi pagi dari pengawal yang membukakan gerbang untuknya.
Kepergian Vier kali ini benar-benar mendadak hingga membuat semua orang bertanya-tanya, apalagi saat Vira mendapat kabar dari Zio jika Sheira ada di tempat yang sama dengan Vier, mereka berdua sama-sama ke Bali, Sheira bilang ada pekerjaan disana, tapi entahlah, siapa yang perkataannya benar, karena hanya merekalah yang paling tahu.
"Ma semua tidak bisa begini, bagaimana perasaan Kak Cya, bagaimana jika dia tahu jika calon suaminya pergi ke tempat yang sama dengan mantan kekasihnya, oke aku tidak akan berburuk sangka dulu sama Vier, aku anggap mereka melakukan pekerjaan masing-masing, tapi bagaimana dengan pandangan Kak Cya, apalagi semalam jelas-jelas Kak Cya mendengar sendiri bagaimana Sheira bilang jika wanita itu masih mencintai Vier, aku memang mengharapkan Kak Cya bisa bersanding dengan Vier, tapi jika hal ini hanya akan menyakitinya, lebih baik kita batalkan saja rencana pernikahan mereka Ma, aku tidak mau Kak Cya jadi korban untuk Vier meluapkan amarahnya, jika memang Vier ingin membalas Sheira kenapa dia tidak langsung saja lakukan kepada orangnya? Kenapa harus Kak Cya, mungkin saja bukan jika Kak Cya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, tetapi kenapa Vier membuat Kak Cya yang harus menanggung perbuatan wanita itu," Vira terus membela Cyara membantu wanita itu untuk mendapatkan keadilan atas dirinya, meminta agar Cyara dibebaskan dari hubungan yang mungkin akan menjeratnya dengan luka.
"Sayang, kamu tenangkan dirimu, aku tahu kamu sudah menyayangi Cyara, tapi kita tidak bisa memutuskan hal itu sepihak, bagaimanapun kita harus membicarakan ini dengan orang yang bersangkutan. Jika kita tiba-tiba membatalkan tanpa meminta pendapat Cyara lebih dulu, bukankah kita sama seperti Vier, kita hanya akan menyakitinya, Cyara pasti akan menganggap jika kita membuangnya, sayang biarkan hal ini Cyara sendiri yang memutuskannya, karena yang tahu apa yang terbaik untuk Cyara, hanya dia sendiri yang paling tahu, karena apa yang menurut kita baik, belum tentu menurutnya itu baik."
"Sayang apa yang suamimu katakan benar, biarlah Cya yang memutuskan semua, Mama sudah berbicara dengannya dan Mama memberinya kebebasan untuk menentukan pilihan, apapun pilihannya Mama akan mendukungnya, karena bagaimanapun Cyara yang menjalani dan kita tidak bisa ikut campur pada apa yang menjadi keputusannya," ucap Jasmine membenarkan ucapan Alno tadi.
"Sekarang kita tinggal menunggu keputusan dari Cyara, biarkan dia memikirkannya oke," tambah Jasmine menggenggam tangan putrinya dan Vira pun akhirnya mengangguk menyetujui perkataan mamanya.